
(JEJU ISLAND - SOUTH KOREA)
Sebulan berlalu sejak Pernikahan Brandon dan Sharon di Bali. Sore ini Bry, Vara serta seluruh keluarga besar dan sahabat-sahabatnya sudah tiba di Hotel milik Brandon yang berada di Pulau Jeju, tempat dimana Resepsi Pernikahan Brandon dan Sharon akan dilangsungkan besok malam.
Vara sudah menghabiskan waktu lebih dari 15 menit dengan berdiri tepat di depan jendela kamarnya yang berada di lantai 3, menikmati keindahan laut Pulau Jeju yang begitu memukau dan memanjakan mata.
Vara begitu senang, karena meskipun bukan pertama kalinya berlibur ke Korea, tapi ini pertama kalinya Vara menginjakan kakinya di Pulau Jeju yang terkenal dengan keindahan alamnya.
Brandon memang sengaja menyediakan kamar yang mengarah ke laut lepas untuk semua keluarga Sharon dan sahabat-sahabatnya yang datang dari Indonesia. Brandon ingin memberikan sambutan terbaik bagi semua tamuistimewanya.
Bry yang baru masuk ke dalam kamar setelah ada membicarakan urusan pekerjaan bersama Daniel dan Kevin di restaurant, memandang kea rah Vara yang sepertinya tidak menyadari kehadiran Bry di kamar mereka.
Bry berjalan mengendap-endap berniat mengejutkan Vara yang masih larut dalam kekagumannya menatap pemandangan di hadapannya.
Vara begitu terkejut, saat tiba-tiba Bry memeluknya dari belakang sambil mencium lembut bahu Vara yang terbuka.
“Honeeey.. Kamu membuatku terkejut.”
Bry terkekeh geli melihat reaksi Vara yang kesal, namun nada bicaranya masih terdengar manja, membuat Bry semakin gemas pada istrinya itu.
“Aku tidak bermaksud mengejutkanmu, tapi kamu terlalu asyik dengan lamunanmu sendiri. Sehingga tidak menyadari kehadiranku."
"Kamu kan bisa memanggil namaku, Honey."
Bry tidak menjawab, malah tersenyum jahil ke arah Vara, membuat Vara mendengus kesal yang justru membuat Bry merasa gemas. Bry memeluk Vara semakin erat dengan mengarahkan pandangannya ke depan, sama seperti Vara.
"Kamu suka dengan pemandangannya Sayang?”
“Sangaaaatt.. Pemandangannya begitu indah. Beruntung sekali, kita bisa disini selama 5 hari. Aku akan berkeliling Pulau Jeju setiap hari.”
“Lho, bukankah di hari ketiga kamu ingin ke Seoul untuk pergi ke Namsan Tower?”
“Oh iya.. Tapi waktu 2 hari terlalu singkat untuk mengeksplor Pulau Jeju yang begitu luas dan indah. Apa kita ke Seoul di hari keempat saja ya Honey? Aku benar-benar menyukai Jeju.”
“Baiklah Sayang, kita ke Seoul di hari keempat saja.”
Bry kembali mencium bahu Vara dan membenamkan kepalanya di ceruk leher Vara, membuat Vara kegelian. Tapi malah semakin senang menggoda istrinya itu.
“Honey, geliiii.. Aku mau melihat matahari tenggelam. Ayo kita turun dan melihatnya dari kolam renang.”
Bry melepas pelukannya dan membalik pelan tubuh Vara agar menghadapnya.
“Baiklah, ayo kita turun.”
Namun sebelum keluar dari kamar, Bry mengambil jaket denim Vara, hendak memakaikannya pada tubuh istrinya yang hanya mengenakan tanktop.
"Angin diluar cukup dingin, aku tidak mau kamu sakit Sayang."
Vara mengangguk tersenyum sambil memasukan masing-masing tangannya pada jaket yang dipegang Bry. Vara paham betul maksud dari suaminya itu, Bry bukan hanya tidak ingin Vara sakit, tapi juga tidak ingin ada laki-laki lain yang memandang tubuh Vara yang terlalu terbuka. Dan Vara menurut saja dengan keinginan suaminya yang sangat posesif itu, meskipun saat ini cuacanya terbilang cukup panas, karena di Korea saat ini sedang dalam musim panas.
*************************
Bry dan Vara segera turun ke area kolam renang yang terletak di lantai 2. Mereka duduk di kursi yang terdapat di pinggir kolam renang sambil menatap kearah matahari terbenam.
"Sayang, ayo kita berphoto dulu, pemandangannya indah sekali."
"Baiklah.. Ayo kita berphoto sambil berdiri. Latarnya sunset yang indah itu Honey."
__ADS_1
Bry lalu berpose sambil memeluk pinggang Vara. Vara mulai mengarahkan kamera ponselnya untuk mengambil photonya bersama Bry. Namun saat sedang berpose, tangan Bry selalu tidak bisa diam dan malah menggelitik perut Vara yang sedikit terbuka.
"Honeeeey.."
Vara mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan ulah Bry. Bry yang memasang wajah polos malah balik bertanya.
"Apa Sayang?"
"Seriuslah, kita harus mengambil photo yang bagus."
"Baiklah..baiklah.."
Bry kembali berpose dengan memeluk tubuh Vara. Namun lagi-lagi, Bry malah menggoda dan menggelitiki perut Vara membuat Vara tidak kuat menahan tawanya dan mendorong Bry yang tidak hentinya menggoda istrinya itu. Mereka terus saja bercanda dan saling menggoda, sambil sesekali mengambil photo dengan latar pemandangan indah Jeju.
Setelah puas tertawa, mereka kembali duduk sambil melihat hasil photo yang tidak serius itu.
“Sayang, aku pesan makanan dan minuman dulu ya. Kamu jangan kemana-mana ya.”
“Baiklah Honey, tapi jangan lama-lama ya.”
“Ok Sayang..”
Bry memasang wajah imut dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Vara, yang malah terkekeh geli melihat tingkah suaminya yang genit itu.
Vara kembali menikmati keindahan karya Tuhan dihadapannya, sesekali Vara membelakangi arah matahari terbenam dan mengarahkan kamera ponselnya untuk mengabadikan wajahnya dengan latar sunset yang indah. Vara tersenyum puas melihat hasil photo di kamera ponselnya.
“Indah ya pemandangannya?’
“Iya, indah sekali. Beruntung sekali kamu bisa menikmati pemandangan ini sepuasnya. Andai aku bisa punya rumah di pinggir pantai seperti ini, aku pasti senang sekali.”
Brandon tersenyum lembut mendengar perkataan Vara.
‘Ternyata mimpimu masih belum berubah ya. Dulu, tujuanku membangun hotel dan resort di Jeju adalah karena kamu sangat menyukai pantai. Saat itu aku berharap, suatu saat kita berdua bisa menikmati sunrise dan sunset di pulau indah ini. Tapi kenapa sekarang saat aku bisa mewujudkan harapanku, rasanya tidak sebahagia yang aku bayangkan saat itu. Bohong kalau aku katakan, perasaan cintaku sudah hilang terhadapmu. Perasaan itu masih ada, tapi entah kenapa posisimu di hatiku dengan mudahnya tergeser oleh Sharon. Perasaan cintaku padanya jauh lebih besar dari perasaan cintaku padamu. Dan aku berniat menghapus semua perasaan cintaku terhadap kamu.’ Batin Brandon.
Vara melambai-lambaikan sebelah tangannya di depan wajah Brandon.
“Hai, kenapa malah melamun?”
Brandon seketika tersadar dari lamunannya.
“Ah tidak apa-apa.”
Brandon tersenyum ke arah Vara, lalu kembali menatap sunset yang semakin berubah jingga.
"Vara, dimana Bryllian?"
"Bry sedang memesan makanan. Hmm, Brandon bagaimana rasanya menikah dan memiliki istri?"
“Bahagia.. Benar-benar bahagia.”
Brandon tersenyum sangat manis, memancarkan raut penuh kebahagiaan yang tidak dapat disembunyikan.
“Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Itulah harapanku, agar kamu dan Sharon bisa hidup bahagia.”
Bry yang berjalan ke area kolam renang sedikit terkejut melihat Brandon ada bersama Vara. Bry akui, hatinya masih sedikit cemburu melihat kebersamaan Vara dengan Brandon, meskipun kini Brandon sudah menikah dengan Sharon. Karena Bry tahu sekali perasaan Brandon dulu terhadap Vara, dan perasaan cinta seseorang tidak akan semudah itu hilang di dalam hatinya.
__ADS_1
Bry memandangi mereka dengan sedikit bersembunyi untuk mencuri dengar apa yang Vara dan Brandon bicarakan.
Bry memperhatikan Brandon yang memandang Vara dari jarak yang cukup dekat membuat Bry sekuat tenaga menahan emosinya.
“Dulu, aku pernah bermimpi menikmati pemandangan sunrise dan sunset dari sini bersama dengan kamu. Aku pikir rasanya akan sangat membahagiakan, jika aku bisa menikmati pemandangan seindah ini bersamamu. Tapi ternyata biasa saja, hahaha…”
Vara ikut tertawa dengan sangat keras.
“Wah, dasar kurang aj*r. Setelah kamu bertemu Sharon, namaku langsung hilang dari hatimu, hahaha… Tapi aku benar-benar senang, akhirnya kamu bisa melupakanku,.”
“Iya Vara, aku pun tidak menyangka bisa melakukannya. Perasaanku terhadapmu, hilang begitu saja setelah Sharon datang. Entah kenapa dengan mudahnya hatiku bisa dipenuhi nama Sharon saat ini. Maaf karena nama kamu sudah tidak ada lagi di hatiku, hahaha…’
‘Mungkin akan jauh lebih baik, jika aku mengatakan sudah benar-benar tidak mencintainya lagi.' Batin Brandon.
“Hahaha… Percaya diri sekali Tuan ini. Memangnya aku suka, kamu mencintaiku terus, aku justru bahagia akhirnya kamu bisa benar-benar membuang perasaanmu kepadaku.”
“Iya kamu benar. Terima kasih karena sudah menjadi sahabatku selama ini Vara."
“Iya, sama-sama Brandon. Terima kasih juga karena kamu selalu menjagaku sejak kita SMA dulu. Kamu memang sahabat terbaikku.”
Brandon bergerak hendak memeluk Vara, namun Vara yang memahami gesture Brandon segera mengangkat kedua tangannya didepan dada sambil tersenyum, seolah menahan Brandon, agar tidak memeluknya.
“Jangan mencari masalah dan membuat pasangan kita salah paham.”
“Kamu benar, aku tidak mau mati dipukuli Bryllian, dan diomeli Sharon seharian, hahaha..”
Vara ikut tertawa menanggapi candaan Brandon.
Vara dan Brandon tidak menyadari, ada sepasang mata yang sudah berkaca-kaca melihat kebersamaan mereka dari lantai 3. Sharon sedari tadi sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjun bebas di pipinya. Sharon yang sudah merasa tidak kuat melihat adegan yang sedari tadi diperhatikannya, tanpa bisa mendengar apa yang Brandon dan Vara bicarakan, memilih berlari ke kamarnya karena tidak kuat menahan luapan emosinya.
Sharon masuk ke dalam kamar, lalu menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur, setelah mengunci kamarnya terlebih dahulu. Air mata yang sekuat tenaga ditahannya agar tidak jatuh, kini lolos mengaliri pipinya. Saat ini, di dalam hatinya hanya ada rasa kecewa dan keraguan terhadap suaminya.
"Kenapa kamu tega sekali, Brandon?" Lirih Sharon.
***********************
Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍
Kalian semua begitu berharga buat author. Love u so much.. ❤❤❤
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
(IG : zasnovia #staronadarknight)
__ADS_1