
Liora baru saja keluar dari kamar mandi. Dia menatap Zelvin yang sedang duduk di atas ranjang sambil membuka map yang berwarna kuning, seperti pria itu sedang sibuk. Liora melangkahkan kaki nya menuju meja rias karena dia ingin mengeringkan rambutnya.
Zelvin menyimpan map nya di nakas, dia turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Liora. Zelvin mengambil alih hairdryer dari tangan Liora, dia membantu Liora untuk mengeringkan rambutnya.
“Kenapa mandi pakai air dingin, hem?” tanya Zelvin ketika dia merasakan kulit Liora yang sangat dingin.
“Gerah, jadi pakai air dingin aja,” jawab Liora. Dia menatap Zelvin dari pantulan cermin di depannya, Zelvin menggunakan kaos polos dengan celana training panjang.
“Kamu nggak kedinginan? Tangan kamu dingin banget,” tanya Zelvin.
Liora menggelengkan kepalanya pelan, “Enggak kok, kak.”
Zelvin memerhatikan wajah Liora dari cermin, gadis ini terlihat berbeda semenjak dia menjemput Liora di rumah temannya. Liora menjadi lebih pendiam, sering gugup dan selalu menundukkan kepala nya. Zelvin hanya tersenyum melihat kelakuan manis Liora. Anak Jayden dan Yuna itu memang sangat menggemaskan.
“Selesai,” ucap Zelvin, dia menyimpan hairdryer di tempat semula. Zelvin meminta Liora untuk berdiri, dia merapikan rambut Liora dengan jarinya.
“Kamu kenapa?” tanya Zelvin.
Liora menggelengkan kepalanya, “Gapapa, kak.”
“Tapi kamu banyak diam setelah pulang dari rumah temanmu. Di meja makan saja, kamu mendiamkan saya.” tutur Zelvin
Liora bergerak gelisah, di mulai gugup lagi. Apalagi Zelvin yang terus memperhatikannya. “A-aku—”
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Liora merasa ada benda kenyal yang menempel di bibir nya. Liora memejamkan matanya, merasakan gerakan dari bibir Zelvin. Zelvin melu.mat bibir Liora dengan lembut, dia menggigit bibir bawah istrinya dan mengabsen setiap inci mulut gadis itu.
“Engh...”
Liora menarik ujung kaos Zelvin ketika napas nya sudah habis. Zelvin langsung melepaskan ciumannya, menatap Liora dengan senyuman. Tangan Zelvin terangkat untuk mengelus rambut Liora, “Masih kangen nggak sekarang?” goda Zelvin.
Liora memajukan bibirnya, “Kak, itu Jennie yang menyuruh, kita—”
“Iya saya tahu,” potong Zelvin.
Zelvin menggendong Liora, reflek gadis itu melingkarkan tangannya di leher Zelvin karena takut jatuh.
“Kak Zelvin, mau ngapain?” tanya Liora mulai was-was.
Zelvin tidak menjawab. Dia melangkahkan kaki panjangnya menuju ranjang, lalu duduk di pinggir ranjang. Zelvin memeluk erat tubuh kecil Liora, menghirup aroma yang selalu menjadi favoritnya.
“Kak Zelvin ada masalah di kantor?” tanya Liora, mengingat tadi siang, ketika Zelvin pergi ke kantor dengan tergesa-gesa.
Zelvin menggelengkan kepalanya, “Bukan masalah besar, tapi sekarang udah aman,” jawab Zelvin.
Liora mengangguk. Zelvin mendekatkan wajahnya, dia memiringkan kepalanya, baru saja ingin memejamkan matanya suara dering ponsel yang bergetar di atas nakas membuatnya mengumpat kesal.
“Angkat!” suruh Zelvin.
“Tapi itu ponsel kamu kak,” balas Liora.
“Angkat saja.”
Liora mengambil ponsel Zelvin di nakas, dia melihat siapa yang menelfon Zelvin.
“Dari mama,” ucap Liora, lalu dia menekan tombol hijau.
“Halo Zelvin.”
“Halo Ma, ini Liora.”
“Eh Liora sayang, kamu sedang apa nak?”
“Lagi santai aja, ma. Kenapa?”
“Liora, Emmanuel dari tadi terus nangis pengen kesana. Moana sama Emmanuel berantem, jadi Emmanuel nangis terus karena dimarahi Moana.”
“Astaga, ya udah Ma. Aku sama kak Zelvin kesana ya?”
__ADS_1
“Iya sayang, hati - hati ya.”
“Iya Ma.”
Tut!
“Kenapa?”
“Emmanuel nangis di mansion Papa, ayo kita kesana, kak. Kasian Emmanuel,” ajak Liora.
Dia ingin turun dari pangkuan Zelvin, namun Zelvin menahannya. “Saya saja yang pergi. Kamu tunggu di mansion.”
Liora menggelengkan kepalanya, “Nggak mau, aku mau ikut!” kukuh Liora.
“Ini sudah malam, Liora. Kamu lebih baik tunggu disini saja ya?” pinta Zelvin.
“Nggak mau, aku ikut saja. Kesana nya juga pakai mobil kan? Jadi gapapa ya?”
Zelvin membuang napasnya, keras kepala sekali gadis di pangkuannya ini. “Pakai jaket.”
Liora mengangguk, lalu dia turun dari pangkuan Zelvin.
...****************...
“MAMA LIORA?” teriak Emmanuel ketika Zelvin dan Liora baru saja masuk ke dalam mansion milik keluarga besar Ferdinand Park. Emmanuel berlari ke arah Liora, Liora berlutut untuk menerima pelukan dari Emmanuel.
“Kamu kenapa, hem?” tanya Liora ketika melihat jejak air mata di wajah Emmanuel. Dia mengelus pipi Emmanuel untuk menghapus jejak air matanya.
“Tante Moana jahat, Ma. Dia marahin aku gara-gara aku nggak sengaja masukin kucingnya ke dalam got,” adu Emmanuel.
“Kok bisa, kenapa?”
“Aku lempar,” jawab Emmanuel dengan santai.
“Terus Tante marahin aku, pas Tante pulang dari dokter hewan, dan Tante langsung usir aku dari kamarnya,” sambung Emmanuel.
Emmanuel mengangguk, “Aku tahu Ma, aku sudah minta maaf. Tapi Tante masih marah, sekarang tante ada di kamarnya lagi mengelus-elus si Miko.”
Liora mengelus rambut putranya, “Jangan di ulangi lagi ya, sayang? Tante Moana sangat sayang sama Miko, tapi kamu malah melukainya. Kita harus menyayangi semua hewan. Jangan di lempar-lempar seperti itu lagi, ngerti?” nasihat Liora.
Emmanuel mengangguk, “Maafkan aku, Ma."
Liora mengangguk, “Iya sayang, Mama maafkan. Terus sekarang kita minta maaf ya sama tante Moana?”
“Iya, Ma."
Zelvin yang melihat interaksi Emmanuel dengan Liora membuat sedikit bergetar. Emmanuel tidak pernah berani seperti itu kepadanya, karena dia akan selalu dimarahi jika berbuat nakal. Berbeda dengan Liora, gadis itu memberikan pemahaman dengan sangat lembut.
“Oma, dimana?” tanya Zelvin.
“Di atas, lagi bujuk tante Moana,” jawab Emmanuel
“Ayo ke atas,” ajak Zelvin.
Liora mengangguk, dia menuntun Emmanuel untuk menuju kamar Moana yang berada di lantai dua.
Tok!
Tok!
Tok!
“Masuk!”
Zelvin membuka pintu kamar Moana. Dia melihat kamar Moana yang berantakan, tapi perhatiannya berpusat ke kucing yang sedang di pangkuan Moana. Miko. Dia adalah kucing kesayangannya.
“Kak, liat tuh kelakuan anak kakak. Kucing aku jadi luka, kasian banget, sampe di jahit tahu. Marahin dia kak!” semprot Moana sambil mengadu pada Zelvin.
__ADS_1
“Moana...” panggil Liora.
Moana menatap Liora, namun dia sudah luluh dengan tatapan sendu itu. “Maafin Emmanuel ya?” pinta Liora.
Moana memajukan bibirnya, “Yah, kalau kak Liora yang minta aku susah nolak nya. Aku maafin deh,” putus Moana.
“Kalau gitu buat apa Mama bujuk kamu pakai barang-barang branded kalau sama Liora saja kamu langsung luluh!” gerutu Marissa.
Semua terkekeh, kecuali Zelvin dan Emmanuel. Ingat, bahwa dua laki-laki itu sangat kaku, seperti triplek.
“Tante Moana, maafin aku ya,” lirih Emmanuel dengan penuh sesal.
"Iya, tapi jangan lakuin itu lagi ya? Nanti tante nggak mau belikan kamu mainan lagi. Biar tahu rasa!” ancam Moana.
“Iya Tante.”
Moana memeluk erat Emmanuel. Dia juga merasa bersalah karena marah-marah kepada Emmanuel dengan berlebihan, habisnya bocah tampan itu sudah membuat dirinya emosi ketika melihat si Miko dekil, bau got, terus luka-luka.
...****************...
“Aku boleh tidur bareng Mama?” pinta Emmanuel yang baru saja masuk ke dalam kamar orang tuanya.
“Boleh dong sayang, kenapa nggak? Iya kan kak?” tanya Liora.
“Hem,” Zelvin sudah duduk di pinggir ranjang.
Dia menunggu Liora dan Emmanuel yang sedang gosok gigi di kamar mandi.
“Kamu tidur di tengah ya,” suruh Liora kepada Emmanuel. Baru saja Emmanuel ingin naik ke atas ranjang, tapi Zelvin sudah protes.
“Nggak! Kamu yang di tengah, Emmanuel di pinggir,” protes Zelvin.
“Kak ih, mana bisa begitu! Takut nanti Emmanuel jatuh pas tidur,” balas Liora.
“Nggak akan!”
“Daddy! Mending Daddy saja yang keluar, banyak protes,” kesal Emmanuel.
“Heh! Ini kamar siapa?”
“Daddy.”
“Ya sudah, jadi terserah Daddy dong?”
Liora menjadi gemas sendiri dengan pertengkaran ini. Zelvin tidak mau kalah dan Emmanuel yang terus mengajak Zelvin debat.
“Sudah! Oke, Emmanuel gapapa ya tidurnya di pinggir?”
Emmanuel hanya mengangguk pasrah.
Liora dan Emmanuel naik ke atas ranjang. Mereka merebahkan tubuhnya, bersiap untuk tidur. Liora menarik selimut hingga leher Emmanuel, lalu memeluk anak laki-laki itu.
“Terus selimut saya nggak ditarik juga?” celetuk Zelvin.
“Kamu bisa sendiri kak,” jawab Liora sambil memejamkan matanya.
“Liora,” panggil Zelvin, namun Liora tidak menggubrisnya.
“Keanna,” panggil Zelvin lagi.
Liora mende.sah kasar, mengapa Zelvin menjadi manja seperti ini? Liora membuka matanya, dia menarik selimut Zelvin sampai pinggang pria itu.
Zelvin tersenyum, dia memeluk Liora dengan sangat erat. Zelvin mencium leher Liora, menghirup aroma tubuh Liora. Zelvin memasukkan tangannya ke dalam baju Liora, lalu mengelus perut rata Liora.
“Kak, jangan macam-macam!”
“Saya janji, hanya seperti saja.”
__ADS_1
...----------------...