Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 27 Hidupku Lebih Indah Karenamu


__ADS_3

Bry berlari-lari mencari kamar yang ditempati Vara. Setelah hampir 10 menit mencari, ditemukannya kamar Vara. Bry mengetuk pintu dengan masih mengeluarkan nafas yang tidak beraturan. Vara yang membuka pintu, merasa terkejut melihat Bry berdiri di depan kamarnya. Bry memeluk Vara yang masih membelalakan matanya dengan mulut sedikit terbuka.


"Vara.. Tolong jangan seperti ini lagi. Kamu benar-benar membuatku khawatir." Bry semakin mengeratkan pelukannya. Diciuminya pucuk kepala Vara dengan penuh kerinduan.


"Maafkan aku Bry. Aku benar-benar ingin menenangkan diri, sendirian." Bry melepaskan pelukan eratnya dengan tetap memegang pinggang Vara. Lalu menatap mata Vara yang tampak sedikit sembab.


"Setidaknya kamu bisa mengatakannya padaku, kemana kamu akan pergi." Tampak jelas rasa khawatir di wajah Bry.


"Aku tidak mengatakannya pun, kamu tetap bisa menemukanku." Kata Vara dengan nada kesal. Bry kehabisan kata-kata untuk menjawab Vara.


"Bagaimana kamu bisa menemukanku?" Vara bertanya dengan ekspresi penuh selidik.


"Hmm.. Aku mengetahuinya dari pembantumu. Katanya ini tempat favoritmu." Bry terpaksa mengarang untuk menjawab pertanyaan Vara yang benar-benar tidak diduganya.


"Oh begitu.." Vara langsung percaya karena memang Bi Rahma mengetahui kalau Jungle Resort  di daerah L ini adalah tempat favorit Vara. Giliran Bry yang berdoa dalam hati agar Vara tidak bertanya pada pembantunya itu.


Vara menarik tangan Bry agar Bry duduk di sofa panjang berwarna putih.


"Duduklah." Vara mengambil 2 kaleng minuman dari lemari pendingin, lalu memberikan 1 pada Bry dan  membuka minuman yang dipegangnya. Vara menyesap minumannya dengan pelan, begitupun dengan Bry.


Vara ikut duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya  di dada Bry. Bry mengelus-elus lembut pucuk kepala Vara dan merapihkan helaian rambut Vara.


"Vara, apa kamu sudah bisa bercerita?"


"Tentang apa?" Vara mendongak menatap Bry.


"Alasan kamu seperti ini." Bry menatap dalam manik mata Vara. Vara kembali menyandarkan kepalanya di dada Bry.


"Hmm.. Saat di restaurant, aku bertemu dengan seorang laki-laki.." Vara menghentikan perkataannya.


"Lalu.." Bry  tidak sabar  menunggu kelanjutan perkataan Vara.


"Laki-laki itu.. mirip Arya. Namanya Satya."


Bry tersentak oleh kenyataan yang didengarnya. Ternyata semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini, hanya mempunyai 1 jawaban. Penyebab masalah perusahaannya, penyebab perubahan sikap Vara, dan sekarang penyebab terancamnya hubungan dia dengan Vara. Jawabannya hanya 1, yaitu "Satya Efrain Scott".


Bry berusaha bersikap biasa, seakan-akan tidak mengenal laki-laki yang dibicarakan oleh Vara.


"Vara, maafkan aku. Aku sungguh ingin menanyakan hal ini." Bry menarik nafasnya dalam-dalam, lalu meneruskan perkataannya.


"Apa pertemuanmu dengan orang yang mirip dengan Arya itu, sangat mempengaruhi perasaan kamu?" Vara menundukan kepalanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang berubah semakin muram.


Bry memegang dagu Vara dengan lembut, dan mengangkat dagu Vara sehingga wajah mereka berhadapan dan semakin dekat.

__ADS_1


"Sayang.. Jujur sama aku. Apa kamu sedih saat melihat laki-laki itu? Apakah karena kamu masih sangat mencintai Arya?" Vara mendadak menatap tajam kearah Bry.


"Kalau aku masih mencintai Arya, kamu mau apa?" Vara bertanya dengan meninggikan nada suaranya, membuat Bry terkejut dengan perubahan sikap Vara.


"Maafkan aku Sayang... Aku hanya.." Vara memotong perkataan Bry yang belum selesai.


"Kamu tidak seharusnya cemburu dengan seseorang yang sudah meninggal. Aku kehilangan dia tiba-tiba. Dan sekarang kamu ingin aku melupakan dia sepenuhnya?" Mata Vara mulai berkaca-kaca


"Bukan begitu Sayang.." Bry memegang kedua bahu Vara dan menatap manik mata Vara dengan tatapan memelas.


"Aku bukan cemburu pada Arya dan memintamu melupakan dia. Aku tahu itu tidak mungkin. Bry sedikit menundukan  kepalanya untuk menyembunyikan perasaan sedihnya.


"Lalu apa?" Air mata Vara mulai menggenang di sudut matanya. Bry kembali menatap wajah Vara dengan sendu.


"Aku takut.. Aku takut kamu jatuh cinta pada laki-laki yang mirip dengan Arya itu."


Emosi Vara seketika hilang, dipeluknya Bry dengan erat seakan tidak ingin melepasnya. Bry hanya terdiam karena terkejut dengan sikap Vara.


"Bry, kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku  sedih karena aku masih merasa kehilangan. Dan jujur.. Ada rasa bersalah pada Arya, karena kamu sudah mengisi hatiku saat ini." Vara membenamkan kepalanya di dada Bry. Bry yang mendengar ungkapan perasaan Vara, merasa ada batu yang menghantam hatinya dengan sangat keras.


"Sayang, kamu menyesal menerima cintaku?" Vara mendongakan kepalanya menatap Bry.


"Bukan begitu Bry. Ini murni karena aku merasa bersalah pada Arya. Aku merasa tidak berhak bahagia setelah Arya meninggal." Wajah Vara berubah lebih muram.


"Sayang, percayalah.. Arya pasti tidak ingin kamu terus bersedih karena dia. Dia ingin kamu kembali menjalani hidupmu dengan bahagia." Bry tidak ingin Vara menyalahkan  dirinya lagi.


"Iya Bry.." Kemuraman di wajah Vara mulai berkurang.


"Aku akan membahagiakan kamu Sayang.. Dan Arya akan bahagia saat melihatnya. Percayalah." Vara tersenyum dan memegang tangan Bry dengan erat.


"Iya.. Aku percaya, kamu adalah sumber kebahagiaanku."


Bry tersenyum lega mendengar perkataan Vara. Dipeluknya Vara  lalu diciumnya kening Vara dengan penuh perasaan.


"Terima kasih, karena sudah percaya padaku." Vara mengembangkan senyumnya. Ada perasaan tenang dan nyaman yang melingkupi hatinya saat ini.


Jam makan siang sudah lewat beberapa jam dari yang seharusnya. Bry mengajak Vara makan siang di resort. Sengaja Bry menyuruh pengawal pribadinya untuk meminta pihak resort mengatur makan siang yang istimewa untuk Vara dan Bry. Jadilah mereka makan siang diatas rumah pohon dengan pemandangan hamparan kebun bunga dibawahnya.


Sebenarnya Bry melakukannya karena merasa cemburu dengan kejadian sarapan Vara dengan Satya tadi pagi. Bry ingin Vara hanya membuat dan mengingat setiap kenangan indah bersama Bry saja, bukan dengan laki-laki lain. Sebisa mungkin Bry akan menghapus semua kenangan Vara bersama laki-laki lain dan menggantinya dengan kenangan yang jauh lebih indah bersama Bry.


Vara mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. 1 meja makan dengan 2 kursi diatas balkon rumah pohon yang sedikit lebih besar dari rumah pohon di sekitarnya, Dihiasi tirai-tirai berwarna putih dengan hiasan bunga mawar putih membuatnya semakin indah.  Tentu saja makan siang ini menjadi lengkap, dengan menu masakan nusantara yang sangat cocok dinikmati bersama keindahan alam yang menakjubkan.


"Sayang.. Ini indah sekali. Aku sudah sering kesini, tapi saat ini jauh lebih indah." Bry terdiam sesaat. Bukan karena ungkapan kagum Vara, tapi panggilan Sayang yang keluar dari mulut Vara. Tentu saja panggilan yang sepertinya tidak disengaja itu, seketika membuat hati Bry menghangat. Dipeluknya Vara dari belakang.

__ADS_1


"Tentu Sayang.. Semua menjadi lebih indah karena ada kamu di dalam hidupku." Vara membalikan badannya menghadap Bry, lalu mendongakan wajahnya ke arah Bry.


"Aku mencintaimu, Bry.." Vara mengatakan perasaannya dengan sangat lembut.


"Aku lebih mencintaimu, Sayang.." Bry mendekatkan wajahnya ke wajah Vara, menempelkan bibirnya ke bibir Vara dengan perlahan. Lalu mencecapnya dengan lembut. Vara menutup matanya, menikmati bibir Bry yang mulai menjelajah bibirnya. Vara membalas ciuman Bry dengan sama lembutnya. Mereka berciuman cukup lama, sampai akhirnya..


Kriuuukk..kriuuukk..


Bunyi perut Vara membuyarkan ciuman mereka. Vara menutup wajahnya karena malu. Bry tersenyum lalu membuka tangan Vara yang menutupi wajahnya.


"Sayang.. Duduklah. Kita makan dulu ya." Vara langsung menuju kursinya tanpa menatap wajah Bry. Bry lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Vara yang lucu.


Vara mulai menyantap makanannya dengan lahap, begitupun dengan Bry yang menikmati makan siangnya sambil tak henti-hentinya menatap gadis yang dicintainya itu.


Setelah makan siang diatas rumah pohon, berjalan-jalan menyusuri kebun teh dan menikmati sunset di pinggir danau.. Akhirnya Bry dan Vara berniat pulang. Bry memutuskan mengendarai mobil Vara, karena khawatir akan keselamatan Vara dan ingin menikmati waktu berdua lebih lama lagi.


Vara sudah duduk disebelah Bry yang bersiap melajukan mobil Vara.


"Bry, apa tidak apa-apa mobil kamu ditinggal disini? Kita bawa mobil kita masing-masing saja." Vara bertanya untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi Bry menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Sayang. Nanti ada orangku yang akan ambil kesini." Bry mengelus lembut rambut Vara.


"Hmm.. Baiklah." Vara lalu meluruskan pandangannya ke depan, Bry tersenyum dan mulai menjalankan mobil Vara dengan kecepatan sedang.


Sebenarnya Bry sudah meminta salah satu anak buahnya untuk membawa mobil sportnya pulang. Sedangkan 3 anak buahnya masih setia mengikutinya dengan jarak aman untuk memastikan keamanan Boss dan kekasihnya itu.


 


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


 


 

__ADS_1


__ADS_2