
Sudah 2 jam sejak terakhir kali Dokter Anata memberitahu Bry bahwa Vara akan melahirkan dan sudah mencapai pembukaan ketiga. Bry semakin panik dan khawatir melihat keadaan Vara yang mengeluh sakit setiap beberapa menit sekali. Vara juga terus saja meminta Bry untuk mengelus pinggang Vara yang terasa nyeri dan panas. Vara merasa sedikit nyaman dengan elusan Bry dan dia akan kembali mengeluh sakit, jika Bry menghentikan elusannya di pinggang Vara.
Dokter Anata juga memberikan infus karena tekanan darah Vara terlalu rendah, terlebih Vara sama sekali tidak mau memakan makanan apapun, padahal Kevin dan Daniel sudah membawakan banyak makanan sehat untuk Vara. Karena berpikir Vara akan memerlukan banyak tenaga untuk melahirkan nanti.
Bry berterima kasih dengan perhatian dari kedua sahabatnya itu, karena Bry sendiri tidak terpikir untuk membelikan Vara makanan, disaat dirinya begitu panik memikirkan keselamatan Vara dan kedua bayi mereka.
"Daniel.. Kevin.. Thanks ya, kalian sudah menyusul kemari dan mengantarkan banyak makanan untuk Vara. Aku sama sekali tidak terpikirkan hal itu. Aku begitu kalut. Bahkan baju-baju dan perlengkapan bayi saja disusulkan oleh Bi Mona, karena aku lupa membawanya."
"Santai Bro.. Kamu bisa mengandalkan kita. Kalau kamu memerlukan sesuatu, bilang saja ya."
Daniel menepuk pelan pundak sahabatnya yang tidak berhenti mengelus pinggang atau mengelap kening istrinya yang basah oleh keringat.
"Iya.. Tenang saja Bro.."
Kevin ikut menimpali perkataan Daniel.
"Thanks ya..:
Bry memeluk kedua sahabatnya bergantian dengan sebelah tangan.
*********************************
Mama Irena, Papa Devan, Mommy Jhena dan Daddy Dave tiba di Rumah Sakit bersamaan. Mereka baru tiba, karena Bry yang begitu fokus pada keadaan istrinya, sehingga lupa memberi kabar pada orangtua dan mertuanya itu.
Papa Devan dan Mama Irena berdiri di sebelah kanan tempat tidur Vara sedangkan Mommy Jhena dan Daddy Dave disebelah kirinya.
“Vara Sayang, bagaimana keadaan kamu?"
Mommy Jhena langsung berteriak menanyakan keadaan menantunya sesaat memasuki ruangan.
Vara tidak sanggup menjawab pertanyaan Mommy Jhena, air mata di sudut matanya mewakili rasa sakit yang dirasakannya saat ini. Vara mengulurkan tangannya kearah Mommy Jhena seolah meminta kekuatan.
“Sabar ya Sayang. Tenang ada kami disini. Bry akan selalu menemanimu selama proses melahirkan. Kamu pasti kuat Sayang.”
"Iya Mom.."
Vara berkata begitu lirihnya, menahan rasa sakit di perutnya yang tidak berhenti membuatnya meneteskan ait mata. Mommy Jhena mengusap kening Vara yang basah oleh keringat.
__ADS_1
“Sayang, banyak berdoa ya.. Yakinlah semua akan baik-baik saja.”
Mama Irena menatap anaknya penuh rasa haru sambil memegang tangan Vara dengan kedua tangannya. Anak yang dilahirkannya, hari ini akan melahirkan dan menjadi seorang ibu seperti dirinya. Papa Devan merengkuh tubuh istrinya dan menenangkannya agar tidak menangis.
"Tenang Ma.. Persalinan Vara pasti lancar, yang kuat ya Nak."
Vara hanya mengangguk menanggapi perkataan Papa Devan, seraya tersenyum kearah Mama Irena dan Papa Devan.
"Vara.. Semangat ya, Daddy dan Mommy selalu mendoakanmu."
"Thanks Dad.."
Perkataan lirih Vara nyaris tidak terdengar, Mama Irena memijat pelan lengan Vara agar Vara lebih merasa rileks menghadapi proses persalinannya nanti. Mereka semua bergantian menenangkan Vara agar bisa tenang dan kuat menjalani persalinannya.
Bry hanya diam sejak kedatangan orangtua dan mertuanya itu. Bry bukannya tenang, tapi dia sedang menyembunyikan rasa khawatirnya menghadapi persalinan Vara yang tinggal menghitung jam. Sesungguhnya Bry takut sesuatu yang buruk menimpa Vara dan kedua bayi mereka, tapi dia berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya dari semua orang, terutama dari Vara.
Dokter Anata masuk hendak memeriksa kembali pembukaan jalan lahir Vara. Betapa terkejutnya Dokter Anata, saat mengetahui Vara sudah mencapai pembukaan ke-8.
“Nyonya Vara, pembukaannya cepat sekali, sekarang sudah pembukaan ke-8, mungkin kedua dedek bayinya sudah tidak sabar ingin segers keluar.”
Vara, Bry dan semua orang yang ada di ruangan itu membelalakan mata karena tidak percaya dengan apa yang mereka dengan. Perkiraan mereka, Vara akan melahirkan sekitar beberapa jam lagi.
Dokter Anata dan Tim-nya sudah bersiap melaksanakan proses persalinan pasien istimewanya itu. Ketuban Vara pecah tepat setelah pembukaan Vara sudah sempurna. Dokter Anata segera membimbing Vara untuk mengejan.
“Nyonya Vara, tarik nafas dan hembuskan saat anda ingin mengejan.”
Vara menarik nafas pendek-pendek, kemudian mngejan saat dia merasa sudah ingin mengejan.
“Aaaaaaa…”
Bry memegang tangan Vara yang menggenggam tangannya begitu erat sampai menusukan kuku-kukunya yang cukup tajam di telapak tangan Bry.Tapi Bry tidak peduli, dia tahu Vara jauh lebih merasa sakit dibanding dirinya saat ini. Bry pasrah apapun yang dilakukan Vara padanya, asalkan bisa mengurangi rasa sakit Vara.
"Ayo Sayang.. Kamu bisa, sebentar lagi kita akan bertemu anak-anak kita, Sayang."
Vara ternyata tidak berteriak-teriak kesakitan seperti yang Bry bayangkan sebelumnya, Vara hanya mengejan dengan mengeluarkan suaranya yang tidak terlalu keras, mungkin karena tekanan darahnya yang terlalu rendah sehingga Vara tidak memiliki banyak tenaga untuk berteriak dengan keras. Tapi justru karena itulah Bry semakin khawatir. Bry takut Vara lemas dan tidak kuat mengejan lagi.
"Sayang, kamu harus kuat.. Demi aku dan anak-anak kita."
__ADS_1
Bry tidak henti-hentinya mengelus pelipis Vara yang penuh keringat dengan sebelah tangannya masih digenggam Vara dengan kuat.
Sesaat kemudian terdengar tangis bayi yang sangat kencang, Bry mengucap syukur dan menghela nafas lega.
“Nyonya, masih ada 1 bayi lagi, ayo semangat.. Mengejan lagi Nyonya..”
Bry juga Vara memang sempat melupakan keberadaan satu bayi lagi yang masih berada didalam perut Vara. Tanpa membuang waktu Vara segera mengejan kembali dengan segenap kekuatannya yang masih tersisa. Kali ini tidak selama tadi, bayi kedua keluar dengan lebih mudah dibanding yang pertama.
Bry mengecup kening Vara begitu lama, air matanya menetes tepat di kening Vara.
“Terima kasih Sayang, sudah berjuang melahirkan anak-anak kita, membuat hidupku sempurna. Terima kasih My Wife..”
Vara terharu mendengar perkataan suaminya juga kenyataan bahwa saat ini dirinya sudah menjadi seorang ibu.
Dialihkan pandangan Bry dari istrinya kearah 2 bayi yang saat ini sudah berada didalam box bayi. Bry segera mendekati keduanya dan mengadzani mereka dengan air mata yang menetes di pipinya. Vara yang melihatnya terlihat tidak sanggup menahan isakan karena bahagia.
Setelah Bry mengadzani kedua bayinya, 2 orang perawat mendekatkan posisi box bayi kearah Vara. 2 bayi berwajah tampan bergerak-gerak kecil dengn mulut seolah ingin berbicara.
Salah satu perawat menggendong salah satu bayi Vara dan mendekatkannya ke dada Vara untuk diberi ASI. Vara menyambut bayinya dan menempelkannya tepat di salah satu pay*daranya. Bayi itu segera membuka mulutnya dan menyusu dengan begitu rakus membuat Vara tersenyum dan menangis bersamaan karena rasa harunya.
Perawat yang lain menggendong bayi Vara yang satunya dan menempelkan di sebelah bayi pertama, sehingga kini keduanya menyusu pada Vara dengan dibantu Bry agar kedua bayi itu tidak jatuh.
Sungguh pemandangan yang luar biasa bagi Bry, perasaan cinta dan kagum pada istrinya terasa semakin bertambah setelah Bry melihat secara langsung bagaimana beratnya perjuangan Vara dalam melahirkan kedua bayi mereka. Rasanya apa yang dia lakukan selama ini tidak sebanding dengan perjuangan dan pengorbanan Vara saat ini.
'Sayang, aku berjanji akan selalu mencintaimu, menyayangi dan melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku akan selalu berusaha membahagiakanmu seumur hidupku.' Batin Bry.
********************************
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..