
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Liora kepada di kecil Emmanuel yang baru saja keluar dari kamarnya.
Emmanuel terlihat murung, wajahnya di tekuk seperti sedang kesal. Tatapan Emmanuel juga terlihat sinis, membuat Liora mengerutkan keningnya heran. Liora melihat Ara yang baru saja keluar dari kamar Emmanuel sambil membawa pakaian kotor putranya, ada apa ini?
Liora berjongkok, Emmanuel langsung memeluk Liora dengan erat, menyimpan kepalanya di pundak Liora. “Kenapa bukan Mama yang bangunin aku? Kalau Mama nggak bisa, bi Maria juga gapapa, tapi jangan Ara,” adu Emmanuel sambil mengeratkan pelukannya.
Liora mengelus punggung Emmanuel. “Emangnya kenapa sama Ara? Dia baik kan sama kamu?”
Emmanuel mengangguk, “Baik, tapi aku nggak suka dengan Ara, Ma.”
Liora melepaskan pelukannya, dia menatap Emmanuel, mengelus kepala Emmanuel dengan lembut. “Kenapa? Ara kan baik, kenapa nggak suka?”
“Aku cuma merasa nggak suka saja, Ma. Aku nggak mau dibangunin atau diurus sama Ara lagi, aku cuma mau sama Mama atau bi Maria," ucap Emmanuel tegas tak ingin dibantah.
Liora mengangguk, “Iya, maafin Mama ya karena nggak bangunin kamu. Mama janji, lain kali Mama nggak akan nyuruh Ara lagi,” ujarnya.
Emmanuel mengangguk, “Ara juga jangan masuk kamar aku, cukup Mama dan bi Maria!”
“Iya sayang,” jawab Liora sambil mencubit gemas pipi Emmanuel.
“Kalian ngapain?” celetuk Zelvin.
Liora langsung berdiri, dia menatap Zelvin yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian formalnya. Tangan Liora terulur untuk merapikan rambut Zelvin yang sedikit berantakan, “Lain kali, rambutnya perhatikan juga. Kalau gini kan kakak terlihat lebih tampan,” ucap Liora.
Emmanuel yang melihat Liora merapikan rambut daddy-nya, dengan sengaja dia mengacak-acakan rambutnya. “Mama ini rambut aku juga berantakan.”
Zelvin dan Liora langsung menatap Emmanuel, mereka terkekeh dengan kelakuan bocah tampan itu.
Liora membenarkan rambut Emmanuel, “Ini juga, kenapa rambutnya malah di berantakin? Tadi padahal sudah bagus.”
Emmanuel tersenyum, menampilkan gigi putihnya. “Biar Nuel seperti, Daddy.”
Zelvin mengelus rambut Emmanuel. “Ayo sarapan!”
Liora dan Emmanuel mengangguk, lalu mereka bertiga berjalan beriringan menuju ke ruang makan.
...****************...
Liora menatap gadis yang duduk di depannya dengan pakaian tahanan. Gadis ini terlihat berantakan, berbeda dengan penampilannya yang dulu. Dia terlihat seperti semakin kurus, selain itu rambutnya juga di potong menjadi sebahu, dibawah matanya menghitam dan terlihat menyedihkan.
Dia, Leandra. Hari ini, Liora berniat untuk menjenguk Lea karena banyak sekali berita buruk mengenai gadis itu, maka dari itu Liora ingin tahu keadaan Lea. Tenyata, keadaannya jauh dari kata baik-baik saja.
“Lea,” panggil Liora kepada gadis yang terus menundukkan kepalanya.
“Angkat aja kepala kamu, jangan menunduk terus, Lea,” sambungnya.
Lea mengangkat wajahnya, Liora bisa melihat matanya yang memerah. “Kamu nangis?” tanya Liora.
Lea turun dari kursinya, dia berlutut di depan Liora. “Liora, maafkan aku. Aku tau aku salah Lio, maafkan aku. Maafkan atas semua kejahatan aku, aku sangat jahat kepadamu. Itu semua terjadi karena ego aku Lio, aku kesal ketika Alvin lebih sering menceritakan tentang kamu kepadaku. Maafkan aku Lio. Bahkan aku pun mengancam orang tua Alvin agar kita tunangan,” lirih Lea sambil menangis di lutut Liora.
Liora memegang tangan Lea, “Lea, berdiri jangan seperti ini.”
Liora berusaha memaksa Lea untuk duduk ditempatnya lagi. “Aku sudah memaafkan kamu, ayo bangun.”
__ADS_1
Lea menggelengkan kepalanya. “Gara-gara aku, semuanya hancur, Lio. Perusahaan Papa aku, Mama aku di pecat dan sekarang aku harus disini. Maafkan aku Liora,”
“Iya Lea, aku sudah maafkan semua kesalahan kamu.” Liora terus membujuk Lea, meyakinkan bahwa dirinya sudah memaafkan Lea, meskipun sulit karena Lea terus menangis. Tapi kini, Lea sudah duduk di kursi nya lagi dengan mata yang sembab. Jika bisa, Liora ingin membebaskan Lea dari tahanan ini. Liora yakin, Lea sudah menyesali semua nya.
“Liora?”
Refleks, Liora menoleh ketika mendengar suara itu. Dia membulatkan matanya ketika melihat Alvin yang sedang berdiri di tempat nya dengan keterkejutannya.
“Kamu ngapain disini?” tanya Alvin, dia duduk disebelah Liora. Alvin menyimpan makanan yang dia bawa di meja.
“Jenguk Lea,” jawab Liora.
Alvin mengangguk, “Lea, ini dari Mama," ucap Ali sambil menyodorkan kotak makanan bersusun yang dia bawa.
Lea tersenyum kaku, “Thanks, Al. Kamu juga terima kasih, Lio.”
Liora mengangguk, “Emm aku pamit dulu ya Lea, lain kali kalau ada waktu aku kesini lagi.”
Lea mengangguk, “Hati-hati di jalan, Lio.”
Liora mengangguk, dia langsung berdiri dan meninggalkan Lea bersama Alvin.
“Liora!”
Liora menghentikan langkah, dia membalikkan badannya dan menatap Alvin yang berlari ke arahnya. Inilah yang Liora takuti, dia takut ketika orang suruhan Zelvin melihatnya dan membuat Zelvin marah nanti terhadapnya.
“Iya?”
Alvin menyodorkan paper bag kepada Liora, “Dari Mama, dia juga titip salam dan maaf untuk semua kejadian yang sudah terjadi. Aku sudah cerita sama Mama semuanya, dia juga sedih karena aku nyakitin kamu.”
Alvin mengangguk, "Iya, Lio."
Ibu kandung Alvin telah meninggal ketika dia duduk di bangku SMA, beliau yang menginginkan Alvin menjadi seorang dokter. Ayah Alvin sudah menikah lagi ketika Alvin baru saja masuk kuliah, ayahnya menikah dengan adik dari Ibu kandung Alvin. Awalnya, Ibu tiri Alvin setuju hubungannya dengan Liora namun karena perusahaan Ayahnya yang bangkrut membuat mereka memaksa Alvin untuk menerima perjodohan ini.
“Liora, sekali lagi untuk semuanya aku minta maaf.”
“Aku udah maafin kamu. Aku nggak bisa lama-lama, aku ada urusan. Per—” Liora terkejut dengan Alvin yang tiba - tiba saja memegang tangannya Alvin langsung melepaskan tangannya ketika tatapan Liora yang berbeda.
“Oh, maaf. Aku nggak sengaja. Aku mau nanya, pulang sama siapa?” tanya Alvin.
“Aku bawa mobil,” jawab Liora.
Alvin manggut-manggut mengerti, “Hati-hati.”
Liora hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Alvin.
...****************...
“Sel—Eh Nyonya Liora? Selamat siang Nyonya, apa kabar? Semakin cantik saja, mau nyari Tuan Zelvin ya?” tebak Alice.
Liora tersenyum, “Siang, iya kak Zelvin nya ada?” tanya Liora
Alice mengangguk, “Tapi masih ada klien di dalam Nyonya, sebentar lagi juga selesai. Nyonya mau nunggu atau saya telepon—”
__ADS_1
“Saya nunggu saja,” potong Liora.
“Ya sudah Nyonya tunggu saja di sofa itu, biar enak duduknya,” tunjuk Alice kepada sofa yang di sebelah meja kerjanya.
Liora mengangguk.
Waktu terus berjalan, Liora masih menunggu Zelvin meskipun dia merasa ngantuk karena klien Zelvin tidak kunjung keluar padahal Liora ingin melaporkan semua yang terjadi hari ini.
Tanpa Liora sadari, dia memejamkan matanya karena merasa sangat ngantuk, dia tidak bisa menahannya. Tak kunjung lama, klien Zelvin keluar dari ruangan Zelvin. Alice menatap Liora yang tertidur, dia takut untuk mermbangunkan Liora. Liora terlihat nyenyak dalam tidurnya.
Alice mengetuk pintu ruangan Zelvin, setelah mendengar perintah dari dalam, Alice langsung masuk ke dalam. “Tuan, ada Nyonya Liora di luar. Dia menunggu anda dari tadi, saya menyuruh Nyonya Liora untuk menunggu, tapi Nyonya Liora ketiduran di depan. Saya nggak berani membangunkan dia,” ujar Alice.
Zelvin mengangkat wajahnya, “Istri saya ada di luar?”
Alice mengangguk, "Iya Tuan."
Zelvin langsung berdiri, dia berjalan keluar dari ruangannya. Tatapannya berhenti kepada gadis yang tidur sambil duduk disebelah meja Alice. Zelvin berjalan mendekat, lalu menggendong Liora dengan pelan supaya tidak membangunkan istrinya. Zelvin menidurkan Liora di sofa ruangannya.
“Kamu keluar,” perintah Zelvin kepada Alice yang terus berdiri di ambang pintu.
Alice mengangguk, dia langsung menutup pintu ruangan atasannya.
Zelvin mengelus rambut Liora, kedatangan gadis ini membuat semua lelahnya hilang begitu saja. Apalagi, wajah damai ketika tidur membuat Zelvin selalu gemas. Pipi nya yang chubby selalu membuat Zelvin ingin menggigitnya, bibirnya sedikit terbuka tapi itu tetap membuat Liora cantik.
Liora bergerak gelisah, dengan perlahan dia membuka mata nya dan terkejut melihat Zelvin di depannya dengan jarak yang dekat. “Kak Zelvin!”
Liora langsung bangun dan duduk dengan tegak Zelvin memegang pundaknya karena Liora sedikit oleng.
“Jangan langsung duduk, nanti kamu pusing.” tegur Zelvin.
Liora mengangguk. Zelvin duduk disebelah Liora, merapikan rambut gadis ini yang berantakan. “Kenapa nggak bilang dulu kalau mau kesini? Kalau tahu kamu mau kesini saya akan kosongkan jadwal saya,” tanya Zelvin.
Sepertinya, nyawa Liora belum terkumpul karena gadis ini malah melamun.
“Hey!”
Liora terkejut, dia menatap Zelvin. “Minum dulu, mau cuci muka?” Liora menerima gelas yang disodorkan Zelvin, dia meminumnya. Liora menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
“Kak, aku mau jelasin sesuatu,” ucap Liora.
“Jelasin apa?”
Liora menjelaskan semuanya. Ketika dia menjenguk Lea dan bertemu Alvin di kantor polisi, dia juga menjelaskan paper bag yang dia bawa saat ini. Liora menjelaskan semuanya tanpa kebohongan sedikit pun, karena dia tidak mau ada salah paham yang membuat Zelvin marah atau kesal. Zelvin membuang napasnya, dia menarik Liora ke dalam pelukannya.
“Boleh saya buang paper bag yang kamu bawa?” pinta Zelvin
Liora mengangguk, “Iya boleh, kak.”
Zelvin berdiri dari duduknya, dia langsung membuang paper bag pemberian dari Alvin ke dalam tempat sampah di dalam ruangan, kemudian Zelvin kembali duduk disebelah Liora, “Terima kasih karena sudah jujur, saya senang kamu menghargai saya sebagai suami.”
Liora tersenyum, dia memeluk Zelvin. “Maafkan aku karena masih bertemu dengan Alvin,” ucapnya.
“Gapapa, itu kan nggak di sengaja.” Zelvin menundukan kepalanya, dia sedikit berdesis ketika melihat Liora yang menggigit bibirnya.
__ADS_1
“Sial!” umpat Zelvin.