Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 91 Aku Tidak Mau Menundanya


__ADS_3

Bry seketika merasa kesal saat Brandon menyebut Kim Ha Ni adalah pacarnya. Dia merasa khawatir juga kalau Vara akan terpancing dengan perkataan Brandon, namun ternyata Vara hanya menunjukan wajah datarnya.


"Jangan sembarangan kamu.. Dia bukan siapa-siapaku. Enak saja!"


"Kalau bukan pacar, lalu apa? Beraninya dia melukai Vara. Kamu memang benar-benar tidak becus menjaga Vara."


"Sudah.. Sudah.. Kalian membuat kepalaku pusing. Diamlah, jangan bertengkar terus."


Bry dan Brandon segera menutup mulutnya masing-masing, karena tidak ingin Vara semakin sakit dan juga marah pada mereka.


Sesaat kemudian dokter masuk dan mulai memeriksa Vara.


"Nona Vara, jangan terlalu banyak bergerak ya, karena lukanya bisa kembali terbuka jika anda terlalu banyak bergerak. Jangan lupa juga diminum obatnya dengan teratur."


"Dokter.. Kapan saya bisa pulang?"


"Mungkin lusa anda sudah bisa pulang."


"Tidak bisakah besok saja Dokter?"


"Luka anda masih baru, kami perlu memastikan luka anda tidak bermasalah."


"Menurutlah Sayang.. Ini demi kebaikanmu, agar lukamu ditangani dengan baik dan cepat sembuh."


"Baiklah-baiklah.. Aku akan menurut.."


Bry tersenyum sambil mengelus lembut rambut Vara, tentu saja pemandangan seperti ini membuat mata dan hati Brandon cukup perih. Dia masih belum bisa menerima kalau gadis yang dicintainya hanya mencintai laki-laki pilihannya. Akhirnya Brandon memutuskan untuk pulang ke mansionnya terlebih dulu, dan akan kembali menjenguk Vara keesokan harinya.


Kevin dan Daniel masuk kedalam kamar perawatan Vara dan ikut memberikan semangat untuk kesembuhan Vara.


"Vara, semoga cepat sembuh ya. Kamu harus kuat dan cepat sehat kembali. Kan kamu sebentar lagi akan menjadi pengantin."


Candaan Kevin membuat Vara tertawa, namun sesaat kemudian Vara menghentikan tawanya saat merasakan sakit pada luka di perutnya karena terlalu bersemangat tertawa.


"Sayang, kamu tidak apa-apa? Heh Kevin, jangan membuatnya tertawa. Itu membuat luka di perutnya terasa sakit."


"Maafkan aku.. Aku kan tidak bermaksud membuat Vara merasa sakit."


"Aku tidak apa-apa Bry.. Kenapa kamu berlebihan seperti itu dan malah marah-marah kepada Kevin. Maaf ya Vin.."


"Aku yang harusnya minta maaf, aku benar-benar tidak bermaksud Vara."


"Sudah Vin. Aku tidak apa-apa. Oh iya, tolong kalian rahasiakan hal ini dari Nila dan Vanny ya. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir."


"Kenapa begitu Vara? Aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari Danila."


"Wah, pacar yang baik.. Tapi maaf kali ini kamu harus menyembunyikan hal ini dari Nila."


"Hmm.. Baiklah, semoga aku bisa menutupinya dengan baik."


"Terima kasih ya Daniel.."


"Sama-sama Vara.."


"Kevin.. Maafkan aku, karena terlalu penasaran. Apakah kamu dan Vanny bertengkar? Kalian tidak lagi dekat seperti sebelumnya."


Bry dan Daniel yang sudah mengetahui penyebab menjauhnya Vanny dari Kevin, hanya diam tanpa menyela pembicaraan Vara kepada Kevin.


"Vanny marah padaku. Tapi maafkan aku Vara, aku tidak ingin membahasnya. Jika kamu penasaran, lebih baik kamu menanyakannya pada Vanny dan mendengar ceritanya dari sudut pandangnya saja. Aku tidak ingin menjelaskan apapun atau membela diri."


"Baiklah.. Maafkan aku kalau pertanyaanku mengganggumu."


"Tidak Vara.. Hanya saja aku tidak ingin membahasnya."


Vara hanya mengangguk tanda mengerti dengan perkataan Kevin yang menurutnya masih penuh misteri.


Sore harinya, Mama Irena dan Mommy Jhena datang setelah diberi tahu oleh Bry mengenai hal yang menimpa Vara sekaligus keadaan Vara saat ini. Hal ini mengejutkan keduanya, terlebih lagi saat mengetahui siapa pelaku penusukan yang menyebabkan Vara terluka parah seperti ini.


Mommy Jhena hanya datang sendiri, karena Daddy Dave sudah kembali ke Korea sehari setelah acara lamaran Bry dan Vara. Mama Irena juga datang sendiri, karena Papa Devan sedang diluar kota, dan Mama Irena berniat memberitahukan kabar buruk ini besok setelah Papa Devan pulang, karena tidak ingin membuat Papa Devan khawatir.


Mama Irena menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan Vara dengan erat.

__ADS_1


"Bagaimana hal ini bisa terjadi pada kamu Sayang? Apa kamu merasa sangat sakit? Hiks..hiks.."


"Aku tidak apa-apa Ma.. Dalam beberapa hari, lukanya akan segera sembuh Ma.."


"Tapi tetap saja terasa sakit dan akan meninggalkan bekas."


"Bry sudah menghubungi dokter kecantikan terbaik dan mengkonsultasikan soal ini Ma, Bry sudah memesan obat yang bisa menghilangkan bekas luka Vara dengan cepat. Dan jika lukanya masih berbekas, Bry akan membawa Vara ke Korea untuk operasi, agar bekas lukanya bisa hilang."


"Baiklah Bry..Hiks..hiks.."


"Apa kalian akan menunda pernikahan kalian?"


"Tidak Ma.. Meskipun harus menikah di Rumah Sakit atau dirumah, Bry akan tetap menikahi Vara di tanggal yang sudah ditetapkan. Bry tidak mau menunda pernikahan kami."


"Aku pasti sembuh cepat kok Ma.. Tidak perlu menunda pernikahan."


"Iya baiklah, cepat sembuh ya Sayang!"


Mama Irena memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Adeul, kamu tahan dimana si Ha Ni? Dia benar-benar perempuan gila."


"Di markas Mom. Aku masih belum tahu akan memberinya pelajaran seperti apa. Aku sangat ingin membalasnya saat ini, tapi aku tidak ingin hubungan baik Mommy dan Daddy dengan Paman Kim Sang Hyun menjadi rusak."


"Kamu tidak usah memikirkan itu, Paman Kim tahu benar seperti apa anaknya yang tidak punya akal sehat itu. Tapi biarkan Mommy yang mengurus masalah ini ya. Kamu jangan melakukan apapun, Mommy khawatir kamu terpancing emosi kalau bertemu dia."


"Ok Mom. Aku percayakan urusan ini pada Mommy."


"Memangnya Ha Ni itu siapa? Kenapa dia begitu tega melakukan hal ini pada Vara?"


"Maafkan kami Irena.. Ha Ni dulu mantan pacar Bry saat masih sekolah. Mereka dekat hanya karena aku dan suamiku dekat dengan Ayahnya. Tapi Bry dan Ha Ni sudah lama berpisah, malah Bry tidak mau dekat lagi dengan Ha Ni. Mungkin apa yang dilakukan Ha Ni saat ini, karena tidak rela Bry akan menikah dengan Vara."


"Tapi seharusnya hal ini tidak membuatnya senekat ini."


"Iya benar.. Anak itu memang liar dan sangat merepotkan. Aku akan mengurusnya."


"Maafkan Bry ya Ma. Semua gara-gara Bry.. Dan Bry bersalah karena tidak bisa melindungi Vara."


"Iya Ma.."


Mama Irena mengalihkan pandangannya kearah Vara yang tampak lemas.


"Sayang, siapa yang membawamu ke Rumah Sakit?"


"Brandon Ma.."


"Brandon sahabatmu?"


"Iya Ma.."


"Bagaimana bisa? Apa dia memutuskan kembali menetap di Indonesia? Mama harus berterima kasih pada Brandon karena sudah menyelamatkan kamu."


"Vara tidak tahu soal itu Ma.. Aku belum bicara banyak dengannya."


"Baiklah.. Jika nanti Mama bertemu dengannya, Mama akan menanyakan langsung padanya."


Bry terlihat menekuk wajahnya dengan kesal mendengar pembicaraan calon istri dan calon mertuanya tentang laki-laki yang selalu membuatnya naik darah. Hal ini tentu saja disadari oleh Mommy Jhena.


"Irena.. Brandon itu siapa?"


"Dia sahabat baik Vara. Mereka bersahabat sejak SMA sampai sekarang."


"Oh begitu.."


Mommy Jhena tidak berniat mencari tahu lebih jauh, karena merasa tebakannya tentang sahabat baik Vara itu benar, kalau Brandon memiliki perasaan lebih terhadap Vara yang diketahui Bry.


"Mommy dan Mama pulang saja ya.. Bry yang akan menjaga Vara disini."


"Iya Mom.. Ma.. Cukup Bry yang menjaga Vara disini."


"Kenapa Mommy merasa kamu hanya ingin ditemani Bry, dan tidak ingin kami mengganggu kalian, hahaha.."

__ADS_1


Wajah Vara seketika merona merah karena malu, maksudnya tidak ingin merepotkan Mommy Jhena dan Mamanya malah ditanggapi berbeda oleh Mommy Jhena.


"Bukan begitu Mom.. Vara tidak mau Mommy dan Mama tidak nyaman atau malah sakit karena menunggui Vara disini."


"Baiklah-baiklah.. Kami mengerti, hahaha.."


Mommy Jhena masih terus saja menggoda Vara yang terlihat malu.


"Tapi kamu tidak apa-apa Mama tinggal?"


"Tidak apa-apa Ma.."


"Baiklah, Bry tolong jaga Vara ya!"


"Baik Ma.."


"Jangan lengah Adeul!"


"Iya Mom.."


Akhirnya Mama Irena dan Mommy Jhena pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya masing-masing.


 


Badan Vara baru selesai dibersihkan oleh perawat perempuan dan digantikan bajunya dengan baju Rumah Sakit yang baru dan bersih.


"Sayang, kenapa kamu malah meminta perawat untuk membersihkan badan kamu dan juga menggantikan baju kamu? Kamu kan bisa memintaku membantumu.."


"Ih dasar mesum.. Tidak mau."


"Kenapa kamu malah menyebutku mesum? Aku kan hanya akan membantumu membersihkan badanmu lalu menggantikan bajumu. Aku tidak akan macam-macam padamu."


"Yakin, kamu tidak akan macam-macam setelah melihatku dalam keadaan telanjang?"


Bry nampak menyadari sesuatu, tiba-tiba tubuhnya mematung dan seketika pikirannya membayangkan tubuh Vara dalam keadaan telanjang.


"Bry.. berhenti membayangkan yang tidak-tidak."


"Kamu tadi yang bilang soal telanjang. Aku kan jadi tidak bisa mengontrol pikiranku."


"Dasar mesum!!"


"Kamu akan menyukai aku yang mesum ini, setelah nanti kita menikah."


Vara tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang berubah merah mendengar perkataan Bry.


Bry lalu mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Vara.


"Setelah menikah, aku tidak akan ragu-ragu melahapmu setiap hari. Untuk saat ini, aku akan bersabar, kecuali untuk yang satu ini."


Bry bergerak naik ke tempat tidur Vara, lalu merebahkan badannya disebelah Vara yang menatapnya sambil tersenyum. Bry mencium bibir Vara dan menyesapnya cukup kuat, lalu Bry memainkan lidahnya menggoda Vara untuk membalas ciuman panasnya. Tapi Vara hanya membalas ciuman Bry dengan singkat dan sesaat kemudian malah berusaha mengatupkan mulutnya.


"Bry.. Jangan berlebihan, aku masih sakit ya."


"Oh iya.. Lebih baik kita tidur saja."


Bry menutup matanya sambil mengelus lembut lengan Vara.


Sebenarnya bukan itu alasan Vara menghentikan ciuman panas Bry, tapi Vara merasa tubuhnya mengejang dan sangat menikmati ciuman Bry. Vara takut jika dirinya tidak bisa menahan diri dan tergoda dengan apa yang dilakukan Bry selanjutnya.


************************


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊

__ADS_1


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


__ADS_2