
Brandon langsung masuk ke ruang tamu Vara tanpa mengetuk pintu. Membuat Bry seketika menyimpulkan kalau Brandon sudah sangat dekat dengan Vara dan keluarganya. Sehingga tanpa canggung bisa keluar masuk rumah Vara dengan bebas. Saat Brandon membuka pintu, Brandon tampak terkejut melihat Bry yang sedang berdiri menatap tajam kearahnya. Mereka sama-sama tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Apakah kamu tidak bisa mengetuk pintu saat masuk ke rumah orang lain?" Bry dengan tanpa jeda langsung meluapkan rasa kesalnya dengan nada dingin.
"Aku sudah sangat dekat dengan Vara dan keluarganya. Mereka yang memintaku tidak usah sungkan. Kenapa jadi kamu yang sewot?" Brandon hendak memanggil Vara, tapi Vara sudah terlihat hendak menuruni anak tangga.
"Hai Brandon.. Kenapa tidak bilang kalau mau kesini?" Vara bertanya sambil menuruni anak tangga.
"Aku tadi menghubungi Samuel, Vanny dan Nila agar kita bisa berkumpul. Tapi ternyata mereka semua punya acara. Jadi aku langsung kemari untuk mengajakmu jalan-jalan." Brandon tidak menghiraukan Bry yang sudah memasang ekspresi kesalnya sejak tadi.
"Oh begitu.. Tapi maaf Brandon, aku tidak bisa ikut denganmu kali ini." Bry mendadak tersenyum saat mendengar perkataan Vara. Bry senang karena Vara langsung menolak ajakan Brandon.
"Kenapa Vara? Apa kamu ada acara dengan laki-laki ini?" Brandon mengangkat dagunya menunjuk kearah Bry. Bry berdecak kesal menanggapi sikap Brandon yang tidak sopan.
"Maaf Brandon, aku ada acara bersama Bry." Vara sebenarnya tidak enak menolak ajakan Brandon, tapi saat ini Vara ingin menikmati waktu bersama Bry. Vara juga merasa sudah waktunya untuk bersikap tegas pada Brandon yang selalu mengharapkan cintanya. Vara tidak ingin memberikan harapan kosong pada Brandon.
"Tapi nanti malam bolehkah aku kembali kesini?" Brandon masih belum menyerah demi menghabiskan waktu bersama Vara.
"Maaf Brandon, aku tidak bisa." Vara menolak lagi nada sedikit memelas.
"Tapi Vara..." Brandon belum selesai berbicara, tapi Bry langsung memotong perkataan Brandon.
__ADS_1
"Kenapa kamu memaksa sekali? Vara kan sudah bilang tidak bisa." Bry berbicara dengan nada dingin.
"Tidak usah ikut campur." Brandon sudah mulai terpancing emosi dan menatap Bry dengan tajam.
"Sudah.. Kalian ini kenapa sebenarnya." Vara berusaha mencegah pertengkaran diantara Brandon dan Bry.
"Kamu lihat sendiri kan Var.. Laki-laki ini yang membuatku marah." Vara melirik Bry yang menanggapi dengan mengangkat bahunya seolah tidak bersalah.
"Brandon, maaf kali ini aku benar-benar tidak bisa ikut denganmu."
"Tapi kenapa kamu lebih memilih bersama dengan laki-laki ini?" Brandon masih tidak bisa menyembunyikan emosinya.
"Karena aku adalah pacarnya. Tentu saja Vara lebih memilih bersamaku." Bry mengatakannya dengan nada santai, sambil merentangkan tangannya di kedua bahu sofa.
"Bry benar, Brandon.. Bry memang pacarku." Perkataan Vara langsung membuat Brandon lemas. Brandon menyandarkan punggungnya di sofa dengan tangan yang mengepal kuat.
Bry memperhatikan ekspresi Brandon juga kepalan tangan Brandon yang seolah menunjukan emosinya yang tertahan.
"Maaf Brandon.." Vara merasa sangat bersalah melihat sahabat terbaiknya merasa kecewa, tapi Vara merasa ini yang terbaik bagi mereka.
"Jangan membuat pacarku terus menerus meminta maaf. Kenapa kamu membuat Vara seolah-olah telah melakukan kesalahan?" Bry masih dengan nada dingin dan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Bry.. Hentikan.." Vara memandang Bry kesal, karena terus saja memancing emosi Brandon.
Brandon mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Lalu berdiri sambil menatap Vara.
"Vara, mungkin dulu aku mengalah saat kamu bersama Arya. Tapi tidak kali ini. Aku akan buktikan kalau aku jauh lebih baik dari dia." Brandon bergegas keluar dari rumah Vara dan masuk ke mobilnya. Brandon memukul kemudinya dengan kencang lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Vara dengan sangat tidak sabaran.
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya..
__ADS_1