Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 132 Tidak Mau Jauh Darimu


__ADS_3

Bry, Daniel dan Kevin menyunggingkan senyum mengancam di hadapan semua anak buah Aric. Tanpa banyak bicara, mereka diikuti anak buah Bry juga anak buah Brandon yang masih setia, segera menghajar anak buah Aric yang menahan Brandon dan Jared.


Hanya perlu beberapa detik saja untuk menumbangkan semua anak buah Aric. Brandon yang sudah terbebas dari anak buah Aric, segera naik menuju kamarnya. Apa yang dilihat Brandon, seketika menguar luapan amarah, saat melihat Aric menampar pipi kanan dan kiri Sharon dengan sangat keras.


Brandon langsung mengarahkan pukulannya ke bagian dada, perut dan kaki Aric dengan membabi buta. Melihat istrinya disakiti dengan begitu parahnya, membuat dirinya tidak bisa lagi menahan diri. Brandon terus saja memukuli sepupunya itu, sampai jatuh tersungkur di sudut kamar.


Brandon segera menggendong Sharon yang terkulai lemas diatas lantai kamar. Brandon tidak peduli dengan keadaan Aric yang hampir kehilangan nyawa dengan darah mengalir di hampir semua bagian tubuhnya. Yang Brandon pikirkan saat ini, dia harus segera membawa Sharon pergi dari sana.


Brandon yang menggendong Sharon dengan langkah besar, segera menuruni tangga menuju ruang tamu villa. Dilihatnya Bry, Daniel, Kevin dan semua anak buah Bry dan anak buahnya sudah berhasil melumpuhkan anak buah Aric. Mereka sudah menyerah dengan keadaan babak belur dan terikat.


“Jared, bawa mereka semua ke markas besar. Aturkan meeting besar besok pagi, ada yang ingin aku bicarakan dengan semua anggota Klan.”


“Baik Hyung.”


Jared memberi isyarat kepada semua anak buahnya untuk membawa Aric dan semua anak buahnya ke markas besar Klan dan menahan mereka disana.


Brandon bergegas membawa Sharon masuk ke dalam mobilnya, namun kali ini mobilnya dikemudikan oleh Kevin. Sedangkan Bry dan Daniel masuk ke dalam mobil lain diikuti semua anak buahnya menuju Hotel milik Brandon.


Sesampainya di Hotel, Brandon segera menuju kamarnya, dan merebahkan Sharon yang masih dalam keadaan tidak sadar di atas tempat tidur. Dokter Hotel segera datang, begitu mendapat kabar istri pemilik Hotel perlu pertolongan.


Wajah Brandon menampakan raut yang penuh kekhawatiran saat Dokter memeriksa keadaan Sharon.


“Keadaan Nyonya Sharon tidak apa-apa, hanya.. “


“Bagaimana bisa kamu bilang keadaan istriku baik-baik saja? Sudah jelas pipinya merah dan sudut bibirnya berdarah. Dasar tidak becus.”


“Maafkan saya Tuan Brandon, maksud saya, selain wajah Nyonya Sharon perlu dioles salep ini dengan teratur agar memarnya segera sembuh, fisik Nyonya yang lainnya baik-baik saja. Nyonya hanya perlu banyak istirahat dan tidak boleh banyak berpikir apalagi tertekan.”


“Baiklah, aku mengerti.”


Brandon masih memasang wajah kesal, namun  berusaha menahan dirinya agar tidak meluapkan emosinya pada Dokter yang tidak bersalah itu.


“Saya sudah mengoleskan salep, agar memar di pipi Nyonya Sharon segera hilang. Tolong oleskan kembali secara teratur. Dan ini obat yang harus diminum oleh Nyonya Sharon. Semoga Nyonya Sharon lekas sembuh Tuan Brandon.”


“Terima Kasih.”


Brandon menanggapi perkataan Dokter dengan singkat.


Dokter segera pergi meninggalkan kamar Brandon setelah membungkukan tubuhnya yang dibalas anggukan Brandon.


Brandon duduk di pinggir tempat tidur dan memandang wajah Sharon dengan lekat, dielusnya pipi Sharon yang masih tampak memerah karena pukulan Aric.


“Lagi-lagi aku tidak bisa melindungi kamu Sayang. Sudah dua kali, kamu terluka karenaku. Orang-orang yang membenciku, selalu menggunakan kamu sebagai ancaman. Mereka tahu, kamu adalah kelemahanaku. Apa sebaiknya kamu jauh dariku, agar kamu tidak selalu terancam?”


Sharon membuka matanya perlahan, dan menolehkan wajahnya menatap langsung mata Brandon yang terlihat sendu.


“Jangan pernah berpikir untuk membuatku jauh dari kamu, aku akan tetap berada disampingmu apapun yang terjadi. Kecuali kalau kamu memang menganggapku sebagai beban, maka aku akan pergi dari hidup kamu.”


Brandon mengelus pelipis Sharon dengan lembut.

__ADS_1


“Ssstt.. Jangan berbicara seperti itu. Kamu bukan beban untukku. Tapi mengertilah Sayang, aku merasa sangat bersalah karena kamu selalu menderita karena aku. Aku yang seorang mafia, menyeretmu dalam kehidupan yang kejam.”


Sharon menggeleng kepalanya pelan.


“Seberat apapun kehidupan kita, aku tidak ingin jauh dari kamu. Aku akan tetap mendampingimu, suamiku.”


Brandon tersenyum tipis, hatinya menghangat, meskipun kekhawatiran masih enggan pergi dari hatinya.


“Sayang, tidurlah. Istirahatkan tubuhmu. Jangan banyak berpikir ya.”


“Baiklah Sayang, tapi aku ingin kamu memelukku.”


Brandon tersenyum melihat Sharon yang memasang wajah memelas. Brandon merebahkan tubuhnya di samping Sharon dan memeluk tubuh Sharon dari belakang.


Hanya perlu beberapa menit saja sampai akhirnya Sharon jatuh tertidur dalam pelukan Brandon yang hangat dan nyaman. Brandon yang menyadari istrinya sudah memasuki alam mimpi, mencoba memejamkan matanya untuk menyusul istrinya tidur. Karena tubuh Brandon pun cukup lelah karena perkelahiannya dengan Aric. Namun Brandon tidak juga bisa tertidur, padahal Brandon harus menyiapkan tubuh dan pikirannya untuk meeting besar besok pagi yang akan dipimpinnya.


************************


Sharon tidak menmukan keberadaan suaminya saat membuka mata di pagi hari. Diedarkan pandangannya ke semua arah, namun Brandon memang tidak ada di kamar mereka. Kamar mandi pun senyap, tidak ada tanda-tanda Brandon berada di dalam sana.


Diambilnya ponsel yang berada di atas nakas, namun tidak ada satu pesan dan panggilan pun dari Brandon. Sharon menghela nafas panjang, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi, Sharon menuju balkon kamarnya dan memandang tepat ke arah pantai yang indah membentang di hadapannya.


Terdengar pintu terbuka, membuat Sharon menolehkan kepalanya ke arah pintu. Didapatinya Brandon tersenyum dan berjalan menghampirinya.


“Selamat Pagi Sayang.”


"Pipinya sudah tidak sakit kan?”


Sharon menggeleng pelan, yang dibalas senyuman manis dari Brandon. Tentu saja memar di pipi Sharon sudah membaik, karena sepanjang malam setiap 2 jam sekali, Brandon mengoleskan salep yang diberikan Dokter di pipi Sharon. Bahkan Brandon tidak tidur sama sekali. Jam 05.30 pagi dia segera mandi dan berangkat menuju Markas Besar.


Brandon melingkarkan tangannya di pinggang Sharon, lalu memejamkan matanya sambil menumpukan kepalanya di bahu Sharon.



“Sayang, kamu dari mana?”


“Aku dari Markas Besar.”


“Ada apa? Bahkan ini masih jam 8 pagi."


“Tidak ada apa-apa. Hmm, Sayang.. Maukah kamu pulang ke Indonesia bersama dengan Vara? Nanti kamu bisa tinggal di mansion kita. Akan ada banyak pelayan dan penjaga yang menemani dan menjagamu disana."


“Maksudmu, aku pulang duluan dengan Vara, lalu kamu menyusul begitu?"


“Hmm, maksudku, sementara kamu tinggal di Indonesia dulu selama beberapa bulan, dan aku akan membereskan urusan klan-ku disini. Jika sudah selesai..”


“Tidak mau. Semalam kan aku sudah bilang, seberat apapun masalah yang kita hadapi, aku tidak mau jauh dari kamu.”

__ADS_1


“Baiklaaah.. Sudah jangan bicara lagi, kamu membuatku tambah pusing. Aku mengantuk sekali. Aku benar-benar ingin tidur sekarang.”


“Ya sudah, tidur sana.”


“Tidak, aku mau tidur sambil memelukmu seperti ini.”


“Tapi kamu berat sekali.”


“Ah kalau aku menindihmu, kamu tidak pernah mengeluh berat. Kenapa hanya menumpu kepalaku saja, kamu mengatakan berat.”


“Ih kamu..”


Sharon mencubit pinggang Brandon, membuat Brandon terkekeh geli melihat wajah istrinya yang merah merona karena malu.


"Sudah ah, aku lapar sekali."


Sharon melepas tangan Brandon yang ada di pinggangnya, lalu berjalan hendak keluar. Namun tangan Brandon menahan lengan Sharon, membuat Sharon memandang Brandon penuh tanya.


"Sayang.. Tapi nanti sesudah kamu makan, aku mau makan juga ya."


"Ya tinggal makan saja, kenapa harus menungguku selesai makan."


Sharon mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud Brandon.


"Maksudnya, aku mau memakanmu Sayang."


Brandon memeluk pinggang Sharon lalu mengecup lembut bibir Sharon.


"Ya sudah, kamu makannya sekarang saja Sayang."


Sharon berkata sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Brandon yang seketika tersenyum senang, lalu mendaratkan kembali bibirnya di bibir Sharon yang merah.


Brandon mendorong pelan tubuh Sharon menuju tempat tidur, lalu merebahkan tubuh Sharon diatas tempat tidur. Brandon dan Sharon saling melepas jeda yang menjadi jarak diantara tubuh mereka, saling merespon setiap sentuhan yang mereka lakukan. Bahkan mereka sampai mengulang berkali-kali adegan demi adegan penuh kenikmatan, sampai matahari bersinar terik.


(Brandon & Sharon.. Jangan lupa, malam nanti Resepsi Pernikahan kalian. Jangan terlalu lelah ya! 😁)


*************************


Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya.. (like & vote boleh banget kok 😁)


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊


#staysafe #stayhealthy


Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊

__ADS_1


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


__ADS_2