
Siang ini Bry sedang memimpin meeting tahunan, dimana semua jajaran management BR Group dari seluruh cabang perusahaan BR Group yang tersebar di seluruh Indonesia, ikut hadir dalam meeting besar ini. Meeting tahunan ini bukan hanya membahas keuntungan perusahaan dari semua produk yang sudah diluncurkan dan proyek-proyek yang didapatkan, tapi juga rencana masing-masing management perusahaan cabang untuk memajukan perusahaan.
Semua perwakilan management cabang sudah menyampaikan rencana kerjanya dan Bry pun cukup bersemangat dengan rencana kerja mereka yang dapat memberi keuntungan yang banyak bagi perusahaan.
Drrtt.. Drrtt... Drrtt..
Panggilan masuk dari telepon di mansion, segera diangkat tanpa menunggu lama.
"Hallo.."
Ternyata Bi Mona yang menelepon. Tidak sampai 1 menit, ekspresi datar di wajah Bry berubah menjadi ekspresi panik dan penuh kekhawatiran.
"Mohon maaf, saya terpaksa harus meninggalkan meeting besar ini, karena ada sesuatu yang mendesak. Saya ucapkan terima kasih kepada jajaran management BR Group yang sudah bekerja keras memajukan perusahaan. Mohon maaf saya benar-benar harus pergi. Meeting akan dilanjutkan oleh Mr. Daniel Han dan Mr. Kevin Choi."
Bry bergegas pergi meninggalkan ruang meeting menuju tempat parkir. Jhody, sopir Bry yang sudah menerima laporan dari salah satu pengawal kalau Bry akan pulang ke mansion, segera bersiap di depan mobil Bry yang terparkir di area parkir khusus VVIP BR Group.
Bry langsung masuk kedalam mobil saat Jhody membukakan pintu mobil bagian belakang, dan mobil segera melaju dengan cepat menuju mansion.
Lama perjalanan menuju mansion hanya setengah dari waktu yang biasa ditempuh. Bry segera keluar dari mobil tanpa menunggu Jhody membukakan pintu mobilnya. Bi Mona yang sudah menunggu didepan pintu mansion, langsung memberikan laporan dan mensejajari langkah Bry yang berjalan cepat hendak menuju kamar pribadinya.
"Nyonya Besar tadi datang dengan Nyonya Irena, membawakan barang-barang untuk Tuan Kecil. Nyonya Vara terlihat sangat ceria, apalagi Tuan Kecil diajak bermain oleh Nyonya Besar dan Nyonya Irena. Tapi setelah Nyonya Besar dan Nyonya Irena pulang, Nyonya kembali kerepotan, tapi menolak saat kami berniat membantu. Saat Tuan Bradley menangis karena lapar, bertepatan dengan Tuan Briley yang menangis karena buang air. Nyonya Vara langsung berlari ke kamar mandi sambil menangis histeris."
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Istriku dimana Bi?"
Rasa khawatir semakin menguasai pikiran Bry.
"Masih di kamar mandi Tuan, sudah 1 jam lebih."
Bry langsung berlari menuju kamar, dan menggedor kamar mandi yang terkunci dari dalam. Suara tangis yang beradu dengan gemericik air membuat Bry semakin khawatir.
"Sayang, buka pintunya. Aku mohon, keluarlah Sayang!"
Vara tidak juga membuka pintu kamar mandi sehingga Bry semakin mengeraskan panggilannya.
Jofran Kepala Pengawal yang berdiri bersama Bi Mona dan beberapa pengawal diluar pintu, mulai menawarkan bantuan.
"Tuan apa sebaiknya saya dobrak pintu kamar mandinya? Karena tidak ada kunci cadangan untuk kamar mandi ini
"Tidak. Aku akan mendobraknya sendiri. Jangan ada yang mengikutiku masuk ke kamar mandi."
__ADS_1
"Baik Tuan."
Jawab Jofran diikuti anggukan dari semua pengawal.
Bry membenturkan tubuh bagian sampingnya kearah pintu, tapi pintu itu terlalu kuat untuk didobrak. Jofran bergerak maju untuk membantu tapi Bry mengangkat tangan meminta Jofran untuk tidak berhenti.
Bry kembali mendobrak pintu sampai akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka, menampakan Vara yang duduk dibawah kucuran shower.
Bry segera berlari menghampiri Vara setelah menutup pintu kamar mandi yang sudah rusak itu. Bry memeluk tubuh Vara yang lemas. Bry begitu khawatir melihat Vara yang hampir kehilangan kesadaran, wajahnya pucat, bibirnya bergetar dengan badan yang menggigil.
Bry mematikan keran shower lalu menggendong Vara keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di atas tempat tidur. Setelah sebelumnya berteriak meminta semua orang meninggalkan mereka.
Bry mengunci pintu kamar lalu mengeringkan tubuh dan mengganti baju Vara. Diselimutinya tubuh Vara dengan selimut yang cukup tebal, tapi Vara masih saja menggigil dengan mata terpejam, mulutnya sesekali bergumam dengan tidak jelas membuat Bry terpukul melihat keadaan Vara.
Bry menuju walk in closet dan mengganti bajunya dengan baju santai secepat kilat. Bry kemudian ikut merebahkan tubuhnya, masuk kedalam selimut yang sama dengan Vara dan memeluknya dari belakang.
Tubuh Vara begitu dingin, Bry mendekap erat tubuh Vara menyalurkan kehangatan agar Vara tidak lagi menggigil dan bisa merasa nyaman. Dan benar saja, setelah beberapa lama tubuh Vara mulai menghangat dan Vara tertidur dengan tenang.
Bry sedikit bernafas lega melihat Vara yang mulai tenang. Bukan kali pertama Bry melihat Vara seperti ini, pikiran Bry menerawang pada kejadian setelah Vara dijebak dan dilecehkan oleh Brandon. Saat itu bahkan Vara berniat bunuh diri dengan membenamkan dirinya kedalam bathtub.
Bry memang sudah melihat keanehan dari diri Vara beberapa hari ini. Vara sibuk sekali mengurus Bradley dan Briley tapi selalu menolak diberi bantuan. Bry tahu Vara begitu lelah, tapi selalu menyembunyikan rasa lelahnya dibalik senyuman jika dihadapan Bry.
2 jam kemudian Vara terbangun dengan posisi bergelung nyaman di dada Bry yang bidang. Vara mendongakan kepalanya menyadari kehangatan yang membuatnya nyaman itu berasal dari tubuh suaminya.
"Honey.."
Bry membuka matanya perlahan, lalu tersenyum menatap wajah Vara yang tidak sepucat tadi. Dirabanya kening Vara, sedikit hangat. Bry langsung beranjak mencari alat kompres instan untuk menurunkan panas yang tersedia di kotak obat, lalu perlahan ditempelkannya di dahi Vara.
Vara mengubah posisinya menjadi duduk diatas tempat tidur. Bry pun melakukan hal yang sama dan menghadapkan wajahnya tepat didepan wajah Vara.
"Honey.. Maafkan jika aku belum menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita."
"Apa yang kamu katakan Sayang? Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa mengurus Bradley & Briley, aku gagal sebagai ibu."
"Ssstttt.. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Aku sangat tahu itu. Tolong biarkan Bi Mona dan baby sitter membantumu mengurus kedua anak kita, agar kamu tidak terlalu kelelahan."
"Aku memang tidak becus mengurus anak-anak"
__ADS_1
Raut wajah Vara terlihat sangat sedih dan penuh sesal.
"Sayang tolong jangan berbicara seperti itu, menerima bantuan orang lain untuk mengurus anak-anak kita, bukan berarti kamu bukan ibu yang baik. Ingat untuk mengurus anak itu berat, terlebih 2 orang anak. Kamu perlu fisik yang kuat dan hati yang bahagia agar bisa mengurus kedua anak kita dengan baik. Kamu bukan wonder woman, jangan memaksakan diri, aku tidak mau kamu kelelahan dan tertekan. Justru hal itu akan mempengaruhi mood-mu dalam mengurus anak."
"Baiklah Honey, aku akan mengizinkan baby sitter ikut mengurus anak-anak kita, tapi saat aku benar-benar memerlukan bantuan."
Bry tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Vara.
"Iya Sayang."
Tiba-tiba Vara seperti tersadar akan sesuatu yang sempat dilupakannya.
"Ya ampun Honey.. Bradley & Briley belum minum ASI."
Vara terlihat panik dan hendak beranjak dari tempat tidur, tapi Bry menahan tangan Vara dengan lembut.
"Mereka sedang tidur, Bi Mona sudah memberi mereka ASI yang kamu simpan. Stock ASI untuk mereka sangat banyak, jadi kamu tidak perlu khawatir mereka akan kelaparan."
Vara melengkungkan senyum manisnya dan membenamkan kepalanya di dada Bry.
"Terima kasih Honey, kamu benar-benar mengerti diriku. Aku bersyukur menjadi istri kamu. Kamu memang suami terbaik untukku, kamu juga Daddy terbaik untuk Bradley & Briley."
Ciuman hangat mendarat di kening Vara.
"Aku yang beruntung memiliki kamu. Kamu adalah istri terbaik dan Mommy terbaik untuk anak-anak kita."
Bry mencium bibir Vara dengan sangat lembut, lalu mendekap erat tubuh Vara, meluapkan perasaan cintanya yang sangat dalam terhadap istri yang dikasihinya itu.
*********************************
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya...