Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Kelakuan aneh Zelvin


__ADS_3

"Apa ini?"


Liora membuka surat yang di beri oleh Emmanuel. Liora membaca nya dengan serius, setelah membaca dia kembali melipat kertas tersebut. "Kamu mau ikut berkemah?" tanya Liora.


Emmanuel mengangguk, "Tapi harus sama orang tua, mama Liora bisa ikut?"


Liora memikirkan jadwal-jadwal kedepannya, dia banyak tugas tapi tidak bisa menolak keinginan Emmanuel. Toh, Emmanuel juga belum pernah merasakan camping jadi tidak enak kalau menolak.


"Kamu sudah izin sama Daddy?" tanya Liora.


Emmanuel menggelengkan kepalanya, "Aku nggak ketemu sama Daddy selain pagi tadi, itu pun hanya sebentar."


"Kamu mau ikut banget ya?" tanya Liora sekali lagi Emmanuel mengangguk, tapi kini terlihat ada keraguan.


"Kalau mama Liora sibuk, gapapa nggak usah aku perginya."


Liora langsung berlutut untuk mensejajarkan tinggi nya dan memegang bahu Emmanuel. "Hey, boy! Kok gitu? Mama nggak sibuk, Mama bisa kok. Tapi nggak tau dengan Daddy, Mama nggak yakin, Nuel."


Emmanuel mengangguk setuju, Daddy-nya itu sangat tidak suka acara-acara seperti ini. Yang dia suka itu seperti acara olimpiade, pokoknya yang berbau dengan lomba.


"Mama Liora mau bicara sama Daddy ya?" mohon Emmanuel dengan wajah yang melas.


Melihat raut wajah itu seketika Liora menjadi lemah, Emmanuel menggemaskan di matanya. Apalagi ketika anak itu menyatukan telapak tangannya untuk memohon, sisi lain dari diri Emmanuel sudah Liora ketahui. Anak ini tidak sedingin yang ia kira. Emmanuel anak biasa yang karakternya tertutup selama ini.


"Sayang, jangan kayak gitu ya," ucap Liora.


"Kenapa?" tanya Emmanuel bingung.


"Mama nggak bisa nolak permintaan kamu kalau gitu," ungkap Liora.


Emmanuel langsung tersenyum senang, "Jadi Mama mau?"


Liora mengangguk dengan terpaksa, "Iya deh, mau. Tapi kalau Daddy sudah bilang enggak boleh, ya sudah enggak ya, gapapa kan?"


Emmanuel mengangguk, "Gapapa kalau Mama sudah usaha."


Liora mengelus rambut Emmanuel, "Iya. Sekarang kamu siap-siap untuk berangkat les, pak Patrick ya yang mengantarkan kamu? Nanti pulangnya baru Mama jemput, gapapa?"


Emmanuel mengangguk, "Gapapa, aku siap-siap dulu."


"Butuh bantuan?" tawar Liora.


"Nggak usah Ma, aku sudah menyiapkan semuanya."


"Anak pintar," puji Liora.


Liora sedang berada di perpustakaan kota. Ya, sebelum menjemput Emmanuel, Liora pergi dulu ke perpustakaan untuk membaca buku sekalian membaca buku masak untuk menambah wawasannya. Perpustakaan kota termasuk tempat favorit Liora, dia sering sekali kesini untuk menenangkan diri. Tempatnya tidak berisik dan nyaman.


Liora duduk di salah satu kursi yang kosong. Dia menaruh buku yang dia bawa di meja, lalu mulai membacanya dengan fokus.


Beberapa menit membaca, Liora kembali menutupnya dan berdiri dari duduknya untuk menyimpan kembali bukunya. Liora tidak lama membacanya karena takut Emmanuel menunggunya.

__ADS_1


BRUGH!


Karena tidak memerhatikan jalan, Liora menabrak seseorang. Liora mendongak dan betapa terkejutnya Liora ketika melihat Alvin di hadapannya. Buku Alvin pun ikut terjatuh.


"Maaf."


Liora segera mengambil buku dan buku Alvin, lalu menyerahkannya. "Maaf, aku nggak sengaja," ucap Liora kepada Alvin yang masih terdiam termangu.


"Al," panggil Liora.


Alvin tersadar, dia mengambil bukunya di tangan Liora.


"Alvin, kamu apa kabar?" tanya Liora mencoba basa-basi.


"Baik," jawab Alvin singkat.


Liora mengangguk, "Bagus deh, sehat-sehat ya, jaga makanannya juga, jangan sering makan junk food, kamu itu calon dokter harus nya kamu--"


"Banyak bicara! Berisik!" bentak Alvin.


Liora tersenyum kecil mendengar bentakan dari Alvin. "Aku duluan permisi." Liora melangkahkan kembali langkahnya. Alvin terlihat risih, Liora tahu itu makanya Liora sadar diri.


Alvin membalikkan badannya untuk menatap punggung kecil itu yang mulai menghilang di pandangannya. Alvin menatap buku yang ada di tangannya, perasaannya berdebar ketika melihat gadis itu kembali setelah beberapa hari. Alvin yakin, gadis itu tidak baik-baik saja.


Wajahnya yang pucat, matanya ada lingkaran hitam, dan dia menjadi trending topik di kampusnya. Tapi, gadis itu tetap menunjukan wajahnya yang ceria. Apakah selama ini dirinya keterlaluan kepada gadis itu? Tapi, bukannya gadis itu yang lebih jahat kepada nya? Lalu mengapa Alvin merasa seperti ini.


Jujur saja... Alvin merindukannya.


Liora baru saja membuka aplikasi media sosialnya, tapi dia buru-buru keluar dari aplikasi itu ketika akunnya banyak sekali komentar jahat-jahat kepada dirinya. Dari kemarin, Liora tidak berani membuka sosmed-nya karena inilah yang Liora pikirkan.


Liora masuk ke dalam kamarnya. Sudah pukul 11 malam, tapi Zelvin belum menunjukan tanda-tanda akan pulang. Ditambah, dirumah hanya ada dirinya dan Emmanuel yang sudah tertidur. Setelah mengambil selimut, Liora kembali ke ruang tamu untuk menunggu Zelvin sambil menonton televisi.


Terlalu lelah, hingga tidak sadar bahwa dirinya tertidur dengan keadaan televisi yang menyala.


Di lain tempat, Zelvin sedang berada di ruangan yang di dalam nya terdapat banyak sekali mainan. Zelvin tersenyum miring sambil menatap satu persatu wanita yang sedang menggoda temannya. Ya, Zelvin sedang berada di club malam.


Zelvin memejamkan matanya, wajah yang terbayang saat dia memejamkan matanya adalah Liora. Senyumannya, suara dan bibir milik gadis itu. Zelvin mengambil gelas kecil, lalu meneguk minuman itu hingga habis. Entah, berapa gelas yang sudah ia minum.


Zelvin menatap dingin kepada wanita yang berpakaian minim dan ketat duduk di atas pangkuannya. Wanita itu mengusap dada Zelvin untuk memberikan rangsangan dengan bergerak sesuai irama. Tanpa pikir panjang, wanita itu mencium bibir Zelvin. Baru saja dimulai, dia langsung mendorong wanita itu hingga terjatuh.


"Argh! Sial!" umpatnya.


"Bibir kamu nggak enak. Hush! Hush!" usir Zelvin.


Wanita itu berdecak kesal. Wanita itu tidak kapok, dengan posisi nya di bawah, dia semakin menggoda Zelvin untuk merangsangnya. Mata Zelvin terpejam, merasakan sensasi yang begitu menyakitkan. napas Zelvin tidak beraturan.


"Arrgghh! Sial!" ringis Zelvin ketika dia sudah tidak bisa menahannya lagi


Zelvin mengambil ponselnya, lalu menelfon seseorang. "Griffin jemput saya di club biasanya." Setelah mengucapkan itu, Zelvin mematikan ponselnya.


"Ck, wanita sialan!" Zelvin menghempaskan tangan wanita itu ketika tangannya semakin meresahkan dan membuatnya tersiksa.

__ADS_1


"LIORA! LIORA! BUKA PINTUNYA, LIORA!"


Liora membuka pintu, penampilannya sangat berantakan. Matanya hanya terbuka sedikit karena masih mengantuk. Melihat Liora yang seperti ini, Zelvin langsung menarik tengkuk Liora dan masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu dengan salah satu kakinya.


Mata Liora terbuka sempurna ketika merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya dengan ciuman yang menuntut. Bau alkohol sangat menguar di indra penciuman Liora. Apakah Zelvin mabuk?


Zelvin semakin maju, membuat Liora terus mundur tanpa melepaskan ciumannya. Zelvin semakin memperdalam ciumannya, sungguh bibir Liora membuatnya ingin lebih dan lebih.


Zelvin membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya. Pria itu terus maju, dan menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang. Liora tersentak kaget, refleks ciuman pun berhenti membuat Liora bisa bernapas lega, dia bernapas dengan tidak beraturan.


Zelvin menindih Liora. "Izinkan saya mencium kamu, saya tidak kuat. Wanita sialan itu membuat saya tersiksa," bisik Zelvin lalu mencium telinga Liora dan meniupnya pelan.


Cup!


Zelvin kembali mencium Liora. Ciuman yang awalnya pelan kini semakin menuntut dan kasar. Zelvin seperti tidak memberi kesempatan Liora untuk bernapas.


Ciuman Zelvin berhenti, ketika dia merasakan sesuatu yang aneh. Dia duduk di atas perut Liora dengan kedua kakinya yang menjadi tumpuannya supaya Liora tidak tertindih.


Huek!


Huek!


Zelvin muntah tepat di atas perut Liora. Dia mengeluarkan cairan yang sangat menganggu indra penciuman Liora. Liora membulatkan matanya, dia sedikit meringis ketika perutnya merasa basah. Baju Zelvin pun ikut basah.


"Kak Zelvin!" pekik Liora.


Zelvin tersenyum, "Menggemaskan, " gumam Zelvin.


Zelvin menyingkir dari perut Liora dan dia tidur disebelah Liora. Liora langsung bangun, dia menatap bajunya yang basah karena muntahan Zelvin. Saat Liora ingin berdiri, tangannya di cekal oleh Zelvin.


"Mau kemana, hem?" tanya Zelvin setengah sadar.


"Aku mau ganti baju kak, ma--"


Zelvin menarik tangan Liora, membuat Liora kembali tidur tapi kini tidurnya di atas dada Zelvin. "Saya tidak mengizinkan kamu bergerak."


Zelvin memejamkan matanya, dia sedikit merasa lebih tenang dari pada tadi. Tapi karena Liora yang terus bergerak akibat baju yang terkena muntahan membuatnya tak nyaman, sehingga Zelvin merasa terusik dan kesal.


Zelvin mendorong tubuh Liora karena kesal sehingga Liora terjatuh dari lantai.


DUG!


Kepala Liora-terkena lantai, membuat Liora meringis kesakitan. Liora mengelus keningnya, sedikit berdenyut karena dorongan Zelvin tidak pelan.


"Pergi!" usir Zelvin.


"Kak kamu harus ganti--"


"Pergi aku bilang!" potong Zelvin.


"Iya, tapi kamu harus ganti baju--"

__ADS_1


"PERGI SIALAN! KAMU NGGAK DENGER YANG SAYA KATAKAN, HAH?!" bentak Zelvin kehilangan kendali Liora tersentak kaget dan dia segera keluar dari kamar Zelvin.


...----------------...


__ADS_2