Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Family Dinner


__ADS_3

From Mama :


mau ajak kalian dinner soalnya mama kangen mantu mama. Nanti mama share ya lokasinya.


Zelvin menyimpan kembali ponselnya setelah membaca pesan dari mamanya. Dia menatap Liora yang sedang makan sarapannya dengan tenang. Liora termasuk gadis yang makannya lama, porsinya saja sedikit tapi waktu menghabiskannya sangat lama.


UHUK!


Liora batuk ketika menyadari bahwa Zelvin terus menatapnya ketika sedang makan, membuat Liora sedikit terganggu. Apalagi, tatapan Zelvin yang dingin membuat


nya merasa terintimidasi.


"Minum." Zelvin menyodorkan air putih dan Liora menerimanya.


"Makannya pelan-pelan," pesan Zelvin. Liora mengangguk, dia mengambil tisu dan membersihkan bibirnya.


"Sudah selesai?" tanya Zelvin.


Liora mengangguk, "Iya, aku sudah kenyang."


Zelvin mengernyitkan heningnya, "Serius? Pantas saja rata, makannya aja sedikit," ucap Zelvin mengomentari bentuk tubuh Liora.


"Ih apaan sih, aku memang sudah kenyang masa harus di paksa!" protes Liora.


Zelvin memutarkan bola matanya, "Terserah kamu!"


Liora mengupas buah-buahan yang ada di atas meja. Hal baru yang selalu Liora lakukan ketika sarapan adalah dia selalu mengupas buah untuk Zelvin.


"Berangkat bareng saya, pulangnya di jemput supir kamu. Nanti malam saya jemput, Mama ajak kita makan malam di luar," ujar Zelvin.


Tangan Liora berhenti mengupas apel, dia menatap Zelvin. "Makan malam di luar? Ada acara apa?" tanyanya bingung.


"Hanya makan malam," jawab Zelvin.


"Pakaiannya nggak perlu formal dong?"


Zelvin mengangguk. Liora menyodorkan buah yang apel yang sudah ia kupas dan potong kecil kecil.


"Terima kasih," ucap Zelvin dan di balas anggukan kepala oleh Liora.


...****************...


"Sumpah Liora! Kamu orang paling beruntung di dunia ini. Harusnya kemarin kamu lihat pada saat si Lea di bawa sama polisi. Iya sih, bu Astrid kasian tapi anaknya seperti ja.lang sih!" tutur Jennie yang menceritakan kejadian waktu itu dengan nada yang sedikit sewot.


"Pokoknya, suami kamu hebat banget, Lio," sambung Jennie.


Rafael melihat raut wajah menyedihkan dari Liora. Rafael mengerti, gadis yang duduk di depannya ini sangat baik. Dia juga yakin, pasti Liora sudah berusaha membujuk suaminya untuk tidak memenjarakan Lea, namun dia gagal. Liora, gadis yang baik di mata Rafael.


"Gapapa Lio, kamu nggak perlu khawatir atau kasihan. Disini, bukan kamu saja yang menjadi korban. Banyak Lio! Bahkan dari mereka banyak yang keluar, karena nggak tahan sama tindakan bullying dari Lea. Menurut aku, kamu hebat, kamu berani bertahan apalagi sampai di celaka kan seperti itu," ucap Rafael memberikan sedikit ketenangan agar Liora tidak terlalu khawatir.


Jennie mengangguk setuju. "Benar. Aku ingat banget waktu jaman si Defisa di bully karena nggak sengaja menumpahkan minuman dia. Sumpah aku kasian banget, apalagi si Defisa sampai nggak mau kuliah."


Rafael memakan kentang milik Jennie. "Selain Defisa, banyak lagi yang dibully sama Lea. Bahkan sama kakak senior saja dia nggak ada rasa takutnya. Setidaknya ini bisa membuat dia merenung untuk memikirkan semua kesalahannya," timpal Rafael.


"Iya aku tau, tapi aku merasa seperti ada yang mengganjal. Tapi apa ya?" ungkap Liora.


"Alvin?"tebak Rafael membuat Liora terdiam.


"Setelah kejadian itu, Alvin nggak masuk kuliah, Lio. Dia selalu titip absen sama yang lain. Entah kenapa, mungkin dia sedikit syok atau apa. aku nggak tahu, akhir akhir ini aku nggak komunikasi sama dia meskipun soal tugas juga," jelas Rafael tentang Alvin.


"Aku harap dia baik-baik saja," ucap Liora lirih.


Jennie mengerutkan keningnya, "Liora, please jangan bilang kalau kamu masih suka sarna Alvin, aku pukul kamu ya!" ancam Jennie.


Rafael menatap gadis yang duduk di sebelah Liora. Rafael menggenggam tangan Jennie, agar gadis itu tidak terlalu emosi. "Jen, dengarkan aku dan kamu juga, Liora. Cinta pertama, itu memang sulit dilupakan, Jen. Seburuk apapun, dia tetap menjadi tokoh di dalam cerita percintaan kita namun posisi nya masih bisa diganti."


"Tapi, cinta terakhir adalah tokoh yang tidak bisa berpindah posisinya. Alvin, cinta pertama Liora dan Zelvin adalah cinta terakhir Liora, iya nggak Ran? Aku bijak nggak?" sambung Rafael sambil menaik turunkan alisnya.


Jennie yang awalnya serius, dia menarik tangannya dan memukul wajah Rafael. "Sialan kamu! Aku lagi serius mendengarkan ucapan kamu karena kamu selalu bijak, brengsek " umpat Jennie.


"Kamu ya..." geram Liora.


Rafael hanya nyengir tanpa dosa.


"Eh, tapi aku ada pertanyaan deh," celetuk Liora.


"Apa?" tanya Rafael dan Jennie barengan.


"Nanti malam aku makan malam diluar sama mas Zelvin, aku harus dandan seksi atau biasa saja?"

__ADS_1


...****************...


"Sudah?


Liora mengangguk, "Iya."


Zelvin menarik bibirnya untuk tersenyum tipis, sangat tipis Liora sangat cantik dengan dress berwarna hitam dan rambutnya di gerai dengan Indah Zelvin menarik pinggang Liora, lalu berjalan bersamaan menuju mobilnya Mereka masuk ke dalam mobil, lalu mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


Tidak ada percakapan apapun di dalam mobil, hanya ada keheningan yang tercipta. Mereka sama sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Liora yang gugup sedangkan Zelvin, dia sesekali menatap gadis cantik disebelahnya.


"Lokasinya jauh banget ya kak?" itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Liora.


Zelvin menoleh sebentar, "Iya kita akan makan di Busan."


"Apa?" kejut Liora Zelvin hanya mengangguk saja bahwa yang di dengar Liora tidak salah.


"Berarti Mama, Papa, Moana sama Emmanuel udah ada di Busan?"


Zelvin mengangguk.


"Pantas saja, aku sempat bingung katanya kamu mau jemput malam tapi kamu malah jemputnya sore," ungkap Liora.


Tangan Zelvin terulur untuk mengelus surai indah milik Liora. "Cantik."


Liora menoleh, "Hah?"


"Kamu cantik, Keanna."


Liora menahan senyumannya. Perutnya seperti ada kupu-kupu yang ingin keluar untuk terbang bebas, wajahnya pun seperti memanas padahal di dalam mobil cukup dingin.


"Gimana kuliah kamu?" tanya Zelvin.


"Baik, nggak ada lagi yang menghina aku lagi. Terima kasih ya kak atas bantuan kamu."


Zelvin mengangguk, dia menarik tangan Liora dan menyimpan di pangkuannya. "Lain kali, bilang sama saya kalau ada yang menganggu kamu di kampus."


Liora mengangguk dan tersenyum.


"Tunggu!"


Langkah Zelvin langsung berhenti, Liora berjalan mendekat ke arah Zelvin. Tangannya terulur untuk merapikan dasi Zelvin yang berantakan, Liora juga membenarkan rambut Zelvin yang sedikit berantakan.


"Sekarang sudah rapi," ucapnya.


"Gimana perjalanan kalian? Aman?" tanya Marissa.


Liora mengangguk, "Aman, ma."


"Syukurlah. Mama seneng banget bisa ketemu lagi kamu Ran, kenapa nggak main ke mansion Papa sih?" protes Marissa.


Zelvin memutar matanya jengah, "Ma, jarak rumah mama sama rumah kita nggak memakan waktu seharian."


Marissa langsung terkekeh.


Acara pun berlanjut. Ternyata, alasan Marissa mengajak makan malam di luar adalah untuk merayakan kesenangannya. Marissa sangat senang mendengar kabar bahwa putranya menghukum mahasiswi yang telah merundung menantunya, dari tindakan Zelvin itu Marissa menyimpulkan bahwa putranya mulai luluh oleh menantunya.


Tidak ada obrolan serius selama acara makan malam berlangsung, hanya ada candaan yang dibuat oleh Moana untuk membangkitkan suasana. Moana, Marissa dan Liora memiliki selera humor yang sama membuat meja makan ini heboh oleh ketiga wanita itu.


Waktu terus berjalan, akhirnya acara pun selesai.


"Kalian mau langsung ke Seoul?" tanya Zelvin.


Ferdinand menggelengkan kepalanya, "Kita sudah memesan hotel. Mungkin nanti pagi, kita baru berangkat ke Seoul."


"Nuel, mau ikut Mama atau tante Moana?" tanya Liora.


"Aku boleh ikut tante Moana, Ma?" tanya Emmanuel.


Liora tersenyum, lalu mengangguk. "Boleh dong, tapi memangnya kamu nggak rindu dengan Mama?"


Emmanuel terdiam, "Aku rindu mama Liora, tapi tante Moana punya game yang bagus ma."


Liora melirik Moana, membuat gadis itu nyengir. "Nggak tiap hari kok main game


nya, ya kan Nuel?


Emmanuel mengangguk.


"Ya sudah, tapi jangan sering-sering ya. Kalau mau sama Mama, telepon aja ya?" pesan Liora.

__ADS_1


Emmanuel mengangguk, "Oke Ma."


Setelah acara selesai. Liora dan Zelvin langsung berpamitan untuk pergi, tapi Liora tidak tahu Zelvin akan membawa nya kemana. Pria itu terlihat terburu-buru.


"Kak, Kita mau kemana?" tanya Liora.


Zelvin melirik Liora sekilas, lalu kembali fokus ke depan. "Hotel."


Liora mengangguk, lalu dia kembali terdiam.


"Liora," panggil Zelvin.


Liora menoleh, "Iya?"


"Nanti sesampainya di hotel, temani saya minum ya?" pinta Zelvin, "Saya sudah beli wine dan saya lagi mau minum, Lio." lanjutnya.


"Tapi aku nggak bisa minum-"


"I know, saya beli minuman khusus untuk kamu," balas Zelvin


Hotel yang di pesan Zelvin, sangat bagus. Desain kamarnya pun sangat mewah, membuat Liora terus terpukau dengan isi kamar hotelnya. Sepertinya, Liora terlihat kampungan, tapi dia tidak peduli karena ini benar benar bagus.


Seperti yang Zelvin pinta tadi, di kamar hotel sudah tersedia beberapa botol wine dan beberapa kotak susu membuat Liora terkekeh geli.


Zelvin melepaskan jas dan dasinya, lalu membuka dua kancing atas kemejanya Zelvin mengacak-acak rambutnya sehingga berantakan Melihat itu membuat Liora terus meneguk ludahnya.


Zelvin memeluk Liora dari samping, dia menghirup aroma khas dari tubuh gadisnya Liora cantik malam ini. Zelvin Udak henti untuk memuji gadis ini. "Enak?" tanya Zelvin.


"Apanya?"


"Susunya."


Liora mengangguk, "Enak kak."


Zelvin tersenyum. Lalu menarik tengkuk Liora untuk mencium bibir gadis itu yang terlihat menggoda. Zelvin melu.mat bibir Liora, mengabsen setiap Inchi bibir gadis ini. Bibir Liora sangat manis, membuat Zelvin selalu ingin melakukan lebih.


Liora menarik kerah kemejanya dengan pelan untuk memberi kode kepada Zelvin bahwa napasnya sudah habis, Zelvin langsung melepaskannya dani menarik tubuh Liora untuk duduk di pangkuannya membuat Liora terkejut.


"Kamu cantik. Sangat cantik. Cantik banget dan selalu cantik. Kamu harus tahu itu," tegas Zelvin sambil memeluk erat Liora Zelvin menyenderkan tubuhnya di kursi, membuat Liora menyenderkan kepalanya di dada pria ini.


Zelvin mengambil gelas dan meminum minuman yang berwarna merah itu. "Kadar alkohol nya cuma 15%, jadi saya masih sadar," tutur Zelvin ketika mengerti apa yang dipikirkan gadisnya.


"Liora, kamu mau liburan?" tanya Zelvin.


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak tau kak, apalagi tugas lagi numpuk gini."


"Ke pulau Jeju, mau?" tawar Zelvin.


Liora mengangguk antusias, "Mau!"


"Minggu depan saya ke pulau Jeju, saya mau kamu ikut, gimana?"


Liora terdiam, "Aku nggak tau, soalnya takut nanti dosen pembimbing akan marah."


"Kamu lupa siapa donatur terbesar si kampus kamu?"


Liora membuang napasnya, "Kak Zelvin."


Zelvin tertawa pelan, dia mengecup bibir Liora. "Pintar."


Liora hanya mendengus kesal.


"Liora, kamu ingin memiliki anak berapa?" celetuk Zelvin membuat Liora terkejut dengan pertanyaannya.


Liora mendongak, "Kamu sudah mabuk ya kak?"


"Saya masih sadar, Liora."


"Terus kok nanya gitu sih?"


"Itu pertanyaan yang biasa, ada masalah?"


Liora menggelengkan kepalanya.


Zelvin mengusap kepala Liora. "Liora,


saya egois. Ketika kamu sudah masuk ke dalam dunia saya, saya tidak akan melepaskan kamu, Lio. Kehilangan membuat saya hancur, sekuat apapun kamu minta pergi, saya nggak akan mengijinkan kamu. Mengerti?"


Liora mengangguk.

__ADS_1


Zelvin menggigit telinga Liora pelan membuat gadis Ini mende.sah dan bergerak gelisah di atas pangkuannya. Membuat Zelvin berdesis pelan ketika merasakan sensasi itu.


...----------------...


__ADS_2