
"Kamu mau ke kantin kan?" tanya Jennie dan Liora membalas dengan anggukan.
"Aku nitip ya? Nanti aku menyusul kesana, makanannya samain aja minumnya jus semangka. Aku mau ngeluarin berlian dulu nih," lanjut gadis itu sambil memegang perutnya yang sudah mulas sedari tadi.
"Ish jorok banget kamu!" balas Liora.
Tanpa membalas ucapan Liora, Jennie langsung lari meninggalkan Liora. Sedangkan Liora, gadis itu melangkahkan kakinya menuju kantin yang dekat dengan fakultasnya.
Setelah sampai di kantin, Liora segera memesan makanan dan mencari bangku yang kosong. Sebenarnya, kantin tidak ramai hanya ada beberapa mahasiswi yang ada di kantin. Namun, karena stok bangku nya yang sedikit membuat mereka selalu saingan. Tapi kali ini, ada beberapa bangku yang kosong.
BRAKKK!
Liora tersentak kaget dengan gebrakan | meja di tempatnya. Dia mendongak untuk menatap siapa pelaku nya, dan ternyata Lea. Gadis itu terlihat emosi, apalagi tatapannya yang sangat sinis dan tangan yang terkepal erat.
Liora berdiri dari duduknya. Dia menatap Lea dengan tatapan seperti biasa, "Ada apa?" tanya Liora dengan santai yang membuat Lea semakin emosi.
"Kamu tanya ada apa? Kamu masih bisa bertanya seperti itu? Mikir dong sialan! kamu sudah hasut suami kamu buat narik sahamnya di perusahaan Papa aku dan membuat perusahaan Papa aku ada di ambang kehancuran. Kamu senang kan?! Ini rencana kamu kan? Selamat kamu berhasil. kamu ja.lang!" maki Lea.
Perusahaan orang tua Lea hancur? Liora terkejut mendengar itu. Dia tidak tahu apa-apa tentang perusahaan orang tua Lea, bahkan mengetahui perusahaannya saja tidak. Lalu apa ini?
"Dan ya, pantas saja Alvin ninggalin kamu karena kamu adalah wanita licik yang kotor!" sambung Lea berapi-api.
"Hah aku licik? Apa aku harus menjelaskan semua kesalahan kamu? Oke. Pertama, kamu menyebarkan fitnah membuat seluruh mahasiswa mencemooh aku. Kedua, aku tahu kamu yang membesarkan masalah aku dengan Alvin, karena aku yakin Alvin orang nya bukan seperti itu. Ketiga, kamu yang nabrak aku, Lea!" balas Liora.
Tangan Lea sudah terangkat untuk menampar pipi putih Liora, namun tangan kekar itu mencekal tangan Lea dengan erat membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Kak Zelvin?" gumam Liora ketika melihat kehadiran suaminya.
"Hentikan semua omongan dari mulut sialan anda. Saya tahu semua kelakuan anda terhadap istri saya, dan saya akan melaporkan ini ke pihak berwajib. Sepertinya dengan menghancurkan perusahaan ayah anda belum cukup ya? Griffin, urus surat pengeluaran dosen yang bernama Astrid Hwang!" perintah Zelvin pada asistennya.
Lea menarik tangannya dari cekalan Zelvin, karena itu menyakitkan. Dia membulatkan matanya mendengar apa yang pria di depannya katakan. Lea tersenyum sinis, "Oh, anda suami dari Liora? Berapa sih bayaran perempuan itu? Sebagus apa sih tubuhnya sampai anda mau berbuat bodoh seperti ini?"
"TUTUP MULUT SIALAN ITU!" bentak Zelvin membuat Lea bungkam karena takut dengan aura yang Zelvin berikan.
"Griffin, cepat panggil polisi dan hancurkan semua bisnis keluarga Hwang!" putus Zelvin Liora menarik pelan jari telunjuk Zelvin, siapapun yang melihat itu pasti akan merasa gemas dengan tingkah gadis ini tapi Zelvin sedang emosi sekarang.
Zelvin membalikkan badannya, menatap istrinya. Liora menggelengkan kepalanya, "Jangan ya? Kamu terlalu berat menghukum Lea, nggak usah ya kak?" pinta Liora dengan tatapan yang memohon.
Zelvin mengelus rambut halus Liora, tangannya berhenti di pundak Liora. "Sudah makan? Kalau belum, kita makan di luar, mau?" ajak Zelvin mengalihkan topik pembicaraan.
Liora membulatkan matanya mendengar balasan Zelvin yang tidak menjawab pertanyaannya. "Kak Zelvin ..."
"Jangan bikin saya marah, Keanna," bisik Zelvin pelan tepat di telinganya membuat Liora bergidik ngeri.
Liora tidak bisa membela Lea, karena amarah suaminya lebih seram dari apapun.
__ADS_1
"Leandra!" Kini semua pasang mata tertuju kepada wanita dewasa yang berjalan dengan dipenuhi amarah kepada putrinya.
PLAKKK!
"Apa yang kamu lakukan, Lea! Kamu gila? Kamu berbuat masalah dengan donatur kampus ini? Dan akibatnya, Mama di keluarkan dari kampus ini!" geram Astrid kepada putrinya Lea bergetar, tanpa menghitung menit ibunya sudah dikeluarkan.
Hancur semuanya...
"Ma-ma—" suara Lea bergetar.
"Minta maaf kepada Tuan Zelvin!" perintah Astrid.
Zelvin menarik napasnya, jengah dengan drama ini. Zelvin menyatukan telapak tangannya dengan Liora, "Griffin lakukan perintah saya!" perintah Zelvin sebelum menarik Liora keluar dari kerumunan ini.
"Baik Tuan!" balas Griffin.
Rafael menggelengkan kepalanya melihat kejadian ini. Mulutnya sedikit terbuka dengan tatapan kekaguman terhadap suami Liora.
"Itu beneran suaminya Liora, Jen?" tanya Rafael untuk memastikan.
"Bukan, itu suami aku," jawab Jennie asal.
"Nggak heran sih, aku saja yang laki-laki suka sama dia, apalagi perempuan," celetuk Rafael sambil melihat punggung Zelvin yang mulai menjauh dari pandangannya. Jennie membulatkan mata nya, dia sedikit mendorong tubuh Rafael.
"Astaga, kamu gay, Raf?" tanya Jennie dengan wajah yang sulit dijelaskan Rafael sadar dari lamunannya, dengan cepat dia menggeleng kepalanya.
"Terus tadi apa? Kamu bilang suka sama suaminya Liora, ewwwhhh sana jauh-jauh! Aku malas jadi pacar kamu!" usir Jennie.
Rafael memegang tangan Jennie yang memukul pundaknya, gadis ini tidak pernah tahu situasi dan kondisi kalau mengajak berdebat. "Heh! Mulut kamu itu seperti belum di cium saja. Kalau aku gay, nggak mungkin bibir kamu jadi candu aku, sweetie!" ujar Rafael berusaha meyakinkan gadis setengah gila ini Jennie membulatkan matanya kembali.
"Sialan banget ya mulut kamu itu, seperti belum di kasih vitamin saja!" cibir Jennie.
Rafael menarik bibirnya untuk tersenyum, dia mengelus bibir Jennie dengan jempolnya. "Ini vitamin aku. Mau dimana? Mobil? Toilet? Gudang kampus atau apartemen aku?"
"Rafael sialan kamu! Otak kamu ya ampun!" teriak Jennie sambil berjalan meninggalkan kantin Rafael tertawa melihat kelakuan gadisnya.
...****************...
"Kak Zelvin," panggil Liora menatap Zelvin.
"Kalau mau bahas soal tadi, jangan bicara. Saya malas!" ketus Zelvin sambil fokus menyetir.
Liora membuang napasnya, seperti keputusan Zelvin tadi memang sudah final dan sulit di ganggu gugat. Apalagi pria ini terlihat sangat marah.
Mobil yang Zelvin kendarai berhenti ketika lampu merah. Dia menatap gadis di sebelahnya, tangan Zelvin terulur untuk mengelus kepala Liora. "Saya tahu, kamu kasian sama dia. Tapi, coba ingat ingat lagi semua kelakuannya. Dia pantas mendapatkan itu. Jika saya keterlaluan, saya minta maaf. Karena jika ingin membuat seseorang jera harus sampai jatuh, jangan setengah-setengah."
__ADS_1
"Jangan bahas ini, lupakan. Semuanya sudah beres, kamu sekarang bisa kuliah dengan aman." sambung Zelvin.
Liora mengangguk, meskipun perasaannya merasa bersalah kepada Lea.
"Saya nggak mau makan di luar, saya mau masakan kamu. Boleh?" pinta Zelvin
Liora tersenyum, lalu mengangguk. "Boleh, ayo kita pulang."
Zelvin hanya mengangguk dan terus melajukan mobilnya ke arah mansion miliknya.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya, makan siang telah siap." ucap bi Maria
"Buang. Saya mau masakan istri saya." perintah Zelvin
Maria hanya tersenyum tipis, meskipun hatinya merasa sakit hati karena masakannya tidak di hargai.
"Jangan di buang, kasih aja ke yang lain. Pasti Bi Maria sama Ara belum makan kan? Makan saja, ajak juga Pak Patrick dan Pak Rocky." perintah Liora.
Maria tersenyum, "Baik Nyonya."
Meja makan kembali kosong karena Maria dan Ara sudah memindahkan makanannya ke belakang untuk makan bersama yang lainnya.
Liora mulai masak. Dan tugas Zelvin hanya memerhatikan setiap gerak tubuh Liora. Sehingga, dia tidak sadar jika Liora sudah selesai memasak dan Liora sedang menyajikan makanan untuknya.
"Kamu nggak makan?" tanya Zelvin ketika Liora hanya melipatkan tangannya di atas meja.
Liora menggelengkan kepalanya.
Zelvin menarik kursi Liora untuk semakin dekat dengannya membuat Liora terkejut. Zelvin memakan makanannya, dia tersenyum tipis merasakan rasanya yang enak. Lalu mengambil lagi, tapi dia arahkan ke mulut Liora. "Buka mulutnya, kamu belum makan." perintah Zelvin.
Liora pun menurutinya, dia membuka mulut dan memakan yang disuapi Zelvin.
...****************...
Liora melihat Zelvin yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Mereka sedang berada di kamar, tapi Zelvin masih saja fokus dengan pekerjaannya. Katanya sih sedang memeriksa dokumen yang dikirim Alice untuk meeting besok.
"Keanna, tidur!" perintah Zelvin ketika sadar Liora terus memperhatikannya.
"Kak Zelvin saja belum tidur," balas Liora.
"Saya masih ada yang harus di urus."
"Aku juga masih ada yang harus di urus."
Zelvin mengangkat wajahnya sambil menaikkan satu alisnya, "Apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Kamu, kak!"
...----------------...