Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Jayden Protektif


__ADS_3

Yuna baru saja turun dari tangga, ia bersiap untuk pergi kantor setelah beberapa hari ini ia tidak diizinkan untuk keluar mansion oleh Jayden. Pria itu sangat protektif dengan kehamilan Yuna.


“Sayang, kamu belum berangkat? Aku kira kamu sudah pergi ke kantor," tanya Yuna ketika ia melihat Jayden yang sedang berdiri di samping meja makan.


Jayden tersenyum, lalu membawa jas miliknya yang berada di kursi meja makan. Ia menghampiri Yuna yang sedang menatapnya bingung.


"Aku akan mengantarmu ke kantor, sayang." Jayden mengecup kening Yuna dengan mesra.


“Lalu itu apa?" Tunjuk Yuna ke arah paper bag yang berada ditangan kiri Jayden.


“Ini makanan untukmu. Aku nggak mau kamu makan sembarangan di kantin kantor Papa. Aku sengaja membuatnya."


Yuna hanya menghembuskan napasnya secara kasar, padahal di kantin LKM Holdings Corporation sangat terjaga kehigenisan makanannya, tapi ia hanya bisa pasrah. Percuma ia menolak, karena Jayden pasti akan tetap memaksanya.


"Ayo, nanti kau telat." Jayden merangkul pinggang Yuna dan membawanya ke luar mansion.


"Ya Tuhan, Yuna kamu membawa bekal?" kekeh Deana. Wanita itu pergi mengunjungi Yuna ke kantor, setelah lusa lalu ia pulang dari honeymoon nya bersama Arthur. Ya, mereka berdua sudah menikah dari 2 minggu yang lalu.


Yuna tidak menjawab pertanyaan Deana. Ia memilih untuk menyantap makanannya, ia sangat mudah sekali lapar belakangan ini. Mungkin efek kehamilannya. Bahkan berat badan Yuna naik 2 kg di usia kehamilannya yang baru menginjak hampir 4 minggu ini.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu kemana kemarin? Padahal kemarin aku mencarimu kesini, tapi kata Maura kamu nggak masuk kerja," tanya Deana seraya menatap tajam Yuna yang sibuk dengan makanannya.


“Jayden melarang ku untuk keluar mansion." Yuna merasa kesal jika mengingat hal itu.


Deana menaikkan kedua alisnya. "Dengan alasan apa?"


"Hamil."


"Hamil?" tanya Deana kembali, Yuna menatap Deana dan menganggukkan kepalanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Deana terdiam sejenak seraya meneliti Yuna. Ia masih belum sadar dengan ucapan temannya. Tidak lama kemudian ia membuka mulutnya dengan mata yang membulat sempurna.


“Ma-maksudmu kamu sedang hamil?" pekik Deana sehingga membuat orang sekitar menoleh ke arahnya. Saat ini mereka sedang berada di kantin kantor.


"Aaaaaaa... Aku senang sekali! Akhirnya aku memiliki keponakan!" teriak Deana histeris dan memeluk tubuh Yuna.


“Kenapa kamu heboh sekali? Bahkan saat aku mengetahui kehamilanku, aku nggak seheboh itu!" ucap Yuna menatap temannya.


Deana tertawa bahagia. "Tentu saja aku sangat bahagia mendengar kabar baik ini, Yuna!"


Yuna hanya menggelengkan kepalanya sebelum ia menghembuskan napasnya secara kasar.


"Ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu!" tanya Deana antusias.


Yuna mengerutkan keningnya seraya menatap Deana. "Kamu ini. Persis sekali dengan Jayden!"


“Serius, Yuna. Apa kamu menginginkan sesuatu?"


“Aku ingin ke Jepang. Aku merindukan Kakek dan Nenekku," jawab Yuna dengan mata sendu.


Deana menatap Yuna secara intens. “Jika kamu ingin ke Jepang, maka pergilah. Atau kamu ingin pergi bersamaku?" Mungkin Deana bisa menggunakan waktu itu untuk quality time bersama Yuna, sudah lumayan lama mereka tidak memilik waktu berdua.


Yuna menggelengkan kepalanya. "Jayden nggak akan mungkin mengizinkan aku untuk pergi."


Deana mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Kenapa seperti itu? Kamu kan hanya ingin bertemu dengan kakek dan nenek mu. Oh ya, apa orang tua dan mertuamu sudah mengetahui tentang kehamilanmu?"


"Asal kamu tahu, keluar mansion saja aku dilarang, apalagi keluar negeri. Aku belum memberi tahu tentang hal itu kepada orang tua dan mertuaku. Aku ingin memberi tahu mereka secara langsung."

__ADS_1


Deana terlihat bingung. "Berapa persen kemungkinan Jayden akan melarang mu?"


Yuna terdiam sejenak seraya berpikir. "60%. Semenjak kehamilan ku, Jayden menjadi sangat protektif dan posesif dalam waktu bersamaan. Dia selalu membatasi kegiatanku, bahkan ia mengontrol makanan ku. Aku tidak bisa makan sembarangan saat ini. Dan hal itu membuat aku merasa sangat kesal."


"Coba saja kau berbicara dengan Jayden. Siapa tahu dia akan mengizinkanmu untuk ke Jepang untuk bertemu dengan kakek dan nenek mu," usul Deana. Yuna menggelengkan kepalanya.


"Aku malas berdebat. Karena sudah pasti aku akan menangis jika berdebat dengannya. Semenjak kehamilanku ini, aku menjadi orang yang sangat sensitif. Mudah sekali untuk sedih dan juga mudah sekali untuk bahagia."


"Kamu harusnya bersyukur memiliki suami seperti Jayden. Itu artinya dia sangat menyayangimu!" ucap Deana.


"Sayang yang menyiksa!" ceplos Yuna.


"Heh!" Deana menyenggol lengan Yuna. Sedangkan Yuna hanya terkekeh.


...****************...


Yuna merasa bosan saat ini. Ia tidak memiliki kegiatan sama sekali. Selepas pulang dari kantor dia hanya berbaring dan membaca buku di kamarnya dan Jayden belum pulang juga dari kantornya.


Tiba-tiba Yuna meraih ponselnya dan menekan sesuatu.


“Jayden..." panggil Yuna dengan manja.


"Ada apa sayang? Apa ada sesuatu? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Jayden begitu lembut di seberang telepon.


"Aku menginginkanmu! Cepat pulang!" pinta Yuna dengan suara memelas.


Jayden terkekeh di seberang sana. "Iya sayang sekarang aku pulang. Kamu menginginkan apa? Nanti akan aku belikan selagi di perjalanan pulang."


Yuna menggelengkan kepalanya, "Nggak ada. Aku hanya menginginkanmu, aku ingin menghirup aroma tubuhmu, Jayden!" rengek Yuna.


"Baiklah. Baiklah. Tunggu aku ya. Sekarang aku sudah di jalan."


“Iya. See you, Mommy."


“See you, Daddy!"


Terdengar gelak tawa Jayden di seberang sana yang membuat Yuna ikut tertawa akan hal tersebut, sebelum ia memutuskan panggilannya.


Memang akhir-akhir ini, Yuna sangat menyukai aroma tubuh Jayden. Ia selalu ingin menempel pada suaminya. Anaknya pasti sangat menyayangi Jayden, terbukti ia tidak bisa jauh dari suaminya itu.


Yuna memilih untuk turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar. Ia berniat untuk pergi ke dapur.


"Halo Bi," sapa Yuna saat berada di tengah ruangan.


"Apa Nyonya muda membutuhkan sesuatu?" tanya Marine tersenyum.


Yuna menggelengkan kepalanya, "Aku hanya ingin memakan sesuatu."


"Anda ingin memakan apa? Biar saya buatkan."


Lagi-lagi Yuna menggelengkan kepalanya. "Tidak Bi, aku hanya akan memakan makanan yang ada di lemari pendingin."


“Baiklah. Jika Anda menginginkan sesuatu, katakanlah kepada saya."


Yuna hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis.


Ia melangkahkan kakinya ke arah dapur. Namun perhatiannya terkunci pada sesuatu.

__ADS_1


"I-ini," ucap Yuna terbata.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Marine yang berada di belakangnya.


Yuna membalikkan tubuhnya untuk menghadap Marine.


"Apa ini ulah Jayden?" tanya Yuna seraya menunjuk sesuatu yang berada di hadapannya.


Marine tersenyum. "Betul, Tuan muda sengaja membelinya untuk Anda. Karena Tuan muda tahu, jika Anda sangat menyukai Ice Cream."


Yuna hanya bisa diam membisu. Ia tidak habis pikir dengan Jayden jika sudah menunjukkan diri sebagai orang kaya. Pria itu tidak akan segan-segan dalam melakukan apapun.


Seperti saat ini contohnya. Jayden membeli freezer ice cream. Di sana terdapat banyak varian rasa ice cream. Tentu saja membuat Yuna senang. Namun ini terlalu berlebihan baginya.



Yuna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hasil kegilaan suaminya itu. Ya, dia adalah Jayden Choi. Pria kaya yang gila.


"Kenapa nggak sekalian saja membuka kedai ice cream!" gumam Yuna.


"Apa kamu ingin aku membuka kedai ice cream?" tanya seseorang.


Yuna sedikit tersentak mendengar suara bariton seksi itu.


"Aku akan membuatnya jika kamu mau, sayang. Apapun untukmu." Jayden memeluk tubuh Yuna dari belakang, memberikan banyak kecupan pada pundak wanitanya.


Yuna memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Jayden. Dan ia melihat ke sekitar, ternyata Marine sudah pergi.


"Tapi ini terlalu berlebihan, Jayden!"


"Aku tidak mau kau membeli makanan di luaran sana. Belum tentu makanan tersebut bebas dari bakteri. Kamu tahu, jika kamu memakan makanan yang sudah terkontaminasi dengan bakteri, itu akan membahayakan kandunganmu. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu dan calon baby kita!"


"Kamu tenang saja, ini sudah dipastikan aman bagi kehamilanmu. Gula yang dipakai pun adalah gula khusus, yang aman bagi ibu hamil. Aland yang akan menjadi taruhannya!" sambung Jayden.


Yuna hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum ia memilih untuk memeluk tubuh Jayden. Ia sangat merindukan aroma tubuhnya. Aroma yang menjadi favoritnya.


“Hirup aroma tubuhku sepuasnya, sayang." Jayden mengelus punggung Yuna dengan lembut. Lagi-lagi Yuna hanya menganggukkan kepala.


"Aku memiliki sesuatu untukmu."


Yuna menjauhkan tubuhnya dari Jayden. Ia mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Jayden.


"Apa?" tanya Yuna.


Jayden melepaskan pelukannya dan melangkahkan kakinya ke arah mini bar. Tatapan Yuna mengikuti arah Jayden.


Yuna tersenyum manis dengan rona wajah yang sudah memerah. Dia selalu merasa malu jika Jayden berlaku romantis padanya. Walaupun ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya.


Jayden menghampiri Yuna dan memberikan sebuah bunga yang indah dengan buket yang cukup besar kepada wanitanya.


"Bunga yang cantik, untuk istri tercantik di dunia." Jayden mengedipkan satu matanya seraya tersenyum genit.


Oh Lord. Pria itu benar-benar sangat seksi. Jika Yuna melupakan kehamilannya, mungkin ia akan menyeret Jayden ke tempat tidur.


"Terima kasih. Kamu sangat manis sekali, Daddy." Yuna pun mengedipkan satu matanya dengan sangat genit. Ia tidak mau kalah oleh Jayden.


Dan benar, Jayden selalu kalah telak oleh wanitanya. Ia segera memeluk Yuna seraya memagut bibir manis milik Istrinya itu. Yuna memang hanya miliknya. Hanya milik Jayden Choi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2