
Bry dan Vara duduk berhadapan di private room restaurant bintang 5 yang terdapat di Hotel Brandon. Vara lebih memilih indoor restaurant dibanding rooftop restaurant yang menorehkan kenangan buruk di pikiran dan hati Vara.
Suasana ruangan itu sangat romantis dengan cahaya redup yang dihias banyak lilin dan bunga segar. Vara yang memilih berganti gaun berwarna hitam, agar terlihat serasi dengan tuxedo hitam Bry pun, terlihat lebih cantik dan anggun.
Vara dan Bry memesan makanan Italia untuk menu makan malam mereka, agak sedikit bosan karena beberapa hari ini mereka selalu makan menu khas Korea Selatan. Bry dan Vara begitu menikmati makan malam mereka, karena selain suasananya terasa memanjakan mata, makanannya pun sangat lezat di lidah mereka.
Bry tidak hentinya tersenyum menatap Vara, di sela-sela makan malamnya. Sedangkan Vara masih saja memasang wajah kesal sekaligus malu karena Bry mengetahui semua yang dikatakannya pada Celline.
Vara memberanikan diri menatap wajah Bry yang terlihat menyebalkan saat ini.
"Bagaimana kamu tahu semua yang aku katakan pada perempuan itu?"
Suara Vara terdengar lirih dengan sedikit malu.
Bry menunjukan 4 rekaman video dari 4 sudut yang berbeda pula.
"Ini rekaman CCTV yang terletak tepat di sudut restaurant, tempat kamu duduk. Aku juga menyuruh anak buahku untuk memasang mini camera di 3 sudut yang berbeda. Perempuan itu sudah mereservasi meja itu sebelumnya, jadi aku bisa tahu kalian akan duduk dimana. Hal yang mudah sekali."
Senyum jahil masih terpampang di wajah Bry.
"Sudah dong, jangan senyum-senyum seperti itu terus. Kalau begitu aku lebih baik kembali ke kamar saja."
Vara pura-pura hendak beranjak dari duduknya, namun Bry menahan tangan Vara yang masih bertumpu diatas meja.
"Jangan pergi.. Aku minta maaf, aku tidak bisa berhenti tersenyum karena aku bahagia saat mendengar semua yang kamu katakan. Aku bahagia, karena kamu begitu mempertahankanku. Itu tandanya kamu mencintaiku kan?"
"Sudah tahu, masih saja bertanya."
Gumam Vara sambil menolehkan wajahnya ke arah lain, sedangkan Bry sontak tertawa karena perkataan istrinya itu.
Bry mengelus sebelah tangan Vara dengan sangat lembut.
"Terima kasih Sayang, sudah menunjukan pada perempuan itu kalau kita memang saling mencintai. Aku tidak menyangka kamu bisa mengatakan kebiasaan kita di atas tem.."
"Honeeeeyy.."
Vara protes dengan nada manja, membuat Bry semakin ingin menggoda Vara.
'Kenapa setiap kali mendengar Vara memanggilku Honey, aku merasa sangat bahagia? Tapi mendengar Celline memanggilku Honey, meskipun yang pertama kali, aku merasa mual? Ya sudah, aku tidak jadi meminta Vara mengganti panggilan sayang.' Batin Bry.
"Sayang, apa benar kamu suka dengan des*han dan.."
Vara berdiri dari duduknya lalu segera membekap mulut Bry dengan sebelah tangannya, membuat Bry tertawa meskipun tertahan bekapan tangan Vara. Setelah tawa Bry reda, Vara baru melepas tangannya yang membekap mulut Bry.
__ADS_1
"Sayang, kamu sadis sekali sih. Masa mulut aku dibekap, aku kan tidak bisa bernafas."
Nada bicara Bry dibuat semanja mungkin membuat Vara menggeleng kepalanya.
"Lebay.."
Bry tertawa lebar melihat ekspresi kesal Vara, baginya istrinya itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
“Jangan terlalu banyak tertawa, kamu masih berhutang satu penjelasan padaku.”
Tatapan mata Vara setajam elang, membuat Bry dapat menebak arah pembicaraan Vara saat ini.
“Apakah kamu ingin bertanya tentang apa yang dikatakan Celline padamu?”
Vara mengangguk cepat, membuat Bry terlihat ragu.
“Apa kamu akan percaya dengan apa yang aku katakan nanti?”
“Tergantung.. Aku harap kamu jujur. Aku masih belum tahu akan bereaksi seperti apa, tapi aku tidak ingin kamu berbohong.”
Bry menatap manik mata Vara dengan sangat dalam. Tiba-tiba Bry berdiri dari duduknya, lalu berpindah duduk tepat di sebelah kursi Vara. Digenggamnya kedua tangan Vara dengan sangat erat.
“Kamulah perempuan pertama dan satu-satunya yang aku sentuh seutuhnya. Aku tidak pernah melakukannya dengan perempuan manapun selain kamu.”
“Apakah kamu jujur Honey?”
“Aku berkata yang sebenarnya Sayang. Kamu tahu kan, kalau aku tidak percaya pada perempuan sejak Kim Ha Ni berselingkuh saat kami SMA. Saat kuliah pun, aku sangat menjaga jarak dengan perempuan. Tapi Celline memang sangat agresif, aku menerimanya menjadi pacarku setelah berbulan-bulan dia mengejarku. Saat itu aku mulai terbiasa dengan keberadaannya, sehingga akhirnya aku mau menerima perasaannya, meskipun aku belum menyukainya. Jujur, saat itu aku mulai nyaman dengannya, tapi anehnya, aku tidak bisa membalas setiap kali dia mencium atau memelukku. Entah kenapa sikapnya yang sangat agresif, justru membuatku risih.”
“Honey, apa semua yang kamu katakan itu benar?”
“Aku tidak bisa memaksamu untuk percaya, tapi kamu pasti bisa merasakannya. Aku mengatakan yang sebenarnya.”
Mata Vara berkaca, lalu dipeluknya tubuh Bry dengan sangat erat.
“Sebelum menikah, aku sudah bertekad tidak akan pernah menanyakan hal ini padamu. Aku pikir, kamu sudah pernah melakukannya sebelum menikah denganku, dan aku merasa tidak masalah dengan itu. Tapi saat kemarin aku mendengarnya dari Celiine, entah kenpa aku merasa sangat marah dan kecewa.”
Bry tersenyum seraya mengelus lembut rambut Vara.
“Itu karena kamu mencintaiku, kamu tidak rela aku menyentuh perempuan lain.”
“Iyaa..”
Tiba-tiba tangis Vara pecah, air matanya mengalir sampai membasahi bahu Bry yang dijadikan tumpuan wajah Vara. Bry mengelus punggung Vara dengan senyum manis tersungging di wajahnya.
__ADS_1
“Jangan pernah meragukanku lagi. Karena hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai.”
Vara tidak menjawab, tapi tangisnya semakin keras.
10 menit kemudian, Vara baru melepas pelukannya. Bahu Bry pun sudah sangat basah, tapi Bry tidak peduli, dia justru sangat bahagia karena Vara mengakui perasaan cintanya terhadap Bry.
Bry mengambil tissue lalu mengusap pelan wajah Vara yang basah karena air mata.
“Ah wajahku pasti berantakan sekali. Aku mau ke toilet untuk memperbaiki make up-ku dulu ya Honey.”
“Baiklah Sayang.. Jangan lama-lama ya.”
Vara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan sangat manis. Lalu Vara meninggalkan private room itu menuju toilet yang terletak di ujung koridor restaurant.
Bry melihat jam di pergelangan tangannya, sudah lebih dari 15 menit Vara ke toilet. Namun Vara masih belum kembali, membuat Bry khawatir dengan keadaan istrinya itu. Sehingga Bry memutuskan untuk menyusul Vara ke toilet.
Baru saja Bry sampai di depan toilet, tiba-tiba terdengar teriakan seorang perempuan dari dalam toilet. Bry seketika berlari masuk, tidak peduli ruangan yang hendak ditujunya itu adalah ruangan khusus perempuan. Yang ada di dalam bayangannya saat ini adalah dia harus mencari tahu keberadaan Vara dan memastikan bahwa Vara baik-baik saja.
Pemandangan pertama yang dilihat Bry adalah seorang perempuan dengan posisi berdiri membelakanginya. Bry menghampiri perempuan itu dan mengikuti arah pandangnya dengan perasaan khawatir.
Pemandangan yang tidak pernah ingin dibayangkannya sekalipun, kini terpampang nyata di hadapannya. Tubuh Vara tergeletak dengan darah mengalir dari lehernya.
Bry berlari dan mendekap tubuh Vara yang dingin dengan air mata yang terjun bebas di pipinya.
"Sayaaang.. Bangun Sayang, buka matamu. Tolong jangan tinggalkan aku."
*************************
Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍
Kalian semua begitu berharga buat author. Love u so much.. ❤❤❤
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..