
3 hari sebelum pertunangan William dengan Olivia, lelaki itu selalu berupaya untuk mendekatkan Yuna dengan Jayden kembali, tapi hasilnya nihil tidak ada perkembangan sama sekali.
William punya ide, ia berharap semoga idenya itu bisa membuat Yuna dan Jayden bisa bersatu lagi walaupun hatinya harus ia korbankan untuk kebahagiaan dua orang itu.
"Halo Jay," sapa William menelpon Jayden.
"Ya Will, ada apa?" tanya Jayden dari seberang sana.
"Nanti malam kamu ada acara nggak?" tanya balik William.
"Nggak ada sih, memangnya kenapa?"
"Aku mau ajak kamu dinner di Diamond Restaurant," ajak William. Restoran itu adalah tempat makan favorit dan langganan keluarga Choi.
"Memangnya kamu nggak sibuk nyiapin acara pertunangan kamu?" Jayden heran dengan sepupu sekaligus sahabatnya itu padahal sedang sibuk menyiapkan acara pertunangannya tapi masih saja ada waktu mengajak dirinya untuk keluar makan.
"Ya sibuk sih, soalnya udah lama banget nggak makan disana," elak William tak mungkin ia memberitahu alasan kenapa ia mengajak Jayden pergi makan di restoran tersebut.
"Sama ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," sambung William.
"Boleh deh, nanti malam aku kesana." Jayden pun menyetujui ajakan William dan tidak menaruh curiga sekalipun.
"Oke thank you Jay."
Setelah mengatakan itu William langsung menutup sambungan teleponnya. Sekarang giliran Yuna yang William telpon dengan ajakan yang sama walau Yuna sedikit curiga gadis itu pun menyetujui ajakan William bahkan William menyuruhnya untuk berdandan sangat cantik, seperti ada sesuatu yang akan terjadi nanti malam.
Hari berganti menjadi malam, Jayden telah tiba di Diamond Restaurant tempat janjiannya dengan William.
Pria itu malam ini terlihat sangat tampan dan berkarisma menggunakan kemeja hitam dilapisi jas berwarna merah maroon dan celana kain yang selaras dengan jasnya. Tak lupa jam tangan dan sepatu pantofel bermerk yang menghiasi tangan dan kakinya.
"Selamat malam Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis di restoran tersebut.
"Ada tempat yang sudah di reservasi atas nama William?" tanya Jayden.
"Ada Tuan, mari saya antarkan."
Jayden hanya menganggukkan kepalanya, Resepsionis itu segera mengantar Jayden ke meja yang sudah di pesan oleh William.
"Silahkan Tuan, ini meja pesanan atas nama Tuan William," ucap resepsionis itu saat sudah sampai di meja pesanan William.
__ADS_1
Dahi Jayden langsung mengkerut saat melihatnya, bagaimana tidak meja yang di pesan oleh William itu seperti meja sepasang kekasih yang akan berkencan, banyak dengan taburan bunga mawar berbentuk hati mengelilingi kursi dan meja tersebut serta banyak lilin disana.
"Yakin ini atas nama William?" tanya Jayden ragu.
"Benar Tuan, ini meja yang telah di pesan oleh tuan William," jawab resepsionis itu menyakinkan Jayden.
"Kalau begitu saya permisi Tuan," ujar resepsionis itu dan hanya anggukan yang diberikan oleh Jayden.
Setelah kepergian resepsionis itu, Jayden mencoba menghubungi William.
"Ya Jay?" tanya William setelah sambungan teleponnya tersambung.
"Eh Will, kamu dimana sih? Aku udah sampai nih," ucap Jayden.
"Oh, kamu tunggu aja. Bentar lagi aku sampai disana," jelas William. Padahal William sudah ada di dalam restauran tersebut, ia hanya ingin mengamati Yuna dan Jayden dari kejauhan.
"Kamu yakin mau ngomong sama aku di tempat kayak gini ini? Kalau kamu tau meja yang kamu pesan ini seperti orang yang akan berkencan tau!" sungut Jayden.
"Udah kamu tenang aja, bentar lagi aku sampai. Kamu tunggu aja," ucap William dan langsung menutup sambungan teleponnya.
Jayden menghela napas panjang, lalu ia duduk di kursi. "Ngapain sih dia ngajak aku makan di tempat kayak gini, ini sih kayak meja untuk pasangan," gerutu Jayden.
Tak lupa aksesoris kalung dan anting menghiasi leher serta kedua telinganya. Dipadukan dengan hand bag dan heel yang senada dengan warna dress nya.
"Permisi."
"Ya selamat malam Nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis itu pada Yuna.
"Tempat yang sudah di reservasi atas nama William, ada?" tanya balik Yuna.
"Anda dengan nona Yuna?" tebak resepsionis itu.
Yuna hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oh ya anda sudah di tunggu di dalam, mari saya antar." Resepsionis itu mengantar Yuna ke tempat meja pesanan William.
Dari kejauhan Yuna melihat seorang pria duduk membelakanginya, ia pun segera memanggilnya.
"William!"
__ADS_1
Pria yang sedang membaca novel itu langsung menghadap ke belakang saat seseorang memanggilnya dan ia sangat terkejut melihat keberadaan Yuna di restoran tersebut.
"Loh kok malah kamu sih!" pekik Yuna.
"Seharusnya aku dong yang nanya, kenapa kamu ada disini?" tanya Jayden. Ia melihat penampilan Yuna malam ini sangat menawan membuat Jayden terpana melihatnya.
"Aku kesini karena suruhan dari William," jelas Yuna.
"Aku juga kok, tadi siang disuruh kesini sama William," timpal Jayden.
"Ya udah, mendingan aku pergi aja kalau begitu," ucap Yuna yang hendak pergi namun ditahan oleh ucapan Jayden.
"Eh nggak usah, biar aku aja yang pergi. Kamu janjian kan sama William? Bentar lagi dia bakalan datang kok."
"Ya ngapain coba aku disini? Lagian kan, kamu yang mau janjian sama William juga," imbuh Yuna.
"Ya mana mungkin dong aku janjian sama cowok di tempat kayak gini, yang ada orang-orang bakalan berpikiran yang aneh-aneh. Udah deh bentar, mendingan aku telpon William," papar Jayden mengambil ponselnya untuk menghubungi William lagi.
"Ya Halo?" ujar William saat telepon sudah tersambung.
"Will, kamu dimana sih? Sebenarnya kamu itu janjian sama siapa sih, aku atau sama Yuna? Ada Yuna nih disini." Jayden penasaran dengan dengan William, sebenarnya siapa dan apa maksud William mengajak dirinya dan Yuna makan malam di hari, tempat dan waktu yang sama.
"Oh ya masa sih? Kok aku nggak tau tuh Yuna ada disana," elak William.
"Maksud kamu?" tanya Jayden bingung.
"Jay, aku rasa Yuna ada disana karena kamu dan aku yakin banget kalau sebenernya Yuna masih suka sama kamu. Makanya ini kesempatan buat kamu nanyain perasaan Yuna yang sebenernya ke kamu seperti apa," papar William panjang lebar dan langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Jayden langsung terdiam mendengar ucapan dari William, ternyata itu alasan mengapa ia dan Yuna dipertemukan sekarang ini.
"Gimana?" tanya Yuna.
"William bilang dia nggak jadi datang katanya," jelas Jayden berbohong.
"Ih gimana sih William seenak jidatnya membatalkan janji kayak gitu!" kesal Yuna.
"Ya udah kalau gitu aku anterin kamu pulang ya?" tawar Jayden.
"Nggak usah!" tolak Yuna dengan ketus.
__ADS_1
...----------------...