
Flashback on.
Zelvin masuk ke dalam sebuah restoran. Tatapan Zelvin langsung berhenti ketika melihat seorang wanita yang duduk di meja pojok, dia langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri wanita itu. Erica menyadari kedatangan Zelvin, dia langsung tersenyum tipis kepada mantan suaminya itu.
“Zelvin, ayok duduk,” ucap Erica.
Zelvin langsung duduk di depan Erica. Dia memperhatikan wanita yang duduk di depannya. Tidak ada yang berubah, kecuali tubuhnya yang sedikit berisi tapi masih terlihat cantik. Rambutnya diwarnai, dulu saat wanita ini menjadi istrinya, Erica sangat anti untuk mewarnai rambutnya.
Jantungnya berdetak sangat cepat. Entah mengapa, ingatan saat Erica selingkuh masih menjadi memori yang sulit dilupakan. Tidak. Zelvin sudah berusaha melupakan kejadian itu, tapi sulit.
Zelvin mengatur napasnya, supaya dia tidak terbawa emosi dengan bayangan masa lalu.
“Mau makan? tawar Erica.
“Langsung ke intinya saja. So, saya mohon jangan temui Liora lagi. Berhenti menghasut Liora!” peringat Zelvin dengan tegas. Erica menelan ludahnya dengan susah payah, melihat tatapan tajam Zelvin membuat Erica sedikit grogi.
“Zelvin, dengerin aku dulu. Aku—”
“Erica cukup! Mau sampai mana kamu ingin menghancurkan hidup saya? Kalau yang menjadi alasan adalah Emmanuel. Lalu, kemana saja kamu saat Emmanuel membutuh kamu disampingnya? Kamu keluar negeri bersama suami baru kamu dan meninggalkan Emmanuel, kalau kamu lupa. Sekarang, kamu berlagak seolah-olah kamu ibu yang selalu ada untuk Emmanuel. Berhenti. Jauhi Liora dan kehidupan saya!” potong Zelvin.
“Zelvin, dengerin—”
“Jujur Erica, jika bukan karena Liora, saya malas untuk bertemu kamu. Bahkan, kalau bisa saya nggak pernah ketemu kamu lagi—”
“Stop, Zelvin! Saya tahu, saya salah karena perselingkuhan itu. Tapi, saya masih ibu Emmanuel. Aku sayang Emmanuel, Zelvin. Aku mohon izin kan aku untuk memenuhi tugasku sebagai seorang Ibu kepada Emmanuel. Aku nggak akan ganggu kamu dan Liora, tapi aku mau Emmanuel tahu bahwa aku juga adalah ibunya!"
“Tidak. Liora adalah Ibunya bukan kamu. Jadi stop mendekati Liora. Liora memang baik, tapi jangan berharap kalau kamu bisa memanfaatkan kebaikannya," ujar Zelvin.
Erica membuang napasnya. Rasanya dia ingin menangis, tapi tidak di depan Zelvin. Ini lah alasan dia tidak mau menemui Emmanuel meskipun Liora menawarkannya, Zelvin akan sangat marah jika mereka ketahuan. Erica tidak ingin menambah masalah. Erica akan menemui Emmanuel jika semuanya sudah memaafkannya. Erica akan berusaha membuat mereka mengizinkannya menemui putranya. Erica akan memperbaiki kesalahannya.
“Zelvin—”
“Erica, saya mohon, ini terakhir kali kita bertemu.” Zelvin berdiri dan langsung pergi meninggalkan Erica.
“Zelvin,” panggil Erica lirih menatap punggung Zelvin yang telah menjauh.
Flashback off.
“Kita sedang membahas tentang Emmanuel,” celetuk Zelvin setelah beberapa menit terdiam.
"Terus kenapa bohong sama aku?”
Zelvin terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena bagaimanapun dia salah karena telah berbohong. Liora melepaskan pelukannya, dia mengalungkan tangannya di leher Zelvin. Dia bisa melihat dengan jelas wajah Zelvin yang tampan itu.
“Kak, apapun itu, tolong kasih tahu aku ya? Aku nggak akan marah kalau kamu berkata jujur. Sekarang, aku nggak marah sama kamu karena aku tahu masa lalu kamu sangat berat dan aku mengerti hal itu. Tapi kita mulai dari hal kecil ya? Sekarang kita mulai saling jujur, oke?” pinta Liora sambil mengelus kepala Zelvin.
Zelvin tersenyum. Respon Liora sangat jauh dari dugaannya.
“Keanna.” Zelvin langsung menarik Liora kedalam pelukannya lagi. Kebaikan apa yang telah dia lakukan sehingga memiliki istri sebaik Liora.
“Kamu pokoknya yang terbaik. Nggak ada yang baik selain kamu. Kamu cantik. Cantik. Cantik,” puji Zelvin.
“Ish, apaan sih kak, berlebihan banget.”
“Diam. Aku lagi menghayati.”
“Aku?” beo Liora. Ini pertama kalinya Zelvin memanggil dirinya dengan sebutan aku di depan Liora.
__ADS_1
Zelvin menyimpan kepalanya di pundak Liora. “Diam, Liora.”
Liora terkekeh, dia mengangguk kecil lalu membalas pelukan Zelvin.
...****************...
“Liora,” panggil Zelvin.
“Iya?”
“Liora.”
“Apa, kak?”
“Liora.”
Liora menatap Zelvin yang terus memanggilnya, “Iya, ada apa sih? Kenapa?” kesal Liora.
Zelvin tersenyum. “Hehe, kamu cantik kalau kesel. Sore, mau jalan-jalan nggak?” tawar Zelvin.
“Kemana?”
“Ke taman yang dekat dengan sungai Han.”
“Mau ngapain?”
"Ya kan jalan-jalan, jadi di taman itu nanti kita jalan-jalan. Gitu saja nggak ngerti,” ejek Zelvin.
“Boleh kak! Tapi sekarang kamu kerja dulu, nanti sore jemput aku ke mansion,” tutur Liora.
Zelvin mengangguk. “Oke, cantik.”
Zelvin mengangguk. “Iya, sayang. Akan aku makan.”
Liora tersenyum lebar.
“Aku pergi ya,” ucap Zelvin lalu mencium kening Liora.
Di pinggiran sungai Han di sore hari memang selalu ramai. Banyak sekali orang orang yang jalan santai, jogging, bersepeda, dll. Seperti mereka saat ini, Liora dan Zelvin sedang jalan santai dengan ditemani obrolan ringan yang membuat mereka sesekali terkekeh.
“LIORA!”
Liora membalikkan badannya. Dia menatap Jennie yang sedang berlari ke arahnya, Liora melebarkan senyumnya.
“Liora, kamu disini juga?”
Liora mengangguk, “Kok kamu sama Rafael?” tanyanya sambil menatap ke arah Rafael.
Rafael membulatkan matanya. “Maksud kamu apa bilang gitu? Emang temen kamu punya berapa pria?” semprot Rafael.
Liora langsung nyengir kuda, “Aku hanya bercanda, Raf. Kamu ngapain disini, Jen?”
“Aku disuruh lari sama dia. Kamu mau tau, Lio? Aku sedang nonton drakor terus di paksa kesini buat lari. Dan kamu mau tau alasannya? Katanya orang yang kebanyakan nonton drakor meninggalnya bakal duduk. Ya aku nggak mau lah, makannya aku terpaksa mengiyakan ajakan dia,” gerutu Jennie menatap kesal Rafael.
Liora terkekeh, dia mengacungkan jempol kepada Rafael. “Cuma kamu yang bisa bujuk Jennie.”
“Iya dong,” ucap Rafael dengan bangga.
__ADS_1
“Kamu sama suami kamu mau olahraga juga?” tanya Jennie.
Liora menggelengkan kepalanya, “Enggak, kami hanya jalan-jalan aja disini.”
“Ya ampun, so sweet banget sih kalian. Ya udah, ayo kita barengan,” ajak Jennie.
“Barengan apanya? Kamu harus lari, bukan jalan!” sewot Rafael.
“Raf ih,” rengek Jennie.
“Inget, apa kata aku,” tegur Rafael.
“Ck, iya-iya. Nggak jadi barengan nih Lio, aku harus lari. Nanti aku samperin kamu ya?”
Liora mengangguk, “Semangat, Jennie.”
“Bye!”
Liora terkekeh sepeninggalan Jennie dan Rafael. Liora menarik tangan Zelvin untuk kembali jalan lagi. Liora menggandeng tangan Zelvin, menyenderkan kepalanya di lengan Zelvin.
“Kok diem? Kenapa?”
“Kamu berapa lama temenan sama mereka?” tanya Zelvin.
“Udah lama, lama banget. Soalnya Jennie anak dari sahabatnya Daddy dan Mommy, bisa dibilang Jennie itu masih keluarga jauhku dari Daddy,” jelas Liora. Yah, Jennie adalah anak dari pasangan Arthur dan Deanna.
Zelvin manggut-manggut, “Untung kamu nggak ketularan gila dari Jennie ya?”
Liora memukul lengan Zelvin yang sembarangan berbicara. “Sembarangan kalau ngomong, kalau Jennie dengar kamu bisa dimarahin. Kalau lagi marah, Jennie nggak mandang bulu.”
“Ya, aku marahin balik lah.”
“Kenapa dimarahin balik?”
“Berani banget marah-marah ke orang kaya dan tampan seperti aku.”
“Astaga kak! Kamu ini benar-benar terlalu percaya diri ya,” pekik Liora. Ya memang kaya dan tampan sih.
“Liora, kecilkan suara kamu. Orang-orang liat kamu tuh,” tegur Zelvin.
“Kak, malu ih,” cicit Liora ketika sadar bahwa orang orang di sekelilingnya sedang menatap ke arahnya.
“Ya salah kamu.”
“Kok nyebelin?”
Cup!
Zelvin mencium puncak kepala Liora. “Gemes banget.”
Sore ini, mereka menghabiskan waktunya di pinggir sungai Han. Tidak ada yang lebih bahagia selain bersama dengan seseorang yang kita sayangi, begitupun yang Zelvin rasakan. Semua penat, lelah dan pusing karena kegiatan kantor hari ini, semuanya hilang ketika dia melihat senyuman lebar Liora. Tidak apa-apa, meski ada teman Liora yang sedikit gila ini, tapi mereka mampu membuat Liora tersenyum lebar bahkan tertawa sampai suaranya hilang. Pemandangan yang indah.
“Disini siapa yang paling kaya?” tanya gadis yang berada di sebelah Rafael. Semuanya menatap Zelvin, Jennie tersenyum licik.
“Oke, kita di traktir suami Liora makan jjampong dan Jajangmyeon yang ada di restoran depan. Ayo!” ujar Jennie dengan semangat.
Nah kan, dia benar benar gila. Zelvin hanya mengangguk menurut saja.
__ADS_1
...----------------...