
Para pelayan resort sibuk melayani Vara dan tamu-tamu istimewanya dengan menghidangkan banyak makanan enak dan mewah. Mereka berdelapan menikmati hidangan sambil sesekali mengobrol. Semua menu mewah yang disuguhkan sangat cocok di lidah mereka. Memang Vara sendiri yang memilih menu seafood dipadukan makanan Korea dan Itali yang merupakan makanan favoritnya. Untuk dekorasi memang Brandon yang mengatur, tapi soal makanan, Brandon menyerahkan keputusan pada Vara. Budget untuk pesta ulang tahun pun semua dari Vara. Vara menolak ketika Brandon bersikeras akan membayar semua biaya pesta ini sendiri. Namun Brandon akhirnya mengalah karena Vara mengancam akan marah pada Brandon selama 1 bulan.
"Makanannya benar-benar enak. Nampaknya dietku gagal lagi." Nila berkomentar sambil tak henti-hentinya memasukan makanan kedalam mulutnya. Membuat Daniel menatap dengan tatapan takjub.
"Nila makannya pelan-pelan, kamu tidak akan kehabisan makanan." Vara tersenyum menatap Nila, begitupun semua tamu-tamunya.
Selesai menikmati hidangan, mereka masih mengobrol dengan santai di mejanya masing-masing. Kemudian Brandon berdiri disebelah kursinya.
"Terima kasih semuanya sudah datang di pesta ulang tahun Vara. Ini bukan pesta yang formal ya, apalagi kita hanya berdelapan disini. Aku minta masing-masing dari kita untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun pada Vara, memberikan nasehat atau apapun pada Vara. Ayo siapa yang mau duluan?"
"Aku duluan ya." Nila berdiri, dan Vara dengan tersenyum langsung menatap Nila. Bersiap mendengarkan apa yang akan dikatakan Nila.
"Selamat Ulang Tahun Vara. Semoga selalu sehat, panjang umur, dan semoga tidak ada lagi duka di hidup kamu. Yang harus selalu kamu ingat, kamu memiliki kami yang selalu menyayangi dan peduli sama kamu. Berbahagialah Vara.."
Vara yang merasa terharu dengan perkataan Nila, langsung berjalan menghampiri Nila dan memeluk Nila dengan erat.
"Terima kasih ya Nila." Air mata Vara sudah mulai mengaliri pipinya.
Vanny pun memeluk Vara dan mulai terisak. Samuel yang sejak tadi memperhatikan, ikut memeluk Vara dengan sebagian tubuhnya memeluk Vanny. Brandon pun memeluk Vara diantara pelukan Nila dan Samuel.
"Terima kasih, kalian adalah sahabat terbaik. Aku bersyukur memiliki kalian."
Bry yang melihat mereka tampak memandang dengan tatapan sendunya. Ada rasa sesak didadanya, entah karena rasa bersalah atau rasa takut kehilangan, Bry pun tidak tahu pasti. Kevin dan Daniel merangkul bahu Bry di sisi kanan dan kirinya. Mereka tahu pasti dengan apa yang sahabatnya rasakan. Mereka berusaha menguatkan Bry agar bisa menahan diri, mereka khawatir sikap Bry akan membuat Vara dan teman-temannya merasa curiga.
__ADS_1
"Kuat Bro. Tahan.." Daniel mengelus punggung Bry, dan Bry sekuat tenaga menahan matanya yang mulai panas.
"Apa kita pulang saja?" Kevin bertanya dengan serius tapi dibalas dengan gelengan kepala dari Bry.
Kevin dan Daniel sangat mengenal Bry. Bry adalah pribadi yang keras, dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya. Dia hanya bisa bersikap baik dan sedikit terbuka pada keluarga dan sahabat dekatnya saja. Tapi entah kenapa sejak mengenal Vara, Bry berubah. Bry yang tidak pernah terlihat sedih dan selalu kuat, seolah berubah menjadi lemah. Kevin dan Daniel merasa Vara adalah kelemahan Bry.
Setelah adegan berpelukan yang menguras emosi. Brandon memutuskan untuk melanjutkan acara dengan hiburan saja. Seorang pianis muda yang mengenakan tuxedo mulai mengambil alih acara. Brandon langsung mengajak Vara berdansa.
Setelah melihat kondisi Bry mulai tenang, Kevin mengajak Vanny berdansa, diikuti oleh Daniel yang mengajak Nila berdansa. Sedangkan Samuel berusaha menyibukan diri dengan gadget-nya, mengalihkan rasa kesal karena pemandangan didepannya. Samuel benar-benar tidak suka melihat Vanny tersenyum dengan manis didepan Kevin.
Disaat semua orang menikmati pesta, Bry malah pergi ke sudut taman dengan membawa 2 botol vodka. Kemudian duduk di sebuah sofa dan meminum vodka-nya sendirian.
'Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah benar-benar jatuh cinta sama Vara. Kalau aku jujur, dia pasti tidak akan memaafkan aku yang sudah menghancurkan hidupnya. Dia pasti membenciku dan menjauh dariku. Aku benar-benar tidak mau kehilangan dia.'
Kevin dan Daniel masing-masing mengambil segelas wine dan menghampiri Bry yang entah sudah meminum berapa banyak vodka.
"Bry.. jangan begini. Sikap kamu bisa membuat Vara dan teman-temannya curiga." Bry tidak menanggapi perkataan Daniel. Bry terus saja meneguk vodka-nya.
"Bry.. ayo kita pulang saja." Kevin merangkul bahu Bry, tapi Bry menghempaskan tangan Kevin.
"Akuuu.. mau keeeee... toilet." Bry berdiri dengan tubuh sedikit sempoyongan.
"Aku antar." Bry mengangkat tangan sambil menggelengkan kepalanya saat Daniel berniat mengantarnya.
__ADS_1
Posisi toilet resort terasa cukup jauh, karena Bry berjalan dengan sempoyongan di koridor yang menghubungkan tempat pesta dengan toilet. Bry tidak sadar ada seseorang yang berjalan mengikutinya ke arah toilet, karena merasa khawatir dengan keadaan Bry.
Didalam toilet, Bry mencuci mukanya berniat mengembalikan sedikit kesadarannya. Saat Bry keluar dari toilet, Bry melihat Vara berdiri di koridor dengan sedikit menyandarkan tubuhnya pada tiang. Bry sedikit tidak percaya dengan penglihatannya dan kesadarannya pun masih belum kembali sepenuhnya.
Bry menghampiri Vara dan memegang kedua bahu Vara. Vara melihat kesedihan di wajah Bry, tapi Vara tidak bisa menebak karena apa. Perlahan Bry menangkup pipi Vara dengan kedua tangannya, lalu memandang Vara dengan tatapan sendu. Bry mendekatkan wajahnya ke wajah Vara, lalu Bry mencium lembut bibir Vara. Vara sempat membelalakan matanya, tapi Vara hanya diam mematung saat Bry terus mencium bibirnya. Sebelah tangan Bry memegang tengkuk Vara dan sebelah lagi memeluk pinggang Vara. Bry sedikit menggigit bibir bawah Vara, sehingga Vara membuka sedikit mulutnya. Membuat Bry semakin memperdalam ciumannya yang kemudian dibalas oleh Vara. Vara dan Bry menutup matanya menikmati ciuman lembut mereka. Sesaat kemudian ciuman yang lembut pun berubah sedikit menuntut, dengan nafas mereka yang semakin menderu.
Setelah beberapa lama, mereka menghentikan ciuman mereka dengan nafas yang sedikit terengah-engah. Bry dan Vara masih saling menempelkan hidung, dan Bry memeluk pinggang Vara dengan erat. Vara mulai menyadari apa yang telah dia lakukan. Vara hendak melepaskan diri dari Bry. Namun Bry tidak melepaskan pelukannya.
"Vara.. maafkan aku. Aku mencintaimu." Vara masih mencerna apa yang dia dengar, saat tiba-tiba Bry pun tidak sadarkan diri. Vara yang terkejut dan tidak kuat menopang beban tubuh Bry hanya menahan lalu membaringkan tubuh Bry dipangkuannya. Lalu berteriak memanggil sahabat-sahabatnya sampai mereka berlarian menghampiri Vara.
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya..
__ADS_1