
Vara mengubah posisinya menjadi duduk, raut wajahnya masih terlihat sedikit ketakutan. Hal ini tentu saja membuat Bry merasa sangat bersalah, dan seketika Bry merengkuh tubuh Vara dengan sangat erat.
"Maafkan aku Sayang.. Maafkan aku.. Seharusnya aku tidak melakukannya."
Perlahan Vara mendorong tubuh Bry, berusaha melepaskan pelukan Bry tanpa berniat menyinggung perasaannya. Sesaat kemudian Bry melepas pelukannya dan menatap manik mata Vara yang menatapnya sendu.
"Maafkan aku Bry.. Aku memang mencintaimu, tapi entah kenapa saat tadi kamu melakukannya, aku langsung teringat kejadian itu. Tiba-tiba aku merasa takut, meskipun kamu tidak memaksaku."
"Sayang, pasti kejadian itu benar-benar membekas dalam pikiran kamu. Tapi aku bukan Brandon. Aku melakukannya karena aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah melakukannya jika kamu tidak mengizinkannya. Aku akan berusaha membantumu melupakan semua kejadian buruk itu. Maafkan aku Sayang."
Vara tidak berkata apapun, namun air matanya tampak sudah menggenang dan sesaat kemudian mengaliri pipinya.
Bry kembali merengkuh tubuh Vara dan membenamkannya di dadanya seolah memberikan perlindungan bagi Vara yang rapuh.
"Menangislah Sayang.. Luapkan perasaanmu!"
Vara semakin membenamkan wajahnya di dada Bry sampai baju Bry basah oleh air mata Vara. Vara begitu nyaman dengan mengeratkan pelukannya di pinggang Bry. Bukan hanya karena wangi parfum Bry yang menenangkan atau hangat dan kokohnya tubuh Bry, tapi perasaan nyaman itu semakin terasa karena Vara semakin menyadari kalau Bry adalah laki-laki yang diinginkan hatinya.
Vara mendongakan kepalanya dan menatap wajah Bry dengan ekspresi penuh kesedihan. Kedua pipi Vara yang basah, hidungnya memerah dan matanya sembab, membuat Bry melengkungkan senyum tipisnya. Diusapnya kedua pipi Vara dengan kedua ibu jarinya, lalu dikecupnya hidung Vara dengan sangat lembut.
"Sudah menangisnya?"
Vara mengangguk menunjukan wajah polosnya yang justru sangat menggemaskan di mata Bry.
"Ya sudah.. Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan." Vara menggeleng pelan.
"Bry, aku mau melihat bukti-bukti tentang kematian Arya, bolehkah?" Bry tergugu sejenak mendengar perkataan Vara.
"Kamu yakin? Aku khawatir dengan keadaan kamu sekarang Sayang."
"Aku tidak apa-apa Bry. Aku ingin tahu semuanya. Aku tidak mau salah paham lagi. Aku perlu meyakinkan hatiku."
Perkataan Vara terdengar sangat meyakinkan sekaligus menimbulkan tanda tanya bagi Bry.
"Meyakinkan hatimu?"
"Aku tidak mau lagi ada hal yang membuatku meragukan pribadi kamu, perasaan kamu ataupun perasaanku terhadap kamu."
Bry tampak berpikir sejenak, menimbang-nimbang apa yang sebaiknya dia lakukan. Kemudian Bry berdiri melihat ke arah Vara dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Baiklah.. Tapi aku mohon jangan tahan atau pendam perasaanmu, Sayang. Luapkan saja apa yang kamu rasakan!"
Vara mengangguk cepat, berusaha meyakinkan Bry yang terlihat sangat ragu dengan keputusannya.
Bry mengambil tas yang disimpan di dalam lemari, mengeluarkan laptopnya dan sebuah amplop berukuran besar.
Bry menyimpan laptop dan amplop berisi bukti-bukti kematian Arya diatas meja, lalu mengarahkan layar laptopnya menghadap Vara dan membiarkan Vara membuka folder berjudul "EVIDENCES" itu sendiri. Sedangkan Bry hanya duduk menemani Vara disebelahnya.
Air mata sudah menggenang di kelopak mata Vara, saat Vara secara berurutan melihat bukti rekaman CCTV yang terdapat dalam folder itu. Yaitu rekaman CCTV saat seorang sniper mengarahkan senjatanya ke arah Arya, lalu saat Arya terjatuh dari motornya, juga saat Arya berada di Rumah Sakit.
Vara juga membuka amplop yang berisi rekam medis Arya, analisa tentang peluru yang bersarang di dada Arya, juga semua hal tentang Klan Wang Eagle dimana Brandon adalah pemimpinnya. Bry tidak ingin menutupi apapun dari Vara. Vara berhak tahu semua hal yang telah terjadi pada Arya dan dirinya selama ini.
"Bry, aku benar-benar tidak menyangka, kalau Brandon bisa sekejam ini."
Air mata Vara menetes tanpa bisa ditahan, lalu Bry mengusap lembut puncak kepala Vara seraya menatap ke dalam mata Vara dengan tatapan teduh.
"Aku tidak ingin menutupinya darimu Sayang, karena aku ingin kamu paham betapa berbahayanya Brandon."
"Aku takut dia melukaimu Bry."
Kekhawatiran tergambar jelas di wajah Vara, namun Bry hanya tersenyum berusaha mengikis kekhawatiran yang tertanam di hati Vara.
"Sekarang aku bisa memakluminya, meskipun aku benar-benar tidak menyukainya."
"Maafkan aku Sayang. Jika kamu merasa tidak nyaman, aku tidak akan melakukannya. Cukup selalu kabari aku jika kamu akan pergi kemanapun dan dimanapun kamu berada, agar aku tidak khawatir."
Perkataan Bry terdengar sangat memelas, dan Vara tahu pasti Bry begitu peduli dengan keselamatannya.
"Baiklah Bry. Aku akan selalu mengatakannya padamu."
"Terima kasih Sayang." Bry merengkul tubuh mungil Vara, namun sesaat kemudian Vara mendongakan kepalanya.
"Aku harus pulang Bry."
"Baiklah, aku akan mengantarmu . Pasti Kakakmu khawatir jika kamu pulang terlalu malam."
"Aku akan mencuci mukaku dulu." Bry mengangguk sambil tersenyum. Lalu Vara melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang terletak di samping kamar tidur Bry.
Pikiran Bry melayang pada kejadian beberapa bulan lalu, saat Vara nyaris mengakhiri hidupnya karena dilecehkan Brandon. Bry tidak berpikir kejadian itu akan sangat mempengaruhi mental Vara, tapi kejadian hari ini menyadarkan dirinya bahwa dia harus bersikap lebih hati-hati agar Vara tidak terluka lagi.
__ADS_1
Bry sedikit terkejut saat tiba-tiba tangan dingin Vara menyentuh lembut pipinya. Seketika Bry tersadar dari lamunannya dan pandangannya tertumpu wajah Vara yang sudah tampak segar dihiasi senyum manisnya.
"Ayo antarkan aku pulang, Bry."
Bry menautkan kelima jemarinya di sela-sela jari Vara dan mengajaknya melangkah menuju pintu. Sejenak dihentikan langkahnya lalu memegang kedua bahu Vara sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Vara yang berubah salah tingkah.
"Aku mencintaimu.."
Dikecupnya kening Vara dengan penuh kasih. Vara menutup matanya menikmati kehangatan yang tiba-tiba menyelusup di relung hatinya. Lalu kembali membuka matanya saat sentuhan lembut di keningnya tidak lagi terasa.
"Aku juga mencintaimu Bry.."
Senyum manis terulas dari lengkungan bibir Bry, lalu Bry membuka pintu kamar Β dan berjalan sambil menggenggam jemari Vara hendak mengantarkan Vara pulang.
Bry dan Vara sedang menunggu taksi yang akan mengantarkan mereka berdua ke apartemen Vara, saat tiba-tiba sebuah letusan terdengar di telinga keduanya.
Dor..
Sesaat kemudian tubuh Bry roboh tanpa sempat bisa ditahan oleh Vara.
"Bryyyy... Bangun Bry.. Bangunlah, aku mohon!"
Vara mengguncang-guncang tubuh Bry, namun tiba-tiba mulut Vara dibekap dengan selembar kain beraroma menyengat. Dengan setengah sadar, Vara masih bisa melihat beberapa orang menariknya paksa dan mendorongnya masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
*****************
γ
γ
γ
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya π
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
γ
__ADS_1
γ