
"Ekhem!"
Sontak Jayden dan Yuna melihat ke sumber suara.
"Mama!"
"Tante!"
Ya, Eleanor lah yang datang, wanita paruh baya itu berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada sambil geleng-geleng kepala melihat adegan yang hampir terjadi itu.
Seketika pipi Yuna berubah bak kepiting rebus, ia malu dengan Eleanor, tapi untung saja ia dan Jayden tadi gagal berciuman.
Eleanor berjalan menghampiri Jayden dan Yuna lalu duduk di samping gadis yang kelak akan menjadi menantunya itu.
"Jangan main nyosor sama mantunya Mama, kalian menikah dulu baru boleh!" protes Eleanor pada putranya. Rasanya Yuna ingin menghilang saja, sungguh ia malu saat ini. Sedangkan Jayden memasang raut wajah biasa saja, justru ia kesal karena mamanya itu menganggu waktunya bermesraan dengan Yuna.
"Ck, Mama ganggu saja!" kesal Jayden.
"Ih kamu nggak boleh gitu sama Mama sendiri!" tegur Yuna sambil mencubit perut Jayden.
"Aduhhh sakit sayang." Jayden meringis kesakitan mendapat cubitan maut dari Yuna.
"Masa punya perut sixpack baru di cubit gitu aja udah kesakitan," ledek Eleanor.
Jayden mendengus sebal, "Mama sebenarnya mau ngapain sih kesini? Gangguin waktu berduaan Jayden sama Yuna aja!"
"Dasar anak nakal! Mama kesini karena mau liat calon mantu Mama!" ujar Eleanor kesal. Untung anak semata wayang, kalau tidak mungkin saja ia masukkan Jayden kembali ke dalam perutnya.
"Dari mana Mama tau kalau Yuna ada disini?" tanya Jayden heran.
"Tuh para karyawan lagi bergosip tentang kamu datang sama gadis cantik katanya. Eh ternyata gadis cantik itu calon mantunya Mama," ucap Eleanor sambil mengelus punggung tangan Yuna.
Yuna tersenyum, "Tante bisa aja."
Jayden berdecak, "Ck, nggak ada kerjaan apa mereka? Bergosip mulu, di pecat baru tau rasa!" geram Jayden.
"Sudah hukum alam nak, di semua perusahaan pasti begitu," kata Eleanor dan dibenarkan oleh kedua insan yang semalam jadian itu.
"Di paper bag itu isinya apa nak?" tanya Eleanor menunjuk ke paper bag yang ada di atas meja.
"Oh itu isinya kotak makanan, Ma. Tadi Yuna buatkan Jayden sarapan, masakan Yuna enak banget," puji Jayden kepada masakan yang dibuat Yuna.
Eleanor melirik Yuna, "Beneran kamu yang masak untuk Jayden, nak?" tanyanya.
"Iya Tante, tapi nggak semua kok, ada beberapa masakan juga di bantu sama Bibi," jelas Yuna.
"Aduh calon istri idaman banget sih kamu sayang Pasti lelaki yang jadi suami mu kelak sangat beruntung mendapatkan perempuan seperti kamu," ucap Eleanor bangga sambil memegang tangan Yuna. Yuna hanya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1
"Dan lelaki beruntung itu adalah aku," sahut Jayden dengan percaya diri.
"Percaya diri sekali kamu," ejek Eleanor.
"Mama! Bukannya di dukung anaknya, ini malah di ledekin!" kesal Jayden. Lantas Eleanor dan Yuna tertawa melihat wajah kesal Jayden.
"Iya maafkan Mama sayang, Mama hanya bercanda. Mama sangat mendukung hubunganmu dengan Yuna," balas Eleanor membuat Jayden dan Yuna tersenyum lega.
"Ma, lamar Yuna buat Jayden dong. Takutnya nanti Yuna di ambil sama laki-laki lain," pinta Jayden tiba-tiba. Ucapan laki-laki itu membuat Eleanor dan Yuna tercengang.
"Eh kamu kuliah sama kerja yang baik dulu, baru Mama lamar Yuna untuk kamu!"
"Kan Jayden sebentar lagi mau selesai kuliah dan Jayden bekerja dengan baik disini Ma. Ayolah Ma, lamar Yuna buat Jayden, nanti kalau keduluan laki-laki lain yang melamar Yuna gimana?" rengek Jayden, ia terus membujuk Eleanor untuk segera melamar Yuna untuk dirinya. Jayden tak ingin Yuna diambil oleh laki-laki lain, maka dari itu Jayden ingin cepat-cepat memiliki Yuna seutuhnya.
"Ya itu derita kamu lah!" ucap Eleanor ketus. Bukannya tak ingin membantu sang putra, Eleanor tau Jayden itu masih labil dan nanti bisa saja anak lelakinya itu berubah pikiran.
Jayden mendengus sebal, "Ayo lah Ma."
Eleanor menghiraukan ucapan Jayden, "Tante mau balik ke ruangan dulu ya?" pamitnya pada Yuna.
"Iya silahkan, Tante."
"Hati-hati ya kamu disini sayang, jangan sampai kamu di terkam sama harimau," ujar Eleanor sambil melirik ke arah Jayden dengan tatapan meledek.
"Mama!" kesal Jayden.
"Punya Mama begitu banget sih," keluh Jayden.
"Jayden, kamu nggak boleh gitu sama Mama sendiri," tegur Yuna.
"Aku hanya bercanda sayang," ujar Jayden, jari jemarinya ia rekatkan ke jari Yuna lalu membawa gadisnya untuk di cium.
"Oh ya besok malam kita pergi samaan ya ke acara tunangannya William," ajak Jayden.
Yuna mengangguk, "Boleh, besok malam jemput aku ya?"
"Iya sayang, besok malam aku jemput jam 7."
TOK! TOK! TOK!
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" suruh Jayden.
"Permisi Tuan, maaf menganggu," ucap Robert setelah membuka pintu ruangan atasannya.
"Ya ada apa Robert?"
__ADS_1
"Ini ada berkas yang harus Tuan periksa dan tanda tangani," jelas Robert.
"Taruh saja berkasnya di atas meja, nanti saya periksa," suruh Jayden.
"Baik Tuan."
Robert menaruh berkas yang dibawanya di atas meja kerja Jayden, setelah itu ia langsung mengundurkan diri dan keluar dari ruangan atasannya.
"Kalau gitu kamu kerja dulu sayang, pasti banyak pekerjaan yang sudah menunggumu," ucap Yuna.
"Iya sayang. Kalau kamu bosan, kamu bisa baca-baca buku yang ada di rak lemari itu." Jayden menunjuk buku-buku yang ada di rak lemari.
"Iya, ayo sana kerja," suruh Yuna.
"Sebelum itu kasi aku vitamin dulu dong, biar aku semangat kerjanya," ujar Jayden membuat Yuna mengerutkan kening, bingung dengan Vitamin yang di maksud Jayden tadi.
"Vitamin apa maksud kamu?"
"Vitamin kiss dari kamu." Jayden menunjuk pipinya.
"Ih nggak mau!" tolak Yuna cepat.
"Ayolah sayang," bujuk Jayden.
Yuna membuang napas, ia mendekat dan langsung mencium pipi Jayden. Dan yang membuat Yuna kaget adalah ketika ia akan menjauhkan wajahnya, dengan cepat Jayden mengecup bibirnya. Sontak Yuna seketika membulatkan matanya, semburat merah keluar lalu menjalar ke pipi sampai telinganya.
"Jayden!" pekik Yuna.
"Makasih ya vitaminnya sayang," ucap Jayden seraya mengedipkan matanya.
"Aaaa itu first kiss aku," rengek Yuna yang kesal sebab ciuman pertamanya diambil Jayden.
"Really?" tanya Jayden tak percaya dan tentunya sangat bahagia karena gadisnya itu ternyata perempuan baik-baik.
"Iya tapi kamu malah mengambilnya!" kesal Yuna mengerucutkan bibirnya.
"Woah beruntung banget aku dapat ciuman pertama kamu," ucap Jayden menggoda Yuna.
Yuna mendengus kesal, "Udah deh sana kerja!"
"Udah jangan ngambek sayang, nanti aku tanggung jawab deh dengan menikahi kamu." Jayden terus menggoda Yuna.
"Udah jangan goda aku terus!" ketus Yuna.
Jayden terkekeh geli melihat wajah Yuna yang memerah menahan malu, "Iya maafkan aku sayang, aku kerja dulu ya?"
Yuna hanya berdehem sambil membuang muka, malas untuk menanggapi Jayden. Jayden tersenyum tipis, ia beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke kursi kerjanya.
__ADS_1
...----------------...