Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Diselamatkan Jayden


__ADS_3

Yuna berjalan di taman belakang kampus, pemandangan disana sangat indah banyak bunga dan pepohonan yang rindang bahkan ada danau buatan disana. Ia berjalan sambil mendengar lagu dari ponselnya menggunakan earphone.


“Yuna awasss!” teriak Jayden saat melihat sebuah kayu pohon yang cukup besar akan terjatuh menimpa Yuna, tapi sepertinya gadis itu tengah menggunakan earphone sehingga Yuna tidak mendengar teriakannya. Dengan cepat Jayden berlari dan menarik tangan Yuna membuat mereka jadi terjatuh ke tanah dengan Yuna berada di atas tubuh Jayden.


“Kamu nggak kenapa-napa kan, Yun?” tanya Jayden. Yuna yang tadinya memejamkan mata membuka matanya dengan perlahan, ia mendongak menatap Jayden dan cukup kaget melihat jika dirinya berada di atas tubuh Jayden.


“Aku gapapa kok,” jawab Yuna singkat dan bangun dari atas tubuh Jayden. Jayden pun ikut bangun, tapi lengan bagian belakangnya merasa sakit sepertinya tadi ia menindih sesuatu yang tajam.


“Kamu kenapa?” tanya Yuna melihat Jayden yang terlihat meringis itu.


“Nggak tau, lengan ku sakit banget Yun,” jawab Jayden jujur.


“Coba aku liat.” Yuna menarik tangan Jayden, ia tersentak melihat lengan Jayden yang berdarah.


“Ya ampun tangan kamu berdarah, Jay!” pekik Yuna dengan raut wajah khawatir. Jayden tersenyum kecil melihat wajah khawatir Yuna. Gadis itu segera menarik tangan dan akan membawa Jayden ke ruang unit Kesehatan kampus. Jayden hanya bisa pasrah kemana gadis itu membawanya.


Sesampainya di ruang unit Kesehatan, Yuna menyuruh Jayden untuk duduk di brankar dan Jayden hanya menurut. Yuna pergi meminjam kotak P3K ke petugas Kesehatan. Setelah itu ia kembali ke tempat Jayden.


“Sini aku obati,” ucap Yuna. Dengan senang hati Jayden menyerahkan tangannya pada Yuna.


Yuna mulai mengobati tangan Jayden dengan telaten. Jantung Jayden berdebar kencang apalagi saat wajah Yuna sangat dengannya namun sesekali ia meringis merasa nyeri di tangannya.


“Sakit banget ya?” tanya Yuna dan Jayden hanya mengangguk. Yuna kembali mengobati luka pada lengan Jayden dengan lembut sambil meniupnya berharap lelaki itu tidak terlalu merasa sakit. Ah Jayden merasa sedang terbang saat ini, hatinya menghangat ketika diperlakukan lembut seperti itu oleh Yuna.


“Sudah,” ujar Yuna menatap Jayden. Sialnya kini Jayden tengah menatapnya dengan tatapan mata lekat, hal itu membuat jantung Yuna berdetak lebih cepat dari biasanya. Jayden memajukan wajahnya ke wajah Yuna, entah setan apa yang merasuki Yuna, ia pun memejamkan matanya.


Jayden yang melihat itu tersenyum kecil, saat bibir mereka akan menyatu tiba-tiba suara pintu UKK terbuka dengan cukup keras membuat Yuna dan Jayden terjengkit sekaligus memundurkan wajah mereka masing-masing. Wajah Yuna seketika memerah menahan malu sambil merutuki dirinya, sedangkan Jayden berdecak kesal karena kegiatannya terganggu.


“Jay, kamu gapapa kan?” tanya Felix yang mendengar dari salah satu mahasiswa jika Jayden dibawa ke UKK. Lelaki itu datang bersama Nathan dan Arthur.


“Hem,” balas Jayden singkat, ia masih jengkel karena teman-temannya ini mengganggu waktu berduanya dengan Yuna. Ketiga lelaki yang baru datang itu melirik ke arah gadis yang bersama dengan Jayden itu.


“Loh Yuna!” ucap Arthur yang kaget melihat Yuna disana.


“Hai,” sapa Yuna dengan senyuman kikuknya

__ADS_1


.


“Kok kamu bisa disini Yun?” tanya Nathan penasaran.


“Oh itu—” Belum selesai Yuna berbicara Jayden langsung memotongnya.


“Dia tadi obati luka aku.” Jayden memperlihatkan tangannya yang telah di perban itu ke teman-temannya dan mereka hanya manggut-manggut.


“Jay, makasih ya tadi udah nolongin aku dan maaf karena kamu nolongin aku, tangan kamu jadi luka gini,” ucap Yuna tulus dan merasa bersalah.


“Iya santai aja Yun, yang penting kamu gapapa itu yang lebih penting. Kalau kamu kenapa-napa aku yang khawatir,” balas Jayden. Yuna tersenyum mendengarnya sedangkan ketiga temannya hanya bisa melongo, ternyata lengan Jayden luka karena menolong Yuna, pikir mereka.


“Sekali lagi makasih, Jay. Kalau gitu aku ke kelas dulu,” pamit Yuna.


“Apa perlu aku antar?” tawar Jayden.


Yuna menggelengkan kepalanya, “Nggak usah Jay, aku sendiri aja,” tolaknya. Jayden hanya mengangguk mengiyakan, Yuan pun keluar dari ruang UKK.


Setelah kepergian Yuna, Jayden menatap tajam ke arah tiga temannya itu, mereka yang di tatap seperti itu merasa heran dan bingung.


“Gara-gara kalian waktu aku berduaan sama Yuna jadi terganggu!” sembur Jayden.


“Hehe sorry Jay. Kan kita nggak tau,” ujar Felix cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.


“Iya bener Jay, kita mana tau kalau kamu lagi sama Yuna disini,” timpal Nathan dan Arthur hanya mengangguk menyetujui ucapan kedua temannya itu. Jayden langsung mendengus.


Malamnya Yuna pergi Naksan Park untuk melihat pemandangan indahnya kota S di malam hari karena terletak di dataran tinggi, tepatnya di Gunung Naksan.


Yuna berjalan-berjalan menyusuri taman yang ada disana, setelah itu ia melanjutkan melihat peninggalan sejarah berupa tembok yang ada di sekitar taman. Ia naik ke atas tembok tersebut dan dari sana ia dapat melihat pemandangan cantiknya lampu serta gedung-gedung tinggi di kota S.


“Wah indah sekali pemandangan jika dilihat dari sini,” ucap Yuna kagum.


Tak lama seseorang naik dan duduk di sampingnya.


"Akhirnya bisa kesini lagi," ucapnya.

__ADS_1


Yuna yang merasa familiar dengan suara orang yang di sebelahnya karena penasaran ia pun melirik ke arah orang tersebut.


"Jayden!" seru Yuna yang kaget melihat keberadaan Jayden yang berada di sebelahnya. Sang empu pun tak kalah terkejutnya melihat Yuna.


"Loh Yuna? Kamu disini juga?" tanya Jayden. Ia pergi sendiri tanpa pengawalan ketat dari bodyguard atau manajernya dan untungnya Naksan Park malam ini sedang sepi pengunjung tapi tetap saja Jayden harus menggunakan masker untuk mewanti-wanti agar tidak ketahuan oleh para penggemarnya.


Yuna hanya mengangguk, kenapa di antara tempat wisata di Korea dan di Naksan Park dirinya harus bertemu dengan Jayden? Apa ini yang dinamakan jodoh?


"Kamu sendirian kesini?" tanya Jayden lagi.


"Iya, kamu juga sendirian? Nggak di temenin sama bodyguard?" tanya balik Yuna.


"Nggak, aku lagi pengen sendirian aja," jawab Jayden. Yuna hanya manggut-manggut.


Beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka, kemudian Jayden kembali membuka suara.


"Kamu sering ke tempat ini?" tanya Jayden.


"Nggak juga, mungkin baru beberapa kali aku kesini," jawab Yuna tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.


"Hem, kamu tau mengenai William yang akan bertunangan?" Pertanyaan Jayden yang ini membuat Yuna menatap ke arahnya.


"Iya aku tau."


"Kamu nggak sakit hati saat mendengar tentang hal itu?"


Yuna mengangkat satu alisnya. "Ngapain harus sakit hati, malah aku turut bahagia mendengarnya," ucapnya.


Ucapan Yuna membuat hati Jayden merasa lega dan senang, berarti selama ini Yuna tidak memiliki perasaan apapun kepada William berarti ia bisa mendapatkan hati Yuna kembali.


"Ya siapa tau kan kamu sakit hati dengarnya."


"Ya nggak lah, ngapain harus sakit hati? Aku sama William hanya bersahabat, jadi fine-fine saja jika dia akan bertunangan dengan gadis lain," jelas Yuna dengan santai.


...---------------...

__ADS_1


__ADS_2