
Mobil Sharon memasuki area café yang cukup sederhana dan tidak terlalu ramai. Cafe ini adalah tempat favorit Sharon untuk menghabiskan waktu akhir pekannya, sebelum Sharon dekat dengan Brandon.
Sharon memesan segelas moccacino dan sepotong rainbow cake. Sementara itu, 6 orang anak buah Brandon tidak ikut masuk ke dalam Cafe, mereka hanya mengawasi dari dalam mobil. Brandon menginstruksikan mereka agar keberadaan anak buahnya yang mengikuti Sharon, tidak diketahui Sharon dan tidak boleh menarik perhatian banyak orang. Posisi Sharon yang duduk di samping jendela, memudahkan anak buah Brandon untuk mengawasi istri Boss besarnya itu.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri Sharon yang sedang melamun sambil sesekali menyesap moccacino-nya.
“Sharon?”
Sharon membulatkan matanya saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.
“Ya ampun, Kak Evander.”
Sharon begitu terkejut dengan kehadiran Kakak kelasnya saat di SMA yang berada di Kota J, Indonesia dulu. Mereka pernah dekat meskipun tidak sampai berpacaran. Saat itu Sharon terpaksa menolak pernyataan cinta Evander, karena tidak mau menyakiti sahabatnya yang juga begitu menyukai Evander.
“Baguslah, kamu masih ingat padaku. Bolehkah aku duduk disini?”
“Tentu saja boleh Kak Evan silahkan duduk.”
Evander segera duduk tepat di hadapan Sharon.
"Bagaimana kabarmu Sharon?"
"Aku baik-baik saja Kak."
Brandon memasuki Café dengan langkah yang cepat, rasanya sudah sangat tidak sabar untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada istrinya yang sudah salah paham itu. Namun semangatnya tiba-tiba surut, saat melihat Sharon yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki yang tidak dikenal Brandon. Bahkan saking asyiknya obrolan mereka, sampai-sampai Sharon tidak menyadari Brandon masuk ke dalam Café dan berjalan mendekatinya. Langkah Brandon terhenti seketika, saat melihat tawa Sharon yang keluar begitu lepas dari mulutnya.
Ada perasaan nyeri saat melihat Sharon tertawa bersama dengan orang lain, seperti ada luka yang tiba-tiba muncul di dadanya.
‘Mungkin inilah yang dirasakan Sharon, saat melihatku tertawa bersama dengan Vara. Tapi apa karena dia cemburu padaku, membuatnya boleh bertemu dengan laki-laki lain yang bahkan tidak aku kenal?’ Batin Brandon.
Brandon membalikan badannya hendak keluar dari dalam Café. Sharon yang sekilas melihat laki-laki dengan punggung yang mirip sekali dengan suaminya, segera berdiri dan mendongakan kepalanya. Kepala Sharon menoleh ke arah jendela samping kirinya. Brandon tampak berjalan menuju mobilnya, beberapa orang anak buahnya berdiri di samping mobil mereka. Setelah Brandon masuk ke dalam mobilnya, semua anak buah Brandon pun ikut masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Brandon segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun semua anak buahnya tetap bertahan untuk menjaga Sharon yang masih berada di dalam Cafe.
Sharon berlari keluar dari Cafe tanpa menghiraukan Evander yang memanggil-manggil namanya. Mata Sharon mulai berkaca-kaca melihat mobil Brandon yang semakin bergerak menjauh. Evander keluar dari Café dan memandang kemana arah pandang Sharon tertuju.
“Dia siapa Sharon?”
“Suamiku."
Evander terkejut dengan perkataan Sharon, kata suami yang dikatakan Sharon seolah petir yang menyambar hatinya sampai terbakar dan hancur tidak bersisa.
“Ka.. Kamu sudah menikah Sharon?”
__ADS_1
“Iya Kak.. Maaf ya Kak, aku harus pulang sekarang.”
Sharon berlari masuk ke dalam Cafe untuk mengambil tasnya, lalu segera menuju mobilnya setelah melambai sekilas ke arah Evander yang masih diam mematung melihat gadis yang dicintainya pergi lagi dari hadapannya. Sharon juga memberi kode kepada semua bodyguards-nya untuk mengikutinya pulang.
Sharon segera menyusul mobil Brandon diikuti 2 mobil berisi bodyguards-nya, namun mobil Brandon sudah tidak terlihat lagi. Sharon putuskan untuk segera pulang ke hotel milik Brandon.
Tanpa Sharon ketahui, saat ini Brandon mengarahkan mobilnya menuju villa miliknya yang masih belum Sharon ketahui. Saat ini Brandon sedang tidak ingin bertemu dengan Sharon.
Brandon sadar, Sharon pasti marah karena kebersamaannya tadi sore bersama Vara, tapi Brandon tidak bisa membenarkan tindakan Sharon yang malah pergi tanpa bertanya terlebih dahulu tentang kebenarannya. Terlebih lagi Sharon malah bertemu laki-laki lain, dan terlihat begitu bahagia.
Saat ini Brandon merasa sangat marah, cemburu juga kecewa dengan apa yang dilakukan Sharon. Karena itulah, Brandon memilih pergi untuk menjernihkan pikirannya dan menghindari pertengkaran. Jika bertemu Sharon, Brandon khawatir akan lepas kendali dan menyakiti hati juga fisik Sharon. Karena bentakannya tadi sore, Sharon memilih pergi meninggalkan hotel, jadi Brandon memilih menahan dirinya kali ini agar Sharon tidak melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi.
***********************
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 20 menit, Brandon sudah sampai di sebuah Villa yang terletak tidak jauh dari tempat wisata taman bunga di area Gunung Halla (Hallasan) Pulau Jeju. Brandon memasuki villa itu setelah disambut 1 orang Security dan 1 orang pelayan paruh baya. Brandon langsung menuju kamar pribadinya dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang selalu dibersihkan dan disiapkan oleh pelayan, meskipun Brandon tidak berada disana.
Pikiran Brandon melayang pada pemandangan menyakitkan yang tadi dilihatnya. Dadanya kembali bergemuruh dengan hebat, sehingga Brandon memilih memejamkan matanya perlahan, mencoba menenangkan hatinya yang sedang tidak bersahabat.
Brandon mengambil ponselnya dari saku jasnya, dan segera menghubungi Jared.
“Jared, cari tahu semua tentang laki-laki yang bersama Sharon di Café J. Aku tunggu secepatnya.”
Brandon menutup panggilan teleponnya, tanpa menunggu jawaban Jared.
"Apa aku bukan satu-satunya laki-laki yang ada di hatimu Sharon?" Lirih Brandon.
Brandon menarik laci yang terdapat pada nakas di sebelah tempat tidurnya. Dikeluarkannya 2 butir obat dari botol obat berukuran cukup besar, kemudian Brandon memejamkan matanya berusaha untuk tidur dan melupakan kejadian hari ini.
***********************
Sementara itu, Sharon yang sudah sampai di kamar hotel, tidak menemukan keberadaan Brandon di semua sudut kamar. Perasaan kecewa kembali menghinggapi hatinya, rasa bersalah juga muncul disana saat mengingat kejadian di Café tadi. Pikiran Sharon kalut, merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
‘Pasti Brandon sudah salah paham padaku. Sekarang aku harus bagaimana?’ Batin Sharon.
Sharon mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mencoba menghubungi nomor Brandon. Tapi Brandon tidak juga mengangkat panggilan telepon dari Sharon. Setelah berkali-kali panggilan teleponnya tidak diangkat oleh Brandon, Sharon memilih mengirim pesan pada Brandon berharap suaminya mau membaca dan membalas pesannya.
Sharon :
Sayang, kamu dimana? Pulanglah, aku menunggumu.
__ADS_1
Sharon menunggu balasan pesan dari Brandon, namun yang ditunggu tidak kunjung datang. Akhirnya Sharon memutuskan membersihkan dirinya dan mengganti bajunya dengan piyama tidur.
Sharon merebahkan tubuhnya dengan perasaan tidak menentu, sesekali pandangannya mengarah pada ponsel yang diletakannya diatas nakas.
"Sayang, kamu dimana sebenarnya?” Lirih Sharon
Sharon bangun dari posisi tidurnya, dan memilih bersila di atas tempat tidur. Sharon segera menghubungi Jared untuk mencari tahu keberadaan Brandon.
“Jared, tolong cari tahu dimana suamiku. Aku begitu mengkhawatirkannya, tolong temukan dia.”
Jared tidak menjawab sepatah kata pun, membuat Sharon yakin kalau Jared tahu dimana keberadaan Brandon saat ini.
“Tolong antarkan aku saat ini juga.. Aku tunggu di parkiran.”
Sharon menutup panggilan teleponnya lalu segera mengganti bajunya dan bergegas menuju tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir, ternyata Jared sudah berada di dalam mobilnya. Sharon segera memasuki mobil Jared sebelum diminta.
“Ayo kita pergi!”
Jared segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sharon tidak bertanya tujuan mereka saat ini, yang ada dalam pikirannya hanyalah ingin segera bertemu dengan suaminya dan mengakhiri kesalahpahaman ini. Meskipun Sharon sedang marah pada Brandon, tapi Sharon tidak ingin Brandon salah paham padanya karena kejadian di Café tadi. Sharon tahu pasti, Brandon begitu membenci pengkhianatan, dan Sharon benar-benar tidak mau suaminya berpikir buruk tentangnya.
Setengah jam kemudian, mobil Jared sudah sampai di sebuah Villa berwarna putih dan terlihat sangat luas. Ukurannya memang lebih kecil dari mansion mewah milik Brandon, tapi villa itu terlihat sangat indah dan megah.
Jared mengajak Sharon masuk ke dalam villa tersebut. Sharon mengedarkan pandangannya saat memasuki bangunan villa yang begitu indah itu.
“Naiklah ke lantai 2, dia ada di kamar dengan pintu berwarna hitam.”
Tanpa membuang-buang waktu, Sharon segera naik dengan sedikit berlari, sudah tidak sabar untuk menemui Brandon untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini.
Namun hati Sharon berubah ragu saat sudah sampai di depan kamar dengan pintu berwarna hitam itu. Sesungguhnya Sharon takut, Brandon akan marah besar dan memilih tidak mempercayai semua penjelasannya. Sharon begitu paham, suaminya yang penyayang dan lembut bisa berubah kasar jika dikecewakan dan dikhianati orang yang dia percaya.
************************
Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini..
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya.. (like & vote boleh banget kok 😁)
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
__ADS_1
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..