
"Emmanuel!" Liora melambaikan tangannya ketika Emmanuel baru saja keluar dari kelasnya. Dia menarik bibirnya untuk tersenyum lebar, meskipun Emmanuel menatapnya dengan tatapan sinis. Emmanuel berjalan ke arah Liora. Tidak ada senyuman yang terbit di wajah anak itu, seperti nya sulit untuk membuat anak itu tertawa. Emmanuel dan Zelvin sama sama dingin dan sulit untuk didekati.
"Kita langsung pulang aja? Nggak pergi belanja street food? Dulu waktu tante seumuran kamu, tante kalau pulang suka jajan Odeng. Pokoknya enak banget, nggak ada duanya deh rasanya." tanya Liora
"Odeng?" tanya Emmanuel heran. Ini pertama kalinya Emmanuel mendengar nama makanan yang biasa di jual pada pedagang kaki lima tersebut.
Liora mengangguk, "Iya, fish cake yang biasa di tusuk pada lidi gitu. Kamu belum pernah cobain ya? Nanti kapan-kapan Tante beliin, Tante yang traktir pokoknya kalau buat kamu."
Emmanuel hanya berdehem saja untuk membalasnya. "Kita pulang naik bus?" tanyanya.
Liora mengangguk, "Kamu berubah pikiran ya? Mau minta dijemput sama Pak Patrick? Tante bisa telepon Pak Patrick."
Emmanuel menggelengkan kepalanya. "Ayo pulang," ajaknya.
Liora mengangguk, dia menggenggam tangan kecil itu lalu berjalan beriringan dengan dirinya yang terus berceloteh. "Kalau kita mau naik bus, kita harus nunggu di halte. Kenapa? Karena ya bus berhentinya di halte," oceh Liora. Mereka sudah berada di halte, halte tersebut sangatlah ramai karena jam pulang sekolah.
"Emmanuel, duduk disini ya. Kamu pasti pegal, kalau naik bus ya gini, harus nunggu, yang sabar ya," ucap Liora sambil mengelus kepala Emmanuel Akhirnya bus datang, semua orang berbondong bondong untuk naik ke bus. Liora menuntun Emmanuel untuk masuk ke dalam bus dan kursi bus hanya tersisa satu.
"Nah, kamu duduk disini," suruh Liora.
"Terus Tante gimana?"
"Ya berdiri, kalau kursinya habis ya harus berdiri," jawab Liora.
Emmanuel mendongakkan kepalanya, menatap Liora yang sudah mulai mengeluarkan keringat. Hanya Liora yang berdiri sendirian, yang lain mendapatkan kursi. Emmanuel sangat handal mengendalikan ekspresinya, dia sangat terkejut dengan kehadiran Liora tadi di sekolahnya. Dia pikir, Liora hanya omong kosong untuk membuatnya senang saja. Tapi tidak, perempuan yang menjadi mama tirinya itu menepati ucapannya.
Emmanuel belum pernah merasakan seperti ini. Zelvin sangat tegas kepada Emmanuel tapi tidak pernah memberi perhatiannya sedikit pun. Bahkan Emmanuel sangat jarang bisa berinteraksi dengan Zelvin. Dimata Emmanuel, Zelvin ada super hero nya.
Hanya Zelvin yang bertahan bersamanya meskipun Erica, Mommy-nya meninggalkan Emmanuel. Emmanuel pintar sekali membaca situasi, dia sudah di dewasakan oleh keadaan yang membuatnya cukup tertekan diusia yang masih anak-anak.
Emmanuel benci bertemu dengan orang asing, termasuk Liora. Apalagi Liora sering bersama Zelvin, dia takut Liora mengambil perhatian Zelvin melewati dirinya.
Tak lama bus pun berhenti di halte tujuan mereka. Liora menuntun Emmanuel untuk turun dari bus.
"Gimana seru nggak?" tanya Liora.
Emmanuel mengangguk, "Terima kasih."
__ADS_1
Liora tersenyum dan mengangguk, "Kalau mau apa-apa lagi, bilang ya sama Tante. Nanti kita lakukan hal yang belum pernah kamu rasakan," ucapnya.
Emmanuel hanya diam tidak menjawab ucapan Liora.
...****************...
BRUGH!
Zelvin menendang meja tepat saat Liora baru saja membuka pintu. Liora dan Emmanuel sangat terkejut dengan suara itu, bahkan mereka lebih terkejut dengan kehadiran Zelvin. Bukan kah Zelvin bekerja?
"Emmanuel! Kamu dari mana?" tanya Zelvin dengan nada yang tidak bersahabat
"Pulang sekolah, Dad," jawab Emmanuel.
"Daddy jemput kamu dan kamu tidak ada di sekolah!" ucap Zelvin.
"Dia jemput aku naik bus," balas Emmanuel. Dia yang di maksud Emmanuel adalah Liora.
Zelvin menatap Liora dan langsung mengepalkan tangannya.
Emmanuel berjalan begitu saja, meninggalkan Liora tanpa berpamitan. Sedangkan Liora, dia tidak berani menatap Zelvin yang terlihat emosi. Mata tajam itu berhasil membuat Liora ingin pergi dari mansion ini.
Srrttt!
Zelvin menarik tangan Liora dan melangkahkan kakinya menuju kamar Liora. Setelah berada di kamar, Zelvin mendorong Liora hingga tersungkur ke lantai dan menutup pintu dengan sangat keras.
"Saya sudah peringati kamu, jangan ikut campur urusan saya, Keanna! Kamu disini hanya orang asing, jangan ikut campur!" bentak Zelvin menggebu-gebu.
Zelvin berjongkok di hadapan Liora, dia mencengkram pipi Liora supaya mendongak untuk menatapnya. Hidungnya sangat merah, air mata Liora terus berjatuhan.
"Jangan mentang-mentang kamu memiliki gelar istri saya, kamu bisa melakukan sesukamu. Saya menerima perjodohan ini karena Mama saya. Jangan bertindak sesukamu, karena disini kamu hanya numpang. Jangan ikut campur urusan saya!"
"Sakit ..." cicit Liora. Kedua pipinya terasa begitu perih karena cengkraman Zelvin yang terlalu keras. Zelvin melepaskan cengkraman di pipi Liora, dia menatap Liora yang menghapus air matanya.
Zelvin melepaskan cengkraman di pipi Liora, dia menatap Liora yang menghapus air matanya.
"Aku juga nggak mau nikah sama kak Zelvin. Mommy sama Daddy yang paksa aku. Aku nggak mau jadi istri kak Zelvin, tapi pernikahan ini yang mengikat aku jadi istri kamu. Aku nggak tau apa yang buat kamu benci sama aku, aku hanya ingin dekat dengan Emmanuel. Itu saja," ucap Liora mengeluarkan semua unek-uneknya.
__ADS_1
"Pernikahan ini, ini bukan pernikahan yang aku mau. Aku... aku nyakitin hati seseorang dengan pernikahan ini, kamu... kamu hiks..." Liora tidak bisa berkata lagi, dia menangis sambil menutup wajahnya.
Emosi Zelvin mulai mereda, dia mendengar isak tangisan Liora yang menggelegar di kamar ini.
"Aku... aku mau ke rumah tante Krystal, aku nggak mau tinggal disini," pinta Liora dan itu berhasil membuat Zelvin kembali marah.
"Woah! Egois sekali kamu, Liora. Dengan kamu pergi ke mansion Tante kamu, kamu membuat nama saya terlihat buruk. Sedangkan saya terus menjaga nama baikmu di hadapan keluarga saya!" ucap Zelvin sinis.
Liora menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu--"
"Terus gimana?!" bentak Zelvin Liora terdiam, dia tidak berani menjawab pertanyaan Zelvin.
Seketika hening, hanya terdengar isak tangis Liora yang mulai mereda. "Kak Zelvin ...," panggil Liora dengan suara bergetar.
"Jangan marah-marah, aku takut. Aku minta maaf atas kesalahan aku. Aku... aku benar-benar minta maaf," lirih Liora.
Jikalau Yuna dan Jayden mengetahui tentang ini, mungkin mereka akan sangat kecewa serta sedih melihat Liora yang selalu diperlakukan tidak baik oleh Zelvin dan mungkin saja mereka akan membawa Liora pergi jauh dari Zelvin.
Zelvin berdiri dan keluar dari kamar Liora, membiarkan gadis itu sendirian di kamar.
Malam hari. Zelvin keluar dari kamarnya, entah mengapa perasaan sedikit khawatir dengan keadaan Liora. Dari semenjak kejadian tadi siang, Liora melewatkan makan siang dan makan malam, bahkan tadi pun saat sarapan Liora hanya memakan sedikit saja. Zelvin membuka pintu kamar Liora, hal yang pertama dia lihat adalah kegelapan. Tidak ada sedikitpun cahaya yang menerangi kamar Liora.
Zelvin menyipitkan matanya, melihat Liora yang sudah tertidur di atas ranjangnya itu. Zelvin menutup kembali pintu kamar Liora. Namun, dia dikejutkan dengan kehadiran Emmanuel yang tiba tiba berdiri di sebelahnya. "Daddy ngapain?"
"Kenapa?"
"Mau tidur bareng Daddy," pinta Emmanuel berharap.
"Tidur sendiri. Jangan manja. Kamu anak laki-laki. Sana, masuk kamar terus tidur!" ucap Zelvin tegas.
Emmanuel menghela napas, keinginannya sangat sulit untuk dipenuhi oleh Daddy-nya.
"Selamat malam, Dad."
Zelvin hanya berdehem saja.
...----------------...
__ADS_1