
BR GROUP
Bry memasuki perusahaannya dengan senyum mengembang di wajahnya. Memang setelah Vara menerima perasaannya, terkadang secara tidak sadar Bry melakukan hal-hal diluar kebiasaannya. Semua karyawannya memandang takjub dengan ekspresi atasannya itu. Karena selama ini Bry tidak pernah memperlihatkan senyum manisnya di depan semua karyawannya. Image yang Bry tunjukkan adalah seorang pemimpin yang kuat, dingin dan tegas.
Bry tidak galak kepada karyawannya, hanya saja dia tidak banyak berbicara apalagi berbasa-basi. Sekalipun karyawannya melakukan kesalahan dia akan marah hanya pada saat itu saja, lalu menyuruh anak buahnya memperbaiki pekerjaannya sampai sempurna. Tapi jika karyawannya tidak bisa memperbaiki kesalahan dan tidak melakukan pekerjaannya dengan benar secara berulang-ulang, maka Bry akan memecatnya.
Daniel dan Kevin yang baru datang, langsung menyusul Bry yang sudah masuk ke lift khusus CEO.
"Annyeong Hasimnika.." Daniel dan Kevin menyapa bersamaan sambil menundukan badan mereka. Di kantor mereka selalu bersikap profesional dan formal. Berbeda saat diluar perusahaan, tidak ada jarak antara mereka bertiga.
"Masuklah.." Bry menyuruh Daniel dan Kevin masuk ke dalam lift.
"Bry, apa hari ini kita akan datang ke mansion Satya?" Daniel menanyakan hal yang sudah membuatnya penasaran sejak kemarin.
"Tentu saja." Bry menjawab dengan tetap memandang ke arah pintu lift.
"Baiklah. Aku akan mempersiapkan semuanya. Aku siapkan sekitar 30 pengawal untuk menemani kita Bry." Daniel mulai mengeluarkan handphone-nya untuk menghubungi Jofran, Kepala Pengawalnya.
"Tidak perlu sebanyak itu, kita bukan mau berperang." Bry berkata dengan nada datar.
"Lalu sebanyak apa yang kamu mau?" Daniel keheranan dengan tanggapan Bry, sehingga Daniel tidak sadar mengerutkan keningnya.
"Cukup 4 orang yang mengawal kita. Aku tidak mau memprovokasi Satya dengan membawa banyak pengawal."
Daniel dan Kevin masih tidak mendengar emosi apapun dari Bry. Nada bicara Bry terlalu datar dan tenang, hal ini membuat Kevin dan Daniel lebih khawatir dengan apa yang mungkin terjadi.
Setelah memasuki ruangannya, Bry berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Kevin dan Daniel berulang kali keluar masuk ruangan Bry untuk melaporkan data-data perusahaan atau meminta tanda tangan untuk proyek-proyek yang sedang berjalan.
Kevin dan Daniel bukan hanya sekedar orang kepercayaan Bry, tapi di beberapa perusahaan Bry, mereka memegang posisi penting. Kevin sejak awal dipercaya sebagai Chief Technical Officer (CTO) dan Daniel sebagai Chief Financial Officer (CFO). Kemampuan dan keloyalan mereka terhadap Bry sudah tidak perlu diragukan lagi. Sehingga Bry sangat yakin untuk memberikan posisi penting itu pada mereka.
Kesibukan Bry membuatnya terlalu fokus pada pekerjaan, sampai lupa menanyakan kabar kekasihnya. Bahkan Bry makan siang di ruangannya karena tidak ingin membuang waktu jika harus makan diluar.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
__ADS_1
Panggilan masuk dari Vara membuat Bry tersenyum sumringah. Lalu segera diangkatnya dengan sangat antusias.
"Iya Sayang.." Senyum sumringahnya mengembang semakin lebar.
"Kamu sudah makan siang?"
"Sudah Sayang, baru saja. Kalau kamu sudah makan siang? Sekarang kamu lagi dimana?"
"Aku sedang makan siang bersama Vanny dan Nila di kampus. Habis ini aku langsung pulang, karena tidak ada dosen."
"Oh begitu.. Nanti pulangnya hati-hati ya Sayang."
"Iya Bry."
"Love you Vara.."
"Love you too, Bry.."
Bry serasa mendapat suntikan semangat yang besar dari Vara. Entah kenapa Vara mampu mengubah hari-hari Bry menjadi lebih indah. Dan hari ini Bry membutuhkan kekuatan dan semangat lebih untuk menghadapi Satya.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk.." Nayla, Sekretaris Bry yang sangat cantik dan seksi masuk ke dalam ruangan Bry sambil memasang senyumnya yang dibuat semanis mungkin.
"Mr. Bry, Tuan dan Nyonya besar memberitahukan akan datang hari jumat minggu ini. Nyonya besar menanyakan jadwal anda, dan meminta anda mengosongkan jadwal di hari jumat pukul 6 sore untuk bertemu dan makan malam di Hotel A."
"Baiklah.. Jumat ini apa saja jadwalku?"
"Anda memiliki janji dengan Direktur perusahan N untuk membahas proyek kerjasama di jam makan siang, dilanjutkan meeting management pukul 3 sore, dan ada makan malam bersama perwakilan Perusahan M untuk membahas kelanjutan kerjasama dengan Perusahaan M." Nayla menjelaskan dengan jelas namun dengan nada dibuat selembut mungkin, berharap Bry akan terpesona padanya.
"Majukan meeting management ke hari kamis. Majukan juga jadwal pertemuan dengan perwakilan Perusahaan M di jam makan siang hari hari rabu atau kamis." Bry memberikan instruksi tanpa memandang Nayla, membuat Nayla tampak kecewa.
"Baik Mr.. Saya permisi dulu." Nayla keluar dari ruangan Bry dengan wajah ditekuk.
__ADS_1
Bry kembali tenggelam dengan setumpuk pekerjaannya. Bry berniat menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, agar bisa bersiap-siap sebelum berangkat ke mansion Satya.
Daniel dan Kevin masuk ke ruangan Bry tanpa mengetuk pintu, dan mendudukan diri mereka di sofa ruangan Bry.
"Bry, apa yang harus aku persiapkan?" Kevin bertanya merujuk pada rencana kepergian mereka ke mansion satya nanti malam.
"Bawalah semua bukti yang kita sembunyikan, pasti Satya ingin tahu bagaimana adiknya bisa meninggal."
"Kamu yakin Bry?" Kevin bertanya untuk lebih meyakinkan apa yang dia dengar. Bry menganggukan kepalanya dengan yakin.
"Satya pasti hanya menemukan beberapa potongan puzzle tentang kematian adiknya. Bahkan kita masih belum menemukan jawaban atas 1 misteri tentang kematian Arya. Aku rasa Satya akan bisa menemukannya." Bry mengungkapkan asumsinya.
"Iya.. Kamu benar. Aku rasa dengan koneksi yang dimiliki Satya, dia bisa menemukan informasi yang belum bisa kita temukan selama ini." Daniel juga membenarkan asumsi Bry yang sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
Bry, Daniel Kevin masih membahas persiapan mereka sampai waktu menunjukan pukul setengah 5 sore. Mereka segera pulang ke apartment-nya masing-masing dan akan berkumpul di parkiran apartment Bry pada jam 7 malam untuk berangkat ke mansion Satya.
Bry sebetulnya memiliki sebuah mansion, namun jaraknya terlalu jauh dari perusahaannya. Bry yang masih single tidak terlalu senang hidup bersama para pelayan di sebuah rumah megah. Terlebih Ibunya suka meminta pelayan untuk mengawasi kegiatan Bry dan melaporkannya pada Ibunya. Sehingga Bry lebih memilih tinggal di apartment, sehingga privacy-nya lebih terjaga.
Jam 7 malam Bry, Kevin, Daniel dan 4 orang pengawal pribadi Bry sudah berkumpul di parkiran apartment Bry dan siap berangkat ke mansion Satya. Tanpa membuang-buang waktu, Bry bersama Kevin dan Daniel sudah masuk ke dalam mobil Bry yang dikemudikan oleh Daniel. 4 orang pengawal mengikuti Bry dari belakang menggunakan 1 mobil.
Sepanjang perjalanan, Bry memejamkan matanya. Mencoba menenangkan perasaannya sendiri yang sedang berkecamuk. Sampai akhirnya mereka tiba di mansion milik Satya. Pintu gerbang mansion Satya terbuka tanpa mereka meminta izin pada security. Seolah pemilik mansion sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka.
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1