
"Apakah takaran ku sudah benar, Bi?" tanya Yuna yang sedang memasukkan bumbu ke dalam masakannya.
Marine menghampiri Yuna dan melihat masakkan yang sedang dibuat oleh majikannya.
"Nyonya, biar saya saja yang menyiapkan semuanya. Saya takut Tuan muda marah jika melihat Anda memasak seperti ini," ucap Marine cemas.
"Marah kepada siapa, Bi?"
Marine menundukkan kepalanya. "Kepada saya."
Yuna menghembuskan napasnya secara kasar. "Bibi tenang saja. Jika dia memarahi Bibi, aku akan memarahinya juga. Sekarang periksalah makananku, apakah semuanya sudah pas?"
Marine pun menuruti keinginan Yuna dan mencoba masakannya. "Ini tidak buruk Nyonya, semuanya sudah pas." Marine tersenyum bangga kepada Yuna.
"Benarkah? Baiklah, aku semakin bersemangat untuk memasak, karena ini pertama kalinya aku memasak masakan khas China." Mata Yuna terlihat sangat berbinar. Ia bahagia saat ini.
Suara ketawa Marine yang tadi terdengar pun tiba-tiba menghilang seperti tertiup angin. "Nyonya, ada seseorang yang sedang menatap kita seperti seorang pembunuh." Marine berbisik kepada Yuna.
Hal itu membuat Yuna dengan perlahan memutar tubuhnya, dan ia melihat di belakangnya sudah terdapat Jayden yang sedang berdiri dengan tangan yang dilipat di dada menatapnya dengan begitu tajam.
"Hai, sayang!" sapa Yuna dengan tersenyum polos.
Sedangkan Marine memilih untuk meninggalkan mereka berdua dan keluar dari dapur. Setelah Marine memilih untuk meninggalkan mereka berdua dan keluar dari dapur. Setelah Marine pergi, Yuna kembali melakukan kegiatannya untuk menyelesaikan masakannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jayden yang kini berada di samping Yuna.
"Apa kamu nggak lihat? Aku sedang memasak untuk makan malam nanti." Yuna sangat fokus dengan kegiatannya. Seakan ia tidak ingin diganggu.
Tiba-tiba Jayden memeluk tubuh Yuna dari belakang. "Siapa yang mengizinkanmu untuk memasak, huh?"
Yuna merasa geli ketika Jayden meniup-niup kecil tengkuk dan telinganya.
"Aku. Kenapa? Kamu akan memarahiku?" balas Yuna.
"Of course, aku akan memarahi mu jika kamu terluka akibat peralatan dapur sialan ini!" Jayden menggigit telinga Yuna yang membuat tubuh Yuna meremang.
__ADS_1
Yuna hanya memutar kedua bola matanya. Tiba-tiba Yuna teringat akan sesuatu. Ia membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan sang suami.
"Bagaimana kondisimu, Jay? Apa kamu masih sakit?" Cemas Yuna seraya menempelkan punggung tangannya di kening Jayden.
"Tubuhmu masih hangat, Jay. Kita harus ke Dokter setelah makan malam ya"
Jayden menggelengkan kepalanya seraya tersenyum manis. "Aku gapapa sayang. Nggak perlu ke Dokter."
"Kenapa kamu sangat keras kepala sekali! Astaga, kamu sedang sakit, Jayden!" oceh Yuna merasa kesal.
Jayden mengecup bibir manis Yuna secara singkat, hanya sebuah kecupan.
"Apa kamu masih pusing?" tanya Yuna melembut.
"Sedikit."
"Baiklah, jika kamu nggak mau diperiksa maka itu nggak jadi masalah. Namun jika rasa sakit mu semakin parah, aku akan menyeret mu ke Dokter. Bagaimanapun caranya!" Jayden hanya mengangguk mendengar perkataan Yuna.
Setelah itu Yuna membalikkan tubuhnya kembali untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Dengan posisi Jayden yang masih memeluknya.
"Kamu mandilah terlebih dahulu. Tapi ingat, mandi menggunakan air hangat. Aku sudah menyiapkannya. Setelah kita makan malam, kamu harus langsung istirahat. Jangan menyentuh pekerjaan apapun!" oceh Yuna.
"Nggak. kamu itu sedang sakit. Lagi pula aku nggak mau tertular olehmu!"
Jayden terkekeh mendengar ucapan Yuna. "Aku nggak ingin menularkannya padamu, aku nggak mau kamu sakit. Lebih baik aku saja yang sakit. Ya sudah, aku pergi ke kamar dulu ya?"
Yuna hanya menganggukkan kepalanya. Jayden menarik wajah Yuna dan mencium keningnya sebelum ia benar-benar keluar dari dapur.
Mereka berdua sedang menikmati makanannya di meja makan. Yuna begitu lahap dengan makanannya. Sedangkan Jayden ia terlihat tidak bersemangat.
"Apa masakan aku nggak enak?" Yuna menatap wajah Jayden dengan ekspresi sedih.
"Bukan begitu, sayang. Masakan mu sangat enak. Tapi aku lagi nggak nafsu untuk makan. Seperti yang kamu tahu, belakangan ini aku kehilangan nafsu makanku."
Memang benar, beberapa hari ini Jayden memang kehilangan nafsu makannya. Ia selalu tidak menghabiskan makanannya meskipun porsinya hanya sedikit.
__ADS_1
"Aku nggak mau tahu, kamu harus menghabiskan makananmu!"
"Tentu, aku akan menghabiskan makanan buatan Istriku ini." Jayden mengusap rambut Yuna secara lembut. Sebelum ia melahap kembali makanannya.
Setiap suapan yang masuk ke dalam mulut Jayden tidak lepas dari penglihatan Yuna. Jayden sangat tampan dengan kaos hitam polos yang terbalut di tubuhnya. Rahang tegas itu terlihat sangat seksi saat ia mengunyah makanan yang masuk kedalam mulutnya. Bibir yang merah merona milik Jayden selalu menggoda agar segera Yuna cicipi. Bulu mata yang lentik dan panjang memberikan kesan yang sangat indah bagi mata Jayden. Yuna sangat memuja semua yang ada pada tubuh suaminya.
"Kamu sedang memperhatikan apa, honey?" Pertanyaan Jayden membuat lamunan Yuna menjadi buyar.
"Suamiku sangat tampan. Hingga membuatku ingin melakukannya saat ini juga!" Yuna berkata dengan jujur. Tentu saja membuat Jayden terkejut, karena wanita polosnya kini sudah berubah menjadi wanita yang liar. Jayden sangat menyukainya.
"Tadi kamu bilang nggak mau, karena takut tertular olehku," ejek Jayden.
"Aku nggak peduli, siapa suruh kamu terlihat sangat menggoda malam ini!" Yuna beranjak dari duduknya, dan memilih untuk duduk di pangkuan Jayden sebelum ia menyerbu bibir nakal Jayden yang terus menggodanya dari tadi.
Jayden sedikit kewalahan karena serangan Yuna yang secara tiba-tiba, namun setelah itu Jayden tidak kalah panas untuk mencumbu bibir Yuna.
Sebelumnya, Yuna selalu menghindar dan marah bahkan ia pernah menangis saat Jayden meminta haknya. Jayden sudah merindukan kehangatan wanita itu, oleh karenanya dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Mereka saling mencumbu dengan liar di meja makan. Tidak peduli jika ada orang lain yang akan melihatnya. Mereka berdua sudah terbuai oleh nafsu dan gairah yang selalu menggebu-gebu dalam diri mereka.
Jayden menyingkap dress Yuna hingga sebatas leher, hal itu mempermudah dirinya untuk memberikan kecupan-kecupan panas pada tubuh wanita itu.
"Cepat lakukan, Jayden! Aku tidak tahan!" erang Yuna memohon.
Dengan senang hati, Jayden mengabulkan apa yang diinginkan oleh Istri cantiknya itu.
Ia melepaskan underwear milik Yuna yang dibantu juga oleh Yuna, setelah itu Jayden membuka kancing celana jeansnya untuk segera menyatukan tubuhnya dengan Yuna.
Yuna tersentak ketika secara kasar Jayden menyatukan tubuh mereka. Hingga Yuna harus meremas rambut Jayden dengan sangat keras.
"Bergeraklah, sayang." Jayden mencengkram pinggang Yuna.
Yuna sedikit canggung jika dirinya harus memimpin permainan ini. Namun ia terlanjur terbuai oleh gairahnya. Maka ia melakukan apa yang dikatakan oleh Jayden. Ia bergerak di atas pangkuan pria itu.
Mereka benar-benar memadu kasih di meja makan, saling mendes*h dan memuaskan satu sama lain. Persetan jika para pelayan atau pengawalnya mengetahui kegiatan mereka. Sungguh mereka tidak peduli. Karena mereka sudah dibutakan oleh kenikmatan yang tidak bisa mereka tahan.
__ADS_1
Hingga kegiatan mereka berlanjut di kamar. Setelah mereka sedikit sadar akan perbuatannya, Jayden segera menggendong Yuna untuk membawanya ke dalam kamar, dengan posisi mereka yang masih menyatu. Karena ia ingin lebih leluasa untuk memadu kasih dengan Yuna.
...----------------...