
Sementara itu, Satya berada di ruang kerjanya bersama dengan Jacob, Joseph dan Larry. Jacob tampak memperlihatkan isi laptopnya, dan Joseph memperlihatkan beberapa photo yang diletakan diatas meja.
"Kami sudah menemukan keberadaan Brandon. Dia berada di sebuah mansion di kota J. Mansion itu dijaga oleh ratusan pengawal. Brandon merupakan Pemimpin baru dari klan Wang Eagle dari Korea. Ayahnya Wang Seok Hyun merupakan pengusaha sukses di Korea. Bukan hanya sukses dalam bisnis yang bersih, dia juga menguasai dunia bawah. Di Indonesia, mereka memiliki beberapa Club yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia." Satya memasang ekspresi datarnya saat mendengar penjelasan Jacob. Namun sebenarnya dia cukup terkejut, karena kenyataan tentang Brandon melebihi dugaannya.
"Dan mengenai kasus kematian adik anda, kami sudah menemukan buktinya. Anda bisa melihat photo-photo ini." Joseph menunjukan beberapa photo kepada Satya. Satya mulai memfokuskan pandangannya.
"Orang-orang yang terlibat baku tembak dengan Bryllian adalah anggota gank Dragon Fire yang merupakan suruhan pengusaha dari group T yang kalah tender dari Bryllian. Peluru yang mengenai lengan dan kaki adik anda, berasal dari senjata yang mereka gunakan saat itu. Tapi sepertinya hal itu bukan suatu kesengajaan. Sedangkan senjata yang pelurunya menembus dada adik anda, memang sejenis dengan Arctic Warfare Magnum. Baik dari bahan, bentuk dan ukuran pelurunya. Namun senjata ini tidak dibuat di Inggris, melainkan di Rusia. Dan Klan Wang Eagle adalah salah satu client terbesar mereka."
Mata Satya berkilat tajam, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat.
"Lanjutkan.." Giliran Jacob yang menunjukan rekaman CCTV di laptopnya.
"Ini adalah rekaman CCTV yang di ambil sepanjang jalan dari mansion Brandon ke tempat Arya tewas pada malam kejadian. Orang kepercayaan Wang Seok Hyun yang bernama Kang In Pyo, dalam beberapa rekaman ini terlihat mengarahkan mobilnya ke arena balap liar. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran gedung olahraga yang dekat dengan arena balap. Dia juga membawa tas panjang dan berukuran besar, besar kemungkinan untuk menyimpan senjata. Dan ini.."
Perkataan Jacob menggantung sambil memperlihatkan rekaman CCTV yang lainnya. Satya menatap rekaman CCTV yang sudah diperbesar itu tanpa berkedip. Terlihat Kang In Pyo sedang membidik sasaran melalui lensa senjatanya, mengarah ke arena balap liar.
"Ini rekaman yang diambil dari gedung di sebelah gedung olahraga. Anda bisa bandingkan dengan rekaman CCTV yang diberikan Bryllian pada saat adik anda tewas. Jedanya hanya beberapa detik dan arahnya pun pas dengan tempat tewasnya adik anda. Dapat dipastikan Kang In Pyo yang menembak dada adik anda sampai tewas."
Satya terhenyak, emosinya berada di puncak. Tatapan matanya yang dingin semakin berubah kelam.
__ADS_1
"Temukan orang itu. Jangan sampai gagal."
"Baik Tuan." Jacob dan Joseph menjawab bersamaan.
"Larry, atur rencana. Aku ingin Brandon secepatnya mati di tanganku."
"Baik Tuan.." Larry menjawab dengan penuh keyakinan.
"Ingat.. Tidak ada yang boleh tahu apa yang kita bahas malam ini, termasuk Bryllian."
Larry, Jacob dan Joseph mengangguk bersamaan. Tapi Larry menatap wajah Boss-nya dengan penuh tanda tanya.
'Apa yang anda rencanakan Tuan? Bukankah Tuan Bry berhak tahu soal ini? Agar dia tidak lagi hidup dalam rasa bersalah. Apa anda tetap akan memanfaatkan rasa bersalah Tuan Bry, untuk mendapatkan Nona Vara?'
Satya menatap tajam kearah Larry dan Larry hanya menganggukan kepalanya dalam-dalam menghindari tatapan Satya yang mengintimidasi. Memang Larry sudah sangat mengerti isi pikiran Satya, begitupun Satya yang selalu dapat menebak apa yang dipikirkan Larry. Karena mereka sudah dekat sejak kecil.
Jam dinding tepat menunjukan pukul 2 pagi, saat Vara tersadar dari tidurnya. Diedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, saat menyadari ruangan itu bukanlah kamarnya. Vara mencoba mengumpulkan ingatannya yang buram. Seketika tangisnya pecah, saat pikirannya mulai mengingat semua hal yang terjadi padanya. Vara bangun dari tempat tidur dan berlari masuk ke kamar mandi dengan tidak lupa mengunci pintunya.
Vara menatap pantulan dirinya di cermin, tangisnya semakin deras melihat leher dan dadanya penuh kiss mark yang dibuat Brandon.
__ADS_1
'Brandon, kenapa kamu tega sekali? Bukankah kamu sahabat terbaikku? Teganya kamu menghancurkan aku. Ternyata semua laki-laki sama saja, bajingaaan! Mereka memanfaatkan kelemahanku untuk mendapatkanku. Bry yang datang padaku disaat aku terpuruk, ternyata hanya seorang pengkhianat. Brandon yang aku pikir sahabat yang bersedia menghiburku, ternyata berniat menodaiku. Satya pun tidak berbeda, dia pun memanfaatkan keadaan disaat aku tidak punya kekuatan. Aku benci kalian semua.'
Vara mengisi bathtub dengan air dingin, lalu membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam air.
'Lebih baik aku mati.'
***************************************
Image Source : Instagram
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
__ADS_1
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..