
Sejak pertemuan terakhir kali di Restaurant S, Vara mulai menghindari Bry. Sudah beberapa hari ini Vara tidak membalas chat dari Bry, tidak mengangkat telepon Bry dan juga tidak pergi kuliah demi menghindar dari Bry. Meskipun Bry sudah tahu hal ini akan terjadi saat Vara mengetahui kenyataannya, tapi hal ini tetap membuat Bry merasa sangat frustasi dengan perubahan sikap Vara.
'Sayang.. Tolong maafkan aku. Aku ingin mengetahui kabarmu. Apa kamu baik-baik saja Sayang? Tolong kabari aku. Aku benar-benar bisa gila tanpamu.' Batin Bry.
Bry tidak dapat bekerja dengan baik, pikirannya terus saja tertuju pada Vara. Sesekali Bry memeriksa posisi Vara melalui alat pelacak yang dipasang di beberapa benda milik Vara. Posisi Vara tetap di rumah, tidak ada perubahan selama beberapa hari ini. Hal ini membuat Bry semakin khawatir dengan keadaan kekasihnya itu, Bry berpikir kemungkinan Vara mengurung diri dirumah karena masih sedih dengan kenyataan yang diketahuinya.
Sementara Vara masih merasa perasaannya teramat hancur. Sebuah kenyataan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, begitu melukai hatinya yang baru saja sembuh. Semua bagaikan mimpi buruk yang memporak-porandakan perasaan dan semua harapannya.
FLASHBACK ON
Vara menatap pantulan wajahnya yang segar dengan rambut yang masih basah pada cermin di meja riasnya. Vara tanpa sadar mengurai senyum manisnya saat teringat makan siang pertamanya di ruang kerja Bry.
Sikap Bry yang selalu membuat Vara merasa sangat dicintai, seolah membuat hati Vara berbunga-bunga. Hanya dengan memikirkan Bry saja, hati Vara langsung menghangat menebarkan perasaan bahagia yang tidak terkira.
Vara hendak mengambil pelembab wajah di dalam tasnya, saat tidak sengaja bedak padatnya ikut terambil dan jatuh sampai pecah berserakan di lantai. Alas tempat bedaknya pun sampai terlepas dari tempatnya.
__ADS_1
Vara cukup kesal, karena bedak padatnya itu masih cukup baru. Namun karena kecerobohannya bedak itu hancur berserakan. Vara membersihkan tumpahan bedak yang mengotori lantai tersebut menggunakan tissue.
Tiba-tiba pandangannya tertumpu pada benda kecil yang bentuknya sama persis dengan benda yang ditemukan Vara di barang-barang miliknya beberapa hari lalu.
'Bry.. Kamu benar-benar keterlaluan. Sebenarnya sebanyak apa alat pelacak yang kamu simpan? Haruskah kamu melakukan hal sejauh ini? Kamu membuatku merasa terkekang oleh sikap over protective-mu.'
Vara mengirimkan pesan kepada Bry untuk bertemu dan meminta penjelasan tentang alasannya memasang begitu banyak alat pelacak di barang-barang pribadi Vara.
Namun tidak disangka, pertemuannya dengan Bry bukan mengungkap alasan Bry memasang alat pelacak di barang-barang Vara, Bry justru mengakui sesuatu yang tidak pernah diduganya bahkan tidak ingin pernah didengarnya.
Saat ini Vara berada di atas pesawat menuju Granada Spanyol untuk menemui Kakaknya Reyvan. Memang Reyvan-lah yang menyuruh Vara datang untuk berlibur dan menenangkan diri. Reyvan sangat khawatir dengan keadaan Vara setelah Vara menceritakan pertemuan terakhir kali dengan Bry. Lebih baik jika Vara datang ke Spanyol agar Reyvan bisa menjaga adiknya secara langsung, karena dia sendiri tidak bisa pulang karena tuntutan pekerjaan.
Sebenarnya kedua orangtua Vara sangat terkejut dengan keputusan Vara yang terkesan mendadak, terlebih mereka berpikir Vara sudah memiliki kekasih yang membuatnya kembali ceria. Namun Reyvan berhasil meyakinkan Mama dan Papanya itu agar mengizinkan Vara untuk berlibur, juga mengizinkan Vara kuliah di Spanyol jika memang Vara menginginkannya. Sampai akhirnya Mama dan Papa mengizinkan meskipun dengan sangat berat hati.
Vara sengaja menyimpan semua pelacak yang ditemukannya itu dikamarnya, sehingga saat Bry melacak posisinya, yang Bry lihat pasti posisi Vara selalu dirumah.
__ADS_1
Padahal selama beberapa hari ini, Vara mengurus Visa untuk keberangkatan ke Kanada, mengurus cuti kuliah, mengurus dokumen jika berniat kuliah di Spanyol, juga membeli semua barang yang harus dibawanya ke Kanada.
Sesungguhnya Vara tidak ingin melakukan ini. Tapi rasa kecewa karena dibohongi benar-benar tidak akan pergi dari hatinya. Terlebih rasa bersalah karena telah mencintai Bry, yang nyatanya adalah penyebab meninggalnya Arya membuatnya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
'Maafkan aku Bry.. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku terlalu kecewa dengan kebohongan kamu selama ini. Terlebih aku merasa bersalah karena bahagia bersama kamu yang nyatanya adalah penyebab kematian Arya. Kita benar-benar tidak bisa bersama lagi.'
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..