Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
She's Pregnant?


__ADS_3

"Awwww...."


"Arrghhh... Sakittt!"


Jayden terbangun dari tidur lelapnya ketika ia mendengar rintihan kesakitan dari mulut Yuna. Jayden dengan Spontan beranjak dari tidurnya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Jayden panik.


Tubuh Yuna sudah dipenuhi oleh keringat dingin yang membasahi tubuhnya, ia terus meremas bagian perutnya yang sedang merasakan sakit yang teramat luar biasa.


"J-jay perutku sa-sakit. Ini benar-benar sakit, Jayden!" Yuna menangis ia tidak kuat dengan kesakitan yang ia rasakan.


Jayden segera meraih ponsel yang berada di nakas, ia segera menekan tombol di ponselnya.


"Ada ap--"


"Kenapa kamu lama sekali mengangkatnya, hah!" bentak Jayden.


"Kamu gila menelpon ku di pagi buta seperti ini. Aku masih ingin tidur, Jayden!"


"Akan ku bunuh jika kamu nggak cepat-cepat datang kemari. Cepat datang ke mansion ku! Sekarang!" teriak Jayden.


"W-whatt? Baiklah. Baiklah. Sekarang aku bersiap kesana. Sialan memang kau jadi sepupu!"


Jayden segera mematikan panggilannya ia meraih tubuh polos Yuna dan memeluknya dalam pangkuan.


"Tahan, sayang. Aku mohon bertahanlah. Sebentar lagi Aland akan kemari." Jayden mengecup kepala Yuna. Ia tidak tega melihat Yuna yang menangis akibat menahan sakit.


Aland merupakan sepupu dari Jayden yang berprofesi sebagai Dokter dan baru-baru ini ia pindah dari Australia lalu menetap di Korea Selatan.


"Sa-sakit Jayden. Ini sangat sakitt!" isak Yuna yang terus memegang perutnya.


"Bertahanlah, aku mohon bertahanlah sebentar saja. Kamu nggak akan kenapa-napa, sayang. Kamu akan baik-baik saja," ucap Jayden menenangkan istrinya.


Yuna meremas lengan Jayden untuk menyalurkan rasa sakitnya. Kepalanya terasa sangat pening, perutnya seperti dililit dari dalam. Keringat pun terus saja membasahi sekujur tubuh Yuna. Jayden terus memeluk tubuh Yuna sebelum ia tersadar akan sesuatu. Ia meraih kaus miliknya yang tergeletak di lantai untuk ja pakaikan di tubuh polos Yuna. Mengingat sebentar lagi akan ada Dokter yang memeriksanya.


Aland sedang memeriksa tubuh Yuna. Jayden sedikit tenang melihat Yuna yang kini sudah membaik, walaupun rasa sakit itu masih ada. Tapi tidak separah tadi.


"Bagaimana? Ada apa dengan Istriku?" tanya Jayden tidak sabar ketika Aland sudah selesai memeriksa Yuna.


Aland menghembuskan napasnya secara kasar. Lalu beranjak dari duduknya, ia berdiri di samping Jayden.


"Kenapa kamu diam saja, hah?! Apa yang terjadi dengan Yuna?!" teriak Jayden mencengkram kaus Aland. Benar, Aland datang ke rumah Jayden dengan pakaian tidur miliknya. Ia tidak sempat berganti pakaian atau pun mandi terlebih dahulu.


"Apa kamu gila, hah? Kamu ingin menjadi seorang pembunuh?" tanya Aland menatap tajam kepada Jayden.


"Apa maksudmu?" Jayden menaikkan satu alisnya.


"Ya Tuhan, Jayden. Kamu ini memiliki otak yang sangat jenius, tapi kamu nggak tau akan efek yang telah kamu lakukan. Kamu baru saja bercinta dengan Yuna kan?"


"Dia istriku, jadi wajar saja jika aku bercinta dengannya," sungut Jayden tak terima.


Aland memejamkan matanya dan mengangguk-anggukan kepala.


"Jayden Choi, dasar bodoh! Istrimu sedang mengandung!"


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Yuna yang sedari tadi memperhatikan merekapun hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia ingin memastikan jika pendengarannya itu tidak salah.


"Apa yang kamu katakan, Aland?" tanya Jayden dengan nada yang melembut.


Aland yang merasa kesal, menarik tangan Jayden agar melepaskan cengkeramannya pada kaus miliknya.


"Yuna sedang mengandung anakmu, Mr. Jayden Choi. Setelah aku bertanya kepada Yuna, kapan terakhir kali dia menstruasi, aku bisa tau jika saat kalian menikah ternyata Yuna sedang dimasa subur. Dan aku tebak usia kandungannya berusia 4 minggu saat ini, itu adalah waktu yang sangat rentan bagi calon bayi. Sebaiknya kamu tahan dulu nafsu gila mu itu. Jika kamu terus melakukan hal itu, bisa-bisa kau akan membunuh anakmu sendiri!" jelas Aland.


"A-APA? A-AKU HAMIL?" teriak Yuna. Yang dibalas oleh anggukkan Aland seraya tersenyum manis.


"Kamu akan segera menjadi Ibu, Yun. Selamat!" ucap Aland.

__ADS_1


Jayden mengembangkan senyumannya. Lalu tidak lama kemudian ia memeluk tubuh Aland yang sontak membuat Aland terkejut.


"Aku akan menjadi seorang Ayah, right?" tanya Jayden yang masih tidak percaya.


"Iya benar. Kamu akan menjadi seorang Ayah, bodoh!" Aland menepuk-nepuk punggung Jayden.


Jayden benar-benar sangat bahagia. Akhirnya do'a yang selalu ia pinta selama ini bisa terkabul. Ia tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya ia saat ini.


"Aku akan memberikan obat penguat kandungan bagi Yuna. Karena kandungannya masih lemah. Kamu hampir saja kehilangan anakmu, Jayden!" kata Aland sedikit kesal.


"Baiklah. Terima kasih." Jayden melepaskan pelukannya dan menatap Yuna dengan senyuman bahagianya.


Namun Yuna masih saja terbengong seraya memegang perutnya yang masih rata. Ia tidak percaya jika ada satu nyawa yang hidup di dalam perutnya itu. Entah ia harus bahagia atau sedih dengan hal tersebut.


Jayden duduk di tepi ranjang ia mengelus perut Yuna dan mengecupnya. "Akhirnya kamu hadir, sayang. Daddy sudah nggak sabar ingin bertemu denganmu!" gumam Jayden tepat di atas perut Yuna.


Aland yang sedang menuliskan resep obat hanya menggelengkan kepala, melihat sepupunya yang arogan itu berubah menjadi sosok yang sangat penyayang seperti ini.


“Ini semua gara-gara kamu, Jayden! Aku sudah bilang jangan membuatku hamil terlebih dahulu! Kamu tau kan belakangan ini aku sedang fokus untuk menyelesaikan pekerjaan dan restoran yang sangat menumpuk di kantor!" sungut Yuna. Memukul bahu Jayden karena merasa kesal.


Jayden hanya terkekeh melihat Yuna yang kesal padanya. Sedangkan Aland merasa aneh kepada sepasang suami istri itu. Namun ia tidak bisa menutupi senyumannya.


Jayden sedang berbaring di samping perut Yuna. Setelah Aland pergi, Jayden terus saja memeluk perut Yuna dan mengelusnya dengan sangat lembut.


"Sayang, kamu nggak pergi kerja hari ini?" tanya Yuna seraya memainkan rambut milik suaminya.


"No honey, aku ingin menemanimu dan baby."


Yuna hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu jangan kerja dulu, Yuna," perintah Jayden.


"Nggak. Aku akan kerja. Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, Jayden," tolak Yuna.


"Jika aku bilang jangan. Maka, jangan! Kamu harus istirahat terlebih dahulu. Gara-gara kamu, aku hampir saja kehilangan bayiku!" kata Jayden.


Yuna melebarkan kedua matanya. "Gara-gara aku?"


"Kamu menggoda ku semalam, hingga membuatku kehilangan kontrol!"


"Wahhh... Aku tidak percaya. Tentu saja kamu yang salah, katanya kamu sakit, tapi kamu melakukan itu berkali-kali. Padahal aku hanya ingin melakukannya sekali saja. Dan kamu malah mencari kesempatan!" dengus Yuna.


"Tetap saja kamu yang salah, kamu yang mengajakku bercinta!"


"Baiklah, lain kali aku tidak akan pernah mengajakmu bercinta lagi!"


Jayden membuka mulutnya dengan mata yang membulat sempurna.


"Nggak bisa bisa begitu dong!" teriak Jayden tak terima. Ia tidak mungkin untuk menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya.


"Iya. Iya. Aku yang salah. Aku yang salah. Maafkan aku ya?" sambung Jayden memelas.


Yuna mengulum senyumnya. Ia hanya bergumam dan mengalihkan pandangannya ke jendela.


"Jayden geli ih!" teriak Yuna.


"Aku hanya ingin mencium Anakku. Bukan Mommy-nya!"


"Tapi ini geli Jayden!" Yuna berusaha mendorong wajah Jayden agar menjauh dari perutnya. Namun tenaganya kalah kuat dengan pria itu.


"Nak, lihatlah. Padahal aku hanya ingin menciummu, tapi Mommy mu malah melarang ku."


Yuna menghembuskan napasnya secara kasar. Ia sudah dibuat stress oleh suaminya di hari pertama ia tahu tentang kehamilannya. Yuna tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya. Semoga saja kuat dengan sikap Jayden.


Tiba-tiba Jayden beranjak dari tidurnya menjadi terduduk. Ia menatap Yuna secara intens.


"Ada apa?" tanya Yuna.

__ADS_1


"Kenapa kamu ceroboh sekali. Memangnya kamu nggak bisa mengenali perubahan yang ada pada tubuhmu? Kamu tahu, jika semalam aku mencumbu mu hingga pagi, apa yang akan terjadi? Mungkin kita akan kehilangan anak kita sebelum mengetahui kehadirannya," omel Jayden.


"Aku memang nggak tahu jika aku sedang hamil. Nggak ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Namun memang belakangan ini nafsu makan ku menjadi tinggi. Bodohnya, aku nggak sadar tentang keterlambatan menstruasi ku karena aku terlalu fokus mengerjakan pekerjaan di kantor dan restoran yang belakangan ini sangat menumpuk. Selain itu aku juga nggak merasakan tanda-tanda lagi, seperti pusing, mual atau pun morning sick--" ucapan Yuna tergantung ketika ja menyadari sesuatu.


Jayden hanya menaikkan satu alisnya. Menunggu kelanjutan ucapan Yuna.


"Kamu yang merasakan tanda itu semua, Jayden. Belakangan ini nafsu makan mu menurun, kamu pun sering pusing dan lemas. Terus kemarin pagi kamu muntah dan mual. Sebenarnya siapa yang hamil? Kenapa kamu yang merasakan itu semua?" kata Yuna heran.


Jayden terdiam sejenak. Ia memikirkan ucapan Yuna. Memang benar yang diucapkan oleh Yuna, jika semua tanda kehamilannya dirasakan oleh Jayden. Bahkan saat di kantor pun tiba-tiba ia menginginkan jus pisang. Padahal dia sangat membenci buah pisang.


"Oke, baiklah. Sekarang aku mengerti. Tidak biasanya aku bisa selemah itu, ternyata itu semua karena mu, sayang. Tapi gapapa, Daddy akan menanggung semuanya. Yang penting kamu jangan nakal di dalam sana. Jangan membuat Mommy mu kesakitan ya?" ucap Jayden mengelus perut Yuna.


Yuna hanya tersenyum melihat Jayden yang seakan-akan sedang berkomunikasi dengan anaknya. Jujur, Yuna sangat bahagia, walaupun awalnya ia belum siap untuk menjadi seorang ibu. Tapi sebenarnya ia sudah sangat menyayangi anaknya, ia mengakui kehadirannya. Dan ia berjanji akan menjaga dan merawatnya. Yuna sangat mencintai anaknya sebelum anak itu hadir di dunia.


"Oh ya, apa sekarang kamu menginginkan sesuatu, sayang?" tanya Jayden bersemangat.


Yuna menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin tidur. Aku masih mengantuk, karena ulah mu."


"Ngga! Nggak! Kamu pasti berbohong. Berbicaralah padaku, apa yang kamu inginkan? Aku akan membelikan apapun yang kamu mau!" tawar Jayden.


"Sungguh, Jayden. Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin tidur. Kamu jangan menggangguku!" oceh Yuna kesal.


Jayden terdiam sejenak menatap Yuna yang sudah menutup kedua matanya. Lalu ia berbaring di samping Yuna, dan segera memeluk tubuhnya.


"Kamu yakin nggak ingin makan sesuatu? Aku tiba-tiba menginginkan beef steak dan mashed potato," ucap Jayden.


Yuna terkekeh mendengar tuturan Jayden. "Di pagi buta seperti ini kamu ingin makan steak dan mashed potato? Apa kamu bercanda, sayang?"


Jayden menggelengkan kepalanya. "Nanti aku akan menyuruh Bibi Marine untuk membuatkan steak dan mashed potato. Sekarang kamu beristirahatlah, Mommy." Jayden mengecup kening Yuna.


Jayden yang baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba terlonjak bangun dari tempat tidur. Hal tersebut membuat Yuna segera membuka matanya. Ia melihat Jayden berlari ke arah kamar mandi. Dan lagi-lagi Yuna mendengarkan suara yang menganggu pendengarannya. Ia merasa aneh, kenapa Jayden yang harus mengalami tanda kehamilan itu? Ia merasa kasihan kepada suaminya yang harus menanggung semuanya.


Namun, di sisi lain Yuna merasa senang. Karena dirinya tidak merasakan gejala yang membuatnya tersiksa. Ini adalah ulah Jayden yang membuatnya hamil, bukankah lebih baik jika Jayden juga yang merasakan gejala kehamilan itu?


Yuna melangkahkan kakinya menuruni tangga. Ia melihat jika di tengah ruangan terdapat beberapa pelayan dan pengawal. Dan di sana ia melihat Jayden yang sedang berbicara kepada orang-orang tersebut. Namun Yuna tidak tahu apa yang dibicarakan oleh pria itu.


Jayden pun segera menyuruh mereka untuk kembali kepada pekerjaannya. Yuna tidak sempat mendengar perkataan Jayden kepada mereka.


"Jayden," panggil Yuna.


Jayden memutar tubuhnya, dan ia tersenyum manis melihat Yuna. Pria itu segera menghampiri Yuna dan mengecup bibirnya.


"Kamu menginginkan sesuatu?" tanya Jayden. Melingkarkan kedua tangan kekarnya pada pinggang Yuna secara posesif.


"Aku lapar."


"Baiklah, kamu menginginkan makanan apa? Akan aku belikan." Jayden menatap Yuna penuh semangat.


"Aku ingin memakan masakanmu. Boleh?" kata Yuna seraya mengelus rahang pria itu.


"Tentu saja, sayang. Apapun untukmu. Sekarang, kamu duduk terlebih dahulu. Aku akan memasak untukmu!" Jayden berniat untuk menuntun Yuna ke arah sofa, namun Yuna menolak.


"Aku ingin melihatmu memasak," pinta Yuna memelas kepada Jayden dan tentu saja Jayden tidak bisa menolak jika sudah melihat ekspresi istrinya seperti itu.


Jayden segera merangkul pinggang Yuna dan membawanya ke dapur.


Jayden segera menyiapkan bahan-bahan yang akan dia olah. Pria itu terlihat sangat serius dan terlihat sangat lihai saat mempersiapkan semuanya.


"Honey! What are you doing?" pekik Jayden tiba-tiba. Ia melihat Yuna yang sedang mencoba untuk duduk di atas meja pantry. Namun karena meja itu sedikit tinggi, membuat Yuna kesusahan untuk duduk di sana.


"Aku ingin duduk di sini." Yuna menunjuk meja pantry tersebut dengan wajah cemberut.


"Minta bantuanlah kepadaku, sayang." Jayden menghampiri Yuna, dan mengangkat tubuh wanita itu untuk di dudukkan di meja tersebut.


"Diam lah. Jangan banyak bergerak. Aku takut kamu jatuh!" perintah Jayden. Yang diangguki oleh Yuna dengan senyuman.


"Hai baby, bersabarlah sebentar. Daddy akan membuatkanmu makanan yang paling enak di dunia!" kata Jayden seraya mengecup perut Yuna.

__ADS_1


Yuna hanya terkekeh melihat sikap Jayden yang menurutnya sangat menggemaskan. Jayden pun kembali bersiap untuk bereksperimen dengan masakannya. Ia akan memasak dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk Istri dan calon anaknya.


...----------------...


__ADS_2