Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Kedatangan Jayden


__ADS_3

Di tempat lain seorang pria tampan mengenakan pakaian formal serta menggunakan kaca mata hitam, baru saja turun dari pesawat jet milik keluarganya. Ia berjalan dengan langkah wibawanya menuju keluar dari Bandara di ikuti beberapa bodyguard di belakangnya.


Salah satu bodyguard membukakan pintu mobil untuk pria tersebut.


"Langsung ke Imperial College saja pak," titahnya pada sopirnya.


"Baik Tuan."


Mobilnya pun melaju memecah kota Incheon menuju ke kota Seoul yang menempuh waktu selama satu jam lamanya.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya pria itu sampai di Imperial College, kampus tempat dirinya mengemban ilmu dan tentunya dia juga yang memiliki yayasan ini.


Pria itu turun dari mobil sambil membuka kaca matanya, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling Imperial College, kampus itu tidak berubah semenjak 2 tahun yang lalu mungkin hanya beberapa fasilitas yang diganti.


"Selamat datang Tuan Jayden," sapa Albert, rektor kampus. Jayden hanya mengangguk lalu Albert mengajak Jayden masuk ke dalam ruangannya.


"Silahkan duduk Tuan," suruh Albert. Jayden mengangguk dan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sambil menyilang kan kakinya.


"Bagaimana kondisi Imperial College selama saya di New York?"


"Baik-baik saja Tuan dan semakin banyak mahasiswa-mahasiswi yang berprestasi mengharumkan nama kampus," jelas Albert.


"Salah satu mahasiswi berprestasi yakni Nona Yuna, calon istri anda Tuan," sambung Albert. Senyum Jayden seketika terbit saat nama Yuna disebut, ia sangat bangga terhadap kekasihnya itu, bukan hanya cantik tapi juga pintar, tak salah Jayden memilih pasangan seperti Yuna.


Setelah lama mengobrol, Jayden pun meminta izin pada Albert untuk berkeliling sekaligus mencari Yuna.


"Apa mau saya temani, Tuan?" tawar Albert.


"Tidak usah, Bapak lanjutkan saja pekerjaan yang sempat tertunda karena saya tadi," suruh Jayden.


"Baik Tuan."


Jayden pun keluar dari ruangan rektor tersebut, ia berjalan sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Yuna. Para mahasiswi yang melihat Jayden langsung teriak histeris.


Siapa yang tidak kenal dengan Jayden? Mantan member D'Warlords yang sampai sekarang masih di puja-puji oleh kalangan wanita, cucu pertama dari orang terkaya 2 di Korea Selatan dan pengusaha sukses di usia muda.


Jayden berinisiatif bertanya pada salah satu mahasiswa yang cukup dekat dengan keberadaannya. "Permisi saya mau bertanya."


"Mau bertanya apa ya kak?"


"Kamu lihat Yuna tidak?"


"Maksud kak Jayden itu Yuna Kim?"


Jayden mengangguk, "Apa kamu melihatnya?"


"Iya tadi aku liat Yuna di bawa ke arah gudang kampus oleh Alden," jelasnya membuat rahang Jayden mengeras, wajah memerah menahan emosi, giginya menggertak beradu dan tangannya mengepal kuat. Mahasiswa yang melihat itu langsung ketakutan dan pergi.


"Kamu sudah memancing emosiku Yuna," geram Jayden.


Jayden berjalan cepat menuju ke arah gudang kampus diikuti oleh beberapa bodyguardnya di belakang.


Dari kejauhan Jayden melihat dua orang berbeda kelamin tengah bercumbu membuat hati Jayden terasa tercabik-cabik dan seperti dipukul dengan palu yang sangat besar yang membuat hatinya pecah berhamburan seperti serpihan kaca.


Matanya semakin memanas saat Alden akan membawa Yuna ke dalam gudang. Tak tahan lagi, Jayden berlari ke arah mereka, ia langsung menarik kerah baju belakang Alden dan memukulnya bertubi-tubi, Alden pun langsung jatuh tersungkur sampai bibirnya robek dan berdarah.


BUGH!


BUGH!


BUGH!


"Bedebah sialan! Brengsek kau!" umpat Jayden. Yuna sangat terkejut dengan keberadaan Jayden saat ini, bahkan ia mematung saking terkejutnya.


"Kamu Jayden kan? Terus kenapa kamu mukul aku, apa salahku padamu, hah?" sentak Alden yang marah di pukul secara tiba-tiba.


"Kamu tanya kesalahanmu apa, hah? Kamu itu sudah berani mencium calon istriku, sialan!" teriak Jayden dan kembali memukul Alden.


"Sudah Jay," lerai Yuna memegang tangan Jayden namun laki-laki itu menepis kasar tangan Yuna.


"Diam kamu!" bentak Jayden membuat Yuna terdiam, ini pertama kalinya Yuna dibentak oleh Jayden setelah sekian lama mereka pacaran.


Jayden pun kembali memukul dan menendang Alden, Yuna merasa kasihan melihat Alden sudah seperti orang sekarat.

__ADS_1


"Please hentikan Jay, dia bisa mati," ucap Yuna lirih. Jayden pun menghentikan kegiatannya memukul Alden.


"Kalian! Urus laki-laki ini!" perintah Jayden pada beberapa bodyguardnya itu.


"Siap Tuan!"


Jayden segera menarik tangan Yuna kasar dan membawanya ke parkiran, sebelum itu Jayden meminta kunci mobil pada bodyguardnya. Yuna hanya bisa menangis dan pasrah ketika Jayden menarik tangannya. Semua mata tertuju pada mereka berdua dan banyak bisik-bisikan dari mahasiswa-mahasiswi yang melihat Yuna dan Jayden, apalagi melihat Yuna yang menangis.


Saat sudah berada parkiran, Jayden langsung mendorong Yuna masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apa-apa. Setelah itu Jayden pun ikut masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya meninggalkan kampus.


Ketika sudah berada jauh dari Imperial College, Jayden menancap gas mobilnya dengan lebih cepat membuat Yuna semakin takut apalagi Jayden hanya diam saja dengan ekspresi wajah dinginnya.


"Jayden, please tenang. Kalau kamu begini nanti kita bisa kecelakaan."


Jayden seakan menulikan pendengarannya, ia tidak menanggapi ucapan Yuna dan malah menambah laju mobilnya.


Hanya beberapa menit mereka pun sama di mansion Jayden. Jayden menghentikan mobilnya tepat di depan mansion nya, lalu ia turun dari mobil dan berjalan cepat ke arah pintu mobil Yuna dengan raut wajah yang masih terlihat masih marah.


Jayden membuka pintu mobil Yuna dan langsung menarik tangan Yuna dengan kasar masuk ke dalam mansion nya tanpa peduli dengan beberapa pelayan dan bodyguard yang menyambutnya.


Jayden berjalan cepat sambil menarik tangan Yuna menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Ketika sudah sampai di kamar Jayden langsung menghempaskan tubuh Yuna ke atas ranjang membuat gadis itu gemetar ketakutan.


"Kamu mau ngapain, Jay?" tanya Yuna was-was.


Jayden tersenyum miring sambil membuka jas dan kancing kemejanya, sehingga kini tubuh bagian atasnya polos tanpa baju, setelah itu ia mendekati Yuna.


"Ternyata begitu kelakuan kamu di belakangku? Aku baru tau itu," ucap Jayden tersenyum miris.


"Nggak Jay, kamu salah paham. Please jangan begini," balas Yuna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kini Jayden berada di atas tubuh Yuna.


Jayden yang tersulut emosi pun tidak peduli dengan ucapan Yuna, bahkan kini dirinya dikuasai oleh nafsu birahinya yang memuncak, apalagi ketika ia mengingat Yuna seperti menikmati ciuman dari Alden.


Tanpa aba-aba Jayden membuka kemeja blouse yang di kenakan Yuna hingga membuat kancing baju itu terlepas dan berhamburan. Kini memperlihatkan gundukan dua benda kenyal yang dibaluti dengan bra berwarna putih sedikit menyembul keluar.


Yuna semakin panik dan ketakutan, ia mulai memberontak namun kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Jayden.


"Jay, jangan seperti ini, aku nggak mau!" sentak Yuna berusaha menyadarkan Jayden yang sudah tersulut hawa nafsu seksu@lnya sambil menutup kedua benda gundukan nya. Tapi Jayden segera menyingkirkan kedua tangan Yuna.


Jayden kembali seakan tuli, ia mencoba melepaskan bra di kenakan. Kini tubuh atas Yuna tak ditutupi apapun, kulit putih bersih dan halus Yuna membuat libido Jayden semakin meninggi. Tak tahan lagi ia segera membungkam bibir Yuna dengan bibirnya melahapnya dengan rakus, memasukkan lidahnya mencecap rasa manis lidah Yuna, mungkin ini juga cara menghapus jejak-jejak Alden dari bibir Yuna. Tanpa sadar kini mereka berdua sudah polos tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka.


Yuna tak bisa memberontak karena tangan kunci ke atas oleh tangan Jayden, sementara itu kakinya diduduki oleh Jayden. Tangan Jayden mulai menjalar kemana-mana membuat Yuna melenguh. Yuna dapat merasakan batang milik Jayden mengeras di bawah sana, ia menggeleng merasakan ketakutan tapi Jayden masih tidak memperdulikan itu.


Saat Jayden akan memasukkan miliknya ke dalam lubang sensitif Yuna, gadis itu langsung berteriak.


"Kalau kamu setubuhi aku sekarang, aku nggak akan pernah maafkan kamu dan aku akan pergi jauh dari kamu, Jayden!" teriak Yuna.


Jayden langsung tersadar lalu ia berdiri dari tubuh Yuna, Jayden segera mengenakan celana pendeknya, kemudian berjalan ke arah meja panjang yang ada di kamarnya dan membuang semua barang-barang yang di atas meja tersebut.


"Aarrgghh sialan!" teriak Jayden frustrasi.


Yuna sampai menutup telinganya, saking kerasnya suara furnitur terbuat dari kaca-kaca itu yang terjatuh. Kaki dan tangan Jayden pun terkena pecahan beling tersebut, tapi laki-laki itu tidak merasakan rasa sakit karena menurutnya hatinya yang lebih sakit.


"Hiks." Seketika tangis Jayden pecah saat setelah mengeluarkan amarahnya, ia langsung bersandar di dinding tembok lalu merosot ke lantai. Disana ia duduk sambil menundukkan kepalanya.


Pria yang dikenal arogan dan sombong itu akhirnya tumbang hanya karena tidak tahan dengan perlakuan gadis yang sangat cintai itu kepada dirinya. Hatinya begitu sakit sampai air matanya pun tak bisa ia tahan.


Yuna tersentak mendengar Jayden menangis, ini pertama kalinya Yuna melihat Jayden menangis. Ia segera memakai kemeja milik Jayden dan menghampiri laki-laki itu. Ia berjongkok di depan Jayden, kedua tangannya terulur memegang kepala Jayden. Yuna mengangkat kepala Jayden sehingga wajah mereka berhadapan. Ia melihat wajah kekasihnya sudah di penuhi air mata, Yuna pun kembali menangis melihat Jayden seperti itu.


"Maafkan aku Jay, tapi kamu salah paham, itu tidak seperti yang kamu lihat," ucap Yuna.


"Salah paham kamu bilang? Gimana perasaan mu saat melihat seseorang yang kamu cintai sedang bercumbu dengan orang lain hah? Sakit Yuna, sangat sakit!" teriak Jayden sambil memegang dadanya.


"Kamu salah paham Jayden, please dengarkan aku dulu, hiks" ucap Yuna terisak sambil menangkup kedua pipi Jayden.


Jayden menggeleng, "Aku sengaja menyibukkan diri seminggu belakangan ini, kamu tau untuk apa? Untuk segera bertemu kamu, tapi apa? Ternyata kamu menduakan aku, Yun," ucap Jayden. Yuna semakin menangis mendengarnya.


"Dengarkan penjelasan dari aku dulu, please," ucap Yuna memohon.


Jayden mencoba mengontrol emosinya dan hanya membalas ucapan Yuna dengan berdehem yang berarti gadis itu diperbolehkan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Yuna pun menjelaskan kronologi kejadian di kampus tadi sambil menangis, Jayden yang mendengar cerita dari Yuna itu membuat emosinya kembali memuncak.

__ADS_1


"Akan ku bunuh laki-laki brengsek itu!" geram Jayden. Yuna memegang tangan Jayden sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak usah Jay, aku nggak mau calon suamiku jadi pembunuh," ucap Yuna.


"Tapi sayang dia sudah--"


Yuna mengecup bibir Jayden agar tidak melanjutkan ucapannya.


"Nggak usah ya, sayang?"


Jayden menghela napas berat lalu mengangguk, tapi dia tetap akan membalas Alden tanpa sepengetahuan Yuna.


"Kamu nggak pakai dalaman ya sayang?" tanya Jayden tiba-tiba.


"Hah, apa?"


"Liat tuh." Jayden melihat ke arah dua gundukan Yuna yang terlihat jelas dari balik kemeja putih milik Jayden yang ia kenakan. Yuna pun melihat ke arah pandangan Jayden.


"Ih mesum!" kesal Yuna memukul dada Jayden, ia sebenarnya sangat malu apalagi dirinya tidak mengenakan dalaman untuk bagian bawahnya.


Jayden terkekeh, "Makanya pakai dalaman kamu sana atau mau aku pakaikan?" goda Jayden. Wajah Yuna semakin memerah dibuatnya.


"Nggak mau!" teriak Yuna berlari mengambil ********** yang tergeletak di lantai, kemudian ia berlari menuju ke kamar mandi.


Jayden yang melihat itu terkekeh gemas dengan kelakuan gadisnya itu. Namun sedetik kemudian ia merubah ekspresi wajahnya.


"Alden Lee, tunggu pembalasan dariku!"


Tak membutuhkan waktu lama, Yuna keluar dari kamar mandi. Ia melihat ke arah lantai terdapat bercak-bercak darah dan Yuna tau itu darah dari tangan serta kaki Jayden. Matanya melihat ke sekeliling kamar, tapi Yuna tidak melihat adanya Jayden, kemana laki-laki itu pergi?


Mata Yuna tak sengaja melihat ke arah pintu balkon yang terbuka, ia yakin jika Jayden berasa di sana, sebelum ke balkon Yuna mengambil kotak P3K terlebih dahulu untuk mengobati luka Jayden.


Dan benar saja laki-laki itu berada disana sambil menyesap minuman seperti wine.


"Jay," panggil Yuna.


"Sini sayang," suruh Jayden. Yuna mengangguk lalu menghampiri Jayden.


"Kamu masih suka minum alkohol?" tanya Yuna.


Jayden mengangguk, "Tapi yang aku minum ini kasar alkoholnya rendah kok," jelasnya.


Yuna manggut-manggut, "Tapi aku mohon berhentilah meminum alkohol, itu tidak baik untuk kesehatan tubuh kamu, sayang."


"Iya sayang, aku akan berhenti."


"Aku pegang janji kamu. Oh ya ini aku obati luka kamu," ucap Yuna sambil membuka kotak P3K.


"Nggak usah sayang, ini hanya luka kecil," imbuh Jayden.


"Tapi tetap saja kalau luka itu harus di obati, nanti takutnya luka kamu bisa kena infeksi," kata Yuna. Jayden tersenyum mendengar Yuna yang perhatian padanya.


"Iya sayang." Jayden pun mengulurkan tangannya yang terluka pada Yuna. Lalu Yuna mengobati tangan Jayden yang terluka itu dengan lembut sesekali ia meniupnya dan bergantian dengan mengobati kaki Jayden.


"Sayang, ikut aku ke New York ya?" ajak Jayden membuat Yuna menghentikan kegiatannya lalu menatap Jayden.


"Hah ada apa? Kok tiba-tiba?"


"Aku ingin mengajak kamu untuk hidup bersamaku disana, biar nggak ada lagi laki-laki yang mengganggumu," ucap Jayden.


"Tapi aku masih kuliah Jayden," balas Yuna.


"Kamu bisa berkuliah disana sayang," ujar Jayden.


Yuna menggeleng, "Kuliah aku disini tinggal sebentar Jayden dan aku sudah nyaman kuliah di Imperial College. Aku malas untuk beradaptasi lagi dengan orang-orang di kampus baru," jelasnya.


Jayden menghela napas berat, "Terserah kamu saja. Tapi kalau ada yang berani mendekati dan mengganggu kamu lagi, cepat beritahu aku, paham?" perintah Jayden.


"Iya siap sayang," ucap Yuna mengecup pipi Jayden.


"Yang ini juga sayang." Jayden menunjuk bibirnya.


"Nggak!" tolak Yuna membuat Jayden memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2