Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 64 Kemarahan Bryllian


__ADS_3

Bry berdiri seketika menghampiri Daniel dan Kevin yang melangkah mundur tanpa mereka sadari. Mata Bry tampak nyalang menatap kedua sahabatnya yang tidak berani memandang ke arah mata Bry yang menguarkan aura menakutkan yang selama ini sempat hilang.


Tanpa dijelaskan lebih detail pun, Bry sudah bisa menebak kalau kematian Arya tidak ada hubungannya dengan insiden baku tembak antara anak buahnya dengan orang-orang yang mengejarnya, tapi Arya tewas karena memang sudah menjadi target Kang In Pyo yang merupakan orang kepercayaan Brandon. Sudah tentu Brandon-lah dalang dibalik kematian Arya.


Bug.. Bug.. Bug.. Bug..


Tanpa aba-aba Bry melayangkan pukulannya ke arah dada dan perut Kevin, begitupun Daniel yang mendapat pukulan Bry di posisi yang sama seperti Daniel. Kevin dan Daniel memegangi dada dan perut mereka yang terasa amat sakit, namun mereka tidak melawan sama sekali. Bukan karena takut, tapi mereka menyadari kesalahan besar yang tidak sengaja mereka lakukan terhadap Bry, telah benar-benar membuat Bry sangat terluka. Terlebih saat ini Bry sedang diselimuti emosi, mereka tidak mau memancing Bry lebih marah lagi.


"Kevin.. Aku sudah bilang, untuk membayar semua hacker terbaik saat mencari pembunuh Arya. Tapi kamu bersikeras menanganinya sendiri, kamu bergerak sangat lamban. Β Dan Kamu Daniel.. Kamu dan orang-orangmu benar-benar tidak bisa diandalkan. Satya terang-terangan membodohiku, membiarkanku tersiksa dengan rasa bersalah karena menjadi penyebab kematian adiknya. Kalian membuatku terlihat sangat bodoh di depannya.. Brengseeek kalian..!!"


Daniel dan Kevin menundukan kepala mereka karena perasaan bersalah terhadap Bry. Mereka menyadari kebodohan dan kelalaian yang telah mereka lakukan membuat mereka selalu tertinggal satu langkah dari Satya dan orang-orangnya.


"Aaaaaaaarrrrgh.. Seandainya saja aku mengetahui kenyataan ini lebih cepat, mungkin aku tidak akan kehilangan Vara." Bry meluapkan emosinya yang sudah tidak tertahan.


Bry mengambil jasnya lalu hendak membuka pintu ruang kerjanya saat perkataan Daniel tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Satya tidak ada di mansion ataupun di kantornya. Dia sedang ke kota J meninjau perusahaan yang baru di akuisisinya. Larry bilang Satya akan tiba di mansion malam ini."


Bry kembali duduk di sofa tanpa menjawab perkataan Daniel. Bry mengambil ponselnya untuk memeriksa waktu kedatangan Vara di Granada, Spanyol.


"Daniel kalau detektif-detektif yang kamu rekrut sampai gagal, sebaiknya kamu kembali ke Korea. Begitupun kamu Kevin."

__ADS_1


Perkataan Bry memang terdengar datar tapi berhasil menghujam tepat di dada Daniel dan Kevin. Belum pernah Bry semarah ini selama mereka bersahabat. Tapi Daniel dan Kevin tidak berniat mengecewakan Bry lagi.


"Aku tidak akan gagal lagi." Daniel bersungguh-sungguh dengan perkataannya yang langsung ditimpali Kevin dengan nada yang sama.


"Aku juga tidak akan membuatmu kecewa lagi."


Bry hanya mendengus kesal mendengar perkataan Daniel dan Kevin yang menurutnya terlalu percaya diri. Bry menenggelamkan dirinya dengan kembali berkutat dengan pekerjaannya, meskipun sebenarnya pikirannya masih diliputi emosi terhadap Satya yang masih belum terluapkan, juga rasa rindunya terhadap Vara yang seakan hendak membuncah dari hatinya.


Hari sudah beranjak sore, Bry berjalan mondar-mandir menunggu kabar tentang Vara yang seharusnya sudah tiba di Granada saat ini.


Tiba-tiba Bry menoleh ke arah pintu yang terbuka tanpa ada ketukan terlebih dulu. Daniel masuk tanpa diminta.


Bry mendengarkan dengan memasang ekspresi datarnya. Namun jauh di lubuk hatinya, dia merasa sangat bahagia.


"Siapkan keberangkatanku ke Spanyol, secepat yang kamu bisa."


"Ok.. Bro."


Daniel tidak membuang-buang waktu mengurus tiket, memeriksa passport dan juga Visa Schengen milik Bry. Mengingat ini bukan pertama kalinya Bry ke Spanyol atau negara Eropa lainnya, pengurusan dokumen pun akan lebih mudah. Daddy Dave memang memiliki banyak perusahaan di berbagai negara, salah satunya Spanyol, sehingga Bry beberapa kali harus ikut menemani Daddy Dave & Mommy Jhena pada perjalanan bisnisnya ke Spanyol.


Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, saat Bry tiba di mansion Satya. Bry hanya ditemani Daniel dan Kevin tanpa pengawal pribadi setelah sebelumnya beradu argumen dengan Daniel. Daniel cukup khawatir dengan emosi Bry saat ini, dia takut terjadi hal buruk pada Bry dan Satya. Sehingga meskipun Bry melarang, tapi Daniel tetap memerintahkan 12 orang pengawal untuk mengikuti dan menjaga mereka sampai mansion Satya, meskipun mereka tidak bisa masuk melewati gerbang mansion Satya.

__ADS_1


Larry menyambut kedatangan Bry dan kedua sahabatnya, karena Daniel memang sudah membuatkan janji sejak sore tadi agar Bry bisa menemui Satya malam ini. Satya pun tidak menolak meskipun baru saja pulang dari luar kota.


"Silahkan masuk Tuan Bry. Tuan Satya sudah menunggu anda di ruang baca."


Larry mengantarkan Bry menuju ruang baca milik Satya setelah sebelumnya menyapa Kevin dan Daniel yang sudah cukup akrab dengannya. Daniel dan Kevin menunggu di ruang tamu lantai 1, karena Bry ingin bicara berdua saja dengan Satya. Akhirnya Daniel dan Kevin hanya menurut saja meskipun merasa sangat khawatir Bry dan Satya terlibat baku hantam tanpa bisa mereka lerai.


Bry memasuki ruang baca yang kemudian ditutup pintunya dari luar oleh Larry. Pandangan Bry tertumpu pada sosok yang saat ini berdiri berseberangan dengannya. Jarak mereka cukup jauh namun tidak cukup mengikis aura menakutkan dari keduanya yang sama-sama memandang dengan mata nyalang. Lalu Bry mendekati Satya dengan langkah yang cukup tenang.


Bug.. Bug.. Bug..


γ€€


γ€€


γ€€


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..

__ADS_1


__ADS_2