Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 32 Aku Tidak Berencana Memaafkanmu


__ADS_3

Satya masih tidak menanggapi cerita Bry yang panjang dan detail itu, membuat semua orang yang berada di ruangan itu merasa heran. Bry sendiri dengan susah payah menahan perasaannya saat bercerita. Terutama saat mengungkapkan rasa bersalahnya pada Ibu Arya, Adik Arya juga Vara yang sangat kehilangan saat mengetahui Arya sudah meninggal.


"Satya.. Aku bersalah karena telah menyebabkan Arya meninggal. Aku juga membuat Ibu dan Adikmu kehilangan orang yang mereka sayangi. Aku minta maaf.." Bry menundukan kepalanya dengan kedua tangan bertumpu di atas pahanya. Daniel dan Kevin sesekali menepuk pundak dan punggung Bry.


Satya menatap tajam ke arah Bry.


"Aku tahu kamu bukan orang suci yang peduli terhadap orang lain. Aku tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya. Lalu kenapa kamu diam-diam mengirimi Ibuku uang dan memberi adikku beasiswa? Tentu kamu tahu, Ibu dan adikku bukan orang yang kesulitan uang. Kamu juga menempatkan orang untuk menjaga Ibu dan adikku dari kejauhan. Apa maksudmu?" Tatapan tajam diarahkan Satya tepat ke dalam mata Bry.


Rasa terkejut tidak bisa disembunyikan dari wajah Bry. Namun Bry tidak sanggup menjawab apapun di depan Satya.


"Kamu merasa bertanggungjawab? Tidak usah sok pahlawan. Pada kenyataannya kamu tetaplah penyebab Arya meninggal, meskipun kamu tidak membunuhnya secara langsung."


Bry merasa seperti tertancap pedang tepat di dadanya. Luka yang selama ini dirasakannya, terasa semakin menganga. Tapi Bry tidak bisa membantah perkataan Satya yang memang diakuinya.


"Serahkan bukti-bukti kematian Arya yang kalian sembunyikan."


Tanpa menjawab, Daniel dan Kevin langsung mengeluarkan bukti-bukti kematian Arya, yang memang sudah mereka siapkan. Kevin memperlihatkan rekaman CCTV di beberapa lokasi, yang merekam kejadian baku tembak dari jarak jauh dan rekaman CCTV saat Arya tertembak dan bertabrakan dengan motor lain. Daniel menyerahkan laporan dari Rumah Sakit yang menjelaskan mengenai luka-luka Arya dan 3 buah peluru yang dikeluarkan dari tubuh Arya.


Satya memperhatikan bukti-bukti di depannya dengan teliti. Namun pandangannya tertumpu begitu lama pada bukti terakhir yang dilihatnya. 3 buah peluru dengan 2 jenis yang berbeda. Bry langsung bisa menebak apa yang sedang Satya pikirkan.


"Arya tertembak di lengan, betis dan dada. Berdasarkan bukti yang ada padaku. orang-orang yang mengejarku waktu itu, menggunakan jenis peluru yang sama seperti yang bersarang di lengan dan betis Arya. Orang-orangku menyisir sepanjang jalan yang dilewati selama baku tembak, dan hanya ada 1 jenis peluru yang mereka pakai. Tepatnya peluru untuk pistol jenis colt 1911. Sedangkan peluru yang bersarang di dada Arya adalah peluru untuk senjata sejenis Arctic Warfare Magnum yang biasa dipakai sniper. Sedangkan semua orang-orangku, saat itu menggunakan pistol  Smith & Wesson 500." Bry menjelaskan dengan sangat detail pada Satya. Satya memundurkan dan menyandarkan tubuhnya di sofa,  lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Larry, panggil Jacob dan Joseph.." Larry mengangguk lalu segera menghubungi orang yang disebut Satya.


"Jacob, Tuan Satya memanggilmu. Masuklah bersama Joseph."


Tok.. Tok.. Tok..


Larry membukakan pintu dan masuklah 2 orang laki-laki bernama Jacob dan Joseph yang tadi dipanggil Larry.


"Wah, apakah ini mimpi?"


Kevin membelalakan matanya saat melihat kedua orang di depannya. Kevin tidak percaya berkesempatan melihat dan bertemu langsung dengan Jacob Morgan Hills dan Joseph Adam Hills yang merupakan jajaran hacker terbaik yang sudah sangat terkenal di dunia cyber. Kevin sangat mengagumi mereka, tidak sembarangan orang dapat bekerjasama dengan mereka. Tentunya hanya orang penting yang berpengaruh dan memiliki uang banyak yang bisa mempekerjakan mereka.


Berbeda dengan Kevin yang sangat terkejut, Bry dan Daniel hanya menebak kalau orang yang ada di depan mereka ini adalah orang penting di dunia cyber. Karena melihat Kevin yang bereaksi dengan sangat antusias, membuat Bry dan Daniel yakin dengan asumsinya.


 


"Anda memanggil kami Tuan?" Jacob membuka suara, dibalas anggukan Satya.


"Ambil semua bukti-bukti ini. Kalian pasti tahu apa yang harus kalian lakukan. Dapatkan semuanya dalam waktu yang cepat." Jacob dan Joseph menjawab secara bersamaan.


"Baik Tuan."

__ADS_1


"Dan kamu Larry, berikan semua informasi yang sudah kamu dapatkan pada Jacob dan Joseph."


"Baik Tuan."


Lalu Jacob dan Joseph mengambil semua bukti-bukti diatas meja, lalu berjalan keluar dari ruangan diikuti oleh Larry.


"Bryllian.. Aku tidak berencana memaafkanmu. Tapi aku belum tahu pembalasan apa yang akan aku lakukan terhadapmu. Aku sudah memiliki semua hal yang kamu tawarkan. Dan soal Vara, aku tidak memintamu untuk menyerahkannya. Karena aku sendiri akan merebutnya darimu." Satya menunjukan seringainya ke arah Bry.


Bry mengusap wajahnya dengan kasar dan menghembuskan nafasnya dengan sangat keras. Bry berdiri dan berjalan keluar ruangan tanpa mengatakan apapun. Daniel dan Kevin menundukan kepala kearah Satya, lalu mengikuti Bry yang berjalan dengan sangat cepat. Seolah ingin segera keluar dari mansion yang menyesakan dadanya itu.


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..

__ADS_1


 


 


__ADS_2