
RUMAH SAKIT SEC
Bry merasa lemas saat mendengar Vara keguguran. Tubuhnya limbung dan hendak terjatuh, Daniel dan Kevin bergegas memapah dan mendudukannya di sofa kamar.
"Sebenarnya ada apa? Bagaimana bisa Vara mengalami kecelakaan dan akhirnya keguguran?"
"Menurut laporan pengawal, dia mengejar mobilmu Bry. Tapi mobilnya tertabrak saat menerobos lampu merah."
"Ya Tuhan. Tidaaakk.. Apa yang telah kulakukan?"
Bry menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya menetes lagi.
"Jadi semua gara-gara aku? Jadi ini salahku sampai akhirnya aku dan Vara kehilangan kedua calon anak kami?"
Bry menangis tersedu-sedu mengingat kini dia sudah kehilangan kedua janin buah cintanya dengan Vara.
"Bry sebenarnya apa yang terjadi sampai akhirnya Vara mengejarmu dengan kecepatan tinggi seperti itu?"
Kevin terlihat belum mengerti dengan semua yang telah terjadi.
"Aku mendapat telepon dari Jessy Kim, perwakilan dari JS Trading bahwa dia merasa ada yang mengikutinya di hotel. Dia merasa terancam dan memintaku datang."
"Dan kamu memilih datang? Lalu apa yang kamu dapat?"
Satya tampak sangat penasaran dan tidak sabar menunggu jawaban Bry.
"Saat aku sampai di kamar hotelnya dia menyambutku dengan memakai lingerie dan semua hanya akal bulusnya saja. Aku akhirnya marah dan pergi dari sana. Aku benar-benar tidak melakukan apapun. Aku datang karena aku khawatir, dia adalah anak dari pemilik perusahaan JS Trading partner bisnisku. Aku tidak mungkin membiarkannya terkena masalah."
"Dan sekarang kamu yang terkena masalah. Kamu memilih meninggalkan istrimu untuk mendatangi perempuan itu? Kamu bodoh membiarkan dirimu terjebak. Apa gunanya pengawal yang banyak? Kamu bisa menyuruh beberapa untuk memastikan keadaan perempuan itu, bukannya datang sendiri."
Semua orang tidak menyangka Daniel akan meluapkan kemarahannya seperti itu terhadap Bry.
Bry kembali terisak, menyadari kebodohan yang dilakukannya telah menyebabkan hal yang sangat tidak diharapkannya.
"Seharian ini kamu bahkan menikmati waktumu dengan perempuan itu kan?"
Satya bertanya dengan nada datar tanpa menampilkan emosinya.
'Aku mengikhlaskan Vara, bukan untuk kamu sakiti Bryllian.' Geram Satya dalam hati.
"Kenapa kamu bisa tahu aku bersama perempuan itu? Daniel dan Kevin tahu, aku diminta Jessy Kim menemaninya belanja sebelum dia kembali ke Korea. Aku sebenarnya sangat malas, tapi untuk menghormati partner bisnisku, aku akhirnya setuju menemaninya. Kamu bisa tanyakan pada Daniel dan Kevin."
"Iya benar Satya.. Jessy Kim yang meminta Bry menemaninya berkeliling mall di kota B dan berbelanja sebelum dia kembali ke Korea."
Kevin mulai menjelaskan kejadian tadi siang kepada Satya.
"Lalu kenapa kamu memilih membohongi Vara daripada berbicara jujur dan terbuka pada Vara?"
Bry terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Satya.
__ADS_1
"Apa Vara tahu tentang kejadian tadi siang?"
Bry menatap Satya, Kevin dan Daniel bergantian seolah meminta penjelasan. Daniel dan Kevin menggeleng mantap namun perkataan Satya membuat Bry kembali merasa lemas.
"Vara tahu, dia melihatmu berbelanja, menenteng barang belanjaan perempuan itu dan makan berdua di restaurant."
"Tidaaaakk.. Vara pasti sudah salah paham padaku."
Bry menarik rambutnya dengan kasar, air matanya menetes lebih deras.
"Kamu benar-benar tuan rumah yang baik, memberikan pelayanan pada partner bisnis sampai menemani seharian. Tapi sudahlah.. Semua sudah terlambat, kamu memilih membohongi dia daripada berkata jujur. Dan inilah pilihanmu, kalian sudah kehilangan bayi kalian."
Bry menghampiri Satya dan menarik kerah kemeja Satya dengan mata berkilat tajam.
"Aku menjaga perasaannya bukan mengkhianatinya.. Dia sedang hamil, aku tidak ingin dia banyak pikiran dan terganggu dengan hal-hal yang tidak penting."
"Itu pembelaanmu, tapi jika kamu jujur dan terbuka, kejadian ini tidak akan terjadi."
Bry melepaskan tangannya dari kerah baju Satya dan menyadari semua yang dikatakan Satya adalah benar. Niat yang dianggapnya baik ternyata malah berakibat buruk seperti ini.
Vara yang sudah tidak kuat menahan air mata yang hendak membuncah, akhirnya membiarkannya mengalir melewati sudut matanya meskipun dengan tetap memejamkan matanya. Hal ini tidak luput dari pengamatan Bry. Bry menghampiri Vara dan menggenggam kedua tangan Vara dengan erat.
"Sayang.. Bangun, buka matamu. Tolong maafkan aku.. Maafkan kebodohanku ini."
Vara membuka matanya perlahan lalu menatap mata Bry dengan tatapan sendu.
"Sayang, tolong maafkan aku.. Kamu sudah salah paham, aku tidak mengkhianatimu. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku menjaga perasaanmu, karena keadaanmu yang sedang hamil membuatku tidak ingin menambah beban pikiranmu."
"Kamu memilih berbohong.. Kamu memilih mendatangi perempuan itu disaat aku memintamu jangan pergi.."
"Maafkan aku.. Tapi dia mengatakan keadaannya terancam Sayang. Aku tidak mungkin membiarkannya."
"Yaaa, dan perempuan itu berhasil membuatmu pergi meninggalkanku. Kamu membiarkan dirimu terjebak karena ulahnya. Kamu sudah memilih apa yang menurutmu lebih penting."
"Bukan seperti itu Sayang, aku memang bodoh.. Benar-benar bodoh. Aku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Tapi asal kamu tahu, aku tidak ada maksud sedikitpun untuk membohongi dan mengkhianatimu."
"Tapi kamu sudah membohongiku juga mengkhianati kepercayaan dariku. Kamu senang kan menemani perempuan cantik, seksi dan elegant. Sedangkan aku hanya perempuan dengan penampilan yang biasa-biasa saja."
"Tidak Sayang.. Tolong jangan pernah berpikir sepertu itu, maafkan aku.. Maafkan kebodohanku ini."
Bry menunduk terisak dengan tetap menggenggam tangan Vara.
"Semuanya sudah terlambat.. Aku terlalu kecewa padamu. Lebih baik kita berpisah saja."
Bry mengangkat wajahnya menatap wajah Vara dengan mata yang membulat sempurna.
"Apa maksudmu Sayang?"
"Aku mau kita bercerai."
__ADS_1
"Tidaaakk.. Tolong jangan pernah katakan itu. Seumur hidup pun aku tidak akan pernah melepasmu. Kamu boleh marah padaku, tapi tolong jangan lakukan ini padaku Sayang."
Bry terisak meluapkan emosi yang sejak tadi mati-matian ditahannya.
"Biarkan aku sendiri. Aku tidak ingin bertemu kamu, beri aku waktu. Jangan katakan soal keguguranku pada keluarga kita, biarkan aku yang mengatakannya sendiri. Minta orangtuamu jangan dulu datang ke Indonesia. Aku tidak ingin mereka kecewa. Pergilah.."
Vara memalingkan wajahnya kearah lain, memghindari tatapan Bry yang penuh kesedihan.
"Tolong Sayang, jangan lakukan ini. Demi Tuhan aku tidak bermaksud membohongimu."
Plaaakk..
"Jangan pernah membawa nama Tuhan untuk menutupi kesalahanmu."
Bry terkejut dengan apa yang dilakukan Vara, begitupun Satya, Daniel dan Kevin yang tidak menyangka Vara akan menampar Bry sekuat tenaga.
Bry memegang pipinya yang terasa panas, ditatapnya Vara dengan pandangan tidak percaya. Pipinya memang terasa sakit tapi hatinya jauh lebih sakit karena Vara tidak percaya dengan semua penjelasannya.
"Aku tidak akan pergi dari sini. Aku akan menemanimu disini."
"Aku benar-benar muak melihat wajahmu. Aku ingin kamu pergi dari sini. Dasar pembohong."
Seyum sinis tiba-tiba terpampang di wajah Vara dengan tatapan tajam menusuk, membuat hati Bry semakin sakit. Belum pernah Vara bersikap sekeras ini sebelumnya. Tapi Bry tidak akan menyerah, dia bertekad meuluhkan hati Vara sampai akhirnya Vara bisa memaafkannya.
"Bryllian.. Lebih baik kamu keluar. Biarkan Vara beristirahat. Dokter memintanya agar tidak banyak berpikir."
Bry menatap Satya sesaat, lalu menganggukan kepalanya.
"Baiklah.. Sebaiknya kita menunggu diluar."
"Tidak.. Satya, kamu tetap disini."
"Sayang, aku suamimu.. Bagaimana bisa kamu lebih memilih ditemani Satya daripada aku?"
"Sebentar lagi kamu akan menjadi mantan suamiku."
Perkataan Vara seketika menghujam tepat di jantung Bry, dengan penuh emosi Bry melangkah keluar diikuti Kevin dan Daniel yang sejak tadi tidak henti menghela nafas panjang melihat pertengkaran Bry dan Vara.
***********************************
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..