
Vara mendorong pelan dada Bry agar melepaskan pelukannya, saat merasa perutnya tiba-tiba mual. Bry mengernyitkan kening melihat Vara yang menutup mulutnya menahan mual karena ingin memuntahkan isi perutnya.
Vara segera berjalan dengan cepat menuju toilet, meninggalkan Bry yang berdiri dengan ekspresi heran.
‘Apa Vara sakit? Mungkin angin malam membuatnya tidak enak badan.' Batin Bry.
Bry menyandarkan punggungnya di dinding ruangan sebelah toilet perempuan sambil menunggu Vara keluar.
15 menit berlalu, Vara masih juga belum keluar dari dalam toilet, Bry mulai khawatir. Tapi dia tidak bisa masuk kedalam toilet untuk memeriksa keadaan Vara. Toilet pun sepi, tidak ada orang yang keluar masuk toilet, membuat Bry semakin bingung dengan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya Bry memanggil petugas cleaning service perempuan yang sedang membersihkan koridor, untuk memeriksa keadaan Vara didalam toilet.
Sesaat setelah petugas cleaning service itu masuk terdengar teriakan dari dalam toilet.
“Tolooong..”
Bry segera masuk, tidak peduli dirinya harus masuk kedalam toilet perempuan, yang pasti sesuatu yang buruk tentang Vara mulai terlintas dipikirannya.
Mata Bry terbelalak melihat Vara tergeletak dilantai depan wastafel. Vara dalam keadaan tidak sadar dengan wajah yang pucat dan tangan yang memegang perutnya.
Bry segera menggendong Vara keluar dari toilet sambil berterima kasih pada petugas cleaning service yang membantunya. Dengan langkah yang cepat, Bry membawa Vara menuju mobilnya.
Bry baru saja hendak memakaikan sabuk pengaman pada Vara, saat tangan Vara memegang lengan Bry dengan sentuhan yang sangat lemah.
“Kita mau kemana Bry?”
“Kita harus ke Rumah Sakit Sayang.”
“Tidak.. Aku tidak mau..”
Vara menolak dengan nada sedikit keras membuat Bry terheran-heran.
“Kenapa Sayang? Aku khawatir dengan keadaan kamu. Please Sayang!”
“Tidak, aku mau pulang ke apartemen.”
‘Jadi Vara tinggal di apartemen sekarang. Tapi dimana?’ Tanya Bry dalam hati.
Vara hendak keluar dari dalam mobil Bry, tapi Bry menahan tangan Vara membuat Vara mengurungkan niatnya.
“Aku antar ya Sayang.. Tolong izinkan aku mengantar kamu.”
__ADS_1
“Tidak, terima kasih. Aku membawa mobil sendiri.”
Vara kembali akan membuka pintu, tapi Bry merengkuh tubuh Vara dengan melingkarkan tangannya di dada Vara.
“Tolong izinkan aku mengantar kamu. Aku tidak bisa membiarkanmu menyetir sendiri. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi padamu.”
Vara terdiam memikirkan apa yang harus dilakukannya, di satu sisi dia tidak mau Bry mengantarnya dan mengetahui dimana dia tinggal, namun disisi lain Vara merasa tubuhnya tidak kuat untuk bisa menyetir dan pulang sendiri. Bahkan tubuhnya terasa sangat lemas sekarang.
“Sayang.. Aku takut kamu pingsan lagi. Aku hanya akan mengantarmu pulang dan memastikan keadaanmu baik-baik saja sampai di apartemenmu Sayang.”
Vara terlihat berpikir keras, sempat terlintas untuk meminta bantuan Satya tapi Vara tahu betul, saat ini Satya begitu sibuk menemani para tamu undangan yang merupakan orang-orang penting.
“Baiklah.. Antarkan aku sampai apartemen, tapi hanya sampai lobby saja.”
Bry hendak menolak, tapi melihat ekspresi Vara yang masih terlihat ragu membuat Bry akhirnya menerima syarat Vara karena takut Vara berubah pikiran.
“Baiklah Sayang.. Aku hanya akan mengantarmu sampai lobby apartemenmu.”
‘Tapi aku akan mengikutimu diam-diam untuk memastikan kamu sampai apartemen dengan selamat. Dan tentu saja agar aku bisa mengetahui dimana kamu tinggal.’ Batin Bry.
Bry segera melajukan mobil sportnya menuju daerah yang disebutkan oleh Vara. Jarak daerah tempat apartemen Vara cukup jauh dari mansion Bry, sekitar 1 jam perjalanan. Bry berpikir mungkin Vara sengaja memilih tinggal di apartemen yang jauh dari mansion Bry, agar kemungkinan bertemu dengan Bry semakin kecil.
“Bry pulanglah.. Aku akan masuk setelah kamu pergi.”
Bry mengangguk dan segera masuk kedalam mobilnya tanpa menolak permintaan Vara. Setelah mobil Bry terlihat meninggalkan halaman apartemen, Vara segera naik ke lantai 5 dimana apartemennya berada.
Vara tidak tahu, selang 5 menit kemudian Bry sudah memarkirkan kembali mobilnya di parkiran apartemen Vara. Saat hendak melewati security di receptionist, Bry mengalami kesulitan karena tidak mungkin bisa masuk tanpa access card yang hanya dimiliki oleh penghuni apartemen tersebut.
“Maaf Pak.. Anda mau kemana dan mau bertemu dengan siapa?”
Seorang security menghampiri dan bertanya pada Bry yang terlihat kebingungan.
“Saya mau bertemu dengan istri saya, dia salah satu penghuni di apartemen ini. Tapi tadi dia sudah masuk lebih dulu.”
“Memangnya siapa nama istri Bapak?”
“Namanya Zivara Pak, apa Bapak mengenalnya?”
“Maksud Bapak Nona Zivara anaknya Tuan Devan?”
Security itu bertanya untuk memastikan apa yang ditanyakan Bry.
__ADS_1
“Benar Pak.. Apa Bapak kenal?”
“Tentu saja. Nona Zivara kan anak dari pemilik apartemen ini.”
“Apa? Jadi ini apartemen Papa Devan. Bisa tolong tunjukan dimana apartemennya?”
“Maaf Pak.. Saya harus memastikan dulu, apa benar anda suaminya?”
Tanpa menjawab, Bry segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukan photo-photo pernikahannya dengan Vara. Security itu tersenyum lalu langsung mengantarkan Bry menuju apartemen Vara di lantai 5.
Sementara itu didalam apartemennya, Vara terlihat duduk di lantai dengan bersandar pada dinding kamar. Vara sudah mengganti gaun pestanya, namun Vara masih belum menghapus make-up diwajahnya.
‘Inikah yang aku inginkan? Aku memang berhasil memberinya rasa sakit seperti yang dia berikan padaku, tapi aku pun menyiksa diriku dengan terus menerus menghindarinya, disaat hatiku malah semakin merindukannya. Jujur, aku masih belum bisa melupakan rasa sakit ketika dia membohongiku. Hatiku terasa tercabik-cabik, saat dia mengatakan akan pergi menemui Daniel, padahal aku tahu pasti dia akan menemui perempuan lain. Hatiku teriris, ketika dia lebih memilih meninggalkanku saat aku memintanya untuk tidak pergi. Hatiku terasa dihantam batu saat dia bilang menemuinya adalah sesuatu yang penting, lebih penting dari aku istrinya yang sedang mengandung kedua anaknya. Aku merasa tidak dicintai.. Aku merasa tidak berharga dibandingan perempuan itu yang aku akui terlihat sangat cantik dengan make-up bold dan lipstick merah menyala yang menghiasi bibirnya. Tubuhnya yang proporsional, dibalut pakaian mahal yang sedikit terbuka membuatnya terlihat sangat memukau. Sedangkan aku? Hanya perempuan biasa berbalut gaun tidur sederhana. Aku pun bukan wanita karier dengan pekerjaan dan kesuksesan yang bisa dibanggakan. Aku hanyalah seorang wanita menikah yang sedang hamil, sekaligus mahasiswa yang belum pernah bekerja dan tidak mempunyai apapun yang bisa aku banggakan. Tentu saja, kamu akan lebih memilih dia. Saat itu aku berpikir, kamu hanya menganggapku seorang perempuan polos yang bisa kamu bodohi. Tahukah kamu, aku merasa hampir gila saat melihat mobilmu keluar meninggalkan halaman mansion. Aku melajukan mobilku tanpa perduli dengan nyawaku dan kedua anak kita. Yang aku pikirkan saat itu hanyalah mencegahmu menemui perempuan murahan itu. Tapi apa yang terjadi? Aku hampir kehilangan kedua anak kita, sedangkan kamu tetap pergi menemui perempuan itu? Meskipun kamu bilang kamu dijebak, tapi kebohongan kamu telah merusak semuanya. Aku kecewa.. Aku benci.. Karena kamu merusak semuanya.’
Ting-Tong.. Ting-Tong..
Bel apartemen Vara berbunyi, menyadarkan Vara dari lamunan yang menyesakan dadanya.
Vara melihat siapa tamunya melalui layar intercomnya. Vara segera membuka pintu setelah memastikan bahwa tamunya adalah security yang bertugas di lantai 1, Namun Vara sangat terkejut begitu melihat seseorang yang berdiri dibelakang security itu.
“Bry.. Apa yang kamu lakukan disini?”
Bry hanya tersenyum, berterima kasih kepada Bapak Security lalu bergegas masuk kedalam apartemen Vara tanpa peduli dengan tatapan tajam Vara kearahnya. Sedangkan Security itu pergi dengan hati berbunga-bunga, karena Bry memberinya uang yang cukup banyak sebagai tanda terima kasih.
****************************
Image Source : Instagram
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1