
Bry melajukan mobil sportnya menuju Toko Perhiasan di Mall terbesar di kota B, yang merupakan brand perhiasan Internasional yang terkenal mewah dan mahal. Sebelumnya, Bry merasa cukup lega setelah Vara memutuskan memilih 2 gaun pengantin berwarna putih yang dipilihkan Bry untuk akad nikah dan resepsinya nanti, setelah menghabiskan waktu lebih dari 4 jam memilih, mencoba dan mempertimbangkan banyak pilihan gaun pengantin.
Sedangkan Bry tidak membutuhkan waktu lama untuk memilih 2 jas yang akan dipakainya di acara pernikahannya nanti, hanya saja dia meminta menambahkan aksen di beberapa bagian jasnya yang berharga fantastis itu.
"Sayang, nanti pilihlah 1 set perhiasan untuk kamu pakai saat pernikahan nanti."
"Bukankah kita akan membeli mahar Bry?"
"Tidak.. Aku berubah pikiran. Untuk maharmu, aku sudah memesan langsung dari luar negeri sesuai design yang aku mau."
"Memangnya design seperti apa yang kamu pesan?"
"Rahasia.."
Bry menjawab sambil tersenyum nakal kearah Vara.
"Bry, tapi jangan memesan perhiasan yang terlalu mahal ya!"
"Aku baru tahu dari Mommy, kalau mahar itu adalah bentuk penghargaan dan penghormatan suami kepada perempuan yang akan menjadi istrinya. Tentu saja aku akan memilihkan yang terbaik sebagai maharmu."
Vara tersenyum manis mendengar perkataan Bry yang bersungguh-sungguh.
"Tapi benarkah kamu hanya menginginkan 1 set perhiasan sebagai mahar? Apa tidak mau mansion mewah, mobil sport keluaran terbaru atau kapal pesiar?"
"Bry, apa kamu berniat pamer saat mengucapkan ijab qabul?"
"Hahaha.. Bukan begitu Sayang. Karena menurutku kamu sangat berharga, aku bahkan bersedia memberikan semua aset yang aku miliki untukmu."
"Aku tidak sematrealistis itu Bry. Untuk mahar, aku hanya ingin perhiasan.. Tapi bukan yang terlalu mahal, karena aku ingin memakainya sesering mungkin."
"Kenapa begitu Sayang?"
"Untuk selalu mengingatkanku.. Bahwa aku sudah menjadi istrimu."
Bry menatap wajah Vara yang terlihat malu-malu dengan senyum bahagianya.
"Terima kasih Sayang. Aku begitu terharu mendengarnya. Tapi meskipun kamu menginginkan mahar perhiasan dengan design simpel yang bisa kamu pakai setiap hari, aku tidak akan pernah memberikanmu perhiasan murah."
"Baiklah.. Baiklah.. Terserah maumu."
Vara berdecak kesal sambil memutar kedua bola matanya dengan jengah, sedangkan Bry hanya tertawa melihat calon istrinya yang malah terlihat sangat menggemaskan.
"Dan jangan lupa Bry, aku meminta seperangkat alat shalat juga sebagai maharku."
__ADS_1
Bry menggigit pelan bibirnya tanpa menoleh kearah Vara, lalu menghela nafasnya dalam-dalam. Sesaat kemudian, Bry menatap dalam manik mata Vara seraya tersenyum.
"Iya Sayang.. Semoga aku bisa belajar menjadi Imam yang baik untukmu ya."
Vara mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bry dengan mengulas senyum manisnya.
15 menit kemudian, Vara dan Bry sudah sampai di Mall yang mereka tuju. Mereka segera memasuki Toko perhiasan yang di design sangat nyaman dan mewah itu.
Vara dan Bry mulai melihat-lihat perhiasan yang dipajang indah didalam lemari kaca. Tiba-tiba ada seorang perempuan menepuk pundak Bry dari belakang, yang seketika membuat Bry terkejut dan membalikan badannya.
"Hai Mr. Bry.. Apa kabar?"
Seorang perempuan cantik berambut panjang, berpakaian seksi dengan make-up bold yang cukup mencolok.
"Eh Nona Misya.. Kabar saya baik. Bagaimana kabar anda dan ayah anda?"
"Kabar saya dan ayah saya juga baik. Apa anda sedang membeli perhiasan?"
'Tentu saja, mana mungkin kita di Toko perhiasan untuk membeli sayur.' Gerutu Vara dalam hati.
Vara merasa sangat kesal dengan keberadaan perempuan itu, terlebih perempuan itu seperti menganggap Vara tidak ada dan hanya fokus berbicara dengan Bry tanpa berniat menyapanya. Terlebih sikapnya sangat genit dan terkesan menggoda Bry.
"Iya.. Kami berniat membeli perhiasan. Kenalkan, ini calon istri saya Vara. Dan Sayang, kenalkan ini Nona Misya, anak dari partner bisnisku Tuan Adri."
Vara mengulurkan tangan meskipun sedikit malas, dan Misya baru membalas uluran tangan Vara setelah hanya menatap dan membiarkannya tangan Vara selama lebih dari 5 detik. Sikapnya terlihat sangat meremehkan Vara.
"Kami akan pergi, silahkan lanjutkan belanjanya Nona Misya."
Bry lalu menarik pelan tangan Vara dan keluar dari Toko Perhiasan itu dengan tergesa-gesa, sedangkan Misya hanya diam merasa terkejut dengan sikap Bry yang agak ketus terhadapnya.
"Bry.. Kita tidak jadi membeli perhiasan?"
"Nanti aku minta semua design yang ada di toko perhiasan itu, dan aku kirimkan ke ponselmu. Nanti kamu cukup memilihnya."
"Ok.."
Vara menjawab singkat karena tidak ingin berdebat disaat menyadari ekspresi kesal yang ada di wajah Bry.
Sesampainya di parkiran, Bry segera membukakan pintu untuk Vara. Vara langsung masuk dan memakai sabuk pengamannya, disusul Bry masuk dan duduk dibelakang kemudinya.
Bry masih belum berniat menjalankan mobilnya, ditatapnya Vara dengan tatapan yang sangat tajam.
"Bry, kamu kenapa menatapku seperti itu? Aku takut."
__ADS_1
"Apa kamu tidak marah karena perempuan tadi?"
"Hmm.. Perempuan bernama Misya tadi maksudmu? Kenapa aku harus marah?"
"Jelas sekali dia meremehkanmu. Apa kamu tidak kesal? Apa kamu tidak cemburu?"
"Kamu ingin aku jujur Bry?" Bry mengangguk kencang.
"Aku cemburu.. Aku kesal dan tidak menyukai keberadaannya. Aku juga menyadari sikapnya yang meremehkan aku, tapi aku tidak ingin dia merasa senang karena berhasil mengintimidasiku. Aku sadar, mungkin kedepannya akan semakin banyak godaan dan hambatan dalam hubungan kita. Tapi selama kamu mencintaiku dan tidak berniat membagi hatimu dengan perempuan manapun, aku akan selalu mencintaimu dan setia mendampingimu. Tapi jika kamu tergoda dan membagi hatimu dengan perempuan lain, aku benar-benar akan pergi."
Bry menggenggam erat tangan Vara, lalu menyandarkan kepala Vara didadanya.
"Percayalah.. Aku akan selalu mencintai dan setia padamu. Aku tidak akan pernah membagi hatiku dengan perempuan lain."
Vara mendongakan kepalanya lalu mengangguk dengan sangat yakin.
"Aku percaya padamu. Karena seorang laki-laki tidak akan pernah mengkhianati janjinya."
"Kenapa aku merasa kamu sedang menyindirku dan bukan percaya padaku."
"Hahaha.. Aku percaya Sayang. Tapi aku butuh bukti."
"Aku akan membuktikannya seumur hidupku."
Bry menyelusupkan jari-jarinya melalui rambut Vara yang tergerai indah lalu memegang tengkuk Vara dengan lembut, mendekatkan bibirnya yang kemudian mendarat mulus di bibir merah Vara yang manis.
Mereka berciuman dengan lembut, seolah berusaha saling meyakinkan perasaan masing-masing. Mereka yakin, selama mereka saling mencintai dan menjaga hati dengan teguh, hambatan dan godaan apapun tidak akan menggoyahkan hubungan yang dengan susah payah mereka bangun.
*****************
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1