Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Menikah enak tidak?


__ADS_3

William Mansion.


William lebih memilih membeli mansion baru daripada ia harus tinggal bersama Papa dan Mama tirinya. Dia juga tak ingin Qiara nantinya akan sakit hati mendengar celaan dan cemoohan dari Emily yang notabennya tidak suka dengan orang yang serba kekurangan dari segi materi, apalagi saat nanti Emily mengetahui jika Qiara dari keluarga yang sangat sederhana.


Jayden memencet bel mansion William, tak lama kemudian dibuka oleh asisten rumah tangga, lalu Jayden dan Yuna dipersilahkan untuk masuk.


"Yuna!" teriak Qiara berlari menghampiri Yuna.


"Sayang jangan berlari seperti itu, ingat kamu sedang hamil!" tegur William. Qiara mengangguk dan memperlambat langkahnya.


"Kak Qiara jangan lari seperti tadi, aku ngilu melihatnya," ucap Yuna.


"Maaf Yuna. Soalnya aku sudah nggak sabar di masakin sama kamu," balas Qiara sambil mengelus perutnya. Yuna tersenyum, tangannya terarah ke perut Qiara dan ikut mengelusnya.


"Kakak sudah lapar ya?" tanya Yuna.


"Iya Yun, dari tadi Qiara nungguin kamu," sahut William.


"Iya Aunty Yuna, adik bayinya sudah lapar," timpal Qiara menggunakan suara anak kecil membuat semua terkekeh geli mendengarnya.


"Kalau gitu ayo kita masak sekarang," ajak Yuna.


Qiara mengangguk dengan antusias sambil menarik tangan Yuna.


"Eh ini bahan masakannya ketinggalan," ucap Jayden.


Yuna menepuk pelan jidatnya, "Oh iya astaga sampai lupa." Yuna mengambil 2 kantong plastik besar belanjaannya di Jayden.


"Kamu bisa bawa itu semua sayang? Sini biar aku bantu bawa," tawar Jayden.


"Nggak usah sayang, aku bisa kok bawanya," tolak Yuna.


"Sini biar aku yang bantu bawa," ucap Qiara yang ikut menawarkan bantuan.


"Nggak usah kak, ini lumayan berat. Biar aku saja yang bawa. Ayo sekarang kita ke dapur."


Qiara mengangguk dan tersenyum.


'Pantas saja William dulu begitu menyukai Yuna. Ternyata benar, Yuna begitu baik hati dan ramah,' batin Qiara. Ada rasa cemburunya saat mengingat betapa besarnya rasa suka William kepada Yuna, tapi cepat-cepat Qiara menyingkirkan rasa cemburu itu dari pikirannya, karena sekarang William telah menjadi miliknya.


"Sudah sampai mana progres rencana pernikahan kamu?" tanya William pada Jayden.


"Sekitar 85%, hanya tinggal fitting baju pengantin dan mengirim undangan," jawab Jayden.


William manggut-manggut, "Syukurlah kalau begitu."


"Will, bagaimana rasanya menikah itu? Enak nggak?" tanya Jayden tiba-tiba. William mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Jayden tadi.


"Yah enaknya hanya 1%," jawab William.

__ADS_1


"Kok 1%? Terus 99% itu kemana?" tanya Jayden terkejut dengan jawaban William.


"99% nya itu sangat enak," jawab William sambil menahan tawa.


"Sialan kamu, Will! Aku mengira jika 99% itu nggak enak tadi," kesal Jayden sambil menimpuk William dengan bantal sofa. William yang sedari tadi menahan tawa, seketika tawanya itu langsung meledak.


"Tegang sekali sih wajah kamu," ledek William. Jayden hanya mendengus sebal.


"Tenang saja menikah itu enak kok, apalagi kalau sudah berduaan di kamar sama istri, terus kami--" Ucapan William langsung disela Jayden.


"Sudah jangan bahas itu lagi, bikin aku ingin cepat-cepat menikah saja," keluh Jayden.


"Ya makanya percepat pernikahan kamu dengan Yuna. Biar tau rasanya kalau sudah melakukan hubungan setelah menikah itu gimana rasanya," ujar William yang sengaja memanas-manasi Jayden


"Sabar tinggal 10 hari lagi," ucap Jayden malas.


Di dapur, Yuna dan Qiara mulai berperang dengan alat-alat dapur. Tak hanya membuat sup ayam ginseng, tapi mereka juga membuat beberapa makanan khas Korea Selatan lainnya. Qiara hanya membantu Yuna saja karena memang Yuna tak ingin membuat Qiara kelelahan dan berdampak pada kehamilannya.


Satu jam lebih mereka memasak, akhirnya masakan buatan mereka selesai juga. Jam kini sudah menunjukkan waktu untuk makan malam.


"Coba kakak cicipi samgyetang ini, enak apa nggak?" suruh Yuna sambil menyodorkan sendok pada Qiara. Qiara mulai mencoba masakan Yuna.


"Bagaimana kak? Enak nggak?" tanya Yuna takut jika masakannya kurang sesuai dengan selera Qiara.


"Ini sangat enak Yuna, kamu memang pandai dalam hal memasak," puji Qiara. Memang jujur, masakan Yuna sangat enak, tak salah jika gadis itu membuat restoran yang hampir semua menu disana merupakan resep buatan Yuna sendiri.


"Iya aku serius, Yuna. Pantas saja pelanggan restoran kamu banyak, orang makanannya enak-enak semua," ucap Qiara membuat Yuna tersenyum lega.


"Syukurlah kalau enak kak, aku kira bakalan nggak enak tadi," ucap Yuna.


"Kalau masakan kamu nggak enak, nggak mungkin aku suruh kamu untuk memasakkan aku," balas Qiara.


"Iya kakak benar, sekarang kita panggil Jayden dan William untuk makan malam," ujar Yuna dan dibalas anggukan kepala oleh Qiara.


Mereka berdua pun pergi ke ruang tengah, melihat calon bapak dan calon pengantin itu tengah asyik mengobrol.


"Sayang ayo makan dulu, makanannya sudah siap," ajak Qiara pada William.


"Iya sayang, ayo Jay kita makan malam dulu." Giliran William yang mengajak Jayden.


"Oke Will."


Mereka berempat pun pergi ke ruang makan, di atas meja makan terdapat beberapa hidangan yang menggugah selera. Sebelum mulai makan William memanggil mamanya terlebih dahulu.


"Ayo makan nak," suruh Azura pada Jayden dan Yuna.


"Iya Ma."


"Iya Tante."

__ADS_1


Makan malam pun mulai, mereka makan sambil di selingi dengan candaan. Azura bahkan menceritakan aib masa kecil William dan Jayden membuat Yuna serta Qiara tak bisa menahan tawanya.


Pukul 10 malam, Yuna dan Jayden pun berpamitan untuk pulang pada William dan Qiara.


"Makasih ya sudah masakin aku," ucap Qiara pada Yuna.


"Sama-sama kak. Kalau kakak mau di buatin makanan yang lain lagi, jangan sungkan kasi tau aku," balas Yuna.


Qiara mengangguk dan tersenyum.


"Kalau gitu kami pamit pulang," ucap Jayden.


"Hati-hati ya kalian berdua," ucap William dan di balas anggukan kepala oleh kedua calon pengantin itu.


Yuna dan Jayden masuk ke dalam mobil lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan mansion William.


"Sayang," panggil Jayden sambil melirik sekilas ke arah Yuna.


"Ya kenapa?"


"Mulai kapan kamu cuti kerjanya?" tanya Jayden.


"3 hari sebelum pernikahan kita," jawab Yuna.


"Terus berapa hari kamu cutinya?'


"Aku mengambil cuti hanya satu minggu."


Jayden hanya manggut-manggut mengerti.


"Lalu 3 hari setelah kita nikah mau kemana? Kamu mau pergi honeymoon nggak?" tawar Jayden.


"Aku mau sih, tapi kan nggak enak kalau kita honeymoon terus perginya ke luar negerinya hanya ada 3 hari," keluh Yuna mengerucutkan bibirnya.


Jayden berpikir sejenak, ia memikirkan kemana dirinya akan membawa Yuna pergi liburan walau bukan ke luar negeri.


"Bagaimana kalau kita bulan madu di Villa saja?" usul Jayden.


"Villa mana?"


"Kakek Justin punya villa di pulau Jeju. Disana tempatnya sangat nyaman, bersih dan sejuk, karena masih alami. Kamu mau nggak sayang?" tanya Jayden.


"Iya mau," jawab Yuna semangat. Jayden tersenyum lalu mengusap puncak kepala Yuna menggunakan tangan kanannya.


"Besok sehari setelah kita nikah, baru kita kesana," ucap Jayden.


"Iya sayang."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2