
Bry masuk ke kamar yang ditempati Vara, tapi Vara tidak tampak di tempat tidurnya. Lalu Bry mencari-cari ke ruangan walk in closet yang terletak di sebelah kanan ruangan, namun lagi-lagi Vara tidak terlihat keberadaannya. Bry bergerak mendorong pintu kamar mandi yang ternyata terkunci, menarik kesimpulan bahwa Vara saat ini sedang berada di dalam kamar mandi.
"Sayang, sedang apa? Jangan terlalu lama di kamar mandi. Kamu kan masih sakit, Sayang." Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, membuat Bry mencemaskan keadaan Vara.
"Sayang tolong buka pintunya!" Bry mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan sedikit keras.
"Sayang, please.. Jangan seperti ini, tolong buka pintunya." Bry semakin panik, Bry mendorong pintu berkali-kali menggunakan tubuhnya dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya pintu kamar mandi terdobrak dan menampakan pemandangan yang membuat Bry panik.
"Sayaaaang.." Bry mengangkat tubuh Vara dari bathtub. Merengkuhnya dengan sangat erat dan menggendongnya ke tempat tidur. Bry memberikan pertolongan pertama dengan menekan bagian tengah dada Vara menggunakan dua tangan yang saling tumpang tindih. Air yang masuk ke tubuh Vara berhasil keluar, namun Vara masih belum sadar. Bry melanjutkan pertolongan dengan memberi Vara nafas buatan.
"Sayang, please bangun.. Sayang, aku mohooon.." Bry tidak mampu menghalangi air mata yang kini sudah mengalir bebas di pipinya.
"Sayang, bangunlah.. Jangan tinggalkan aku." Air mata Bry mengalir semakin deras di pipinya.
Akhirnya setelah berkali-kali melakukan CPR, Vara terbatuk menandakan kesadarannya sudah kembali.
"Thanks God.. Sayang, terima kasih sudah kembali."
__ADS_1
Bry merengkuh tubuh Vara sekuat tenaga, sesekali bibirnya menciumi kening dan puncak kepala Vara dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Vara sebenarnya ingin melepaskan diri dari pelukan Bry, karena rasa marahnya. Namun tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak.
Satya dan Larry masuk dan tampak terkejut melihat Bry dan Vara diatas tempat tidur dalam keadaan basah kuyup. Daniel dan Kevin pun menyusul masuk ke dalam kamar.
"Vara kenapa?" Satya bertanya dengan keras tanpa menyembunyikan rasa paniknya.
"Vara menenggelamkan dirinya di bathtub. Tolong panggilkan pelayan wanita untuk menggantikan pakaiannya." Bry menjawab dengan suara bergetar, meskipun sudah berusaha setenang mungkin.
Larry segera memanggil kepala pelayan wanita lengkap dengan membawa underwear dan pakaian tidur yang sudah dibeli dan dicuci beberapa jam yang lalu oleh kepala pelayan wanita.
Bry duduk di sofa kamar sambil meminum teh jahe hangat yang disediakan pelayan Satya untuk menghangatkan tubuhnya. Satya duduk berseberangan dengan Bry sambil sesekali menyesap espresso-nya.
"Sebenarnya bagaimana kejadiannya?" Bry lalu menceritakan kejadiannya dari awal dia mencari-cari Vara sampai akhirnya Vara sadar setelah berkali-kali diberikan CPR. Satya yang mendengar cerita Bry tampak menghela nafas panjang, karena menyadari keadaan Vara lebih buruk dari perkiraannya.
Tampak Bry dan Satya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Rasa bersalah masih sangat mendominasi perasaan mereka.
'Vara, pasti sekarang kamu menganggap semua laki-laki sama bejatnya. Tapi tolong jangan sakiti dirimu seperti ini. Aku mohon, maafkan aku.' Batin Satya.
__ADS_1
'Sayang, maafkan aku. Semua berawal dari kesalahpahamanmu padaku. Semua gara-gara aku. Maafkan aku yang tidak mampu melindungimu, aku malah menyakitimu begitu dalam. Aku mohon, maafkan aku.' Batin Bry.
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1