
“Juno, terimakasih.”
Juno tersenyum, lalu mengangguk. “Iya, Mrs. Park. Sekarang apakah anda sudah puas? Apa yang anda simpulkan dari rencana ini?” tanya Juno.
Liora tersenyum sejenak. Ingatannya berputar terhadap kejadian beberapa jam lalu, dimana Zelvin sangat terlihat cemburu yang membuat Liora tersenyum senang. “Kak Zelvin sedang bimbang dengan perasaannya, Juno. Masa lalu yang buruk membuat dia sulit untuk melupakannya. Jalan satu - satu nya, kak Zelvin harus keluar dari masa lalunya. Hidupnya akan kembali berjalan ketika dia berdamai dengan masa lalu,” tutur Liora sambil menatap ke depan.
Juno mengangguk setuju. “Benar. Tapi dari pandangan saya, dia mencintai anda Mrs. Park.”
Liora menatap Juno, perasaannya ingin meyakinkan itu, tapi perilaku Zelvin yang selalu membuatnya ragu. “Tapi Juno—”
“Mrs. Park saya cukup mengenal Mr. Park karena dia adalah anak dari teman Ayah saya. Ayah saya sering cerita tentang dia, dan saya bisa simpulkan bahwa Mr. Park memang baik, hanya sifatnya saja yang terlalu dingin. Mrs. Park tugas anda untuk mencairkan sifat Mr. Park,” potong Juno.
“Menurut kamu, saya bisa membuat Kak Zelvin cinta sama saya?” tanya Liora.
Juno menoleh, gadis yang duduk di kursi sebelahnya terlihat sangat bimbang. Tatapannya terlihat sekali bahwa dia sedang bingung. “Mrs. Park apakah anda mencintai Mr. Park?” tanyanya.
Liora menggelengkan kepalanya. “Saya nggak tau, Juno. Rasanya sangat sulit untuk marah ke kak Zelvin, dia selalu terlihat baik di mata saya meskipun kelakuannya yang bejat,“ ungkap Liora.
Juno menggeser kan tubuhnya supaya lebih dekat, dia menepuk bahu Liora. “Yakinkan perasaan anda, setelah itu baru yakinkan perasaan Mr. Park," saran Juno
Liora mengangguk, “Juno, terima kasih karena selalu membantu saya. Maaf saya merepotkan kamu.”
"No, problem Mrs. Park. Kapanpun anda membutuhkan saya, saya akan membantunya.”
Liora tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
...****************...
“Juno, duduk di ujung!” celetuk Zelvin yang baru saja datang dari membeli minum untuk Liora. Juno langsung menggeser kan duduknya sambil berdecak lidah, dia kesal dengan kelakuan si Mr. Posesif.
Zelvin duduk di sebelah Liora, dia membuka tutup botolnya lalu menyodorkannya ke Liora. “Pelan-pelan minumnya,” peringat Zelvin.
Liora mengangguk, “Terima kasih, Kak.”
Zelvin mengangguk. Tangannya terulur untuk merapikan anak rambut yang menghalangi mata Liora, dia mengusap keringat di kening Liora dengan telapak tangannya. “Kamu kegerahan?” tanya Zelvin.
Liora menggelengkan kepalanya, “Nggak kok Kak, disini sejuk. Hanya lelah saja, tadi kan keliling taman ini. Juno, berapa sih luasnya?” tanya Liora sedikit berteriak karena posisi duduk Juno yang jauh.
“19 hektare,” jawab Juno.
“Nah, jadi lumayan lelah,” ucap Liora.
Zelvin mengelus rambut Liora. “Kamu malas untuk olahraga. Jadi, gerak dikit, capek,” ejek Zelvin.
Liora menatap sinis Zelvin. Olahraga? Liora sangat anti. Daripada olahraga mending dirinya tidur cantik di atas ranjang. “Diem deh, Kak. Aku saja nggak pernah liat kamu olahraga!” balas Liora sinis.
Zelvin terkekeh, “Kamu saja yang mainnya kurang jauh, saya sering olahraga.”
“Nyebelin!” kesal Liora membuat Zelvin tertawa.
Juno menatap pasangan disebelahnya. Orang-orang yang melihat mereka pasti akan menyangka bahwa mereka saling jatuh cinta, tatapan mereka selalu memberikan tatapan yang berbeda. Mengingat rencananya dengan Liora yang ingin membuat Zelvin cemburu ternyata berhasil. Zelvin sangat posesif dan protektif. Baru hal kecil saja, sudah membuat pria itu kebakaran jenggot. Bukankah itu yang dinamakan cinta?
“Mr. Park, saya pamit untuk ke toilet. Mungkin sedikit lama, karena saya mau beli minum,” sindir Juno.
__ADS_1
“Ya!” ketus Zelvin.
Juno berdecak lidah. Dia pikir Zelvin akan membelikannya minum juga, tapi ternyata... Harapan Juno terlalu tinggi.
“Kak, kamu kenapa nggak belikan Juno minum juga?” tanya Liora.
“Dia punya kaki dan tangan sendiri,” jawab Zelvin malas.
“Aku juga punya kaki,” balas Liora.
“Kamu beda, Liora.”
“Bedanya apa?” tanya Liora heran.
“Kamu itu istri saya,” jawab Zelvin.
Liora tersenyum. Pipi memerah. Dia malu dan salah tingkah.
...****************...
“Ini buat kamu.”
Liora mengerutkan keningnya, “Bunga?”
Zelvin mengangguk, “Yes, for you.”
Liora tersenyum, “Terima kasih. Tapi, dalam rangka apa?”
“Sebagai permintaan maaf saya," ujar Zelvin.
Liora mengangguk pelan. “Jangan diulangi lagi, aku nggak suka.”
Zelvin mengangguk, dia mengecup kepala Liora. “Saya janji.”
“Tutup mata kamu sialan, ini adegan dewasa!” celetuk Alice sambil menyenggol lengan Griffin Posisi mereka saat ini adalah mereka sedang berada di depan pintu yang membuat mereka bisa melihat dengan jelas kedua insan itu.
“Kamu yang harusnya tutup mata, kamu masih anak kecil!” sahut Griffin
“Mana ada, aku udah 25 tahun ya!” sewot Alice.
“25 tahun? Belum nikah? Nggak laku kamu?!” ejek Griffin.
Alice berkacak pinggang. “Maksud kamu apa bilang gitu? kamu nggak punya kaca? Ngaca dong! 27 tahun belum nikah, keburu jadi bujang lapuk kamu!” balas Alice memaki Griffin dengan nada kesal.
Griffin membulatkan matanya ketika mendengar semua makian Alice. “Kamu ya! Ngajak gelud kamu sama aku? Gini-gini juga, aku masih kuat. Mau apa kamu?!”
"Kuat kepala kamu gundul. Jalan sedikit aja, udah loyo!” ledek Alice.
“Kamu kok nyebelin sih, Al. Makan apa kamu
semalam? Angkuh banget cara bicara kamu.”
“Makan kimchi. Mau apa kamu?”
__ADS_1
Tuk!
Griffin mendorong kepala Alice, membuat gadis itu meringis kesakitan. “Aws. Kamu apa-apaan sih!”
“Disini nggak ada kimchi ya. Restoran Korea saja nggak jarang ada disini!” protes Griffin.
“Kemarin aku makan mie instan, soalnya aku lupa makan malam. Jadi, jam 12 malam aku bangun,” ungkap Alice dengan nada yang lebih kalem.
“Kenapa nggak bangunin aku? Aku bisa masak buat kamu,” tanya Griffin.
“Kamar kamu jauh, dapur lebih dekat, aku malas.”
“Kan ada telepon,” imbuh Griffin.
“Aku nggak kepikiran, Griff. Dan lagi, mungkin kamu udah tidur.”
“Kemarin aku tidur jam 1. Si bos nyuruh aku buat file untuk meeting,” ucap Griffin.
Alice membulatkan matanya, “Sial. Kita kan lagi ngintip si bos sama Nyonya Liora, lah kok sekarang nggak ada?” beo Alice ketika melihat ke depan pasangan itu sudah tidak ada di hadapannya lagi. “Gara-gara kamu sih!”
Griffin hanya mengangguk. Berdebat dengan Alice adalah pilihan salah baginya, karena Alice selalu ingin menang. Namun meski begitu, mereka akan selalu damai dengan sendirinya.
...****************...
“Udah mandinya?” tanya Zelvin kepada Liora yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Liora mengangguk, dia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, “Kamu dari mana?”
“Luar.”
“Ngapain?”
“Merokok,” jawab Zelvin.
Liora menoleh, dia menatap Zelvin yang duduk di atas sofa. “Kamu merokok? Sejak kapan? Kok aku nggak tau,” tanyanya.
“Sudah lama.” Zelvin memang seorang perokok tapi pasif bukan aktif, dia merokok disaat waktu-waktu tertentu saja.
“Kenapa harus diluar?”
“Biar asapnya nggak ke kamu, Liora.”
Liora mengangguk. “Besok saya tidak bisa menemani perjalanan kamu. Saya sudah suruh Juno untuk menemani kamu, tapi ingat, jangan terlalu dekat,” peringat Zelvin.
Liora mengangguk, “Iya.”
“Selalu kabari saya, kapanpun dan dimanapun.”
“Iya.”
Zelvin berdiri dari duduknya. “Udah ngeringin rambutnya?”
Liora mengangguk “Kalau gitu, kamu harus tidur, Jangan nonton drama. terus baru tidur.”
__ADS_1
"Iya kak!"
...----------------...