
Bry menangkap gurat kekhawatiran di wajah Satya, meskipun Satya berusaha menutupi perasaannya dengan sikap tenangnya, tapi Bry yang begitu peka masih bisa merasakan suasana hati Satya saat ini.
Memang benar, hati dan pikiran Satya terguncang saat mengetahui Vara kehilangan ingatannya karena Amnesia Disosiatif yang dialaminya. Satya mengetahui dengan jelas, begitu banyak kejadian buruk yang sudah dialami Vara. Namun Satya tidak menyangka sama sekali, kalau Vara akan mengalami hal yang lebih buruk dan mengancam nyawanya. Bahkan sampai membuat Vara trauma dan mengalami Amnesia Disosiatif.
“Bryllian.. Apa Vara lupa soal Arya?”
“Iya, dia lupa.”
“Apa dia juga melupakan Brandon?”
“Iya, dia juga lupa pada Brandon. Kenapa?”
“Berarti dia lupa dengan semua kejadian buruk yang dulu menimpanya?”
“Iya, dia bukan hanya melupakan kenangan buruk, tapi juga kenangan indah.”
“Hmm, begitu. Apa tidak ada therapy yang bisa mempercepat penyembuhannya?"
"Dokter hanya memintaku untuk selalu mengajaknya ke tempat-tempat yang pernah dikunjunginya, juga bertemu orang-orang terdekatnya, agar kenangan lamanya dapat kembali. Tapi entahlah, Vara bukan hanya kehilangan ingatan, tapi dia seakan berubah menjadi orang lain."
"Benarkah? Aku pernah mendengar amnesia disosiatif terkadang dapat mengubah pribadi seseorang, apakah itu yang kamu maksud, Bryllian?"
"Iya, kamu benar. Seperti yang kamu lihat dari rekaman tadi, dia berubah menjadi perempuan yang lebih berani dan kuat."
"Pantas saja, Vara terlihat sangat berbeda."
"Iya Satya.. Aku begitu rindu dengan pribadinya yang lembut dan manja. Tapi bagaimana pun sikap dan sifatnya sekarang, aku tetap mencintainya."
"Memang sudah seharusnya begitu. Kamu sudah berjanji untuk selalu mencintainya dalam keadaan apapun."
"Iya, kamu benar Satya."
"Hmm.. Bryllian, aku pamit dulu, ada sesuatu yang harus aku lakukan.”
“Baiklah, terima kasih sudah mau membantuku dan Vara.”
Satya merangkul Bry dan menepuk-nepuk punggung Bry, begitu pula Bry yang melakukan hal yang sama pada Satya. Satya segera meninggalkan kamar itu, meninggalkan Vara bersama Bry yang selalu setia menemaninya.
__ADS_1
Bry kembali duduk di pinggir tempat tidur Vara, mengelus lembut pelipis Vara dan merapikan anak-anak rambut yang jatuh di dahi Vara.
Vara mengernyit dengan mata tertutup saat tangan Bry menyentuh lembut hidungnya. Bry yang menyadari pergerakan Vara, merasa sangat senang dan bersyukur mengetahui istrinya sudah sadar.
“Sayang, syukurlah kamu sudah bangun.”
"Aku dimana Honey?”
“Di kamar, di Jungle Resort.”
Tiba-tiba mata Vara membulat dengan sempurna, saat pikirannya mulai menyadari kejadian terakhir yang dialaminya sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.
“Honey, bagaimana keadaan Celline dan Aric? Mereka tidak meninggal kan?”
“Kenapa kamu malah mengkhawatirkan mereka? Mereka kan hampir membuatmu kehilangan nyawa.”
“Memang, tapi aku tidak mau mereka meninggal. Aku tidak mau kamu menjadi pembunuh, Honey.”
“Tenang saja Sayang, saat ini mereka ada di Rumah Sakit. Celline tidak apa-apa, dia hanya butuh perawatan saja. Mengenai Aric, peluruku hanya menyerempet perutnya saja, aku tidak berniat membunuhnya sama sekali.”
“Tenanglah Sayang, aku tidak akan melakukannya, aku juga tidak mau membunuh orang.”
“Syukurlah.. Hmm, Honey.. Terima kasih karena kamu sudah datang menyelamatkanku. Jika kamu datang terlambat, mungkin aku sudah tidak bersamamu lagi saat ini.”
Bry mengusap lembut kening Vara dan menatap dalam ke manik mata Vara yang jernih.
“Sssttt.. Jangan bicara seperti itu, jika itu terjadi aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Jangan pernah meninggalkanku Sayang. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu. I love you Sayang..”
Air mata Bry menetes, hingga mengenai pipi Vara yang masih terlihat lebam.
“I love you too, Honey..”
Tangis Vara pun pecah, tubuhnya bergetar menahan perasaan takut yang masih ada di hatinya. Bry merebahkan dirinya disamping Vara, lalu merengkuh kepala Vara dan membenamkannya di dadanya yang bidang. Vara menumpahkan segala perasaannya di dalam dekapan Bry, sedangkan Bry tidak henti menciumi puncak kepala Vara di sela-sela tangisnya yang tertahan.
‘Terima kasih Ya Allah, Engkau telah melindungi istriku dari orang-orang jahat itu.’ Batin Bry.
**************************
__ADS_1
Satya berada di ruangan kerjanya yang terletak di Lantai 2 Jungle Resort. Matanya tertuju pada frame photo dirinya dengan seorang perempuan cantik bergaun hitam. Photo yang diambil saat mereka menghadiri pesta ulang tahun perusahaan milik partner bisnis Satya. Dimana saat itu, Satya yang seorang CEO hebat selalu bersemangat mengenalkan Interior Designer andalannya pada beberapa partner bisnisnya.
Satya mengusap pelan frame photo di hadapannya, tepatnya di bagian wajah perempuan cantik tadi. Entah kenapa, hatinya yang sudah lama merasa beku, kini terasa hangat. Seperti ada sebuah harapan yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Meskipun Satya tahu, harapannya adalah sebuah kesalahan, tapi Satya merasa Tuhan sedang memberinya kesempatan untuk mengubah kenyataan yang tidak disukainya.
‘Aku tidak menyukai wajahku yang begitu mirip dengan Arya. Setiap kali Vara menatapku, aku bisa merasakan kesedihan yang ada di hatinya, mekipun dia selalu berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan. Aku tahu, setiap kali dia menatapku, maka dia seakan sedang menatap kekasihnya yang telah meninggal. Aku tidak pernah menyukai tatapan matanya padaku. Aku bukan Arya, aku Satya.. Tolong jangan pernah menatapku dengan tatapan sedih itu. Vara, aku melepasmu karena aku menyadari, kalau aku tidak akan pernah bisa membuatmu tersenyum apalagi tertawa. Karena wajahku akan selalu mengingatkanmu pada Arya. Tapi sekarang, apa Tuhan sedang memberiku kesempatan? Jika kamu tidak mengingat Arya dan juga tidak mengingatku, apakah aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku? Bolehkah aku mencoba membuatmu berpaling padaku Vara? Dulu, aku menyerah untuk mendapatkanmu, bukan karena tidak percaya diri bersaing dengan Bryllian, apalagi dengan Brandon. Tapi aku tahu, bersamaku kamu selalu merasa sedih. Aku memang banyak membantumu, bahkan kita menghabiskan banyak waktu sebagai rekan kerja, tapi tatapan sendu di sela-sela tawamu, selalu membuatku tersiksa. Meskipun kamu sudah mengikhlaskan kepergian Arya, tapi wajahku selalu mengingatkanmu padanya. Vara bolehkah aku berharap, kamu akan memberikan hatimu padaku? Pada seorang Satya Efrain Scott, tanpa ada sebutan Kakak Arya di belakangnya?' Batin Satya.
**************************
Image Source : Instagram (Edited)
Hallo Readers semuanya.. Mohon maaf ya kalau Novel Star on A Dark Night ini banyak sekali tokohnya dengan kisah mereka yang masih gantung, karena novel ini adalah awal dari novel-novel berikutnya.
Tapi saat ini, saya akan fokus dulu di novel ini sampai selesai.
Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍
Kalian semua begitu berharga buat author. Love u so much.. ❤❤❤
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
(IG : zasnovia #staronadarknight)
__ADS_1