
“Mama!”
Liora melambaikan tangannya ketika melihat Emmanuel yang berteriak ke arahnya. Anak itu menghampiri Liora yang sedang duduk di bangku panjang sendirian.
Tangan Liora terulur untuk mengusap keringat di kening Emmanuel, karena Emmanuel sedang olahraga di lapangan. “Haus?” tebak Liora.
Emmanuel mengangguk. “Iya, Ma.”
Liora langsung membuka tutup botol minum dan menyerahkannya kepada Emmanuel. “Pelan-pelan minumnya, sini duduk di sebelah Mama.” suruh Liora.
Emmanuel duduk disebelah Liora. “Mama bawa bekal?”
Liora mengangguk, “Mau makan?”
Emmanuel terdiam, tapi tatapannya fokus kepada gadis kecil yang duduk di pinggir lapangan bersama teman-temannya. Hanya Angel yang tidak membawa makanan, sedangkan yang lainnya membawa makanan.
Emmanuel mengambil kotak bekal di tangan Liora, lalu berdiri dari duduknya. Emmanuel melangkahkan kaki nya untuk menghampiri Angel. “Ini makan!”
Angel menatap Emmanuel dengan tatapan heran, “Buat aku?”
Emmanuel mengangguk, “Mama yang suruh aku kasih ke kamu, jadi ini dimakan ya soalnya yang buat Mama aku,” jawab Emmanuel .
Angel tersenyum membuat pipi chubby semakin mengembang. “Itu Mama kamu kan?” tunjuk Angel kepada Liora yang duduk di kursi.
Emmanuel mengangguk. Angel berdiri dari duduknya, dia berlari ke arah Liora.
“Tante,” panggil Angel.
Liora tersenyum, “Ya cantik?”
“Terima kasih ya untuk bekalnya. Tante suruh Emmanuel kasih bekal buat aku kan? Terima kasih banyak, Tante. Mama aku nggak bisa bikin bekal lagi, soalnya di perutnya ada dedek bayi,” oceh Angel.
Liora mengerutkan keningnya, dia heran. Tapi beberapa detik kemudian, tersenyum kepada Angel. Liora mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Angel. “Iya sayang sama-sama. Angel mau punya adik ya?”
Angel mengangguk, “Iya, Tante. Makanya Mama udah nggak bikin aku bekal, soalnya takut Mama nanti kelelahan.”
“Mau Tante bikinin bekal buat Angel tiap hari?” tawar Liora
Angel mengangguk dengan ragu, “Bo-boleh kah?”
“Boleh dong, Angel kan anak baik.”
Angel tersenyum. “Terima kasih, Tante.”
Liora mengangguk, “Sini duduk sama Tante. Liat Emmanuel main bola lagi,” ajak Liora.
"Iya, Tante," ucap Angel dan duduk di sebelah Liora.
...****************...
“Kenapa?” tanya Liora memecahkan keheningan di dalam mobil.
Emmanuel mendongak, dia menatap Liora dengan kerutan di keningnya karena tidak paham.
__ADS_1
“Kenapa ngasih bekal kamu ke Angel, sayang? Kamu kan belum makan,” jelas Liora.
“Akhir-akhir ini dia gak pernah bawa bekal lagi, aku kasian,” ujar Emmanuel.
“Kenapa kasian?”
“Dia anak baik Ma, makanya harus di kasihani,” ucap Emmanuel.
Liora terkekeh, dia mengusap kepala Emmanuel dengan gemas. “Ya sudah, sekarang kita cari makan biar perut kamu gak laper. Laper kan?” tebak Liora
Emmanuel mengangguk. “Sangat.”
“Atau mau sekalian saja sama Daddy makan siangnya? Mau?” usul Liora.
Emmanuel mengangguk, "Boleh, Ma."
Saat ini, mereka sedang berada di restoran favorit Emmanuel. Menurut Liora, restoran ini sangat berkesan untuknya karena pertama kalinya dia berkenalan dengan Emmanuel disini. Dengan wajah dingin dan jutek, Liora berusaha mencairkan suasana pada saat itu. Waktu terus berjalan, tapi kini mereka kembali ke restoran ini dengan suasana yang berbeda.
“Pasta, right?” tebak Zelvin
Liora tersenyum tipis, “Iya kak.”
Mereka memesan makanan. Dan tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang. Emmanuel memakan makanannya dengan sangat lahap. Ah, anak itu sangat kelaparan.
“Emmanuel, pelan-pelan makannya,” tegur Zelvin sambil melipatkan lengan baju Emmanuel karena takut terkena noda. Zelvin mengambil tisu untuk membersihkan bibir Emmanuel yang belepotan. “Pelan pelan,” ulangnya.
Liora tersenyum hangat. Manis sekali melihatnya. “Tadi bekal dia di kasih ke Angel, makanya dia kelaparan, Kak,” celetuk Liora.
“Kenapa?” tanya Zelvin heran.
Zelvin terkekeh pelan, dia mengusap puncak kepala Emmanuel. “Makan lagi, makan yang banyak.”
Mereka kembali melanjutkan makannya. Tak lama kemudian, mereka selesai.
“Habis ini, kalian mau kemana?” tanya Zelvin.
“Mau ke mall, boleh?”
Zelvin mengangguk, “Bersama Emmanuel?”
"Iya kak," jawab Liora.
“Boleh, tapi kabari saya kalau ada apapun," pesan Zelvin.
“Saya nggak bisa lama disini, sebentar lagi meeting. Saya pamit ya?" izin Zelvin.
Liora mengangguk. “Iya kak, hati-hati di jalan.”
Zelvin berdiri dari duduknya, dia mencium kening Liora lalu mengusap puncak kepala Emmanuel. “Kalian juga.” balasnya sebelum meninggalkan restoran.
Setelah selesai bermain di timezone mereka memutuskan untuk pulang. Karena hari sudah sore, takut Zelvin terlebih dahulu pulang ke rumah. Emmanuel sudah tertidur karena saking lelahnya bermain.
“Pak, mampir ke cafe di depan ya?" pinta Liora kepada supir.
__ADS_1
“Baik, Nyonya." jawab pak Rocky.
Tak lama kemudian, mobil pun berhenti di depan sebuah cafe. “Nyonya, biar saya saja yang beli ya? Kasian Tuan muda tidurnya pulas di pangkuan Nyonya,” tawar pak Rocky.
“Iya, Pak. Tolong beliin vanilla latte ya,” tutur Liora sambil memberikan uang kepada Pak Rocky.
“Kalau Pak Rocky mau kopi pesan saja ya, jangan lupa beli juga buat Bi Maria sama Ara.” sambung Liora.
“Baik, Nyonya.”
Liora menatap jendela. Sepertinya, malam ini akan turun hujan karena langit terlihat mendung. Di tengah aktivitasnya, Liora menyipitkan matanya ketika melihat Zelvin dan seorang wanita keluar dari dari sebuah restoran yang ada di sebrang.
“Kak Erica?” gumam Liora ketika dia melihat dengan jelas wajah dari wanita yang bersama Zelvin. “Ngapain?” monolog Liora bertanya-tanya.
Liora mengambil ponselnya. Dia mencari kontak Zelvin dan menekan tombol hijau untuk menelpon pria itu.
“Halo, kak?”
“Iya sayang, kenapa? Apa terjadi sesuatu?Kamu dimana sekarang?” balas Zelvin di sebrang sana.
Liora menajamkan tatapannya untuk melihat Zelvin di sebrang sana. “Aku gapapa, Kak. Ini lagi di perjalanan pulang. Kamu dimana?”
“Saya di kantor, kenapa? Sebentar lagi saya pulang.”
Kantor? Bahkan dengan jelas Liora melihat Zelvin berada di depan restoran bersama Erica. “Gapapa, aku cuma nanya. Aku tutup ya kak,”
Tut!
Pak Rocky masuk ke dalam mobil dengan membawa beberapa kopi yang dia beli. “Ini pesanannya Nyonya.”
Liora mengambilnya, “Terima kasih ya Pak.”
Pak Rocky mengangguk. Dia kembali melajukan mobil menuju ke mansion.
...****************...
Zelvin keluar dari kamar mandi. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat Liora tidak ada di kamar, tapi tatapannya tak sengaja melihat pintu balkon yang terbuka lebar. Hanya dengan menggunakan celana saja, Zelvin berjalan menuju balkon.
“Keanna?”
Liora membalikkan tubuhnya, dia menatap Zelvin lalu tersenyum tipis dan kembali menghadap ke depan.
“Kok di luar? Disini dingin, kamu nanti bisa sakit.” Zelvin berdiri di belakang Liora, dia memeluk tubuh Liora yang hangat.
“Liora,” panggil Zelvin karena Liora tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Keanna, kamu kenapa?” tanya Zelvin. Liora membalikkan badannya. Dia memeluk Zelvin yang tidak menggunakan baju. Liora memejamkan matanya untuk merasakan hangatnya pelukan Zelvin. Liora selalu merasa nyaman ketika berada di dalam pelukan Zelvin.
“Kak,” panggil Liora.
“Ya kenapa sayang?”
“Aku tadi lihat kamu sama kak Erica di restoran, boleh aku tahu, kalian ngapain disana?” tanya Liora.
__ADS_1
Zelvin terdiam. Dia menaruh dagunya di kepala Liora, lalu mengusap punggung Liora dengan lembut.
...----------------...