Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 75 Maafkan aku Brandon


__ADS_3

Beberapa detik kemudian, Vara yang baru sadar dari keterkejutannya, segera mengejar Brandon keluar dari kamarnya. Vara melihat punggung Brandon yang berjalan jauh diantara lorong gelap di depannya, berbelok ke sebuah kamar lalu masuk dan membanting pintunya dengan keras.


Vara berjalan cepat menuju kamar tersebut dan mulai mengetuk dengan perasaan tidak sabar. Sejujurnya, Vara begitu khawatir dengan keadaan Brandon saat ini. Luka di tangan Brandon tidak bisa membuatnya bersikap acuh tak acuh. Vara mengakui, selama ini dia sudah menyakiti Brandon tanpa sengaja, dan apa yang dilakukan Brandon hari ini adalah karena dia juga.


Tok.. Tok.. Tok..


Hening.. Tidak ada jawaban apapun dari dalam. Vara mencoba mengetuk lagi, masih enggan mengeluarkan suara untuk memanggil Brandon.


Tok.. Tok.. Tok..


Masih tidak ada jawaban dari dalam. Rasa khawatir semakin menyeruak di hati Vara, sehingga dengan tanpa ragu, akhirnya Vara membuka pintu kamar itu yang ternyata memang tidak terkunci.


Brandon yang sedang duduk bersila diatas tempat tidur dengan mata sembab, tampak terkejut dengan kedatangan Vara. Tidak disangka ketukan di pintu yang dikira pengawal pribadinya, ternyata berasal dari tangan Vara, gadis yang beberapa saat lalu menyakiti hatinya untuk kesekian kali.


Vara bergerak ke sisi tempat tidur Brandon, diliriknya tangan Brandon yang masih berlumuran darah dan masih belum mendapat penanganan apapun.


Vara juga sedikit terkejut melihat Brandon yang sudah tidak mengenakan sweater panjangnya, hanya menyisakan kemeja hitam pendek yang memperlihatkan sebagian tatto di lengan kanan dan kirinya. Vara berusaha menetralkan ekspresinya, agar tidak memperlihatkan rasa takut dan terkejutnya melihat tatto berbentuk elang di lengan Brandon yang tampak sedikit seram bagi Vara.


Namun ekspresi Vara tidak luput dari perhatian Brandon yang sudah menyadari kemana arah pandang Vara saat sekilas memperlihatkan rasa terkejutnya. Tapi Brandon tidak berniat membahasnya.


"Lukamu harus diobati. Izinkan aku melakukannya!"


Brandon tidak menjawab dan tidak bereaksi apapun, Vara berusaha untuk tidak peduli. Diedarkannya pandangan ke seluruh kamar, mencoba mencari kotak P3K. Dan beruntung sebuah tas P3K tersimpan di sudut kamar, lalu segera diambilnya tanpa membuang-buang waktu.


Vara yang sudah mengambil satu wadah air, segera duduk di tepian tempat tidur. Lalu dia mulai membersihkan lumuran darah di tangan Brandon dengan hati-hati. Sesekali Brandon meringis menikmati rasa perih pada lukanya, yang kemudian ditiup Vara untuk sekedar mengurangi rasa perihnya. Kemudian Vara mulai memberikan obat luka di tangan Brandon dan berusaha membalut luka Brandon dengan sempurna.


Brandon tidak henti memandangi wajah Vara yang begitu telaten mengobati lukanya. Perasaannya menghangat saat mengetahui Vara masih sangat peduli padanya.


'Bolehkah aku berharap, agar perasaan cinta tumbuh di hatimu untukku? Selama ini aku tumbuh dalam kehidupan yang sangat keras, tidak ada kebahagiaan yang aku dapatkan dari keluarga. Tapi aku selalu bahagia setiap kali bersamamu Vara. Bisakah kali ini aku meminta, berikanlah hatimu untukku Vara!" Batin Bry.


"Sudah selesai."


Perkataan Vara menyadarkan Brandon dari lamunannya.


"Terima kasih."

__ADS_1


Vara melirik jam dinding di kamar Brandon, yang tepat tergantung di seberang tempat tidur Brandon.


"Tidurlah, ini masih dini hari."


Vara hendak berdiri dari duduknya, namun tangan kiri Brandon menahan tangan Vara.


"Bisakah kamu menemaniku sampai aku tertidur?"


"Tidak, aku akan kembali ke kamar tadi."


"Aku mohon Vara!"


Nada bicara Brandon terdengar sangat memohon dan memelas, namun Vara tidak berniat mengabulkan permintaan Brandon.


"Aku akan kembali ke kamar sekarang."


Vara berdiri dan sudah berjalan beberapa langkah menuju pintu, saat perkataan Brandon tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Vara.. Apa hubungan kita akan berakhir seperti ini?"


"Kamu yang membuatnya berakhir seperti ini Brandon."


"Baiklah.. Semua memang salahku."


Brandon merebahkan tubuhnya, memejamkan mata dan menumpukan tangan yang yang sudah dibalut perban diatas keningnya.


Vara mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar Brandon, karena kembali khawatir dengan keadaan Brandon yang benar-benar terlihat tidak baik-baik saja.


Brandon kembali membuka matanya saat menyadari Vara yang tidak kunjung keluar dari kamarnya. Brandon menegakan badannya dan kembali duduk bersila di tempat tidurnya.


"Apa lagi yang ingin kamu katakan? Katakanlah.. Aku sudah sangat terbiasa menerima rasa sakit darimu, bahkan sekarang aku siap menerima kebencianmu."


Vara menghampiri Brandon dan duduk di tepi tempat tidur dengan menghadap wajah Brandon yang masih menatapnya dengan rasa kesal.


"Brandon.. Maafkan aku, karena selama ini aku menyakitimu tanpa aku sadari. Aku tidak tahu sikapku terhadapmu selama ini salah dan membuatmu sakit hati."

__ADS_1


Brandon mengepalkan tangannya yang terluka, sehingga rasa sakit pada luka juga hatinya kembali menyeruak.


"Kamu menyadarinya Vara, kamu tahu perasaanku. Dan kamu pasti tahu, kebersamaanmu dengan Arya dan juga Bryllian membuatku terluka."


Terdengar isakan dari mulut Vara yang sudah tidak bisa menahan gemuruh perasaan yang sesak di dadanya.


"Maafkan aku, karena membuatmu menjadi seperti ini."


Perlahan disentuhnya pipi Brandon dengan sebelah tangannya, lalu diusapnya perlahan menyalurkan perasaan bersalah di hatinya terhadap laki-laki di hadapannya itu.



"Akulah yang membuatmu berubah menjadi seperti ini. Maafkan aku yang membuatmu terluka begitu dalam. Kembalilah menjadi dirimu yang dulu. Jangan lagi menyakiti orang lain. Aku tidak ingin kamu terjerumus lagi dalam kesalahan yang akan kamu sesali nantinya. Tolong maafkan aku Brandon."


Vara menundukan kepalanya dengan sebelah tangan menutupi mulutnya, berusaha meredam suara tangisnya yang terdengar lebih keras. Seketika direngkuhnya kepala Vara oleh Brandon, dan dibenamkannya di dada Brandon yang bidang. Vara tidak menolak, rasa bersalahnya pada Brandon yang tanpa sengaja merubah sahabatnya itu, sangat mendominasi hatinya.


Perlahan air mata Brandon pun turun dan mulai menetes membasahi puncak kepala Vara yang masih belum berniat menyudahi tangisnya. Vara dan Brandon seakan meluapkan perasaan dan beban yang ada di hati mereka. Berusaha jujur tanpa menutupi luka juga kesalahan yang ada pada diri mereka selama ini.


'Vara.. Tolong jangan menyuruhku menyerah kali ini. Aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak ingin mengalah kali ini. Karena aku sungguh mencintaimu.' Batin Brandon.


*****************************


Image Source : Instagram


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..

__ADS_1


__ADS_2