
"Sayang?" Zelvin membuka matanya, dia tersenyum tipis ketika merasakan tangan hangat milik istrinya menempel di pipi. Liora terlihat sangat cantik, rambutnya yang diikat menjadi satu dan menggunakan celemek.
"Kak, bangun yuk? Sarapannya sudah siap. Katanya, hari ini ada meeting. Bangun yuk?" pinta Liora dengan suara yang sangat lembut.
Zelvin merubah posisinya menjadi duduk. Dia heran, kenapa istrinya sangat cantik ketika hamil? Apa Zelvin harus membuat Liora hamil terus biar tetap cantik seperti ini? Tapi jika tidak hamil juga, Liora selalu terlihat cantik.
"Pagi," sapa Liora, sambil mencium kening Zelvin. Zelvin tersenyum, pagi pagi sudah mendapatkan kiss dari istri cantiknya.
"Pagi, sayang," balas Zelvin.
"Minta tolong buatkan kakak teh chamomile ya?" pinta Zelvin.
Liora mengangguk, "Iya, aku buatkan. Sekarang, mandi dulu."
Zelvin turun dari kasur, dia berjalan menuju kamar mandi.
Liora mengelus perutnya, tidak terasa tinggal menghitung hari, bayinya akan lahir ke dunia. Liora sudah tidak sabar, apalagi Dokter mengatakan bahwa kandungannya sehat dan kemungkinan Liora bisa melahirkan dengan normal.
"Baik baik di dalam ya baby," gumam Liora.
Liora membereskan tempat tidur. Setelah selesai, dia pergi ke kamar Emmanuel untuk membangunkan putranya itu. Hari ini, disekolah Emmanuel mengadakan lomba antar kelas. Putranya mengikuti beberapa lomba yang diadakan disekolah. Sebenarnya, Liora ingin menghadirinya, tapi Zelvin dan Emmanuel melarangnya.
"Nanti pulang sekolah, aku mau bawa kabar gembira untuk si bayi," ujar Emmanuel sambil memakai baju olahraganya Liora menyisir rambut Emmanuel, merapikan pakaian putranya.
"Mama tunggu ya, tapi apapun itu hasilnya Mama tetep bangga sama kamu," balas Liora.
Emmanuel tersenyum lebar, "Nggak bisa, aku harus bawa kabar gembira untuk adik bayi." kekeuh Emmanuel.
Liora membuang napasnya, sifat keras kepala Zelvin menurun dengan sempurna kepada Emmanuel. "Iya gantengnya Mama."
Mereka pun berjalan beriringan menuju meja makan.
Zelvin sudah duduk di meja makan menunggu Emmanuel dan Liora, "Pagi, Nuel." sapa Zelvin.
"Morning Daddy," balas Emmanuel, ia duduk di hadapan Zelvin.
"Gimana tidurnya, Dad?"
Zelvin mengerutkan keningnya, dia menatap Liora lalu kembali melihat putranya. "Harusnya Daddy yang bertanya seperti itu kan?"
Emmanuel nyengir, memperlihatkan gigi putihnya, "Gapapa, sekali-kali aku yang nanyain Daddy. Iyakan, Ma?" tanyanya.
Liora mengangguk, "Iya sayang."
"Tidur Daddy yenyak, gimana tidurmu?" tanya balik Zelvin.
"Sangattt nyenyak!"
"Kenapa?"
"Because i have mama Liora."
Zelvin terkekeh. Ada-ada saja putranya itu.
...****************...
"Tante Krystal?" gumam Zelvin.
Zelvin langsung berdiri dari duduknya, dia menghampiri Krystal. "Ada apa Tante? Tumben--"
__ADS_1
"Nenek Jasmine, meninggal," potong Krystal.
Deg!
Zelvin menatap Krystal dengan intens. Ingin tidak percaya, tapi melihat wajah serius dan mata sembab Krystal membuat Zelvin yakin. Tangannya seketika dingin, dia bingung harus menjelaskan bagaimana kepada istrinya. Liora sedang hamil 9 bulan, sebentar lagi anaknya akan lahir, Zelvin tidak ingin membuat Liora stress.
"Tan?"
Krystal mengangguk dengan air mata yang susah ditahan. "Iya Zelvin, tante Jasmine meninggal. Dia meninggal karena penyakit jantung dan sekarang jenazahnya akan dibawa ke Korea,” jelas Krystal.
“Liora?”
Krystal menggelengkan kepalanya, "Tante nggak sanggup untuk ngasih tahu langsung ke Liora, makannya Tante kesini. Zelvin, Tante nggak kuat liat Liora hancur."
Zelvin terdiam. Perasaannya kini menjadi tidak enak, bagaimana kondisi istrinya ketika mendengar berita ini?
"Mungkin nanti sore, jenazah tante Jasmine tiba di Korea dan langsung di kuburkan atas permintaan kak Yuna. Zelvin... jaga kondisi Liora. Tante khawatir sama keadaan dia, apalagi dia lagi hamil," tutur Krystal.
Tak lama kemudian, Krystal pamit. Meninggalkan Zelvin sendirian di ruangannya, Zelvin bingung. Dia harus bagaimana sekarang.
Griffin dan Alice masuk ke dalam ruangan Zelvin. Mereka melihat boss nya yang berdiam diri dengan tatapan kosong, Griffin dan Alice saling melempar tatapan.
"Tuan Zelvin?" panggil Griffin.
Zelvin menatap Griffin, di berjalan menuju kursi kebesarannya lalu duduk.
"Griffin, saya bingung harus bagaimana," ungkap Zelvin
"Apa yang terjadi, Tuan? Apakah proyek kita gagal? Mr. Jov membatalkan--"
"Nenek Liora dari pihak ibunya, meninggal."
Zelvin memijat kepalanya yang pening. Akhirnya, dia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya dan akan pergi ke mansion untuk menemui Liora.
"Sayang!"
"Sayang!"
"Liora!"
Zelvin terus berteriak memanggil istri nya karena tidak ada sahutan, apalagi keadaan rumah sangat sepi membuatnya tambah khawatir. "Bi, dimana Liora?" tanya Zelvin kepada Bi Maria.
“Nyonya Liora ada di kamar, tadi Ibu Tuan datang dan--"
Tanpa mendengarkan ucapan Bi Maria sampai selesai, Zelvin langsung berlari menuju kamarnya. Lututnya kini lemas, ketika melihat Liora terbaring lemah diatas kasur. Sudah ia tebak, ini pasti terjadi.
"Ma?" panggil Zelvin Marissa menatap putra nya, Marissa langsung memeluk Zelvin.
"Nenek Jasmine, meninggal Vin. Mama... Mama nggak tega liat Liora. Dia hancur ..." Tangis Marissa pecah di dalam pelukan Zelvin. Zelvin mengelus punggung Marissa, dia berharap Marissa tenang.
"Mama sudah, sekarang kita harus pikirkan kondisi Liora."
Marissa melepaskan pelukannya. Zelvin duduk disebelah Liora, dia memegang tangan Liora yang sangat dingin.
Zelvin mengusap jejak air mata di pipi Liora, "Sayang, bangun yuk?" ucap Zelvin sambil mencium punggung tangan Liora
“Ma, tolong panggil dokter," pinta Zelvin.
Marissa mengangguk.
__ADS_1
...****************...
"Kamu harus kuat ya, sayang? Kamu harus ikhlas ya cantik? Biarin Nenek pergi dengan tenang, kalau kamu terus nangis nanti Nenek nggak tenang perginya. Biarkan Nenek bahagia ya? Dia udah nggak merasakan sakit lagi."
Zelvin terus berusaha untuk membuat Liora tenang. Dari tadi, istrinya terus menangis tanpa henti. Zelvin mengerti, Liora pasti merasa sangat kehilangan apalagi dia sangat merindukan Neneknya.
Liora menggelengkan kepalanya, "Nenek jahat Kak. Masa aku--"
"Istriku, sayang jangan bilang seperti itu ya? Nenek nanti nangis. Kamu nggak mau bikin Nenek nangis kan?"
Mereka sudah sampai di depan rumah duka, khusus untuk menyemayamkan jenazah. Disana sangat ramai, banyak kerabat, klien dan orang-orang yang mengenal keluarga Kim serta Choi yang sudah berdatangan. Diluar ruangan banyak karangan bunga duka cita yang dikirimkan oleh mereka-mereka datang.
"Keanna, ayo."
Mereka berjalan dengan perlahan untuk masuk ke dalam rumah duka tersebut. Zelvin memegang Liora dengan erat, takut istrinya kenapa-kenapa.
"Nenek!" tangis Liora seketika pecah.
Liora menangis di depan peti jenazah Neneknya, terpampang foto cantik mendiang Jasmine di atas peti jenazah dan juga banyak bunga yang ditaruh di atas peti tersebut. Suara tangisan Liora, membuat Zelvin ikut merasakan sakitnya. Zelvin mengelus punggung istrinya.
“Sayang, udah ya? Ikhlaskan kepergian, Nenek. Nenek sudah bahagia disana bertemu dengan kakek," ucap Yuna terisak.
Liora menatap Yuna dan Jayden secara bergantian. Dia juga melihat sang adik, Giovanno duduk meringkuk diujung sana sambil menangis. Sedangkan Eleanor tidak dapat ikut ke Korea, dikarenakan kondisi beliau juga kurang sehat.
"Mom, Dad!"
Liora menangis di pelukan Yuna, "Mom, Nenek--"
Jayden mengelus punggung Liora, memberikan ketenangan kepada putri kecilnya. "Ikhlaskan Nenek ya? Nenek udah nggak sakit lagi."
Tangis Liora semakin pecah. Akhirnya, Liora kembali pingsan. Dengan cepat, Zelvin langsung menggendong Liora menuju sebuah kamar khusus disana. Kondisi Liora sangat drop.
"Nenek!!!"
Liora berteriak, Zelvin langsung menghampiri Liora dan memeluk istrinya. "Ssttt... Udah ya? Sekarang kita ke pemakaman ya?"
Zelvin menuntun Liora untuk berjalan. Mereka masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah baru nenek Jasmine. Disepanjang jalan Liora terus menangis, Zelvin hanya mampu memeluk Liora karena ia mengerti dengan perasaan.
Liora yang hancur. Mereka telah sampai di tempat dimakamkannya Nenek Jasmine. Meskipun sudah tidak memiliki tenaga, Liora berjalan menuju makam Neneknya.
Liora langsung duduk ketika melihat di batu nisan itu tertulis nama lengkap neneknya.
"Nenek, Nenek jangan tinggalin Liora. Nenek, Liora sayang Nenek. Jangan tinggalin Liora sama Giovanno. Nenek, ayo kita jalan-jalan lagi keliling kota Seoul. Nenek, katanya mau lihat cicit Nenek. Nenek sebentar lagi aku akan melahirkan, aku mau sama Nenek. Nenek dunia ini begitu kejam, Liora nggak mau kehilangan Nenek. Nenek jangan tinggalin Liora, Nenek lihat banyak yang sayang Nenek. Nenek nggak boleh ninggalin aku ...," ucap Liora meraung-raung.
Zelvin memeluk Liora, "Keanna ..."
"Kak, Nenek jahat. Nenek ninggalin aku... Nenek jahat, katanya mau lihat cicitnya lahir tapi Nenek malah pergi--"
"Akhhh!" Liora memegang perutnya yang mendadak sakit. "Kak sakit ...," adu Liora Zelvin langsung menggendong Liora menuju mobil, seketika semuanya panik melihat Liora yang terus meringis kesakitan.
“Pak, kita ke rumah sakit!" ucap Zelvin kepada supirnya Mobil pun berjalan dengan kecepatan di atas rata -rata. Mendengar ringisan Liora membuat Zelvin sangat panik.
"Kak sakit, hiks!"
"Tahan ya? Terus lihat kakak, jangan tidur ya? Kamu hebat, tahan sebentar ya?"
Liora mengangguk, "Tapi ini sakit, Kak."
Zelvin mengangguk, "Iya, cantik tahan ya."
__ADS_1
...----------------...