
Bry sejenak menghentikan ceritanya, dihelanya nafas sedalam mungkin. Saat ini Bry berusaha memberi jeda bagi perasaannya sendiri yang akhirnya meluap bersama rasa bersalahnya. Dari awal ekspresi Satya masih tetap tidak terbaca. Satya tidak memberikan tanggapan, pertanyaan atau apapun terkait kronologi kematian adiknya itu.
Sesungguhnya Satya merasakan sakit yang teramat sangat di dalam dadanya. Sekuat tenaga disembunyikannya perasaannya itu dengan sikap dinginnya. Berusaha menahan diri selama yang dia bisa, sampai nanti dia bisa meluapkannya sendirian.
Bry melanjutkan ceritanya setelah cukup tenang dan mulai kembali menguasai dirinya sendiri.
FLASHBACK ON
Pihak Rumah Sakit menyerahkan barang-barang si pengendara motor dan kekasihnya kepada Bry. Kevin langsung mengambil alih dan berusaha mencari tahu identitas juga nomor keluarga yang bisa dihubungi melalui 2 handphone di tangannya. Karena Bry masih terlihat sangat shock.
Arya Kusuma, nama itu yang tertulis di Kartu Identitas yang ditemukan di dompet si pengendara motor. Sedangkan kekasihnya bernama Zivara. Kevin hendak menghubungi keluarga Arya dan Zivara saat tiba-tiba ruang operasi Arya terbuka, menandakan proses operasi sudah selesai. Bry dan Kevin bergerak menghampiri dokter yang keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana operasinya, Dokter?" Bry bertanya dengan tidak sabar.
"Pak Bryllian, kami telah mengeluarkan 3 proyektil peluru dari tubuh pasien. Saat ini pasien masih dalam keadaan kritis dan sudah dipindahkan ke ruang ICU. Mari berbicara di ruangan saya, karena apa yang akan saya sampaikan mungkin bersifat rahasia. Silahkan menunggu di ruangan saya sebentar. Saya akan membersihkan diri saya terlebih dahulu."
__ADS_1
Perkataan dokter hanya ditanggapi anggukan oleh Bry. Lalu seorang perawat mengarahkan Bry dan Kevin untuk menunggu di sebuah ruangan yang merupakan ruangan dokter tadi.
Beberapa saat kemudian, dokter yang bernama Danu itu masuk ke ruangannya dan langsung duduk di hadapan Bry dan Kevin.
"Pak Bry, ini 3 peluru yang kami keluarkan dari tubuh pasien."
Bry menerima 3 peluru yang di bungkus plastik itu dan diperhatikannya baik-baik. Ada yang aneh, dan Kevin pun sangat menyadarinya. Mereka saling berpandangan karena sedikit tidak mengerti dengan kenyataan ini. Namun mereka tidak berniat membahasnya saat ini.
"2 peluru yang berukuran sama itu kami keluarkan dari lengan dan betis pasien. Kalau 1 peluru yang ukurannya berbeda itu kami keluarkan dari dadanya. Peluru tersebut merobek dada pasien, bahkan hampir mengenai jantungnya. Kita hanya bisa berdoa dan menunggu keajaiban agar pasien segera keluar dari masa kritis ini."
Tiba-tiba dokter menerima panggilan darurat, pasien yang bernama Arya yang masih belum sadar, mendadak kehilangan denyut jantungnya. Dokter segera berlari diikuti Bry dan Kevin. Dokter tampak masuk ke ruangan ICU. Dokter melakukan tindakan pertolongan dengan menempelkan defibrillator agar denyut jantung Arya bisa kembali serta segala bentuk pertolongan untuk menyelamatkan Arya.
Setelah lebih dari setengah jam, dokter keluar dari ruangan ICU dan menghampiri Bry dan Kevin yang memandang penuh tanda tanya.
"Mohon maaf Pak Bry.. Pak Kevin.. Pasien tidak dapat kami selamatkan." Bry mematung mendengar perkataan dokter. Lalu Bry mendudukan dirinya di kursi Rumah Sakit karena badannya terasa lemas seketika.
"Dokter.. Tolong segera diurus jenazahnya sesuai agamanya. Saya akan menghubungi keluarganya agar jenazah bisa segera di makamkan." Kevin segera mengurus segala urusan Administrasi di Rumah Sakit, lalu menghubungi 2 nama kontak bertuliskan "Mama" di handphone Arya dan juga Vara.
__ADS_1
Tidak lebih dari setengah jam kemudian, keluarga Arya dan Vara sudah datang hampir bersamaan. Kevin meminta pihak Rumah Sakit untuk mengatakan bahwa ada orang tidak dikenal yang mengantarkan Arya dan Vara ke Rumah Sakit, dan sudah membayar semua biaya Rumah Sakit. Juga meminta pihak Rumah Sakit untuk menjelaskan kepada keluarga Arya dan Vara, bahwa Arya mengalami kecelakaan saat sedang mengikuti balapan liar.
Dari kejauhan Bry melihat Ibu dan Adik Arya yang menangis histeris, hatinya ikut merasakan luka mereka. Rasa bersalah benar-benar menumpuk dihatinya. Begitupun saat melihat Vara yang terguncang dan berusaha ditenangkan keluarganya, membuat hati Bry merasa tercabik-cabik.
'Semua gara-gara aku. Aku yang menghancurkan hidup mereka. Aku akan menebus kesalahan ini seumur hidupku.'
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1