
Kini kandungan Liora berusia 32 minggu, tidak terasa tinggal beberapa minggu saja bayi kecil itu akan lahir ke dunia. Perut Liora kini sudah membesar, sehingga membuatnya mudah kelelahan dan itu membuat Zelvin semakin protektif kepada istrinya.
Liora kini bahagia, selain karena anaknya yang sebentar lagi akan lahir. Tapi, keluarga kecilnya yang terasa begitu hangat. Emmanuel, putranya itu sudah sangat tidak sabar untuk menantikan adiknya lahir. Emmanuel semakin mandiri, bahkan ia tidak pernah meminta untuk dijemput oleh Liora karena takut kecapean.
"Mama, udah minum susu?" tanya Emmanuel. Liora menoleh, dia menatap putranya yang baru saja keluar dari kamar.
Liora menggelengkan kepalanya, karena dari tadi ia malas untuk bergerak. "Belum, sebentar lagi Mama bikin susunya," jawab Liora .
Emmanuel berlari menuju dapur. Emmanuel langsung menghampiri Bi Maria yang sedang membereskan dapur.
"Bi tolong buatkan Mama susu, boleh?" tanya Emmanuel.
Bi Maria mengangguk, “Tentu saja boleh, Tuan muda. Tunggu sebentar ya?”
Emmanuel mengangguk, "Biar aku saja yang bawa ya, Bi?"
"Tuan muda bisa?" tanya bi Maria memastikan.
“Bisa, lagian Mama lagi di ruang TV."
Bi Maria memberikan segelas susu untuk Liora kepada Emmanuel.
"Terima kasih, Bi."
Bi Maria tersenyum dan mengangguk, "Sama-sama.
Setelah itu Emmanuel segera menghampiri Liora lagi. "Mama," panggil Emmanuel
“Nuel, awas tumpah!" Liora segera mengambil alih susu yang dibawa oleh Emmanuel. Dia meminumnya sedikit.
"Kan tadi Mama sudah bilang sebentar lagi bikinnya, tapi terima kasih ya, sayang? Mama senang dibuatkan susu sama Emmanuel," ujar Liora
"Sama-sama. Kata Daddy, Mama kalau nggak di paksa pasti malas minum susu," balas Emmanuel
Liora terkekeh, dia mengelus rambut putranya. "Tugasnya udah dikerjain semua?" tanya Liora.
Emmanuel mengangguk, "Sudah. Tugasnya easy banget Ma," ucapnya dengan nada sombong.
Liora memutarkan bola matanya, bocah kecil itu persis seperti ayahnya. "Mulai nih. Mama dengar, kamu mau ikut lomba melukis, right?" tebak Liora
"Pasti Mama liat brosur di kamar aku ya?" tanya Emmanuel.
Liora mengangguk, "Yeah, kamu mau ikut?"
Emmanuel mengangguk. "Iya, tapi waktunya mepet sama olimpiade matematika nanti."
"Mau dibatalin olimpiade nya?"
"Mama," peringat Emmanuel.
"Daddy nggak akan marah, paling kesal saja," ujar Liora gampang.
Emmanuel menggelengkan kepalanya. "No, aku nggak mau batalin olimpiade aku. Gapapa, lagian lain waktu juga bisa."
__ADS_1
Liora menarik Emmanuel ke dalam pelukannya. "Nanti kita serang Daddy ya, soalnya suka maksa kamu ikut olimpiade terus."
Emmanuel terkekeh, "Oke Ma."
...****************...
"Kak," rengek Liora.
Zelvin menyimpan laptopnya, dia menatap Liora yang sedang cemberut. "Kenapa, sayang?"
"Kaki aku pegel, pijitin," pinta Liora.
Zelvin langsung melaksanakan keinginan Liora. Dia memijit kaki Liora yang bengkak semenjak hamil. "Hari ini ngapain saja?" tanya Zelvin dengan nada lembut.
"Aku siram tanaman, terus main sama Emmanuel. Kak, bosen dirumah terus... ajak aku liburan," pinta Liora.
"Mau liburan kemana?"
"Mau ke pulau Jeju boleh?"
Zelvin menggelengkan kepalanya, "Nggak, nanti kamu kelelahan di perjalanan yang cukup jauh nanti!"
"Tapi kita naik pesawat kan, nggak akan bikin aku lelah juga!" protes Liora
"Tetap saja sayang. Kita jalan-jalan keliling taman sekitar perumahan ini aja gimana? Kalau sore biasanya suka banyak yang jualan. Mau?"
Liora mengangguk, "Mau!"
Liora merebahkan tubuhnya, Zelvin menyelimuti Liora lalu tidur disebelah Liora. Tangan Zelvin bergerak untuk mengelus perut Liora. "Hey moon, jangan nyusahin Mama Liora ya? Baik baik di dalam sana. Papa sayang kamu, sayang Mamanya juga. Good night, Keanna."
Liora tersenyum tipis mendengarnya.
Sesuai dengan ucapannya kemarin, kini Zelvin sedang jalan-jalan ke taman yang dekat dengan perumahannya bersama Liora. Zelvin memegang tangan Liora dengan erat, memberikan kehangatannya. Zelvin menjadi pendengar dari setiap cerita Liora, wanita itu menceritakan semua hal yang dia inginkan.
"Kak, aku belum nyiapin nama untuk anak kita," ungkap Liora.
Zelvin tersenyum, "Kakak sudah buatkan nama untuk anak kita," timpalnya.
"Apa?"
"Secret."
"Kak Zelvin ih!" kesal Liora.
"Kamu percaya saja, nama yang aku buat nggak jelek. Maknanya juga bagus," ujar Zelvin.
Liora membuang napas kasar, "Iya deh, aku percaya."
Mereka duduk di bangku taman. Liora menyenderkan kepalanya di bahu Zelvin, “Rindu keluargaku yang di ," celetuk Liora.
Zelvin mengelus punggung tangan Liora, “Nanti kita telepon ya? Aku usahain sebelum lahiran Mommy, Daddy, Oma, Nenek sama Givanno sudah disini."
Liora mengangguk. "Aku heran, kenapa sih Daddy kerjanya di luar negeri? Padahal disini ada perusahaan kakek buyut yang dikelolanya juga!"
__ADS_1
“Sayang ..."
“Aku rindu banget, aku pengen ketemu keluargaku disana, Kak." Wajah Liora kini terlihat murung
“Mau es krim?" tawar Zelvin untuk mengalihkan kesedihan istrinya.
Liora mengangguk lucu.
Zelvin terkekeh, mood istrinya mudah sekali berubah. "Tunggu ya?"
Zelvin berdiri untuk membeli es krim. Liora memerhatikan Zelvin, suami ya sudah banyak sekali berubah. Liora kini bersyukur memiliki Zelvin, dengan segala perlakuan Zelvin yang membuatnya nyaman. Zelvin Harell Park. Liora ingin bersamanya. Liora mencintai pria itu.
Zelvin menyodorkan es krim yang dibelinya kepada Liora.
“Terima kasih, Kak."
Liora langsung memakannya.
“Kamu cantik," puji Zelvin membuat pipi Liora memerah, sangat lucu.
“Kamu tau, Kak? Dulu waktu jaman SMA aku sering di bully, karena aku kurus banget. Apalagi saat SMA, itu zaman aku aktif di organisasi pecinta alam, jadi sering panas-panasan percuma pake skincare juga."
Liora memakan es krimnya kembali, dia seorang maniak es krim.
"Lalu kenapa sekarang secantik ini? Terus memangnya Daddy kamu nggak tahu kejadian itu?" tanya Zelvin. Dia cukup terkejut dengan cerita istrinya tadi. Zelvin tak menyangka orang secantik dan sekaya Liora ternyata dulu sering di-bully karena setahunya jika ada yang berani macam-macam pada keluarga Choi, mereka akan langsung dilenyapkan.
“Iya, soalnya tante Krystal ajak aku perawatan setelah jabatan aku lengserkan jadi ketua organisasi pecinta alam. Terus aku juga rajin lagi pake skincare, tiba-tiba anak cheerleader ngajak aku gabung ke geng mereka tapi mereka nggak mau ada Jennie. Ya, jelas aku juga nggak mau," jelas Liora.
"Tentang Daddy... dia nggak tau. Soalnya aku memang nggak pernah cerita kalau aku sering di bully di sekolah. Kalau kakak tau, waktu SMA itu aku menyembunyikan status keluargaku dari orang-orang di sekolah. Aku hanya ingin melihat mana yang benar-benar tulus menjadi temanku dan sebaliknya," sambung Liora bercerita panjang lebar. Wanita itu memiliki sifat yang hampir sama dengan Yuna, sang Ibu.
Zelvin kembali terperangah, “Pantas saja kamu di bully mereka. Terus kamu sama Jennie temanan nya udah lama ya?"
Liora mengangguk, "Lama banget. Karena dia juga anak dari sahabatnya Mommy dan Daddy. Bahkan ya, kita tuh saking akrabnya kita pernah marahan hanya gara-gara aku lupa simpan gelang dari Jennie. Tapi, dia tuh menjaga aku banget."
Zelvin terkekeh, "Kakak harus berterima kasih sama Jennie, karena dia sudah menjaga kamu."
"Ayo pulang, aku udah puas banget pengen istirahat," ajak Liora.
"Kuat jalannya?" tanya Zelvin.
Liora mengangguk, "Kuat, Kak."
Mereka berjalan beriringan. Zelvin merangkul tubuh kecil Liora, disepanjang jalan dia terus menjadi pendengar. Tidak akan pernah bosan dalam hidupnya untuk mendengar semua cerita yang keluar dari mulut istrinya. Zelvin kini sadar, betapa pentingnya cinta. Zelvin juga tersadar, ternyata hidup memiliki pasangan itu sangat enak.
Zelvin bersyukur, Liora sudah bertahan dengannya sejauh ini. Semua sikap buruk dan perlakuan Zelvin, itu tidak membuat wanita ini mundur. Liora, dia tetap bertahan menjadi istrinya bahkan kini sedang mengandung buah hati mereka.
"Nanti, aku mau kita liburan bareng baby dan Emmanuel ke pulau Jeju. Terus, kita menikmati indahnya pantai disana."
"Everything, babe. Everything you want," balas Zelvin.
Liora mengalungkan tangannya, "Terima kasih, aku sayang mr. Park ..."
...----------------...
__ADS_1