Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 24 Katakan Perasaanmu


__ADS_3

Bry menatap Vara yang kembali dari toilet dengan wajah gelisah dan sedikit bingung. Matanya sembab, seperti habis menangis.


"Sayang, ada apa? Apa kamu habis menangis? Kenapa Sayang?"


Vara masih diam, bingung harus memberikan jawaban seperti apa pada Bry. Saat ini, Vara hanya ingin menenangkan dirinya.


"Bry, kita pulang sekarang ya. Aku lelah."


"Baiklah. Ayo kita pulang."


Di perjalanan pulang, pikiran Vara masih melayang pada kejadian di restaurant tadi. Bry sesekali melihat Vara yang sikapnya menjadi aneh sejak dari toilet restaurant tadi. Tapi saat ini Bry tidak mau memaksa Vara untuk menceritakan apa yang terjadi, lebih baik menunggu Vara bercerita sendiri.


Mobil Bry sudah sampai di  halaman rumah Vara. Vara langsung masuk ke rumahnya tanpa menunggu Bry. Bry khawatir melihat keadaan Vara yang seperti banyak melamun.


"Sayang, aku temani kamu ya." Vara yang sedang menaiki tangga, membalikan badannya.


"Eh Bry.. Maaf, aku lupa. Lebih baik kamu pulang saja,  istirahat ya. Aku juga sudah lelah sekali." Bry menghampiri Vara menaiki beberapa anak tangga, sehingga mereka berada dalam 1 anak tangga yang sama.


"Tidur yang nyenyak ya. Berceritalah kalau kamu sudah siap bercerita ya." Vara mengangguk pelan sambil tertunduk. Bry mengangkat dagu Vara sehingga Vara menatap tepat ke mata Bry.


"Sayang.. Aku mencintaimu." Vara sedikit memaksakan senyumnya.


"Aku juga." Bry sedikit tidak puas dengan jawaban Vara.


"Baiklah, aku pulang ya." Dikecupnya kening Vara dengan penuh kasih. Lalu Bry turun menuju pintu keluar, lalu segera memasuki dan melajukan mobilnya.


Vara yang sudah masuk ke kamarnya, seketika menangis sekencang-kencangnya. Meluapkan apa yang dirasakannya. Rasa rindu karena kehilangan Arya tiba-tiba kembali lagi, juga rasa bersalah karena sudah mulai mengisi hatinya dengan Bry.


'Arya.. Maafkan aku.. Maafkan aku..' Batin Vara.


Setelah 1 jam, tangis Vara mulai mereda. Vara teringat sesuatu. Vara mengambil kartu nama yang diberikan laki-laki itu. "Satya Efrain Scott".



'Dia tidak mungkin ada hubungannya dengan Arya. Sebenarnya siapa dia? Kenapa mereka begitu mirip? Meskipun penampilan dan umur mereka jelas berbeda jauh.' Batin Vara.


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


Vara mengambil handphone dari tasnya. Dilihat ada pesan dari Bry, lalu dibukanya pesan Bry.


"Sayang.. Tidur ya. Kamu harus istirahat." Vara membalas Pesan Bry.

__ADS_1


"Iya, aku baru saja mau tidur." Bry tahu Vara sedang berbohong, karena diperhatikannya dari tadi Vara nampak gelisah.


1 jam yang lalu setelah Bry melajukan mobilnya pergi dari rumah Vara, dia merasa sangat tidak tenang. Sehingga Bry langsung memutar balik mobilnya ke rumah Vara. Bry memarkirkan mobilnya di sebrang rumah Vara, namun Bry masuk ke halaman rumah Vara setelah security membuka gerbangnya.


Bry berniat masuk ke dalam rumah Vara tapi teriakan dan tangisan pilu Vara mengurungkan niatnya. Bry langsung menghubungi Kevin.


"Vin.. Cari tahu rekaman CCTV yang menangkap gambar Vara di area gedung dalam, lantai teratas Restaurant X. Cari tahu dengan siapa Vara bertemu." Bry menutup teleponnya setelah Kevin mengiyakan permintaannya.


Bry hanya duduk mendengarkan teriakan dan tangisan Vara di kursi taman. Dia merasa tidak mampu melakukan apapun saat ini. Bry takut kehadirannya di depan Vara malah membuat kekasihnya itu menahan perasaannya.


'Luapkanlah perasaanmu Sayang. Jangan menahannya. Tapi izinkan aku mengetahui apa yang membuatmu seperti ini.'


Baru setelah tangisan Vara tidak terdengar lagi, Bry memilih masuk ke dalam mobilnya sambil terus mengawasi Vara melalu jendela kamarnya.


Tidak ada tanda-tanda Vara akan mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur yang redup. Bry benar-benar khawatir dengan kondisi Vara.


Drrtt.. Drrtt..


Bry mengambil handphone-nya, tampak pesan video dari Kevin. Lalu dibukanya beberapa video itu.


Video pertama memperlihatkan Vara yang bertabrakan dengan seorang laki-laki yang juga menumpahkan segelas wine. Posisi laki-laki itu membelakangi CCTV, sedangkan Vara menghadap CCTV. Sehingga terlihat jelas ekspresi Vara saat itu, yang tampak sangat terkejut, gelisah dengan mata yang berkaca-kaca. Sampai akhirnya keduanya pergi, tapi wajah laki-laki itu tetap tidak terlihat.


Drrtt.. Drrt..


Masuk lagi pesan dari Kevin.


"Dari semua CCTV tidak ada yang menangkap jelas wajah laki-laki itu. Hanya saja saat masuk, laki-laki itu dikawal 4 orang pengawal. Dia memakai kacamata dan topi yang membuat wajahnya tertutupi." Bry tidak membalas pesan Kevin.


Bry sesaat memejamkan matanya dan hatinya terasa sesak melihat kekasih yang dicintainya seperti ini, setelah bertemu laki-laki yang entah siapa.


'Sayang, kamu kenapa? Tolong ceritakan siapa laki-laki itu, yang sudah membuat kamu seperti ini.' Batin Bry.


2 jam kemudian lampu kamar Vara sudah dimatikan, berganti lampu tidur yang remang-remang. Bry menghela nafasnya, lalu perlahan  melajukan mobilnya meninggalkan rumah Vara.


 


Keesokan Harinya


Hari minggu yang cerah, berbanding terbalik dengan suasana hati Vara. Semalaman Vara tidak bisa memejamkan matanya, meskipun sudah melakukan berbagai cara. Tapi pikirannya tetap dipenuhi bayangan Arya dan laki-laki yang semalam ditemuinya di restaurant.


Jam 04.30 pagi Vara memutuskan untuk mandi kemudian menjalankan kewajibannya. Hari ini Vara bermaksud akan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Vara sedang tidak ingin bertemu Bry. Vara khawatir kalau bertemu Bry, sikapnya malah akan menyakiti Bry yang sama sekali tidak mempunyai salah apapun.

__ADS_1


Vara menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru menuju dapur. Pak Rahman security rumahnya dan Bi Rahma tampak sedang menikmati sarapannya.


"Selamat Pagi Non.." Kata Pak Rahman dan Bi Rahma bersamaan.


"Selamat Pagi Pak Rahman.. Bi Rahma.." Bi Rahma  lalu menyiapkan sepiring salad buah kesukaan Vara dan segelas susu hangat.


"Non.. Semalam Mas Bry menunggu lama diluar. Tapi saya suruh masuk tidak mau."


"Maksud Pak Rahman semalam Bry ada di depan? bukannya dia langsung pulang setelah mengantar saya?" Vara masih keheranan dengan perkataan Pak Rahman.


"Betul Non.. tapi Mas Bry kembali lagi tidak lama setelah itu. Mobilnya tidak dibawa masuk, hanya Mas Bry saja yang masuk ke halaman. Maaf Non.. Saat Mas Bry mau masuk ke dalam rumah, Non teriak dan menangis keras. Jadi Mas Bry tidak jadi masuk dan hanya menunggu di kursi taman. Baru setelah Non selesai menangis, Mas Bry masuk ke mobilnya."


Vara terhenyak dengan perkataan Pak Rahman. Berarti Bry mengetahui keadaannya semalam.


"Maaf ya Non.. Bibi juga semalam tidak berani mengganggu Non.. Karena Bibi pikir Non sedang teringat dengan... Mas.. Hmm.. Mas Arya.." Bi Rahma menunduk tidak berani menatap langsung Vara.


"Tidak apa-apa Bi.. Terima kasih sudah mengerti saya. Semalam saya hanya terlalu emosional." Vara melanjutkan sarapannya dengan tidak bersemangat.


'Apa yang harus aku katakan saat bertemu Bry. Aku tidak ingin mengatakan apapun soal kejadian semalam.'


Vara mempercepat sarapannya. Waktu baru menunjukan pukul 6 pagi, tapi Vara ingin segera pergi untuk menenangkan hatinya di sebuah jungle resort yang biasa keluarganya datangi untuk berlibur. Vara dan keluarganya sering menghabiskan waktunya disana, meskipun hanya sekedar berenang atau makan sambil menikmati pemandangan alam yang indah. Vara tidak ingin bersama siapapun hari ini, termasuk Bry..


*******************************


Image Source : Instagram


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


 


 

__ADS_1


__ADS_2