
Brandon memutuskan untuk tidak menerima ajakan Sharon untuk makan malam bersama keluarga dan sahabat-sahabat Vara, yang sebagian juga adalah sahabatnya, dengan alasan sakit kepala. Brandon masih merasa canggung berhadapan dengan mereka semua, yang pastinya mengetahui perasaannya terhadap Vara. Akan lebih baik jika malam ini Brandon tidak bertemu mereka dulu, untuk menghindari ketidaknyamanan.
Brandon menatap langit-langit kamar resort yang ditempatinya. Sebenarnya dia sungguh tidak suka berada di resort milik Bry, tapi Brandon memilih bersikap sedikit tidak tahu malu demi bisa bersama dengan perempuan yang dicintainya.
Tapi siapa sebenarnya yang menjadi alasan Brandon bersikap seperti itu?
FLASHBACK ON
Brandon menatap kepergian perempuan bernama Sharon yang diapit kedua temannya yang begitu penasaran dengan kejadian yang dialami perempuan itu, sampai bisa bertabrakan dengan CEO dingin pemilik hotel tempatnya bekerja.
Brandon hendak berjalan kembali menuju bar, tapi pandangannya tertuju pada sebuah ponsel yang tergeletak di tempat perempuan tadi terjatuh. Brandon menarik kesimpulan, bahwa kemungkinan besar ponsel itu adalah milik perempuan yang bernama Sharon.
Diambilnya ponsel itu, Brandon berniat mengembalikannya kepada Sharon dengan menitipkannya di Receptionist. Tapi tiba-tiba pandangannya terpaku pada layar ponsel yang tidak terkunci dan menampilkan wajah Vara yang berbaring diatas tempat tidur dengan 2 bayi kembar yang berbaring disebelah kirinya.
Brandon membuka aplikasi chat milik Sharon, dia tidak peduli dengan privacy atau sopan santun, yang jelas Brandon sangat penasaran dengan isi ponsel Sharon. Mata Brandon membelalak saat melihat obrolan di salah group chat milik Sharon, dimana isinya penuh dengan bahasan proses Vara melahirkan dan photo-photo Vara dan kedua bayi kembarnya.
Mata Brandon berkaca-kaca, kesedihan seketika menguar begitu pekat dihatinya. 2 bayi kembar yang begitu mirip dengan Bry dan Vara seolah menegaskan bukti cinta dari keduanya.
Brandon mengubah tujuannya dan berbalik menuju ruang kerjanya. Dipanggilnya Jared yang merupakan sepupu sekaligus asisten kepercayaan Brandon.
"Aku minta berkas personal file milik staf yang bernama Sharon. Sepertinya dia berasal dari Indonesia. Aku tunggu sekarang juga."
Jared langsung menuju ruang Human Resource Department untuk meminta berkas personal file milik Sharon. Tidak sampai 10 menit, Jared sudah kembali ke ruangan Brandon dan menyerahkan berkas yang diminta Brandon.
Mata Brandon membulat dengan sempurna, saat membaca nama lengkap yang tertulis didalam berkas. SHARON MAKAIO ANARGHYA. Nama terakhir yang sama dengan Vara, Brandon menduga kemungkinan Sharon mempunyai hubungan keluarga dengan Vara.
"Cari tahu hubungan perempuan ini dengan Vara. Aku tunggu hari ini juga."
Tanpa membuang-buang waktu, Jared mengerahkan segala kemampuan dan koneksinya untuk mencari tahu apa yang Brandon minta. Sedangkan Brandon menunggu dengan tidak sabar.
Cukup 1 jam saja, sampai akhirnya Brandon tersenyum puas membaca semua informasi yang didapat Jared. Ternyata Sharon adalah sepupu Vara, anak dari adik Papa Devan yang tinggal di kota J. Namun Sharon sudah tidak mempunyai orangtua karena kedua orangtua Sharon meninggal dalam kecelakaan mobil 2 tahun yang lalu.
"Sharon menghabiskan masa kecil sampai SMP di Kota J bersama kedua orangtuanya, tapi saat SMA Sharon tinggal bersama Neneknya di Kota C. Setelah lulus SMA, Sharon diterima di E University, Seoul Korea. Saat kematian orangtuanya, Sharon pulang ke Indonesia dan memutuskan untuk tinggal kembali di Indonesia, karena merasa kehilangan orangtuanya. Terlebih setelah kematian orangtuanya, perusahaan orangtuanya mendadak diambil alih partner bisnis Ayahnya. Sehingga Sharon tidak mempunyai biaya untuk meneruskan kuliah di E University yang terkenal kampus yang mahal dan elit. Beruntung Ayah Vara membiayai kuliah Sharon sampai selesai."
Brandon mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Jared yang panjang lebar.
"Dimana dia tinggal?"
"Di apartemen LA dekat hotel ini."
"Ok.. Sekarang panggil dia ke ruanganku."
Selang beberapa menit kemudian Sharon sudah berada diruangan Brandon dengan diantar Jared.
"Jared, tinggalkan kami."
Jared segera meninggalkan ruangan Brandon. Badan Sharon gemetar sambil menunduk, menghindari tatapan mata Brandon kearahnya. Pikiran Sharon tidak tenang, berpikir Brandon masih kesal karena insiden tadi saat Sharon tidak sengaja menabraknya.
__ADS_1
"Saya mau mengembalikan ponsel kamu yang terjatuh saat kita bertabrakan tadi."
Brandon menyodorkan ponsel milik Sharon sambil memasang senyum terbaiknya, berharap Sharon akan terpesona padanya.
Sesuai harapan Brandon, Sharon mengambil ponselnya tanpa mengedipkan mata, terpesona dengan senyuman makhluk tampan dihadapannya. Tatapannya begitu teduh, sangat berbeda dengan sosok yang tadi bertabrakan dengannya, sangat angkuh dan dingin.
"Sharon.."
Panggilan Brandon menyadarkan Sharon dari keterpanaannya memandang Brandon.
"Eh Maaf..Terima kasih Daepyonim (CEO)."
Sharon menyimpan ponselnya di saku blazernya.
"Sharon, sebagai balasan rasa terima kasihmu padaku, nanti malam bisakah kamu menemaniku makan malam?"
"Hah? Maaf Daepyonim, saya.."
Tolong jangan menolak. Saya begitu senang bertemu seseorang yang berasal dari Indonesia, karena saya juga pernah tinggal di Indonesia."
"Benarkah? Kapan Daepyonim? Berapa lama?"
"Wah tampaknya kamu begitu penasaran.. Bagaimana kalau aku menceritakannya saat makan malam nanti?"
"Hmm.. Bagaimana ya?"
"Hmm, baiklah Daepyonim.."
Brandon tersenyum puas mendengar jawaban Sharon, yang dengan mudah masuk dalam rencananya.
Sejak saat itu, Brandon begitu gencar melakukan pendekatan pada Sharon. Setiap hari Brandon menjemput Sharon ke apartemennya, mengajaknya makan siang bersama, dan mengantarnya pulang setelah sebelumnya makan malam bersama.
Awalnya Sharon merasa sedikit tidak nyaman, karena Brandon begitu terang-terangan mendekatinya. Terlebih perkataan teman-teman kerjanya yang selalu berpikiran negatif terhadapnya, mereka pikir Sharon sengaja mendekati Brandon karena tergiur oleh uangnya. Tentu saja hal ini membuat Sharon sedih dan perlahan menghindar dari Brandon.
*********************
Jumat sore sebelum jam pulang bekerja, Brandon memanggil Sharon untuk datang ke ruangannya. Sharon tampak tidak nyaman dan lebih sering menundukan kepalanya untuk menghindari tatapan Brandon.
"Sharon.. Angkat kepalamu!"
Sharon mengangkat kepalanya dengan ragu-ragu. Brandon mendekati Sharon, mengikis jarak diantara mereka berdua sehingga kini Sharon bisa merasakan hangat nafas Brandon yang menerpa wajahnya.
"Jangan pernah menghindariku.."
Sharon mendongakan kepalanya menatap langsung ke manik mata Brandon yang tajam.
"Saya merasa tidak enak dengan perkataan orang-orang, mereka mengatakan saya mendekati anda karena tergiur dengan kekayaan anda. Sebaiknya kita tidak terlalu dekat Daepyonim."
__ADS_1
Brandon terkejut dengan perkataan Sharon, entah kenapa perkataan Sharon membuat dadanya sedikit nyeri. Kehadiran gadis itu selama 3 minggu ini dalam hari-harinya, telah membuatnya terbiasa. Gadis yang begitu polos dan begitu ceria, meskipun Brandon tahu, Sharon menutupi luka hatinya. Tapi Brandon tidak pernah mengungkit kesedihan Sharon, Brandon hanya ingin Sharon lupa dengan semua kesedihannya saat bersama Brandon.
Brandon tersentak dengan pemikirannya, kenapa dia tidak ingin melihat Sharon bersedih?
"Sharon.. Berhentilah memikirkan perkataan orang. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kamu tidak suka saat bersamaku?"
"A.. Aku menyukainya. Tapi.."
Sejujurnya Sharon begitu menyukai kebersamaannya bersama Brandon. Meskipun merasa ragu dengan maksud Brandon mendekatinya, tapi Sharon mengakui hari-hari menjadi lebih berwarna karena kehadiran Brandon.
"Tapi apa?"
"Kita tidak ada hubungan apa-apa. Jadi aku.."
"Ayo kita menikah.."
Brandon terkejut dengan apa yang diucapkannya. Perkataannya bukan keluar karena perintah dari otaknya. Sharon pun diam mematung mendengar perkataan Brandon. Namun beberapa detik kemudian, Sharon menatap manik Brandon dengan dalam.
"Apa kamu serius?"
Brandon ragu harus menjawab apa, tapi entah kenapa kepalanya mengangguk dengan mantap tanpa dikomando oleh pikirannya.
"Aku mau menikah denganmu."
Mulut Brandon menganga mendengar jawaban Sharon. Tapi sedetik kemudian senyum manis terpampang di wajahnya dan perasaan hangat tiba-tiba muncul di hatinya.
Brandon memeluk tubuh mungil Sharon dan membenamkan kepalanya di ceruk leher Sharon.
"Terima kasih Sharon.."
Senyumnya mengembang semakin lebar, tapi Brandon tidak tahu pasti alasannya. Apakah karena dia bahagia, Sharon mau menikah dengannya, atau karena semua berjalan sesuai rencananya.
*********************
Maaf ya semuanya, chapter kali ini khusus membahas tentang awal kedekatan Brandon & Sharon.
Chapter berikutnya Vara & Bry pasti muncul lagi kok..
Terima kasih banyak sudah mampir di novel ini. Semoga selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1