
Merasa bosan, Yuna beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju ke lemari rak buku yang terdapat di ruangan Jayden. Yuna memilih beberapa buku tentang ilmu bisnis untuk ia baca, kemudian Yuna kembali ke sofa.
Sesekali Jayden melirik ke arah gadisnya, "Dasar gadis kutu buku," gumamnya tersenyum dan melanjutkan kembali berkutat dengan komputernya.
Satu jam fokus membaca, mata Yuna terasa memanas dan memberat, "Ya ampun ngantuk banget sih, lebih baik aku tidur aja," ucap Yuna menaruh buku yang tadinya dibawa lalu membaringkan tubuhnya di sofa panjang itu, tak lama matanya pun tertutup.
Jayden kembali melirik Yuna, ia terkejut melihat gadis itu tertidur di sofa, "Astaga dia tertidur."
Jayden berdiri menghampiri Yuna yang berada di sofa, ia berjongkok di depan wajah Yuna, "Cantik banget sih kalau tidur begini," ucapnya pelan seraya mengelus puncak kepala Yuna.
"Pasti badannya sakit kalau tidur di sofa, lebih baik aku bawa dia tidur ke kamar aja." Sedetik kemudian, Jayden mengangkat tubuh Yuna membawanya ke dalam kamar pribadinya yang ada di ruang kerjanya. Yuna terusik dengan gerakan saat Jayden mengangkatnya.
"Ussttt tidur lagi sayang," ucap Jayden. Yuna pun kembali tertidur dengan pulasnya. Jayden hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah gadisnya itu.
Jayden membaringkan tubuh Yuna di atas ranjang dengan perlahan, "Tidur yang nyenyak ya sayang." Jayden mencium kening Yuna cukup lama, setelah itu ia keluar dari kamar pribadinya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Tepat pukul 1 siang Yuna mulai terusik dari tidurnya, dengan perlahan matanya terbuka. Yuna mengerjapkan mata melihat ke sekeliling dengan tatapan keheranan, kamar ini terlihat asing di penglihatannya.
"Aku di kamar siapa? Nggak apa tadi aku di ruangan Jayden?" ucap Yuna bingung, ia merubah posisinya menjadi duduk.
"Apa ini kamar pribadi milik Jayden ya?" Monolog Yuna terus berbicara sendiri. Setelah melihat foto Jayden yang terpampang di kamar itu, dari sanalah ia mengerti bahwa kamar ini adalah kamar pribadi Jayden yang ada di kantornya.
Yuna turun dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah selesai, Yuna keluar dari kamar, ia melihat sang kekasih sedang sibuk dengan tumpukan berkas di hadapannya, padahal waktu sudah menunjukkan jam istirahat makan siang. Yuna tersenyum, Jayden semakin terlihat tampan saat terlihat fokus seperti itu.
"Jay," panggil Yuna membuat atensi Jayden pada berkas-berkas bernilai ratusan juta won itu teralihkan.
"Eh sayang, udah bangun?" tanyanya. Yuna mengangguk.
"Duduk disini sayang," suruh Jayden menepuk-nepuk pahanya.
Yuna mengerutkan keningnya, "Mau ngapain?"
"Duduk di pahaku sayang."
"Nggak!" tolak Yuna. Otaknya mulai berpikiran yang aneh-aneh.
"Aku janji nggak akan apa-apakan kamu sayang," ucap Jayden yang seakan mengerti arah pikiran Yuna.
__ADS_1
Yuna mengangguk pasrah, lalu mendekati dan duduk menyamping di atas paha Jayden. Jayden langsung memeluk perut Yuna dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yuna menghirup aroma parfum yang dikenakan oleh gadis itu membuatnya terlena.
"Capek ya sayang?" tanya mengelus rambut Jayden.
"Dikit, sayang," jawab Jayden dengan nada seperti bergumam.
"Sekarang pekerjaannya masih banyak?"
"Nggak udah selesai kok."
"Ayo kita makan siang dulu, kamu pasti lapar," ajak Yuna.
"Iya sayang, aku sudah lapar. Kamu mau makan dimana?" tanya Jayden menatap Yuna.
"Disini aja, aku malas keluar." Kini giliran Yuna yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jayden. Jayden tersenyum, gadisnya ini sepertinya ingin bermanja-manja dengannya.
"Ya sudah, kamu mau makan apa sayang?" tanya Jayden dengan lembut, tangannya mengelus punggung Yuna.
"Makan junkfood boleh?" pinta Yuna mendongak menatap Jayden.
"Boleh, tapi nggak boleh banyak-banyak, soalnya nggak baik untuk kesehatan. Memangnya mau makan apa?"
"Memangnya bisa kamu habiskan semua itu?" tanya Jayden heran dengan pesanan Yuna yang begitu banyak.
"Bisa, tapi kamu yang bantu," jawab Yuna nyengir.
Jayden geleng-geleng kepala, "Kamu ini. Ya sudah, aku suruh Robert pesankan kamu makanan dulu."
Yuna hanya mengangguk, tangan Jayden mengambil telepon kantor lalu menekan beberapa angka untuk menelpon Robert dan memberitahu semua makanan yang di pesan oleh Yuna tadi.
"Sudah?" tanya Yuna setelah Jayden kembali meletakkan telepon.
"Sudah sayang, tinggal tunggu saja."
Yuna mengangguk, ia kembali menaruh wajahnya di dada bidang Jayden. Hening sejenak, setelah itu Yuna bertanya pada Jayden.
"Jay."
__ADS_1
"Kenapa sayang?"
"Apa setelah lulus S1 ini, kamu akan melanjutkan ke S2?" tanya Yuna. Pertanyaan ini lah yang semalam terus menghantuinya dan sangat gatal ingin menanyakan hal itu kepada Jayden.
"Nggak sayang, aku langsung kerja aja. Soalnya aku pengen cepat-cepat melamar kamu jadi istri aku," jawab Jayden sambil mengecup puncak kepala Yuna.
"Ish, pikiran kamu ke sana mulu!" kesal Yuna memukul bahu Jayden, tak ayal hati Yuna bahagia karena Jayden benar-benar mencintainya.
"Aku kan pengen bareng-bareng terus sama kamu," ucap Jayden semakin mengeratkan pelukannya. Itu salah satu alasannya, tapi alasan lainnya adalah Jayden tak ingin Sonya mengganggunya lagi jika nanti dirinya telah menikah dengan Yuna.
"Sabar sayang, aku juga kan masih kuliah," balas Yuna.
Jayden berdecak sebal, "Kamu kuliahnya masih 3 tahun lagi, itu lama banget sayang," rengeknya.
Yuna hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan Jayden, sebenarnya ia juga ingin menikah. Tapi bukan sekarang, Yuna masih ingin mengejar cita-citanya terlebih dahulu.
"Kita duduk di sofa aja yuk? Aku capek duduk begini terus," ujar Yuna.
"Tapi aku pengen peluk kamu sayang," balas Jayden tak mau melepaskan pelukannya.
"Iya aku ngerti sayang, kamu boleh peluk aku sepuasnya tapi sambil duduk di sofa ya? Masa kamu tega liat aku sakit pinggang gara-gara kelamaan duduk menyamping begini?" bujuk Yuna yang sudah tak nyaman duduk begini, apalagi ia merasakan tonjolan di bawahnya yang membuat Yuna bergidik ngeri. Hei, begini-begini otak Yuna mengerti dengan hal-hal yang berbau dewasa, otaknya itu tidak terlalu polos.
Dengan berat hati Jayden pun nurut, Yuna bernapas lega dan langsung turun dari pangkuan Jayden. Mereka berjalan menuju ke sofa dan menduduki diri mereka disana.
30 menit kemudian, pesanan mereka pun datang.
"Permisi Tuan, ini pesanan anda," ucap Robert membawa 2 kantung plastik berisi makanan serta minuman pesanan Yuna.
"Taruh saja di atas meja," suruh Jayden. Robert mengangguk menurut, ia menaruh kantung plastik tersebut di atas meja.
"Terima kasih asisten Robert," ucap Yuna.
"Sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi Tuan, Nona," pamit Robert sambil menundukkan sedikit kepalanya. Yuna dan Jayden hanya mengangguk, kemudian Robert keluar dari ruangan atasannya.
"Ayo dimakan makanannya," suruh Jayden.
"Iya, kamu juga."
__ADS_1
"Iya sayang."
...----------------...