
APARTMENT KEVIN
Kevin menunjukan rekaman CCTV saat Vara dan Brandon masuk ke sebuah ruangan yang private. Namun mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di ruangan itu karena tidak dipasang camera CCTV di dalam ruangan itu. Pandangan Bry semakin fokus, saat tiba-tiba melihat Satya masuk ke ruangan tersebut dan menutup kembali pintunya. Tampak pengawal-pengawalnya menjaga di depan pintu. Beberapa saat kemudian Brandon dibawa keluar oleh Larry dan beberapa pengawal Satya dengan tubuh babak belur.
Bry bertanya-tanya apa terjadi. Sampai akhirnya mata Bry membulat sempurna saat melihat Satya menggendong Vara dengan langkah yang besar dan cepat. Tanpa mengatakan apapun, Bry bergegas keluar dari apartment Kevin. Kevin dan Daniel yang sudah bisa menebak kemana Bry akan pergi, langsung menyusul Bry dengan membawa laptop dan semua perlengkapan yang mungkin diperlukan.
Daniel mengemudikan mobil Bry dengan kecepatan tinggi. Bry duduk di kursi belakang dengan sangat gelisah. Pikirannya berkecamuk, Bry merasa bersalah karena Vara telah salah paham terhadapnya. Dia juga khawatir dengan keadaan Vara saat ini, meskipun Bry belum tahu apa yang terjadi pada Vara.
MANSION SATYA
Mobil Bry sudah sampai di depan pintu gerbang mansion Satya. Kevin meminta security untuk menyampaikan pada Satya, kalau Bry datang & meminta bertemu. Setelah melapor pada Satya, tanpa perlu waktu lama, Satya mengizinkan Bry, Kevin dan Daniel untuk masuk.
Begitu sampai di depan mansion, Bry langsung turun dan masuk ke dalam mansion yang telah dibukakan oleh Larry.
"Silahkan Tuan Bry, Tuan Satya akan menemui anda di ruang tamu."
Larry mengarahkan Bry, Kevin dan Daniel ke sebuah ruangan di sebelah kiri lantai 1. Namun teriakan yang keras mengejutkan dan menghentikan langkah mereka.
"Jangaaaaaaaaaannn..."
Bry yang mengenali suara kekasihnya segera berbalik arah, dan berlari naik ke lantai 2 mencari keberadaan Vara. Daniel, Kevin dan juga Larry mengikuti Bry dari belakang.
Bry melihat Satya berlari masuk ke sebuah ruangan, Bry mempercepat langkah kakinya mengikuti Satya masuk ke ruangan tersebut. Dilihatnya Satya dengan posisi duduk di sebelah kanan tempat tidur, sedang memeluk Vara yang berbalut selimut berwarna putih. Bry hendak menghempaskan pelukan Satya dari tubuh Vara, saat tiba-tiba disadarinya wajah Vara tampak begitu pucat dan lemah. Badan Vara menggigil seperti kedinginan, namun sebenarnya badannya sangat panas.
__ADS_1
"Larry panggil Dokter Robert." Satya tampak khawatir, Bry naik ke sebelah kanan tempat tidur dan berusaha mengambil alih Vara dari pelukan Satya. Namun Satya merengkuh tubuh Vara dengan sangat kuat.
"Satya berikan Vara padaku, aku pacarnya." Satya menyunggingkan senyum sinisnya.
"Cih.. Pacar? Yang bahkan tidak becus menjaga wanitanya."
"Apa maksudmu?" Satya hendak menjawab, saat Vara kembali mengigau.
"Tidak Brandon.. Jangan lakukan itu." Air mata Vara mengalir di pipinya, membuat Bry sedih sekaligus bingung.
"Brandon hampir memperkosa Vara."
"Apaaaa??"
Perlahan Satya menarik sedikit selimut yang menutupi tubuh Vara, sehingga memperlihatkan bagian leher Vara. Mata Bry membelalak dan seketika menguarkan kemarahan yang dahsyat, karena dilihatnya leher Vara penuh dengan kiss mark. Bry berdiri, sedikit menjauh dari Vara. Karena khawatir Vara akan terbangun.
"Aaaaarrrrrggghhh... Brengsek kamu Brandooon.." Bry menumpahkan emosinya. Perlahan air matanya turun, Bry merasa sangat bersalah. Ditumpukan kepalanya pada dinding kamar, sambil menunduk dan memejamkan matanya. Kevin dan Daniel menepuk pelan bahu dan punggung Bry, berusaha menenangkan Bry yang penuh emosi.
"Brandon mencampurkan obat perangsang pada minuman Vara, sehingga tubuh Vara bereaksi tidak sesuai keinginannya." Mata Bry panas, rasa marah dan sedih bercampur dalam hatinya. Dadanya sesak, emosi dan rasa bersalah begitu menguasai Bry saat ini
'Vara, maafkan aku. Semua gara-gara aku.'
Bry berbalik menatap Satya yang balas menatap dengan sorot mata dingin dan tajam.
"Tapi apakah Vara..." Bry hendak bertanya lagi, namun raut wajahnya terlihat sangat ragu. Satya mengerti arah pembicaraan Bry.
__ADS_1
"Brandon tidak berhasil. Aku datang sebelum dia melakukan hal yang lebih jauh lagi." Nafas panjang keluar dari mulut Bry meskipun raut wajahnya masih muram.
"Terima kasih Satya, karena kamu sudah menyelamatkan Vara." Bry berkata dengan sangat tulus, namun ditanggapi dengan dingin oleh Satya.
"Aku bukan membantumu. Aku melindungi orang yang berharga bagiku."
Perkataan Satya terasa meremukan hati Bry. Bukan saja perasaan Satya terhadap Vara yang membuatnya sakit, tapi juga fakta bahwa dirinya tidak becus menjaga Vara yang sangat dia cintai.
"Apapun alasanmu, aku tetap berterima kasih." Kali ini Bry tidak mempermasalahkan sikap Satya. Bry harus menekan egonya, karena yang terpenting Vara selamat dari kebiadaban Brandon.
'Vara, aku ingin sekali memeluk dan mencium keningmu saat ini. Tapi aku merasa tidak layak, karena tidak mampu melindungimu. Maafkan aku, Sayang. Aku mohon maafkan kebodohanku.'
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1