
"Jayden!" panggil seseorang. Sontak Jayden dan Yuna menatap ke sumber suara, Jayden terkejut melihat keberadaan Sonya disini. Siapa yang mengundangnya kesini? pikir Jayden. Sedangkan Yuna bertanya-tanya siapa perempuan yang memanggil kekasihnya itu.
Saat Sonya mulai mendekat, Jayden langsung memasang tampang wajah dingin dan menambah erat rangkulan tangannya di pinggang Yuna.
"Hai Jay," sapa Sonya tersenyum manis. Jayden tidak menanggapinya dan hanya diam memandang datar Sonya. Sonya melirik Yuna dengan tatapan sinis sebab ia melihat tangan Jayden berada di pinggangnya Yuna.
"Dia siapa kamu, Jay?" tanya Sonya bertanya tentang Yuna.
"Oh kenalkan aku, Yuna. Pacarnya Jayden," sahut Yuna memperkenalkan diri. Sonya sungguh syok, ia pun menatap Jayden meminta penjelasan.
"Kamu salah sayang, kamu itu calon istriku," ucap Jayden sambil mencium pipi Yuna, membuat Yuna melotot kan matanya kepada Jayden karena berani-beraninya laki-laki itu menciumnya di depan umum seperti ini. Sementara Sonya, ia meremas ujung dress-nya, hatinya terasa panas. Sonya sangat cemburu melihat kemesraan Jayden dan Yuna.
"Lebih baik kita samperin teman-teman yang lain yuk, acaranya udah mulai," ajak Jayden, ia juga udah muak melihat Sonya. Yuna hanya mengangguk mengiyakan ajakan Jayden, walau di dalam hatinya sangat penasaran siapa sebenarnya Sonya bagi Jayden. Lalu mereka berdua mencari keberadaan teman-temannya yang lain. Sonya menatap nanar punggung mereka berdua.
'Jayden itu hanya milikku, Sonya Park,' batin Sonya sambil mengepalkan tangannya.
"Yuna!" panggil Deana.
"Eh Deana, kamu sendirian kesini?" tanya Yuna.
Deana menganggukkan kepalanya, "Iya aku sendirian kesini." Deana sangat bahagia melihat Yuna dan Jayden bisa bersama kembali, akhirnya dua sejoli yang saling mencintai itu bersatu lagi.
"Kenzo nggak ikut kesini?" tanya Yuna lagi.
"Kenzo lagi sibuk katanya, tapi nggak tau sibuk ngapain tu orang," jawab Deana acuh. Yuna hanya mengangguk, temannya yang satu itu memang suka sibuk.
"Akhirnya kalian balikan juga, selamat ya kalian berdua," ucap Deana. Yuna dan Jayden tersenyum mendengar ucapan Deana tadi.
"Makasih, Deana."
"Thanks, Deana."
"Kalau kamu kapan nih punya pasangan?" tanya Yuna menggoda Deana.
"Aku sih--" Tiba-tiba Arthur datang memotong ucapan Deana.
"Tenang aja, Yuna. Deana kan sama aku," ucapnya sambil merangkul pundak Deana.
Deana menatap tajam Arthur, "Arthur lepas ih!" suruhnya. Namun Arthur tak melepaskan rangkulannya.
"Kamu suka sama Deana?" Yuna tadi kaget saat Arthur datang dan langsung merangkul sahabatnya.
"Iya aku suka sama Deana," jawab Arthur sambil menatap Deana dengan tatapan cinta.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu suka sama Deana, Arthur?" sahut Jayden heran.
"Sejak saat mereka ospek dan lebih tepatnya saat mereka kamu hukum dulu," jelas Arthur jujur. Bisa dibilang Arthur menyukai Deana saat pandangan pertama, ia langsung jatuh hati kepada gadis berambut pendek itu.
Jayden berdecak, "Kok kamu nggak pernah cerita ke aku sama anak-anak kalau kamu suka sama Deana." Anak-anak yang Jayden kira adalah member D'Warlords yang lain.
"Ya aku malu cerita sama kalian," ujar Arthur sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Kalau kamu cerita, aku kan bisa bantuin kamu untuk dekat dengan Deana!" ucap Jayden yang greget dengan sahabatnya itu.
"Kamu serius mau bantuin aku?"
Jayden memutar matanya, "Iya aku serius lah, memang kamu pernah menyatakan perasaan kamu ke Deana?" tanyanya.
"Bukan pernah lagi, tapi sering, Jay. Tapi ya aku selalu di tolaknya," jelas Arthur tersenyum kecut, tangannya langsung ia turunkan dari pundak Deana.
Deana malu dan tak enak hati saat mendengar ucapan Arthur tadi, memang bener ia selalu menolak Arthur, ketika lelaki itu mengungkapkan perasaan padanya.
"Kenapa bisa gitu?" tanya Jayden heran.
Seorang Arthur Lee member D'Warlords di tolak mentah-mentah? Hell no, pasti otak perempuan itu sedang bermasalah.
"Sudah sudah, nanti lagi ceritanya. Acaranya udah mau mulai tuh," lerai Yuna. Sebab ia yakin omongan mereka akan sangat panjang jika dilanjutkan. Mereka bertiga pun hanya bisa mengangguk mengikuti ucapan Yuna.
"Yang lain kemana, Ar?" Jayden menanyakan keberadaan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Ayo kita ke mereka," ajak Jayden. Jari-jemarinya ia lekatkan ke jari Yuna, mereka bertiga langsung mengangguk menyetujui ajakan Jayden. Lalu mereka berempat mendekati Felix, Levin, David dan Nathan.
"Hay guys," sapa Jayden.
"Wow, ada couple baru nih," goda Felix. Jayden tidak menanggapi godaan dari sahabatnya itu sedangkan Yuna hanya tersenyum.
"William kemana? Kok belum kelihatan?" tanya Jayden.
"Mungkin dia masih siap-siap di kamarnya," sahut Levin. Jayden pun hanya manggut-manggut mengerti.
Acara pertunangan William dengan Olivia pun akan segera dimulai. Namun William belum juga keluar.
"William mana Pa? Kok belum keluar sih? Acara mau mulai loh," ucap Emily gelisah karena anak tirinya itu belum juga keluar dari kamarnya.
Wilson pun pada akhirnya memerintahkan kepada asisten pribadinya untuk memanggil sang putra.
"Pak Frans tolong panggilkan William di kamarnya," titahnya.
__ADS_1
"Baik Tuan." Frans langsung bergegas berlari ke kamar William.
Beberapa saat kemudian, Frans kembali dengan wajah panik dan napas yang terengah-engah.
"T-tuan ..."
"William nya mana?" tanya Wilson.
"Tuan muda tidak ada di kamarnya," jelas Frans.
"Apa!" teriak Wilson terkejut dengan penuturan Frans.
"Bagaimana bisa William tidak ada di kamarnya?!" bentak Wilson, wajah pria paruh baya itu sudah memerah sampai urat-urat lehernya terlihat keluar saking marahnya.
"Maaf saya tidak tau, Tuan," ucap Frans menunduk takut.
"Cepat kerahkan semua anak buah saya untuk mencari William di seluruh mansion ini sampai ketemu!" titah Wilson.
"Baik Tuan."
Frans langsung menyuruh seluruh anak buah Wilson yang sedang berjaga untuk mencari William di seluruh mansion ini.
"Ma, Pa gimana kalau William nggak ada," ujar Olivia yang takut jika pertunangannya dengan William gagal.
"Sabar sayang, William pasti ketemu kok," balas Haruka menenangkan sang putri.
"Iya sabar nak, paling William lagi pergi cari angin sebentar disekitar sini," timpal Nicko yang ikut menenangkan Olivia, walau dihatinya sangat gelisah jika pertunangan ini batal akan bisa membuat dirinya malu di depan semua kolega bisnisnya.
Yuna, Deana dan member D'Warlords lainnya juga ikut khawatir serta panik mendengar William yang tidak ada di kamarnya. Mereka yakin William pergi karena tak menginginkan pertunangan ini terjadi.
"Kok bisa ya William nggak ada di dalam kamarnya? Kemana dia?" ucap Nathan.
"Felix, coba kamu telpon William!" suruh Jayden.
Felix langsung mengangguk dan mencoba untuk menghubungi William, namun nihil, ponsel William tidak aktif.
"Nggak bisa, Jay. Nomornya nggak aktif," ujar Felix membuat semua membuang napas berat.
"Kamu kemana sih, Will," gumam Jayden.
"Mungkin karena dia memang nggak mau dijodohin makanya tu anak kabur," celetuk David dan dibenarkan oleh semuanya.
"Kayaknya sih memang gitu," timpal Levin.
__ADS_1
'William kamu kemana?' batin Yuna sangat mengkhawatirkan William.
...----------------...