
"Eh tunggu dulu sayang." Jayden menarik tubuh Yuna agar menghadapnya kembali.
"Apalagi sih Jay? Aku ngantuk!" kesal Yuna.
"Aku belum selesai bicara."
"Kamu mau bicarakan apa sih?" tanya Yuna.
"Besok malam aku ada undangan pesta ulang tahun partner bisnis aku dan di undangan itu tertera harus membawa pasangan," jelas Jayden.
"Terus?" sela Yuna.
"Awalnya aku nggak mau pergi karena nggak ada pasangan. tapi karena kamu disini, aku mau ajak kamu pergi ke pesta itu, mau ya?" ajak Jayden.
"Harus ya?"
Jayden mengangguk sambil mengeluarkan wajah memelas nya dan berharap Yuna mau di ajak ke pesta tersebut.
Yuna yang tidak tega melihat wajah memelas Jayden seperti kucing minta dipungut itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Kamu seriusan mau?" tanya Jayden berbinar.
"Iya serius."
"Terima kasih sayang," ucap Jayden mencium kening Yuna cukup lama.
"Hem, sekarang kita tidur ya? Aku sudah ngantuk sekali," kata Yuna sambil menguap saking mengantuk nya.
"Iya sayang." Jayden membawa Yuna ke dalam dekapannya sementara itu Yuna menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Jayden.
Terdengar kicauan burung dari luar jendela. Dedaunan kering dari pohon jatuh satu persatu ke tanah. Semilir angin menerpa kulit halus milik Yuna, sehingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Mata Yuna menyipit tak kala sinar matahari menyapa penglihatannya. Pandangannya sedikit kabur, membuat ia tak dapat melihat sempurna.
Yuna menggosok pelan matanya. Kemudian ia menatap ke samping dan hampir berteriak saat melihat sosok laki-laki tampan yang tengah tertidur pulas bersamanya. Sebab ini pertama kalinya Yuna tidur seranjang dengan laki-laki, sedetik kemudian ia bernapas lega ternyata laki-laki itu adalah Jayden. Ia lupa jika semalam tidur bersama kekasihnya itu.
Yuna mengelus pipi milik lelaki yang ada di hadapannya ini, ia sangat bersyukur sampai 2 tahun lebih ini masih bersama Jayden. Lelaki yang dulu pernah mempermalukan dan menyakiti hatinya, tapi langsung menggantikannya dengan kebahagiaan serta ketulusan.
"Sekarang jam berapa ya?" tanya Yuna serak seraya melepaskan lilitan tangan Jayden dari perutnya. Yuna bangun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
"Sudah jam setengah tujuh. Memang Jayden nggak kerja hari ini? Kok dia belum bangun juga sih?" tanya Yuna menatap ke arah Jayden.
Yuna mencoba untuk membangunkan Jayden.
"Sayang bangun." Yuna menggoyang-goyangkan lengan Jayden. Namun lelaki itu tidak bergeming sama sekali. Yuna beralih menepuk pelan pipi Jayden.
"Bangun Jay, ini udah jam setengah 7 loh. Memangnya kamu nggak kerja hari ini?" tanya Yuna.
Jayden mulai terusik, "Eumm, five more minutes mom, please."
"Aku bukan Mama kamu Jayden!" kesal Yuna dengan meninggikan suaranya
Jayden tersentak dan langsung membuka matanya setelah mendengar suara teriakan Yuna tadi.
"Astaga, maaf sayang, aku mengira kamu Mama tadi," sesal Jayden.
"Ayo bangun, kamu kan hari ini kerja!" suruh Yuna.
"Tapi aku masih ngantuk sayang," rengek Jayden.
"No, Jayden! Kamu harus bekerja. Ayo bangun nanti kamu bisa telat!" Yuna terus memaksa Jayden untuk bangun.
"Iya ini mau bangun." Dengan terpaksa Jayden terbangun merubah posisinya menjadi duduk.
"Sekarang kamu mandi!" titah Yuna bak ibu yang sedang menyuruh anaknya untuk mandi.
__ADS_1
Jayden mengangguk, "Hari ini kamu ikut aku ke kantor ya?" ajaknya.
Yuna menggeleng, "Nggak mau, nanti yang ada aku malah mengganggu kamu bekerja lagi," tolaknya.
"Gapapa sayang, kamu ikut ya aku ke kantor?"
"Nggak Jayden, lebih baik aku diam di mansion saja," tolak Yuna terus.
Jayden menghela napas, ia tak bisa memaksakan Yuna lagi.
"Ya sudah, tapi inget ya, nanti jam 7 kita pergi ke acara ulang tahun partner bisnis aku?"
Yuna mengangguk, dirinya tak akan lupa tentang pesta itu. "Kamu nanti pulang jam berapa?" tanyanya.
"Nanti aku pulangnya jam setengah 6. Jangan dandan yang cantik-cantik ya?" perintah Jayden.
"Memangnya kenapa?" tanya Yuna bingung.
"Aku hanya tak ingin para lelaki berhidung belang disana memandangi kecantikan mu sayang," jelas Jayden sambil menangkup kedua pipi Yuna membuat bibir Yuna tampak seperti mulut ikan.
"Aku kira kenapa. Ayo kamu mandi dulu sana, aku mau buatkan sarapan untuk kamu."
"Iya sayang."
CUP!
Jayden mengecup bibir Yuna sekilas.
"Jayden!" tegur Yuna menatap tajam Jayden.
"Morning kiss sayang," ucap Jayden menampilkan raut wajah tanpa dosa.
"Ish kamu curi kesempatan dalam kesempitan!" kesal Yuna.
"Aku juga curi kesempatannya sama kamu sayang," ujar Jayden sambil mengedipkan sebelah matanya membuat pipi Yuna memerah.
"Iya kamu cerewet sekali seperti Mama!"
"Kamu bilang apa tadi?" Yuna memasang wajah galak sambil berkacak pinggang. Jayden takut kena amukan dari Yuna, langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.
Yuna menghela napas sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah Jayden.
"Aku siapkan Jayden pakaian kerjanya dulu," gumam Yuna berjalan ke arah ruang wardrobe.
Setelah menyiapkan pakaian kerja Jayden, Yuna pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan, sebelum itu ia ke kamar mandi lain untuk mencuci wajahnya.
"Pagi Bi," sapa Yuna pada salah satu pelayan di mansion Jayden.
"Pagi Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.
"Oh itu, saya mau buat sarapan untuk Jayden," jawab Yuna.
"Tidak usah Nona, biar saya saja yang membuat sarapan. Saya tidak mau nanti Tuan muda marah," imbuh pelayan itu mengeluarkan raut wajah sedikit ketakutan.
"Tidak apa-apa Bi, saya sudah izin kok dengan Jayden. Jadi biar saya saja yang buat sarapan dan Bibi kerjakan pekerjaan rumah lain saja," pungkas Yuna. Apa Jayden suka berbuat semena-mena terhadap semua pekerja di rumahnya? Pikir Yuna.
"Baiklah Nona, kalau begitu saya mau bersih-bersih halaman belakang mansion dulu," izin pelayan itu.
"Silahkan Bi."
Setelah kepergian pelayan itu, Yuna mulai memasak, ia akan membuat sarapan yang simple saja, yakni Avocado Toast.
Cukup 20 menit, sarapan buatan Yuna pun telah siap. Yuna pun bergegas kembali ke kamar memberitahukan kepada Jayden untuk segera sarapan.
__ADS_1
Sebelum masuk, Yuna mengetuk pintu kamar Jayden terlebih dahulu, takutnya nanti laki-laki itu sedang mengenakan pakaian atau parahnya lagi tidak mengenakan apapun, bisa-bisa mata Yuna ternodai melihatnya.
"Masuk saja sayang!" sahut Jayden dari dalam kamarnya.
CEKLEK!
Yuna pun masuk ke dalam kamar, terlihat Jayden tengah memasang kancing di lengan kemejanya.
"Ngapain harus ketuk pintu sih? Kenapa nggak tinggal masuk saja?" tanya Jayden heran.
"Ya aku kira kamu lagi pakai baju, kalau aku nyelonong masuk ke kamar kamu, terus kamu nya lagi nggak pake baju, gimana? Bisa ternodai mata polos ku ini," ucap Yuna mendramatisir.
"Ya bagus lah, kamu jadi bisa melihat badan aku yang sixpack ini, jadi nanti waktu kita nikah kamu nggak bakal terkejut melihatnya," timpal Jayden santai.
"Jayden jangan mesum mulu deh! Aku malu tau kamu bahas kayak gitu!" kesal Yuna dan wajahnya kembali memerah. Melihat wajah yang merah merona membuat Jayden tertawa.
"Gapapa lah sayang, kamu juga kan sudah dewasa, sudah seharusnya dapat pelajaran kayak gitu," kata Jayden dan dibalas dengusan sebal oleh Yuna.
"Pakaian kerjaku kamu yang siapkan sayang?" tanya Jayden. Yuna hanya mengangguk.
Jayden tersenyum, "Rasanya aku sudah seperti mempunyai seorang istri, terima kasih ya sayang," ucapnya.
"Sama-sama sayang, kamu udah selesai?"
"Belum sayang, tinggal pasang dasi," jawab Jayden.
"Sini biar aku yang bantu kamu pasang dasi."
"Ini sayang." Jayden memberikan dasinya kepada Yuna.
"Nunduk sedikit Jay," suruh Yuna. Jayden segera menundukkan kepalanya. Yuna sedikit deg-degan saat memasangkan dasi di leher Jayden, apalagi ketika mata mereka saling bertemu. Yuna berdehem pelan untuk menghilang groginya.
"Sudah selesai," ucap Yuna.
"Terima kasih sayang," balas Jayden sambil mengecup puncak kepala Yuna.
Yuna mengangguk, kemudian mengambil jas milik Jayden lalu memasangkannya ke tubuh laki-laki itu.
"Sekarang kita sarapan," ajak Yuna. Jayden mengangguk menuruti perintah ratunya. Mereka keluar saling bergandengan tangan menuju ke ruang makan.
"Ini kamu yang masak sayang?" tanya Jayden melihat hidangan di atas meja makan.
"Iya aku yang masak, kenapa? Kamu nggak suka ya?" tanya balik Yuna.
"Suka lah sayang, apapun yang kamu masak pasti aku suka," jawab Jayden tersenyum manis. Yuna tersenyum lega dengan jawaban Jayden.
"Ayo di makan."
"Iya sayang." Mereka berdua mulai menyantap hidangan sarapan buatan Yuna.
Setelah selesai sarapan, Yuna mengantar Jayden sampai di depan pintu utama mansion.
"Aku berangkat kerja dulu ya sayang?" pamit Jayden.
"Iya, kamu hati-hati dijalan. Yang semangat kerjanya, ingat jangan marah-marah mulu sama karyawan-karyawan kamu!" ujar Yuna sedikit menyindir Jayden.
Jayden berdecak, "Aku marah-marah sama mereka itu ya karena mereka melakukan kesalahan!" bela Jayden pada dirinya sendiri.
"Iya deh," ucap Yuna malas.
"Ya sudah aku pergi ya sayang?" Jayden mencium lama kening Yuna.
"Iya sayang, jangan kebut-kebut bawa mobilnya!" pesan Yuna.
__ADS_1
"Siap my Queen." Jayden pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan kendaraannya meninggalkan mansion. Setelah mobil Jayden hilang dari pandangan Yuna, ia pun kembali masuk ke dalam.
...----------------...