Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 78 Hilangnya Kesalahpahaman


__ADS_3

Semua orang di ruangan itu menatap Satya dengan mata membulat sempurna, sedangkan Satya hanya menyeringai menanggapi semua tatapan terkejut dan keheranan itu.



Satya menghempaskan tubuhnya diatas sofa bersebelahan dengan Daniel, sedangkan Larry memilih duduk disebelah Kevin.



"Hah.. Lagi-lagi kamu tidak bisa melindungi Vara.."


Bry mengepalkan tangannya karena merasa kesal dengan perkataan Satya, meskipun hati kecilnya tidak bisa membantah apa yang Satya katakan.


"Kenapa kamu bisa ada di Granada?"


"Aku sudah tiba 3 hari lebih cepat dari kamu. Aku sudah tahu Brandon menyusul Vara seminggu setelah Vara sampai di Granada. Bukankah begitu Brandon?"


Brandon tidak menjawab dan hanya menatap Satya dengan tatapan tidak terbaca.


"Satya apa maksudmu datang kesini? Apa kamu berniat memancing emosiku atau untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai dengan Brandon?"


Vara yang duduk diantara Reyvan dan Bry, menggenggam tangan Bry berusaha menenangkan dan menyalurkan kehangatan agar Bry tidak terpancing emosi. Sesekali Reyvan pun mengelus puncak kepala Vara mengekspresikan kelegaan sekaligus menenangkan Vara agar tidak terlalu gugup dengan ketegangan yang terjadi dihadapan mereka.


Satya mengeluarkan sebatang rokok dari kotak rokok yang disimpan di saku celananya. Menyalakannya lalu menyesapnya dalam-dalam. Kilat mata Satya yang tajam memandang Bry, seketika beralih pada Brandon yang masih menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa didefinisikan.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan!"


Satya menyesap kembali rokoknya dalam-dalam, dengan sesekali memainkan asapnya yang mengepul sangat banyak.


"Aku.. Aku ingin meminta maaf padamu, akulah yang menyebabkan adikmu meninggal."


Semua orang yang berada di ruangan itu merasa terkejut dengan apa yang mereka dengar. Bukan karena fakta Brandon yang mengakui sebagai penyebab kematian Arya, karena mereka semua sudah mengetahui kenyataan itu, tapi fakta bahwa Brandon meminta maaf langsung kepada Satya, adalah hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.


Berbeda dengan ekspresi semua orang yang tampak terkejut dan tegang, Satya justru terlihat sangat tenang dengan masih menyesap rokoknya dalam-dalam, seolah sedang menyelami perasaan yang ada dihatinya saat ini.


"Aku sudah memutuskan untuk memaafkanmu."


Semua orang terhenyak dengan perkataan laki-laki berhati dingin itu. Semua orang berpikir, memaafkan pembunuh adiknya tidak akan mungkin dilakukan seorang Satya. Pastilah ada cara licik lain dibalik perkataan itu.


Satya mematikan rokoknya diatas asbak, lalu memundurkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di sofa.


"Kalian semua jangan terlalu banyak menebak. Aku bukanlah orang baik, tapi belajar dari kesalahanku sebelumnya, aku ingin menghindari kesalahpahaman agar tidak ada lagi yang merasa tersakiti."


Sekilas Satya menatap Bry yang langsung menangkap maksud dibalik kata-kata Satya. Bry paham, Satya sudah menyadari kesalahannya karena membiarkan Bry larut dalam rasa bersalah atas kematian Arya. Padahal bukan Bry yang menyebabkan Arya meninggal. Dan kali ini, Bry begitu penasaran dengan alasan dibalik sikap Satya yang tidak masuk akal ini.


Satya kembali menatap mata Brandon yang menatapnya tak percaya.

__ADS_1


"Kenapa kamu memaafkanku?"


"Bukankah itu yang kamu mau? Lalu kenapa sekarang kamu bertanya kenapa aku memaafkanmu? Apa kamu ingin aku berubah pikiran?"


"Aku hanya.. Aku hanya tidak yakin kamu bisa memaafkan kesalahanku."


Brandon sedikit menundukan wajahnya berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai menggenang di kelopak matanya.


"Karena aku tahu kamu tidak pernah menyuruh siapapun untuk membunuh Arya."


Brandon seketika memandang wajah Satya dengan raut wajah paling terkejut yang bisa ditunjukannya. Begitupun semua orang yang menatap Satya dan Brandon secara bergantian.


"Jadi Brandon benar-benar tidak pernah menyuruh orang untuk membunuh Arya?"


Perkataan Vara mewakili pertanyaan yang bercokol di pikiran semua orang.


Satya mengangguk dengan pasti menjawab pertanyaan semua orang. Brandon tampak menundukan kepalanya, air matanya menetes membasahi tangannya yang saling mengepal kuat.


"Kang In Pyo, orang yang membunuh Arya memang orang kepercayaan Brandon, tapi dia melakukannya karena inisiatifnya sendiri. Mungkin karena dia terlalu setia pada Brandon, dia ingin menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalan Brandon, termasuk orang yang menghalangi Brandon mendapatkan Vara."


Vara yang mendengarnya tidak bisa lagi menahan tangisnya. Bry dan Reyvan mengusap lembut punggung dan bahu Vara, mencoba menenangkan hati Vara yang berkecamuk menahan segala perasaan sesaknya.


"Samchon (paman) begitu menyayangiku. Dia seringkali mendengarkan keluh kesahku saat aku mabuk karena kecewa melihat Vara bersama dengan Arya. Tapi aku tidak menyangka dia akan membunuh Arya. Aku baru mengetahui hal ini saat aku menggantikan posisi Ayahku sebagai pemimpin klan. Maafkan aku, aku sungguh tidak tahu sebelumnya kalau Arya dibunuh oleh Samchon."


Semua orang terbawa perasaan, sungguh tidak menyangka dengan kenyataan ini sebelumnya. Ternyata semua lagi-lagi adalah kesalahpahaman, yang jika dibiarkan akan membuat banyak orang terluka.


Apa yang dikatakan Satya ibarat salju yang seketika mendinginkan hati semua orang. Ada kelegaan pada wajah-wajah diruangan itu.


"Terima kasih kamu mau memaafkanku, aku benar-benar tidak ada niat melenyapkan adikmu meskipun aku tidak menyukainya."


"Aku tahu.."


Ada kelegaan yang terpancar dari wajah Brandon saat mendengar jawaban Satya yang meskipun singkat tapi sudah mewakili apa yang diharapkannya.


Isakan Vara masih terdengar dengan jelas, membuat semua orang merasa khawatir. Bry merengkuh tubuh Vara dan memeluknya dengan erat, tidak mempedulikan tatapan semua orang yang terpusat padanya dan Vara.


"Sayang, tenanglah.. Menangislah jika bisa membuatmu lega."


"Bry, semua terjadi karena aku. Akulah yang menyebakan semua hal buruk ini terjadi."


Brandon menghampiri Vara yang berada dalam pelukan Bry.


"Vara.. Jangan menyalahkan dirimu. Semua hal ini terjadi karena aku. Aku minta maaf padamu."


Bry melonggarkan pelukannya, Vara segera beranjak memandang Brandon yang sudah duduk disebelah Bry.

__ADS_1


"Berhentilah menyalahkan diri kalian. Semua sudah takdir."


Satya ingin kedua orang dihadapannya ini berdamai dengan hatinya yang dipenuhi rasa bersalah.


"Brandon maafkan aku, karena sudah mengira kamulah yang membunuh Arya."


Vara kembali menangis dengan air mata yang begitu deras. Bry mengelus lembut punggung kekasihnya itu.


"Iya Vara, aku mengerti.." Brandon mengulas senyumnya kearah Vara.


Brandon mengalihkan pandangannya pada Satya yang melengkungkan sedikit senyumnya.


"Terima kasih Satya, karena mau membuka kebenaran ini."


"Hmm.. Aku ingin semua berakhir baik. Meskipun tidak untuk beberapa hal sepertinya."


Satya menatap pemandangan didepannya dimana Brandon, Bry dan Vara duduk bertiga seperti kisah cinta mereka yang sangat rumit. Satya sendiri tidak berniat menambah rumit kisah mereka, meskipun Satya mengakui kalau perasaan cinta itu sudah tumbuh saat dia mulai mendekati Vara. Tapi kali ini Satya memutuskan untuk menghapus perlahan perasaannya yang terlanjur tumbuh, meskipun Satya tahu hal itu tidak akan mudah.


Brandon menatap Bry dengan pandangan ragu, dan Bry menyadari hal itu.


"Bryllian.. Aku minta maaf telah menyuruh anak buahku untuk menembakmu. Aku hanya.."


"Sudahlah.. Aku pun akan memaafkanmu. Aku tidak terluka parah, aku pun ingin semua baik-baik saja."


"Terima kasih Bryllian.."


"Berarti sekarang kamu akan melepas Vara sepenuhnya kan?"


"Kalau soal itu aku tidak mungkin melakukannya."


"Apa kamu bilang?"


Suasana yang sempat mencair tiba-tiba kembali tegang, menguarkan aura mencekam diantara Bry dan Brandon.


****************************


Image Source : Instagram


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.

__ADS_1


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


__ADS_2