Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Gagal, Kecewa dan Kecelakaan


__ADS_3

“Kenapa pakai baju ini?” tanya Zelvin.


Liora mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa? Ada yang salah?” tanyanya bingung.


Zelvin membuang napasnya. Ya, tentu salah. Menggunakan dress di atas lutut dengan lengan pendek, ditambah rambut yang diikat menjadi satu. Iman siapa yang tidak tergoda? Kulit putih mulus, wajahnya yang cantik dan Liora berhasil membuatnya terpesona.


“Kurang tepat, saja. Kamu perginya bukan sama saya, jadi ganti ya? Jangan terlalu seksi gini,” pinta Zelvin dengan lembut.


“Tapi kak--"


“Nurut ya? Negara ini memang nggak masalah kamu mau pakai baju apa, tapi saya yang masalah. Ganti ya?” pinta Zelvin sekali lagi


Liora mengangguk pelan. Dia kembali lagi ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya yang katanya terlalu seksi.


“Tuan, file sudah saya siapkan semua nya. Saya juga sudah periksa semua berkas, saya yakin tidak akan ada yang ketinggalan,” ujar Alice.


Zelvin mengangguk, “Tunggu di mobil, saya mau liat istri saya dulu.”


Alice mengangguk, lalu dia sedikit  membungkukkan tubuhnya. “Baik Tuan, saya permisi.”


Zelvin mengangguk. Tak lama kemudian, Liora keluar dari kamar. Dia menuruni anak tangga dengan sedikit cepat, membuat Zelvin seketika panik. Meskipun, Liora menggunakan sneakers tetap saja kecelakaan bisa terjadi kapanpun.


“Jangan jalan cepat di tangga seperti itu, ngerti?” peringat Zelvin.


Liora mengangguk pelan.


“Good girl. Ini baru cantik, kamu selalu cantik. Juno, sudah menunggu, mau jalan sekarang?” tanya Zelvin.


Liora mengangguk, “Tapi aku mau liat kak Zelvin pergi dulu.”


“Nggak! Saya yang mau liat kamu pergi duluan.”


“Oke.” 


...****************...


“Juno, ini bagus?”


Juno mengangguk “Kalau ini, lebih baik warna merah atau biru?” tanya Liora


"biru," jawab Juno.


“Oke, biru lebih bagus.”


Ya, seperti itu lah yang Liora lakukan selama berada di toko perbelanjaan pakaian anak-anak. Bahkan keranjangnya sudah penuh dengan pakaian anak-anak yang dia pilih. Juno terus menarik napas karena bosan. Juno lebih baik menemani keliling kota di banding harus menemani keliling belanja.


“Mrs. Park maaf jika saya lancang, untuk siapa pakaian sebanyak itu? Bukankah putra Mr. Park hanya satu?” tanya Juno.


Liora mengangguk. “Iya, ini semua buat Emmanuel.”


“Apakah nggak berlebihan?”


“Tidak ada kata berlebihan untuk putra saya, Juno.”


Juno tersenyum. Jiwa keibuannya Liora mengingatkannya kepada Ibunya yang jauh. Juno jadi rindu ibunya.


“Juno, kamu mau beli pakaian juga nggak? Saya mau beli buat kak Zelvin, soalnya semua pakaian dia tuh polos-polos semuanya, saya mau yang ada motif-motif gitu,” tanya Liora.


Juno menggelengkan kepalanya. “Tidak, Mrs. Park. Terima kasih, tapi pakaian saya masih banyak yang belum terpakai.”


“Ya udah, biar saya yang traktir. Jangan nolak. Ini uangnya kak Zelvin, saya jarang pakai ATM dia,” ucap Liora.


Juno terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya.


...****************...


“Shit!”


Zelvin terus mengumpat. Tangannya terkepal erat, rahangnya mengeras menandakan dia sedang marah saat ini. Tatapan tajam nya membuat siapapun yang ada di ruangan ini tidak berani menatap mata Zelvin. Dan, seseorang di depan Zelvin yang sedang tersenyum meremehkannya membuat Zelvin semakin emosi.


Alice dan Griffin saling pandang. Mereka tidak tahu harus melakukan apa karena meeting masih lama. Sedangkan, dari wajah bos nya sudah terlihat bahwa ia ingin segera Cepat selesai.


Griffin gelisah. Jika ia meminta izin, pasti orang-orang besar yang di depannya akan merasa kesal dengan tindakan itu. Dan itu akan membuat masalah baru. Griffin sangat tahu Zelvin. Zelvin itu sangat ambisius. Dia harus mendapatkan apa yang dia inginkan, namun jika tidak tergapai dia akan merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.


Apalagi, Zelvin sangat menyiapkan semua nya dengan sangat perfect. Zelvin selalu memarahi Alice atas kecerobohannya, karena proyek ini benar benar ingin Zelvin dapatkan. Zelvin tidak ingin ada kesalahan sedikitpun, tapi dia gagal mendapatkan proyek ini.


2 jam telah berlalu. Zelvin berhasil menahan emosinya, bahkan dia terlihat biasa saja meskipun tatapannya tetap menakutkan.


“Selamat atas keberhasilan anda, Mr. Frans,” ucap Zelvin dengan nada yang rendah namun menusuk.


“Terima kasih, Mr. Park.”

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, Zelvin dengan cepat keluar dari ruangan yang membuatnya emosi. Dengan langkah lebar, dia keluar dan berjalan menuju basement. Dia masuk ke dalam mobil dengan emosi yang semakin memuncak.


Langkah Griffin langsung berhenti, membuat Alice pun ikut berhenti. Alice mendongak, menatap Griffin untuk meminta penjelasan.


“Jangan ganggu. Tuan Zelvin butuh waktu sendiri untuk menenangkan emosinya, kita lihat dari sini,” tutur Griffin.


“Tapi—”


“Dia nggak akan melukai dirinya. Dia aman.”


“Nyonya Liora—”


“Jangan beritahu Nyonya Liora, dia akan cemas dengan kondisi Tuan Zelvin. Dan itu juga membuat Nyonya Liora bahaya, kalau Tuan Zelvin nggak bisa mengontrol emosinya, Nyonya Liora akan jadi pelampiasannya,” potong Griffin.


Alice mengangguk membenarkan ucapan Griffin. Dari kejauhan, mereka menatap mobil Zelvin.


Zelvin membuka matanya. “Sialan, brengsek. Sialan kamu, Frans!” kesal Zelvin sambil memukul setir dengan keras.


“Damn!”


Zelvin membuka ponselnya. Dia mencari nomor seseorang yang saat ini dia butuhkan. Zelvin menekan tombol hijau untuk menelponnya.


“Kamu dimana?”


“Zelvin, what happened?”


Zelvin tidak menjawab, membuat seseorang diseberang sana membuang napasnya. Dia sudah menebak situasi ini.


“Apartemen.”


“Aku kesana.”


Tut! 


...****************...


“Lebih enak kopi yang di Korea sih, selain sesuai dengan lidah saya, kopinya juga ringan di kantong saya,” komentar Liora Juno terkekeh pelan. Tatapannya fokus ke jalanan yang cukup ramai.


“Mrs. Park anda memiliki list yang akan kita kunjungi besok?” tanya Juno.


"Aku cuma mau ke—” 


Drtt Drttt


Juno menoleh sebentar, lalu mengangguk untuk mengangkat teleponnya.


“Sebentar—”


“JUNO, DI DEPAN KAMU!” teriak Liora ketika melihat sebuah mobil yang menuju arah mereka dengan kecepatan di atas rata-rata.


Juno membulatkan mata nya. Dia melempar ponsel yang di genggamnya, lalu membanting stir ke kiri untuk menghindar mobil yang ke arah mereka.


BRUGH!


BRAKKK!


“AAAA! jerit Liora sebelum mobil menabrak pembatas jalan.


Juno membuka mata nya. Dia menoleh ke samping, menatap Liora yang pingsan dengan darah mengalir dari kening dan ujung bibir nya. Pandangan Juno sedikit mengabur, membuatnya semakin tidak jelas melihat kondisi Liora.


“Anna,” gumam Juno pelan.


...****************...


“Aku benar-benar khawatir sama keadaannya Tuan Zelvin, Griff,” celetuk Alice sambil memakan makanannya.


“Gapapa, dia aman.”


“Tapi, dia bawa mobil dengan kecepatan tinggi.”


Griffin menggeser kursi nya untuk semakin dekat ke arah Alice. Dia mengelus punggung Alice, “Kamu tenang, okay? Tuan Zelvin aman, dia bisa jaga diri nya sendiri. Percaya sama aku, seemosi apapun dia, dia akan tetap aman. Dia cuma butuh tempat untuk membuatnya tenang,” ucap Griffin.


“Gib, tadi aku jelek ya presentasinya? Jadi kita gagal dapatkan—”


“Nggak, presentasi kamu bagus. Hebat. kamu kan selalu latihan pas malam, supaya memberikan yang terbaik. kamu udah menampilkan sisi terbaik dalam diri kamu, hanya belum rezeki saja untuk kita.” Griffin menarik Alice ke dalam pelukannya.


“Liat Tuan Zelvin se-emosi tadi, buat aku merasa bersalah banget, Griff.”


“Alice...”


“Griff, ini perasaan aku.”

__ADS_1


Griffin mengangguk saja.


“Aku tiba - tiba kepikiran Nyonya Liora, kenapa ya?”


“Telepon aja,” suruh Griffin.


Alice mengangguk.


Alice mengeluarkan ponselnya. Dia mencari kontak Liora di ponselnya, lalu menekan tombol telepon. “Hello, good afternoon.”


Alice menoleh ke Griffin, “Ini suara cowok yang angkat, tapi bener kok ini nomor Nyonya Liora.”


“Lanjutin,” perintah Griffin


Alice mengangguk. “Good afternoon, who is this?”


Alice mendengar penjelasan dengan serius. Dia membulatkan mata nya ketika mendengar kecelakaan yang di alami . Liora. Bahkan tangannya bergetar hebat mendengar berita ini.


“Thanks, I will be there right away.”


Tut!


“Kenapa?”


“Nyonya Liora kecelakaan. Dia udah dibawa ke rumah sakit, ayo kita kesana!” ajak Alice


Griffin mengangguk. Dia langsung berdiri dari duduknya.


Kondisi Liora tidak terlalu parah. Namun, benturan itu membuat kening Liora harus di jahit. Tapi, keadaan Liora sudah membaik, hanya menunggu kesadaran gadis itu. Dan lagi, kaki Liora yang bengkak membuatnya harus membatasi seluruh aktifitasnya. Dokter akan melakukan rontgen karena takut ada luka lainnya, maka dari itu Liora harus dirawat dulu.


“Gimana? Di angkat?” tanya Alice.


Griffin menggelengkan kepalanya. “Yang pertama, berdering. Tapi sekarang, menyambungkan. Kayanya, ponselnya mati.”


Alice menggeram kesal. “Terus gimana kalau Nyonya Liora sadar terus nanyain Tuan Zelvin?”


“Ya kita kasih tahu.”


“Tapi kalau Nyonya Liora khawatir, terus nekat gimana?”


“Coba saja dulu.”


Alice membuang napasnya. “Oke.”


Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Liora. Meskipun kondisi Liora tidak parah, tetap saja mereka khawatir dengan kondisi Liora yang banyak luka lebam.


Dengan perlahan, Liora membuka matanya. Dia menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya di ruangan ini. Liora meringis pelan, dia menoleh, menatap Alice dan Griffin.


“Nyonya Liora? Tunggu saya panggil dokter dulu!”


Alice memanggil dokter. Tak lama kemudian, dokter datang untuk memeriksa kondisi Liora. Dan katanya kondisi Liora sudah membaik. Hanya saja Liora dilarang terlalu banyak bergerak.


“Kak Zelvin mana?” tanya Liora ketika tidak menemukan keberadaan suaminya.


“Alice, Griffin, Kak Zelvin mana?” ulang Liora. Liora menatap Alice dan Griffin. “Katakan, apa yang terjadi.” suruh Liora.


Griffin berdehem. Dia menjelaskan semua kejadian yang telah terjadi saat meeting tadi, dia juga menjelaskan Zelvin yang tiba-tiba pergi tanpa mengatakan apapun kepada mereka.


“Nyonya Liora, saya akan mencari Tuan Zelvin, agar—”


“Nggak usah, Griffin. Biarkan dia. Kak Zelvin butuh waktu sendiri. Saya percaya,” putus Liora.


“Tapi—“


“Biarkan dia mengendalikan emosinya dulu, dia akan merasa tenang.”


Griffin mengangguk. “Baik Nyonya.”


...****************...


“Bedebah sialan. Udah brengsek. kamu mau semabuk apa sih? Ini udah 6 botol, gila!” maki seseorang.


Zelvin tersenyum. “Aku gagal, Leon. Bodoh banget aku. Segitu aja nggak mampu, proyek gitu aja gagal. Bego!” rutuk Zelvin.


“Iya kamu bodoh! Tapi lebih bodoh lagi kamu melampiaskan ke semua ini, sialan. Udah! aku adukan hal ini ke om Ferdinand baru tau rasa kamu!” ancam Leonardo.


Leonardo Jung. Dia adalah sahabat Zelvin selama dia kuliah di negara ini. Mereka sama-sama berasal dari Korea Selatan, tapi Leonardo lebih memilih menatap di negera ini.


“Aku udah percaya kalau aku berhasil, tapi sialannya aku kalah. Bodoh sekali.” Zelvin meminum minumannya hingga tandas.


“Bodo lah Vin. Mati aja sana! Nggak peduli aku,” kesal Leonardo.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2